
Yiwen yang baru saja selesai ganti pembalut, ia segera
keluar menemui Lian yin. Ia melihat Lian yin pulang-pulang wajahnya berubah
serius. “Kita jadi pergi sekarang atau tidak?” tanya Yiwen, berjalan ringan menghampiri
Lian yin yang duduk sendiri menatap ke arah jendela kamar Yiwen. Melihat
pemndangan luar yang nampak begitu indah dan sejuk. Pohon-pohon tumbuh dengan
sehat, semua berwarna hijau.
“Jadi tapi kita nunggu Changmin. Sebentar lagi dia akan
datang” Jawab Lian yin tidak mentap ke arah Yiwen sama seklai. ” Tapi aku masih
kepikiran dengan Luhan dan Tao, ap sebnarnya yang mereka lakukan di sini,
kenapa mereka secara diam-diam masuk.” Gumam Lian yin.
“Lebih baik kamu hubungi Changmin sekarang, iya kalau
Changmin sudah di rumah. Dan kalau dia masih tidur gimana”
“Akau sudah kirim pesan padanya” ucap Lian yin datar.
Yiwen berdiri di samping Lian yin, “ya, sudah. Soal Tao dan Luhan, kenapa kamu gak tanya dengan
mereka?”
“Aku sudah coba tanya. Tapi apa, kata mereka, mereka hanya
ingin mencari hiburan. Jawaban yang membuat aku semakin bingung.” Ucap Lian
yin.
“Bnetar... Apa ini ada hubungannya denagn rumah itu ya,
Rumah yang aku pernah ceritakan padamu. Bukanya aku pernah bilang jika rumah
itu, tidak asing bagi Mei. Tapi... “ ucap Yiwen, tiba-tiba terdiam. Tidak
melanjutkan ucapanya, ia mulai terpikirkan cara untuk mengetahuai semuanya.
Wajah Yiwen mulai serius, ia memutar matanya, mencoba mengingat apa yang
terjadi.
“Yin, kamu sekarang ikut aku” Yiwen menarik tangan Lian yin,
segera kaluar dari kamarya, dengan langkah semakin cepat menuruni anak tannga.
Lian yin hanyan diam, di buat bingung apa yang Yiwen lakukan, yang tiba-tiba
menariknya pergi. Tanpa bicara apa-apa sama sekali.
“Kita mau kemana?” tanya Lian yin.
“Kita pergi sebentar, hanya sebentar.” Ucap Yiwen.
“Iya, pergi kemana. Apa ada hal penting lagi yang
ketinggalan?” tanya Lian yin.
“Udahlah, jangan banyak tanya lagi. Aku yakin ini penting.
Dari pada kamu resah jika Luhan akan berbuat buruk nantinya. Lebih baik kita
buktikan sendiri dengan segera, agar semuanya tuntas, gak ada pikiran yang
mengganjal lagi di otak kamu itu. Sebelum kita pergi, kita bisa menuntaskan
semuanya” ucap Yiwen menjelaskan pada Lian yin.
“Kita tunggu Chnagmin dulu..” ucap Lian yin.
“Gak usah, Yin. Kenapa kamu malah menunggu dia. Di sini gak
ada parkiran untuk halicopter kamu. Nanti dia juga yang akan menunggu kita. Dan
gak mungkin jika dia pergi sendiri kan, jadi jangan khawatir. ” gumam Yiwen,
__ADS_1
yang segera masuk ke dalam mobil Yiwen.
Lian yin hanya diam, ia menatap ke arah Yiwen bingung.
“Cepat, masuk. Dan jangan banyak tanya lagi” lanjut Yiwen
tegas.
Lian yin menghelan napasnya kesal, ia terpaksa harus
menuruti kata istrinya itu. Jika memang ingintahu semuanya. “Haahh... Semoga
dia cepat tahu semuanya, dari pada nanti ujung-ujungnya malah muter-muter jalan
raya gak jelas” pikir Lian yin, mulai masuk ke dalam mobilnya.
“Kita akan ke alamat, di mana aku pertama kali bertemu
dengan Luhan” ucap Yiwen, yang langsung memakai seatbelt-nya. “Aku itugak
terlalu suka jika kamu selalu curiga dengan orang hanya memikirkannnya, tanpa
langsung menyelidikinya. Biar semua jelas. Lanjut Yiwen menjelaskan.
“Iya,” Lia yin langsung mengemudi mobilnya, melaju dengan
kecepatan tinggi melesat ke jalan raya
Yiwen, bepegangan sangat kuat, menatap ke kiri dan ke kanan,
melihat sekelilingnya.
`````
Di sisi lain Changmin yang baru saja pulang dari sebuah bar,
ia berjalan masuk dengan sepoyongan menuju ke kamarnya.
