
“Gak mau, kenapa juga ada Mei, aku sudah muak melihatnya.
Jadi janggan pakai alasan itu untuk menconba membohongiku!!” ucap Changmin,
yang mulai berjalan masuk ke dalam rumah itu, dengan wajah sangat kesal, ia
bejalan menghampoiri Lian yin dan Yiwen yang sudah ada di depannya.
“Bentar, Yiwen. Aku pernah menemukan sebuah lorong di sini”
ucap Lian yin.
“Lorong?” ucap Yiwen bingung. “Di mana? Tanya Yiwen.
Di sebuah meja kerja, dan sepertinya itu meja kerja oraang
tua kamu atau kakek kamu dulu. Kita coba lihat di sana.” Ucap Lian yin, menarik
tangan istrinya itu, masuk ke sebuah ruang kerja yang ada di dalamnya. di sana
hanya ruangan kosong tidak ada apa-apa sama sekali. Membuat Lian yin dan Yiwen
saling menatap bingung.
“Kenapa gak ada mejanya?” tanya Lian yin.
“Mana aku tahu, aku gak pernah ke sini lagi selama lima
belas tahun” ucap Yiwen.
Yiwen segera menatik tangan Lian yin berdiri, ia mengajaknya
oergi sebauh kamar, yang dulu pernah di jadkan oenginapan saat ada or ag i
sini.”
Lian yin duduk tersungkur di lantai, ia melihat setiap detai
lantai itu, tidak ada lorong sama sekali psana, bahkan ia mencoba menyentuh semua
lantai tapi tidak bisa di buka sama sekarli
“Lorong iyu sudah gak ada aku padahal yakin pintunya itu ada
di sini, di lorong itu semua foto kamu dan kakek kamu terpajang rapi di jalan
menginjak turun. Tapi yang aku bingung sekarang, kemamna semuanya menghilang,”
Yiwen, segera menuju ke sebuah ruangan , yang sepertinya
dulu pernah di buat tidur”
“Ini kamar tidur aku?
“Kita berpencar sekarang, aku mau kamu pergi jangan di
sisiku. Kita melihat rumah sedethana ini sedetail mungkin setiap sudutnyua.”
“Bauklah!” Lian yin, beranjak menujue ke ruangan di mana ia
pernah masuk dan keluar saat terjebak dalam sebuah lorong.
Dan Yiwen berjalan menuju ke kamar kakeknya, dan kamar orang
taunya dulu, ia membuka setiap laci yang penuh debu, berada di sana. Yang ada
hanya hanyalah sebuah buku. Yang tidak sama sekali ia ketahuai buku itu apa,
Yiwen dengan badan sedkit menunduk, mengambil buku itu, jemudian berdiri tegap,
mulai membuka setiap lembar buku itu. Dengan mata yang masih sangat teliti
menbaca sebuah tulsian yang sangat kecil dengan wajah seriusnya.
“Buku apa? sebuah
buku yang membuat buku ini, dan kenapa bisa ada di laci ayah aku dulu, apa ini
buku ayah aku.. Emmm sepertinya aku bawa saja, siapa tahu aku bisa tanyakan
pada ayah nanti saat aku bertemu dnegannya lagi...” pikir Yiwen, yang mulai
memasukan buku itu di balik jaket yang ia kenakan.
“Yiwen, gimana?” tanya Lian yin, berlari menghampiri Yiwen.
“Gak ada yang bisa di temukan di sini, semuanya gak ada”
ucap Yiwen, dengan mata memutar, menatap ke atap langit atasnya.
“Apa yang kamu lihat” tanya Lian yin, yang ikut mendongakkan
kepalanya menatap ke atas.
__ADS_1
“Gak ada apa-apa, di mana Chanhgmin dan Lay?” tanya Yiwen,
yang teringat tentang dua temannya yang selalu berantem itu.
“Entahlah, dar tadi kau juga tidak melihat dia sama sekali”
ucap Lian yin, yang baru sadar jiak tadi bersama dengan Changmin da Lay.
“Lebuh baik, kita cari mereka” ucap Yiwen.
“Gak usah, kenapa kamu cari aku. Tenang saja aku gak hilang!”
ucap Changmin, berjalan masuk ke dalm ruangan itu.
Yiwen menarik naapsnya kega, melihat ke dua temannya itu
baik-baik saja.
“kalian dari mana saja?” tanay Lian yin dengan suara berat
dan tegas miliknya.
“Dari ruangan samping,” ucap Changmin.
“Ruangan samping? Emangnya di sini ada ruangan samping?”
tanya Yiwen menastikan.
“Ada!!” gumam Changmin.
“Iya, ada Yiwen, aku juga baru saja sama dia ke sana”
sambung Lay.
“Ya, sudah kita segera pergi dari sini, jangan lama-lama di
sini.” gumam Yiwen.
Yiwen muali teringat lagi, ia bergegas pergi meninggalkan
mereka bertiga masuk ke dalan ruangan yang terlihat sangat kosong, bahkan tidak
ada apa-apa sama sekali di sana. Hanya debu dan beberapa sarang laba-laba yang
menutupi jalan masuk.
