Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Salah paham


__ADS_3

Grace merasa bersalah, ia memandang Changmin yang hanya diam menatap ke pintu. 


"Lebih baik kamu sekarang pergi, susul Mei. Dia pasti salah paham dengan kita. Jangan biarkan dia salah oaham dan menagis seperti itu kasihan diam" Ucap Grace, memegang tangan Changmin. 


"Tap--" 


"Sudah lebih baik sekarang kamu susul dia, jangan bikin kecewa wanita yang suka dengan kamu" ucap Grace menepuk bahu Changmin, dengan senyum menis menyungging di bibirnya. 


Changmin mulai bingung, ia harus pergi atau tetap merawat Grace. Tapi ia tidak ingin meninggalkan Grace sendiri. Dan di lain sisi hatinya pergi, dan marah dengannya. 


"Kenapa kamu masih diam? Lebih baik sekarang kamu pergi. Aku gak apa-apa di sini sendiri" ucap Grace. 


"Tapi.. Aku mau bantu kamu makan dulu. Dan kamu harus minum obat. Setelah itu aku pergi" ucap Changmin, mengambil satu mangkok bubur di meja. 


Grace memegang tangan Changmin, dan meraih mangkoknya. "Aku bisa makan sendiri, lebih baik sekarang kamu pergi dulu. Kejar dia, lagian kalau hanya makan aku bisa sendiri. Yang oentingsbekaenag slwmaatkan hatimu, jangan biarkan dia pergi dari kamu" ucap Grace. 


Changmin terdiam, menarik napasnya. Ia merasa berat jika meninggalkan Changmin. 


"Baiklah, Aku pergi dulu, kamu bisa makan sendiri-kan? Aku gak mau nantinya kamu malah gak makan. Nanti setelah masalh selesai aku akan kembali dengan segera. Lagian tugas kita juga masih banyak. Kamu juga harus di rawat intensif untuk kesembuhan kamu biar lebih cepat. Dan kita bisa membuat robot bersama nantinya. " Ucap Changmin yang masih khawatir denga keasaan Grace. 


"Udah jangan perdulikan aku dulu,aku bisa makan sendiri setelah itu aku mau minum obat. Kalau soal pekerjaan bisa di bicarakan lagi besok. Kita nasih banyak waktu." ucap Grace, mendorong bahu Changmin agar segera beranjak dari ranjangnya. Ia tidak mau lama- lama meninggalkan Mei yang sudah menangis dari tadi. 


"Baik, kamu tunggu aku ya, aku akan segera kembali." ucap Changmin, yang mulai beranjak keluar dari kamar Grace. Berjalan menuju ke pintu, ia memegang knop pintu, namun langakahnya terhenti. Menatap ke belakang. Melihat Grace yang tersenyum padanya. 


"Aku akan segera kembali kakak


Penyelamatku" Changmin segera membuka pintu, dan beranjak pergi dari kamar Grace. 


~


Mei berlari dengan menuju ke kamarnya. Ia sangat kecewa kali ini dengan sikap hati Changmin yangbtidak bisa tegas untuk memilih. Dan orang yang ia percaya ternyata di belakangnya hanya main-main dengan dengan wanita lain. Melihat kejadian tadi membuat Mei merasa terpukul.


Dan di sisi lain, Lay yang baru pulang. Dengan membawa beban masalah di pikirannya. ia berjalan tanpa suara sedikitpun dengan wajah di tekut, menyembunyikan kesedihan hatinya. Ia melintas melewati Changmin di sampingnya. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah temannya itu.


"Lay kamu dari mana?" Tanya Changmin, yang semula berjalan terburu-buru, ia menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Lay. 