“Min, kamu kenapa?’ tanya Grace, berjalan pelan menghampiri
Chnagmin.
Changmin yang memang setengah sadar, ia hanya tersenyum, menatap
“Kamu cantik juga!!” ucap Changmin.
Grace duduk di sofa, mencoba membantu Changmin untuk, duduk
di sampingnya, dengan tangan sesekali memegang perutnya yang masih terasa
sakit.
Bau alkohol menyengat dari tubuh Changmin, membuat Grace
mengernyitkan hidungnya.
Apa yang terjadi dengan Changmin, kenapa dia jadi seperti
ini. Selama aku tinggal di sini beberapa hari. Dia terlihat biasa-biasa saja
seolah tanpa ada masalah sama sekali. Dan apa ini gara-gara wanita. Pikir
Grace.
Ia mengusap wajah Changmin, yang kini tubuhnya semakin
lunglai, tergeletak di sofa, menyandar di bahunya. “Grace, kamu cantik juga!!”
ucap Changmin, tersenyum tipis, memegang ke dua pipi Grcae, mentapnya sangat
dekat. Grace yang toidak suka bahu minuman, ia memalingkan wajahnya menghindari
wajah Changmin.
Bruukk...
Changmin tergeletak di sofa, Grace mencoba membaringkan dia
di atas sofa. Dan pahanya sebagai bantal, tumpuan kepala Changmin. “Changmin,
kenapa kamu seperti ini, setiap ada masalah kamu cerita padaku” ucap Grcae, mengusap
__ADS_1
lembut Changmin lembut.
Changmin yang tiba-tiba sadar lagi, ia meraih tangan Grace,
memegangnya erat. Meletakkan tangannya di dadanya.lalu tidu kembali dengan
pulasnya.
“Apa yang harus kau lakukan sekarang” ucap Grace, “Aku harus
bawa di ke kemarnya” lanjutnya.
Grace, dia kenapa?” tanya Lay, yang berjalan ke arahnya.
“Dia mbuk, entah ada masalah apa” jawab Grace.
“Tumben banget dia mabuk, padahal dia sebelumnya belum
pernah yang namanya minum” ucap Lay, yang memang sudah lama kenal dengan
Changmin.
“Ada apa?” tanya Lyli yang mengikuti Lay.
Pandangan Lyli mengarah pada Chanmgmin yang tergeletak di
sofa. “Kenapa dia? Apa dia mbok?” tanya Lyly.
“Iya,” jawan Grace, dengan wajah yang sudah mulai khawatir.
“Udah sekarang, aku bantu kamu bawa dia ke kamarnya ya.”
Ucap Lyli.
“Baiklah,” Grace beranjak berdiri, meletakkan kepala
Changmin di sofa secara perlahan.
Lay hanya diam, ia masih bingung dengan Changmin. Semalamam
tidak pulang dan pulang-pulang mabuk. Apa ada masalah dengan wanita? Atau dia
putus dengan Mei?atau ada masalah lain yang ia pendam sendiri. Pikir Lay.
Lyli dan Grace segera membawa Changmin masuk ke kamamrnya,
membaringkan tubuhnya di atas ranjang. “Grace, lebih baik kamu usah tubuhnya.
Biar bau minuam di tubuhnya hilang” ucap Lyli, menepuk bahu Grace, dan beranjak
pergi meninggalkan Grace sendiri.
Grace masih terdiam, menatap beberapa detik Changmin, lalu
beranjak pergi meninggalkan Changmin. Grace segera mengambil air untuk Changmin
dan handuk kecil untuk membasuh tubuhnya.
Selesai mengambil air grace segera kembali masuk ke dalam
kamar Changmin, Ia duduk di pinggiran ranjang Changmin. Meletkkan baskom yang
berisikan air itu di atas meja kecil samping ranjangnya. Grace, menarik
napasnya dalam-dalam, ia ragu melepaskan kemeja Chnagmin yang maish menuupi
tubuhnya.
Ia tidak punya pilihan lain. Dengan terpaksa. Ia melepaskan
kemeja Chnaghmin, dan mulai membasuh tubuhnya, dengan tangan terasa gemetar
melakukan itu pada Changmin. Tetapi, Grcae mencoba untuk menhana rasa tajutnya,
dan mengusap sekujur tubuh Changmin dnegan air segera. Grace, membersihkan
wajah Changmin dengan air, menyilakan rambut yang hampir menutupi matanya.
“Changmin, kamu tahu. Aku baru pertama kali seperti ini”
gumam Grace, meletakkan handunknya ke dalam baskom. Ia mentap ke arah Changmin,
__ADS_1
melihat detail setiap ukiran wajah Changmin yang membuatnya bergitu tertarik
dengannya.