
Keesoka harinya, ayam sudah berkokok sangat nyaring. Pemandangan halaman rumah Yiwen, yang di penuhi pepohonan rindang. membuat teduhan burung-burung yang akan mengeluarkan telur anaknya. Suara tangisan anak burung yang baru menetas, hingga nyanyainya saling berpadu dalam sebuah cahaya pagi harii
Udara sejuk pagi hari, terasa masih sangat alami, beda dengan di kota. Membuat tambah pusing, Tidak ada yang ia rasakan di sana. hanya beberapa polusi kendaraan yang membuat semakin sesak.
"Yiwen, kamu sudah bangun!!" Lian yin, yang sudah bersiap menggunakan berbagai peralatan, senjata juga sudah lengkap. Ia mencoba membangunkan Yiwen, yang masih terbaring pulas di ranjangnya.
"Apa syang!! Aku masih ngantuk. Nanti saja bangun. Aku masih ngantuk syang" Yiwen, mengangkat tangannya, menggoyangkan perlahan telapak tangannya, memberi aba-aba untuk pergi.
"Yiwen!! Kamu ikut gak? Kalau kamu gak ikut gak masalah. Aku bisa berangkat sendiri dengan Changmin. Kamu di sini saja. Jadi aku gak terlalu ribet ajak kamu"
Lian yin, beranjak bediri. Mencoba melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Yiwen yang masih saja gak mau bangun. Ia terdiam sejenak, memikirkan apa yang akan dia lakukan. thiinnngg..
Sebuah ide tiba-tiba muncul di otaknya. Lian yin berjalan kembali mendekati Yiwen, memgangkat tubuhnya paksa ala bridal style, berjalan menuju kamar mandi. "Ternyata brlum bangun juga kamu" gumam Lian yin, yang sudah semakin kesal di buatnya.
Yiwen yang masih pulas, ia bahkan tidak membuka matanya sama sekali. Di atas gendongan Lian yin, hanya gerakan kecil darinya, dan semakin pulas tidurnya.
"Maaf ya syang!!" ucap Lian yin.
byuurrrr...
Lian yin, menceburkan tubuh Yiwen tepat di dalam bathup kamar mandi. Bathup yang penuh dengan air itu seakan tumpah kemana-mana.
Yiwen mengusap wajahnya berkali-kali. Sakan di penuhi air.
"Yin... Apa yang kamu lakukan?" ucap Yiwen kesal, ia mengerutkan bibirnya, menatap tajam ke arah Lian yin.
"Kamu ngeselin. Aku gak suka!! ucap Yiwen, melemparkan pandangannya berlawanan arah. dengan ke dua tangan bersendekap kesal.
"Kamu mandi sekarang atau aku yang mandiin kamu. " ucap Lian yin.
"Gak mau!! Iya-iya aku mandi. Tapi kamu keluar sana." Yiwen beranjak dari dalam bathup, dengan sekujur tubuh yang sudah basah kuyup.
"Emangnya kenapa kalau aku di sini?" tanya Lian yin.
"Aku gak mau jika kamu melihatku. Lagian aku mau kamu pergi sekarang belikan aku pembalut. Dan ingat cepetan jangan lama-lama" ucap Yiwen.
Lian yin, seketika mengerutkan keningnya. "Beli pembalut?" tanya Lian yin memastikan.
"Itu yang seperti apa?" lanjutnya.
"Kamu bisa tanya pada penjualnya." ucap Yiwen, membalikkan tubuh Lian yin, mendorong punggung menjauh keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Ingat cepetan!! Gak pakai lama!! Aku selesai mandi kamu sudha harus ada di kamarku" ucap Yiwen, menutup pintunya rapat.
"Eh.. tapi Yiwen, aku sudah pakai baju seperti ini. Kamu malah suruh aku beli pembalut"
"Aku gak perduli, cepat pergi!!" teriak Yiwen, menggema ke seluruh penjuru rumah. Membuat Lian yin takut untuk menjawab lagi.
Lian yin hanya diam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. gimana bisa ia harus beli pembalut. Apa kata orang nanti. Tapi demi istriku. Hemm.. Aku gak perduli. Dari apda dia marah-marah nantinya. Pikir Lian yin.
Lian yin beranjak masuk ke dalam supermarket. Dengan santainya ia memilih beberapa pembalut untuk Yiwen. "Pembalut mana yang sering ia gunakan. aku gak tahu.. Emmm.. Lebih baik beli beberapa saja biar dia bisa memilih." guman Lian yin.