Lay hanya diam, dan terus berjalan menuju ke kamarnya. "Aneh kenapa dia jadi pendiam? Tadi pergi dia ceria banget, semua orang di sapa. Sekarang dia cemberut gitu. Dasar aneh!" Ucap Changmin menggelengkan kepalanya dan beranjak pergi mengabaikan Lay yang lagi banyak masalah. Lagian jika ia mendekati Lay dan bertanya dia pasti marah, "lebih baik aku pergi saja, dari pada aku harus ke kamar Lay, bisa-bisa dia ngamuk-ngamuk entar. Gara-gara aku banyak tanya padanya. Nunggu sampai dia lebih tenang baru aku tanya padanya. Dan sekarang aku harus pergi menemui Mei, dia pasti marah dan salah paham padaku" gumam Changmin, yang langsung berjalan menuju ke kamar Mei. 


Tok.. Tok.. Tok..


"Mei buka, apa kamu di dalam?" Tanya Changmin, yang sudah berdiri di depan pintu. 


"Pergi, aku gak mau bicara denganmu" teriak Mei, yang berbaring tengkurap di ranjangnya, memeluk guling, ia menutup wajahnya yan sudah penuh dengan air mata. 


Aku benci dengan kamu, aku benci. 


Kata itu yang terus terlontar di bibir Mei. Dia benar-benar sangat kecewa dengan Changmin. Ia berharap kejujuran hati Changmin untuk memilih Grace atau dirinya. Tapi jawaban itu sepertinya sudah pasti. Membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi pada Changmin.


"Mei, aku ingin jelasin padamu sekarang" ucap Changmin. 


"Gak ada yang perlu di jelasin lagi, aku mau kemu pergi sekarang. Jangan ganggu aku, aku ingin sendiri" ucap Mei. 

__ADS_1


"Mei buka dulu sebentar saja. Jika kamu gak mau bicara dengan aku. Biarkan aku jelaskan padamu, hanya satu menit saja kamu ingin bicara denganmu" gumam Changmin, yang masih tetap berdiri di depan pintu. 


"AKU BILANG PERGI!" Bentak Mei. 


"Aku sudah bilang gak akan eprgi sebelum kamu keluar" ucap Changmin. "Aku akan tetap di sini menunggu kamu keluar, dari kamar kamu" lanjutnya. 


Mei yang nerasa kesal, di lain sisi ia juga tidak tega jika terus marah dengannya. Dengan berat hati Mei bangkit dari ranjangnya, dan harus menerima penjelasan darinya. 


Mei beranjak menuju ke pintu, memegang knop pintu, dan membukanya perlahan. Ia terdiam dan memalingkan wajahnya seketika saat melihat Changmin berdiri di depannya. 


"Apa?" Ucap Mei sinis.


Changmin mencoba nemegang ke dua tangan Mei. "Dengarkan penjelasan aku dulu Mei, aku dengan Grace gak ada apa-apa. Dia itu wanita yang menolong aku dulu. Dia teman Lian yin, aku gak mungkin suka dengannya. Lagian dia itu oranganya gak begitu mudah jatuh cinta dengan laki-laki lain. Dan juga sebaliknya. Aku juga gak bisa jatuh cinta dengan wanita lain. Aku hanya syang dengan kamu" ucap Changmin, meletakkan tangan Mei ke dadanya. Dan salah satu tangannya memegang pipinya lembut "Di hatiku hanya ada kamu, tidak ada orang lain. Jadi sekarang percaya padaku, jangan terlalu cemburu berlebihan padaku. Aku syang dengan kamu."


"Kamu bohong, jika kamu syang dengan aku kenapa kamu dekat dengan wanita lain. Dan dia tadi menyentuh tangan kamu. Dan kamu juga selalu duduk di ranjangnya setiap aku ingin masuk ke kemar Grace aku melihat kamu dengan posisi yang sama dengan Grace." Ucap Mei. 


"Mei, aku dan dia ada tugas. Jadi kamu itu harua dukung aku. Jangan seperti ini. Aku mohon kamu ngertiin aku ya. Aku gak mungkin bisa berpaling" ucap Changmin.


