
"Sayang, Jia katanya kabur dari rumah," teriak Yiwen sontak membuat Lian yin terkejut.
"Bagaimana dia kabur? Bukanya di sana di jaga sangat ketat," Lian yin beranjak berdiri.
"Iya, tapi nyatanya dia bisa kabur sekarang." Yiwrn semakin khawatir.
"Jangan bercanda, Yiwen. Apa kamu yakin dengan itu?" tanya Lian yin memastikan.
Yiwen mencoba menghubungi seseorang di ponselnya, ke dua tangannya yang gemetar hampir saja membuat ponsel itu terjatuh.
Lian yin memegang ke dua bahu Yiwen, "Tenangkan dirimu lebih dulu," ucap Lian yin.
"Enggak, aku gak bisa tenang. Aku harus segera mencarinya. Aku harus segera bertemu dengannya." air mata Yiwen tak terbendung lagi. "Yin, sekarang kita kembali lagi. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan, Jia... Aku tidak mau jika seseorang akan menculiknya nanti. Aku.. Aku gak bisa tinggal diam di sini.. Aku gak bisa."
Lian yin mencengkeram erat ke dua bahu tangan Yiwen. Kemudian menggoyangkan perlahan, mencoba menyadarkan istrinya itu.
"Yiwen.. Tenangkan dirimu! Percaya padaku, Jia bukan wanita lemah. Aku yakin dua bisa jaga diri. Dan kakak aku juga pasti akan segera menemukannya.
"Tapi sampai kapan?"
"Kamu gak percaya sama mereka?" tanya Lian yin memastikan dengan nada sedikit kecewa.
"Aku terlalu khawatir dengannya." Yiwen menyandarkan kepalanya di bahu Lian yin.
__ADS_1
"Hikss... Hiksss..."
"Kamu harus janji segera menemukan dia,"
"Aku di sini menemani kamu. Tetapi kakak aku pasti sekarang dia sekarang sedang mencari, Jia. Jadi kamu jangan khawatir lagi." Lian yin memeluk erat tubuh istrinya, menenggelamkan kepalanya di dada bidang miliknya. Lian yin mengusap lembu punggungnya, mencoba memberikan keterangan dalam hatinya.
"Jika kamu sudah tenang, kita akan coba hubungi Ley, untuk membantu mencari Jia." ucap Lian yin, melepaskan pelukannya.
"Baik, kita hubungi Ley sekarang. Aku tidak mau menundanya lagi. Dia harus segera menemukan Jia. Lagian anaknya juga ikut dengannya anak kita." Yiwen semakin gemetar hebat, tubuhnya seakan tak kuat lagi berdiri, tangannya juga tidak bisa memegang ponselnya.
"Sudahlah, biar aku saja yang menghubungi dia," Lian yin meraih ponsel Yiwen. Dan mulai menghubungi Ley, tanpa basa-basi lagi. Dia berbicara tentang anaknya. Dan ternyata Ley juga tahu, jika Jia dan Delano kabur dari rumah. Sekarang Ley sudah dalam tahap pencarian dan sudah menyerahkan para pengawalnya untuk membantu dia mencari anaknya.
\=\=\=\=\=\=\=
"Delano, ayo kita ke sana," ucap Jia, berlari lebih dulu masuk ke dalam taman hiburan.
Bruukkk...
Tak sengaja dia menabrak seseorang di depannya. Tubuh yang menjulang tinggi. Dengan raut wajah sangat tampan.
"Maaf, om!" ucap Jia.
"Tidak masalah," ucap orang itu, dia duduk jongkok menatap Jia. Seketika ke dua matanya mengkerut di saat melihat kalung di leher Jia dengan gantungan berlian di tengahnya.
__ADS_1
"Emm.. Nama kamu siapa?" tanya laki-laki asing itu.
"Jia.. Kamu jangan buru-buru," teriak Delano, membuat Jia menoleh seketika tanpa memerhatikan orang di depannya.
"Delano.. Cepetan kamu lama sekali," Jia berlari pergi lagi tak perdulikan ucapannya.
Jia? Siapa dia? Apa dia anak Lian yin? Berlian itu, aku sangat yakin sekarang. Laki-laki itu tersenyum tipis, dan beranjak pergi.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Jia, tadi siapa?" tanya Delano, menarik tangan Jia.
"Emm.. Entahlah! Aku juga tidak tahu." Jia menarik tangannya, berlari pergi lebih dulu menaiki biang lala.
"Tunggu!!" Delano berlari menghampiri Jia.
Mereka naik biang lala bersama, pandangan mata Jia tak lepas dari seorang laki-laki yang dari tadi terus melihatnya. Dia bahkan tidak berhenti terus mengamatinya. Delano yang sadar dua mulai curiga.
"Jia..." panggil Delano.
"Apa, bawel." ucap kesal Jia.
"Jangan terlalu percaya pada orang yang tidak di kenalnya. Kamu tahu kan, apa yang di katakan ayah Chen. Jangan pernah dekat dengan orang asing jika kita berada di luar sendiri. Dan jangan terlalu percaya dengan ucapan orang asing."
__ADS_1
"Sudah, tenang saja!"