Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Manusia Zombi


__ADS_3

Lian yin berjalan masuk ke dalam lorong bawah tanah yang sangat gelap, tanpa penerangan sama sekali. Mungkin memang tidak ada listrik di sana. Mata Lian yin tak bisa menlihat sama sekali benda apa yang menempel di tembok kayu sampingnya.


Lian yin meraba seketar tembik itu, ia hanya bisa meraba, merasakan di sekitarnya.


"Sepertinya aku harus cari penerangan" gumam Lian yin. Ia lupa tak membawa senter namun ia bisa memanfaatkan Flash ponselnya untuk menerangi.


Kini terlihat sangat jelas sebuah lorong dengan berbagai kabel tergulung bulat berserakan, rontokan kayu yang lapuk bahkan hampir menutupi lantai di bawahnya, Dan ada sesuatu yang mengejutkan. Sebuah foto kakeknya bersama kakek gadis kecil yang ia pernah temui dulu. Namun foto itu penuh dengan debu, menutupinya.


Deretan foto kebersamaan mereka, terpajang rapi di setiap tembok kayu jalan menuruni lorong. Ia mencoba mengambil salah satu foto itu, mengolak alik foto itu, mencoba mencari sebuah petunjuk di sana. Tepat foto yang ia bawa, di sana tersimpan sebuah kertas. Tak langsung membukanya. Ia segera memasukan kertas itu ke dalam tas rangsrl yang ia gendong di punggungnya dari tadi.


Karena ia tak mau memakan waktu, berlamaan di rumah tua itu. Ia segera masuk ke dalam mencari bukti lain, sebelum ada orang yang mengetahui keberadaanya di sana.


Tap..tap..


Langkah kaki ringan Lian yin melangkah dengan mata menatap ke kanan dan ke kiri.


Brakkk... sebuah foto tiba-tiba jatuh dari dinding.


Tanpa rasa takut atau apapun yang membuat ia merasa khawatir, ia segera mengambil foto itu. Ia menemukan sebuah kertas lagi kali ini, yang terselip di pigora foto itu. Belum sempat menatap foto itu, "Sepertinya ini akan jadi petunjuk" gumamnya, Ia segera membuka kertas itu berisikan sebuah gambar yang tak ia ketahui.

__ADS_1


"Apa ini?" Lian yin bertanya-tanya dalam dirinya. Sebuah gambar yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Bahkan kakeknya juga tak pernah cerita sebelumnya nengenai gambar itu. Gambar yang terlohat sangat asing di matanya. Ia merasa sudah cukup mengumpulkan sebuah petunjuk dan


segera pergi dengan membawa beberapa foto gadis kecil itu.


"Aku harus pergi sekarang, pasti Yiwen sudah menungguku di vila" gumam Lian yin. Ia beranjak keluar dari lorong itu


Ia tak lupa segera mengirim pesan untuk Ley, agar cepat menjemputnya. Ia bahkan tak sadar sudah terlalu lama di lorong itu. Karena tidak tahu ada jebakan apa di sana, ia harus berhati-hati dan segera beranjak keluar. Hampir 3 jam berada di dalam membuat suasana di dalam terasa dangat penat.


Ia berhasil naik lagi, kini tak terlihat gelap, karena pantulan cahaya kenembus ke kaca yang terlihat penuh dengan debu itu.


Lian yin berjalan ringan, kali ini ia sudah mengambil beberapa bukti dan foto, tinggal satu lagi, sambil menunggu Ley datang, ia ingin mencari buku yang sama seperti yang kakeknya punya. Pastinya kakek itu juga punya buku yang sama dengan kekek Lian yin, dan menyimpanya di sebuah rak buku yang sudah penuh debu itu.


Ia tak pantang menyerah sampai menemukan buku itu. Sekilas ia menatap ke lantai yang terlihat berbeda dari lantai lainnya dari warna dan bentuknya. Ia segera membukanya, namun sepertinya tak bisa di buka dengan tangan biasa.


Lian yin meraba seisi meja, berharap kali aja dia menemukan sebuah tombol penghubung dengan lantai itu.