Mei tak bisa berkutik lagi, ia merasa sangat nyaman dengan kata-kata Changmin , yang seketika membuat hatinya luluh. Amarah yang bekobar dalam hatinya, seketika luntur. Di balas dengan senyum tipis di bibir Mei. Changmin tersenyum, dengan jemari tangannya mengusap lembut air mata yang jatuh di pipi Mei. 


"Jangan nangis lagi ya" ucap Changmin, Seketika langsung memeluk tubuh Mei, 


"Kamu janji jangan ulangi itu lagi, aku gak mau jika kamu dekat dengan wanita lain seperti itu. Aku gak mau kehilangan kamu" ucap Mei membalas pelukan Changmin. 





"Aku gak pernah membawa kamu di restauran mewah seperti ini" ucap Lian yin, mengesap lembut pipi Yiwen. 



"Tapi aku merasa minder, kalau tadi kamu bilang kalau kamu akan pergi ke restauran mewah. Aku pasti akan pakai gaun, agar terlihat menarik dan sama seperti mereka. Dan aku juga tidak malu\-maluin kamu." ucap Yiwen, sambil melanjutkan makanya dengan penuh ragu. 



"Udah sekarang makan dengan tenang, jangan melihat ke arah mereka semua. Kamu tetap tenang" ucap Lian yin. "Ya, udah cepat kalau makan, aku sudah malu syang" ucap Yiwen. 



Lian yin tersenyum, dengan tangan mengambil minuman di depannya, meneguknya perlahan, lalu meletakkannya kembali. "Sekarang kita pergi" ucap Lian yin. 



"Tapi aku belum selesai makan!" Ucap Yiwen, mengerutkan bibirnya. Ia belum kenyang makan semua makanan mahal yang sudah terlanjur di pesan. 



"Ya sudah kalau kamu gak mau pergi, makan lahap semua makanan di sini" ucap Lian yin. 

__ADS_1



Yiwen mengerutkan bibirnya, menatik napas panjangnya. 


"Baiklah aku makan" gumam Yiwen, yang langsung makan dengan lahapnya tanpa perdulikan semua orang yang menatap ke arahnya. Ia merasa masa bodo dengan orang\-orang di sekitarnya, yang penting sekarang dia bisa makan sampai kenyang. 



"Udah selesai?" Tanya Lian yin. 



"Udah kenyang syang" ucap Yiwen, mengusap perutnya berkali\-kali. 



"Kamu ini benar\-venar menggemaskan" ucap Lian yin mencubit ke dua pipi Yiwen.



"Eh.. bentar kamu diam dulu syang" ucap Lian yin, mengambil tisu dan mengusap ujung bibur Yiwen yang ada sisa makanan yang menempel. 



Pandangan mereka saling tertuju, dengan tangan saling berpegangan. "Tadi katanya kamu mau cerita" ucap Yiwen, yang lansung nengalihkan pandangan Lian yin. 



"Kamu masih ingat saja" Lian yin, meneguk minumannya kembali. Dan mulai berbicara dengan Yiwen. 



"Kamu mau tanya apa?" Tanya Lian yin.



"Kenapa balik nanya ke aku, padahal aku itu tanya ke kamu syang. Kenapa kamu malah nanya ke aku" ucap Yiwen. 



"He.. he.. iya, sekarang kamu gak malu lagi di sini, kalau enggak aku cerita di sini. Kalau kamu mau pulang. Kuta cerita di rumah saja" Yiwen seketika mengerutkan bibirnya. "Kenapa kamu nunda sih?" Tanya Yiwen kesal. 



"Cerita di sini atau di rumah?" Tanya Lian yin. 



Yiwen beranjak dari duduknya menatap ke arah Lian yin.


"Ya sudah di rumah saja" Ucap Yiwen dengan nada kesal, ia segera pergi lebih dulu dari reataurant itu. Dan Lian yin berjalan mengikuti Yiwen yang sudah melangkah jauh darinya. 

__ADS_1


__ADS_2