Lian yin yang bingung sendiri memilih. Ia membawa semua pembalut dengan berbagai merk. Dan ia segera pergi menuju ke kasir. Membayar semuanya tanpa rasa malu. Gimana bisa pakaian style lengkap untuk tugas, eh malah ke supermarket beli pembalut.
langkahnya terhenti saat melihat Tao dan Luhan berada di tempat yang sama dengannya. Ia mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu dia ada di sini? Apa yang sedang mereka lakukan? Ternyata benar apa yang di katakan Yiwen jika mereka ada di kota ini"
"Semua total seratus lima puluh ribu pak" ucap pegawai kasir.
Lian yin segera mengeluarkan beberapa lembaran uang, dan memberikan pada kasir.
"Barangnya aku titip sebentar" ucap Lian yin, beranjak pergi, mengikuti Luhan, ia bersembunyi di balik rak makanan, dan mengintip di sela-sela rak makanan yang kosong.
"Yin, " panggil Tao, menepuk punggung Lian yin dari belakang.
Mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Lian yin, berdiri tegap, dengan wajah was-was, ia menoleh ke belakang. Seketika, terbelalak. Melihat Tao sudah di belakangnya.
Bukanya tadi dia di depan, kenapa cepat banget di belakangku. Apa dia tahu kalau aku mengikutinya. Pikir Lian Yin.
Tao menggerakkan kepalanya sembilan puluh derajat menatap wajah Lian yin. Yang terdiam, tanpa suara di depannya.
"Yin, kamu gak papa?" tanya Tao, menatap aneh pada Lian yin.
"Ehh... Iya, Aku gak napa-napa, kamu kenapa ada di sini?" tanya Lian yin, menghilangkan rasa gugupnya.
"Aku lagi cari bahan makanan. Apa kamu di sini sama Yiwen" tanya Tao.
Lian yin semakin curiga dengan Tao, kenapa dia mencari istrinya. Sudah tahu di depannya adalah suami Yiwen. Tapi beraninya dia tanya tentang Yiwen padanya. "Emangnya kenapa?" tanya Lian yin.
"Gak ada apa-apa. Aku ingin bicara padanya" ucap Tao.
"Ya, udah kalau memang kamu mau bicara silahkan. tapj dia gak ada di sini. Dia di rumah, sibuk dengan tugasnya. " Lian yin mencoba mencari Alasan agar Tao tidak curiga padanya.
__ADS_1
Lagian kenapa juga di tanya soal Yiwen, dan mau berbicara dengannya. Jangan bilang kalau bicara soal perasaan. Kalau sampai iya, aku bisa cengkram dia sampai jadi kepingan batu. Umpat kesal Lian yin dalam hatinya.
"Oo.. Ya , sudah lanjutkan saja kalau belanja" ucap Tao. Seakan dia terlihat biasa, tanpa rasa takut sama sekali, bisa keluaar masuk ke di kotanya. Tanpa ada pemeriksaan sama sekali. Pasti dia menggunakan trick kotor, untuk mempermudah semuanya.
"Kamu bersama siapa sekarang" tanya Lian yin.
"Aku dengan Luhan.. Di masih belanja." ucap Tao, masih terlihat sangat santai.
"Tao.. "
"Tao.."
Suara Luhan mencoba memanggil Tao.
"Eh... Lian yin, kamu ada di sini?" tanya Luhan, berjalan mrnghampiri Tao dan Lian yin.
"Eh.. Luhan!! Kebetulan sekali kita ke sini" ucap Lian yin.
"Aku gak nyangka bisa bertemu dengan kamu sekarang." ucap Luhan.
"Gimana kalau kita bicara di luar" ucap Lian yin.
"Emangnya kamu ada waktu, sepertinya kamu lagi sibuk sekarang." ucap Luhan.
"Gak sibuk. Ada yanga ku ingin tanyakan pada kamu" ucap Lian yin dengan wajah yang sudah mulai serius.
"Baiklah" ucap Luhan, yang segera menuju ke kasir. Membayar beberapa barang belanjaannya.
Sedangkan Lian yin, mengambilkan belanjaan pembalutnya yang ia titipkan tadi. Dan beranjak keluar lebih dulu.
"Yin, kenaoa kamu beli pembalut. Pasti di suruh istri kamu ya?" goda Luhan.
Lian Yin, menatap belanjaannya. Dengan senyum tipis menatap ke arahnya.
"Iya istri aku yang suruh belanja. " ucap Lian yin.
"Dan kamu ada urusan apa datang ke sini?" tanya Lian yin terus terang.
Hanya untuk main-main. Dan pergi ke rumah teman. " ucap Luhan. "Ya, udah aku pergi dulu. Ada hal yang masih harus aku lakukan" Luhan, bergegas pergi meninggalkan Lian yin.
"Yiwen pasti marah-marah nanti kalau aku marah" gumam Lian yin, menatap mobil Luhan yang sudah semakin menjauh. Ia juga beranjak pergi dari depan supermarket itu .
__ADS_1