Yiwen segera mencari di mana laci kamarnya yang pernah ia
pakai untuk menyambunyia potongan kertas yang di bawa Lian yin, selama ini.
“Bukanya kita ke sini, cari potongan peta harta karun itu”
jawab Yiwen, dengan wajah bingungnya, ia memutar matanya melihat sekelilingnya,
dengan tubuh memutar ke belakang beberapa detik, lalu kembali lagi mentap ke
arah Lian yin.
"Gimana, apa kamu sudah menemukannya?" tanya Lian
yin. Menatap ke arah Yiwen yang dari tadi sibuk mencari selembar kertas yang pernah
ia sembunyikan.
"Aku yakin, ini kamar aku. Tapi di mana lacinya, kenapa
gak ada. apa ada orang yang ambil laci di samping ranjang kamarku" gumam
Yiwen.
"Apa kamu gak ingat di mana kamu menaruhnya?"
"aku yakin di sini!!" ucap Yiwen dengan wajah
kesalnya. Ia bingung kenapa semuanya berubah. Namun yang bikin ia kesal kenapa
semua rumahnya berubah seakan sudah di atur sedemikian rupa.
"Apa kalian gak merasa aneh?" tanya Changmin,
berjalan masuk dengan badan memutar menatap sekelilingnya.
"Aneh gimana?" sambung Lian yin.
"Lihatlah sekeliling rumah ini. Seperti bukan rumah
sungguhan Dan sepertinya ada orang yang sedang main-main dengan kita sekarang"
ucap Changmin.yang sudha mulai menunjukan wajah seriusnya.
"Maksdu kamu?" tanya Lian yin yang bingung.
"Kamu tadi bilang ada lorong bawah tanah di sekitar
__ADS_1
sini. Dan Yiwen pernah ingat dulu kamarnya di samping ada laci kecil. Dan tempat
ini terkunci dan tidak.mungkin ada orang yang datang ke sini mengambilnya.
Lagian siapa yang mau barang lapuk yang tersimpan si sini." ucap Changmin.
"Langsung pada intinya saja," ucap Lay, yang
merasa sudah tidak sabar mendengar penjelasan Changmin.
"Ini adalah ilusi. Sepertinya kita memang di jebak.
Tempat ini bukan tempat asli rumah yiwen dulu. Lihatlah penduduk di sini sangat
padat. Dan sama seperti desa pada umumnya. Dan juga kota di sini juga jauh.
Tapi yang bikin aku bingung adalah. Bentuk rumah ini yang terlihat seperti
baru. Tapi seakan di buat menjadi rumah lama. Orang itu membiarkan laba-laba
masuk ke dalam rumah ini di biarkan lepas begitu saja tanpa pengawasan. Hingga akhirnya
membuat satang kemna-mana. Dan ini bukan
rumah asli Yiwen. Kalau Yiwen bisa jeli mengamatinya pasti dia akan tahu. "
ucap Changmin, berjalan menujuu ke kayu balok yang terlihat di depannya. Ia
meraih balok itu, dan metapnya sekilas. “Lihatlah ini, iani kayu baru, balok
yang masih baru.” Ucap Changmin, melempatkan kayu balok itu ke luar jendela
yang terbuka di depannya
Yiwen, terdiam mengamati sekelilingnya. "Apa yang kamu
katakan?"
"Apa kamu masih belum tahu apa yang menjadi
perbedaannya. kalau belum tahu sekarang kalian keluarlah. kamu amati rumah kamu
secara jernih ya. kamu ingatkan masa kecil kamu di sini. Kamu pasti tahu gimana
isi rumah ini secara detail. karena kamu juga dari kecil tinggal di sini.
Lian yin dan Lay hanya diam. Ia tidak tahu apa-apa. Yang ia
pikirkan gimana bisa rumah ini berubah.
Kalian ternyata begitu mudah di tipu.
Changmin, melemparkan
balok kayu kecil lagi di bawahnya ke luar jendela yang terlihat terbuak, ia
merasa ada yang menguintipnya.
Braakkkk..
Krtaakkkk,,,
“Sepertinya ada ornag di luar,” ucap Lian yin erlarinkeluar
di susul Yiwen dan yang lainnya. Mereka belri menuju ke tempat di mana Changmin
tadi melempar baloknya.
Yiwen mentap ke bawah, melihat balok yang tergelatak di samping jendela. Lalu mengambilnya. “Ada
bekas darah,” ucap Yiwen, mengangkat balok itu.
“Benar dugaanku, adanorang tadi yang mengintai kita di balik
jendela itu” saut Changmin.
“Kenapa kamu gak bilang dari tadi?” tanya Lay.
“Gimana mau bilang dari tadi, orang mata-matanya baru
nongol. Dan itu juga hanya kepalanya yang nongol” ucap Changmin kesal, pada
Lay.
Yiwen tidak perdulikan pertengkaran mereka berdua, ia
menatap ke arah pasir di abwahnya, yang ada jejak kaki dan tetesan daras segar,
yang tertinggl.
“Yin, kita ikuti kemana orang ini pergi!!” ucap Yiwen,
melangkahkan kakinya berjalan mengikuti jejak kaki di pasir itu. Menuju ke
__ADS_1
sebuah hutam bakau yang lebat di belakang rumah itu.