Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Episode 236


__ADS_3

“Gak mau, kenapa juga ada Mei, aku sudah muak melihatnya.


Jadi janggan pakai alasan itu untuk menconba membohongiku!!” ucap Changmin,


yang mulai berjalan masuk ke dalam rumah itu, dengan wajah sangat kesal, ia


bejalan menghampoiri Lian yin dan Yiwen yang sudah ada di depannya.


“Bentar, Yiwen. Aku pernah menemukan sebuah lorong di sini”


ucap Lian yin.


“Lorong?” ucap Yiwen bingung. “Di mana? Tanya Yiwen.


Di sebuah meja kerja, dan sepertinya itu meja kerja oraang


tua kamu atau kakek kamu dulu. Kita coba lihat di sana.” Ucap Lian yin, menarik


tangan istrinya itu, masuk ke sebuah ruang kerja yang ada di dalamnya. di sana


hanya ruangan kosong tidak ada apa-apa sama sekali. Membuat Lian yin dan Yiwen


saling menatap bingung.


“Kenapa gak ada mejanya?” tanya Lian yin.


“Mana aku tahu, aku gak pernah ke sini lagi selama lima


belas tahun” ucap Yiwen.


Yiwen segera menatik tangan Lian yin berdiri, ia mengajaknya


oergi sebauh kamar, yang dulu pernah di jadkan oenginapan saat ada or ag i


sini.”


Lian yin duduk tersungkur di lantai, ia melihat setiap detai


lantai itu, tidak ada lorong sama sekali psana, bahkan ia mencoba menyentuh semua


lantai tapi tidak bisa di buka sama sekarli


“Lorong iyu sudah gak ada aku padahal yakin pintunya itu ada


di sini, di lorong itu semua foto kamu dan kakek kamu terpajang rapi di jalan


menginjak turun. Tapi yang aku bingung sekarang, kemamna semuanya menghilang,”


Yiwen, segera menuju ke sebuah ruangan , yang sepertinya


dulu pernah di buat tidur”


“Ini kamar tidur aku?


“Kita berpencar sekarang, aku mau kamu pergi jangan di


sisiku. Kita melihat rumah sedethana ini sedetail mungkin setiap sudutnyua.”


“Bauklah!” Lian yin, beranjak menujue ke ruangan di mana ia


pernah masuk dan keluar saat terjebak dalam sebuah lorong.


Dan Yiwen berjalan menuju ke kamar kakeknya, dan kamar orang


taunya dulu, ia membuka setiap laci yang penuh debu, berada di sana. Yang ada


hanya hanyalah sebuah buku. Yang tidak sama sekali ia ketahuai buku itu apa,


Yiwen dengan badan sedkit menunduk, mengambil buku itu, jemudian berdiri tegap,


mulai membuka setiap lembar buku itu. Dengan mata yang masih sangat teliti


menbaca sebuah tulsian yang sangat kecil dengan wajah seriusnya.


 “Buku apa? sebuah


buku yang membuat buku ini, dan kenapa bisa ada di laci ayah aku dulu, apa ini


buku ayah aku.. Emmm sepertinya aku bawa saja, siapa tahu aku bisa tanyakan


pada ayah nanti saat aku bertemu dnegannya lagi...” pikir Yiwen, yang mulai


memasukan buku itu di balik jaket yang ia kenakan.


“Yiwen, gimana?” tanya Lian yin, berlari menghampiri Yiwen.


“Gak ada yang bisa di temukan di sini, semuanya gak ada”


ucap Yiwen, dengan mata memutar, menatap ke atap langit atasnya.


“Apa yang kamu lihat” tanya Lian yin, yang ikut mendongakkan


kepalanya menatap ke atas.

__ADS_1


“Gak ada apa-apa, di mana Chanhgmin dan Lay?” tanya Yiwen,


yang teringat tentang dua temannya yang selalu berantem itu.


“Entahlah, dar tadi kau juga tidak melihat dia sama sekali”


ucap Lian yin, yang baru sadar jiak tadi bersama dengan Changmin da Lay.


“Lebuh baik, kita cari mereka” ucap Yiwen.


“Gak usah, kenapa kamu cari aku. Tenang saja aku gak hilang!”


ucap Changmin, berjalan masuk ke dalm ruangan itu.


Yiwen menarik naapsnya kega, melihat ke dua temannya itu


baik-baik saja.


“kalian dari mana saja?” tanay Lian yin dengan suara berat


dan tegas miliknya.


“Dari ruangan samping,” ucap Changmin.


“Ruangan samping? Emangnya di sini ada ruangan samping?”


tanya Yiwen menastikan.


“Ada!!” gumam Changmin.


“Iya, ada Yiwen, aku juga baru saja sama dia ke sana”


sambung Lay.


“Ya, sudah kita segera pergi dari sini, jangan lama-lama di


sini.” gumam Yiwen.


Yiwen muali teringat lagi, ia bergegas pergi meninggalkan


mereka bertiga masuk ke dalan ruangan yang terlihat sangat kosong, bahkan tidak


ada apa-apa sama sekali di sana. Hanya debu dan beberapa sarang laba-laba yang


menutupi jalan masuk.