Hingga hampir 1 jam ia duduk di lantai, ia yang merasa capek, akhirnya duduk lesehan di lantai yang berdebu itu. Tiba-tiba lantai yang terlihat mencurigakan itu terbuka.


"Ternyata benar dugaanku" Lian yin segera mencari apa yang ada dalam. Lubang kecil yang ada di bawah lantai terbuka tersebut. Ternyata hanya sebuah buku tanpa membaca ia segera memasukan ke dalam tasnya, "Di sini tidak aman, aku harus segera kembali" gumam Lian yin.

__ADS_1


Mendengar suara halicopter mendarat tepat di depan rumah itu, ia berlari kelaur dari rumah kecil itu dan naik, ke dalam Halicopter. Semua penduduk sepertinya menatap ke arah mereka, dengan tatapan sadis seakan mau membunuh. "Benar dugaanku, jika penduduk desa di sini sangatlah aneh," gumam Lian yin, ia segera menepuk pundak Ley, untuk segera naik ke udara. Menjauh dari tempat yang terlihat mengerikan itu.


"Ley gawat cepat jalankan" Lian yin masih menatap para gerombolan penduduk, yang seakan sudah seperti Zombie, tatapan mereka seakan di kendalikan oleh seseorang.


Ley segera melayangkan halicopter itu ke udara. Menjauh dari tempat terkutuk itu. Lian yin bersandar, akhirnya ia bisa bernapas lega kali ini, bisa dengan cepat lolos dari tempat itu.


"Ini tempat bahaya, untung saja aku cepat datang kemari. Lie Wei baru saja cerita jika tempat ini sudah mirip seperti zombie. Otak mereka sudah di kendalikan oleh seseorang di balik rumah tua, tepat di belakang rumah itu. Kali ini kalau kamu datang ke sini lagi jangan datang sendiri. Bawalah orang yang jagi memembak, seperti Yiwen" ungkap Ley,


"Apa?" Lian yin terkejut. "Apa kamu gila Ley, aku tidak mungkin membawa wanita kesana. Itu tempat sepertinya sangat bahaya" decak Lian yin dengan nada kesalnya.


Ley mendengus, "Aku yakin Yiwen tidak seperti wanita biasa yang hanya mengandalkanmu, dia berada di belakangmu menjagamu dari jauh. Tidak langsung terjun melawan mereka. Yiwen memiliki pemikiran yang sanagt cerdik." Lian yin seketika terdiam, ia berpikir sejenak, apa mungkin ia harus memanfaatkan Yiwen nanti, apa dia mau, aku takut jika Yiwen terluka nantinya, seolah itulah kata-kata yang selalu di ucapkanya dalam hati.


"Kamu pasti masih tidak tega dengannya, tapi jika Yiwen tahu kamu ke sini, pasti dia juga akan ikut denganmu. Meskipun dia harus menebus, rintangan bahaya yang mengancam nyawanya sekaligus." sambung Ley, melirik sekilas menatap Lian yin yang hanya diam membisu di belakangnya.


Ley tahu jika Lian yin masih ragu dengan apa yang ia katakan, tapi Ley yakin jika dia itu berbakat. TembakanYiwen waktu itu, sangat tepat sasaran. Ley, karena tembakannya tepat mengenai lengannya. Padahal ia menembak dari jarak sangat jauh bahkan yang di incar bukan dia, ia hanya mengalihkan orang-orang untuk menuju ke arah Yiwen agar Lian yin bisa kabur dari tempat itu.


Namun hal tak pernah di ketahui Ley, entah dari mana Yiwen menembak, tetapi dari jarak yang begitu jauh, tembakan itu mengenai lengannya. Namun tak ada yang tahu jika Ley, mengalami luka tembak. Bahkan Lian yin dan Lie Wei sekaligus.


Ley merahasiakan dari mereka, karena tak mau mereka khawatir dengannya. Dan kini luka Ley sudah semakin pulih sudah 2 hari ini, Dan saat tembakan itu terjadi, Ley juga mengeluarkan peluru itu sendiri, tanpa bantuan dari seorang dokter.

__ADS_1


__ADS_2