Yiwen segera mencari di mana laci kamarnya yang pernah ia


pakai untuk menyambunyia potongan kertas yang di bawa Lian yin, selama ini.


“Bukanya kita ke sini, cari potongan peta harta karun itu”


jawab Yiwen, dengan wajah bingungnya, ia memutar matanya melihat sekelilingnya,


dengan tubuh memutar ke belakang beberapa detik, lalu kembali lagi mentap ke


arah Lian yin.


"Gimana, apa kamu sudah menemukannya?" tanya Lian


yin. Menatap ke arah Yiwen yang dari tadi sibuk mencari selembar kertas yang pernah


ia sembunyikan.


"Aku yakin, ini kamar aku. Tapi di mana lacinya, kenapa


gak ada. apa ada orang yang ambil laci di samping ranjang kamarku" gumam


Yiwen.


"Apa kamu gak ingat di mana kamu menaruhnya?"


"aku yakin di sini!!" ucap Yiwen dengan wajah


kesalnya. Ia bingung kenapa semuanya berubah. Namun yang bikin ia kesal kenapa


semua rumahnya berubah seakan sudah di atur sedemikian rupa.


"Apa kalian gak merasa aneh?" tanya Changmin,


berjalan masuk dengan badan memutar menatap sekelilingnya.


"Aneh gimana?" sambung Lian yin.


"Lihatlah sekeliling rumah ini. Seperti bukan rumah


sungguhan Dan sepertinya ada orang yang sedang main-main dengan kita sekarang"


ucap Changmin.yang sudha mulai menunjukan wajah seriusnya.


"Maksdu kamu?" tanya Lian yin yang bingung.


"Kamu tadi bilang ada lorong bawah tanah di sekitar

__ADS_1


sini. Dan Yiwen pernah ingat dulu kamarnya di samping ada laci kecil. Dan tempat


ini terkunci dan tidak.mungkin ada orang yang datang ke sini mengambilnya.


Lagian siapa yang mau barang lapuk yang tersimpan si sini." ucap Changmin.


"Langsung pada intinya saja," ucap Lay, yang


merasa sudah tidak sabar mendengar penjelasan Changmin.


"Ini adalah ilusi. Sepertinya kita memang di jebak.


Tempat ini bukan tempat asli rumah yiwen dulu. Lihatlah penduduk di sini sangat


padat. Dan sama seperti desa pada umumnya. Dan juga kota di sini juga jauh.


Tapi yang bikin aku bingung adalah. Bentuk rumah ini yang terlihat seperti


baru. Tapi seakan di buat menjadi rumah lama. Orang itu membiarkan laba-laba


masuk ke dalam rumah ini di biarkan lepas begitu saja tanpa pengawasan. Hingga akhirnya


membuat satang kemna-mana.  Dan ini bukan


rumah asli Yiwen. Kalau Yiwen bisa jeli mengamatinya pasti dia akan tahu. "


ucap Changmin, berjalan menujuu ke kayu balok yang terlihat di depannya. Ia


meraih balok itu, dan metapnya sekilas. “Lihatlah ini, iani kayu baru, balok


yang masih baru.” Ucap Changmin, melempatkan kayu balok itu ke luar jendela


yang terbuka di depannya


Yiwen, terdiam mengamati sekelilingnya. "Apa yang kamu


katakan?"


"Apa kamu masih belum tahu apa yang menjadi


perbedaannya. kalau belum tahu sekarang kalian keluarlah. kamu amati rumah kamu


secara jernih ya. kamu ingatkan masa kecil kamu di sini. Kamu pasti tahu gimana


isi rumah ini secara detail. karena kamu juga dari kecil tinggal di sini.


Lian yin dan Lay hanya diam. Ia tidak tahu apa-apa. Yang ia


pikirkan gimana bisa rumah ini berubah.


Kalian ternyata begitu mudah di tipu.


 Changmin, melemparkan


balok kayu kecil lagi di bawahnya ke luar jendela yang terlihat terbuak, ia


merasa ada yang menguintipnya.


Braakkkk..


Krtaakkkk,,,


“Sepertinya ada ornag di luar,” ucap Lian yin erlarinkeluar


di susul Yiwen dan yang lainnya. Mereka belri menuju ke tempat di mana Changmin


tadi melempar baloknya.


Yiwen mentap ke bawah,  melihat balok yang tergelatak di samping jendela. Lalu mengambilnya. “Ada


bekas darah,” ucap Yiwen, mengangkat balok itu.


“Benar dugaanku, adanorang tadi yang mengintai kita di balik


jendela itu” saut Changmin.


“Kenapa kamu gak bilang dari tadi?” tanya Lay.


“Gimana mau bilang dari tadi, orang mata-matanya baru


nongol. Dan itu juga hanya kepalanya yang nongol” ucap Changmin kesal, pada


Lay.


Yiwen tidak perdulikan pertengkaran mereka berdua, ia


menatap ke arah pasir di abwahnya, yang ada jejak kaki dan tetesan daras segar,


yang tertinggl.


“Yin, kita ikuti kemana orang ini pergi!!” ucap Yiwen,


melangkahkan kakinya berjalan mengikuti jejak kaki di pasir itu. Menuju ke

__ADS_1


sebuah hutam bakau yang lebat di belakang rumah itu.


__ADS_2