
Lay dan Lyli baru saja sampai di sebuah hotel? di mana dia akan tinggal berdua. Mungkin akan tinggal selama satu minggu. Tapi jika Lian yin, masih membutuhkannya, ia siap untuk tinggal, asal berdua dengan Lyli, pasti akan lebih menyenangkan lagi baginya.
Sampai di hotel, Lay langsung mengajak Lyli masuk ke dalam kamar, yang sudah ia pesan tadi.
"Lay, kenapa kamu hanya memesan satu kamar tadi" tanya Lyli, menatap kesal pada Lay.
Di setiap langkah Lyli, hanya diam menahan kesalnya tadi, dan sekarang ia ingin meluapkan semua kekesalannya tadi. Lagian ia tidak mau jika akan terjadi gosip jika berdua di kamar yang sama dengan Lay.
“Karena aku tidak mau jauh dari kamu, aku ingin meindungi kamu. Dan tenang saja, aku tidak akna menyentuh kamu sama sekali.” Ucap Lay, yang sudah masuk ke dalam hotel yang ia pesan, ia beranjak duduk bersandar di sofa, dengan ke dua tangan terlentang di atas dan kepala bersandar di sofa.
Brakkk...
Lyli menjatuhkan barang-barangnya.
"Tapi, apa kamu gak curiga di sini?" tanya Lyli, menatap sekelilingnya.
"Curiga apa? Dari dulu tempat ini sangat aman, jadi jangan pernah curiga lagi. Sekarang jika kamu mau mandi, mandilah. Jika mau istirahat, ya langsung saja istirahat. Mau akan berbaring di sofa."
"Lay, aku serius. Aku merasa ada hal yang mencurigakan."
"Udahlah, lebih baik sekarang kamu istirahat, mungkin kamu terlalu cepek, tadi perjalanan jauh." ucap Lay.
Lyli beranjak berdiri, menghenatkakn kelainya kesal, menatap takam ke arah Lay.
Dia tidak menghiraukanku, ya, sudah lebih baik aku diam saja. Aku yakin jika tempat ini ada yang aneh.
“Perjalanan yang melelahkan,” ucap Lay, memejamkan matanya sejenak. Menyandarkan algi punggungnya di sofa, dengan kepala diatas sofa,
Sedangkan Lyli, yang sangat penasaran dengan daerah perbatasan itu, ia melangkahkan kakinya berjalan menuju balkon kamar hotelnya, ia menatap dari lantai empat, menatap hamparan luas daerah perbatasan yang di penuhi dengan hutan yang sangat lebat. Dan begitu anehnya, di sini ada sebuah hotel, bahkan berdiri sejak sangat lama.
Pikiran aneh selalu menyelimuti hatinya, dan dulu waktu pertama masuk ke dalam perbatasan. Ia harus di hadang dengan beberapa kelompotan, dari keluarga Grace, dan itu pasti sama dengan sekarang.
aku yakin jika tempat ini ada hubungannya dengan ayah Grace atau Jack. Aku tidak mungkin salah.
__ADS_1
Lyli masih menatap perbatasan, hutan yang sangat lebat, membuat pemandangan yang sangat indah.
“Aneh, di sini tempat sangat indah. Tapi, ini hotel punya siapa ya, kenapa ia mendirikan hotel di perbatasan. Padahal tidak ada rakyat yang berani masuk ke perbatasan, kecuali para mafia, yang melakukan perjalanan jauh dan harus menginap di sini.” Lyli tak berhenti berpikir, dengan pandangan mata masih menatap ke bawah. Dan ke dua tangan menyangga tubuhnya di pembatas balkon kamarnya.
Sesekali Lyli melirik ke belakang, melihat Lay, yang sepertinya sangat capek. Ia tidak mau menganggunya, dan lebih memilih diam sendiri di balkon.Meski ia kesal dengan Lay, tapi ia tidak bisa begitu marah padanya. Karena dia juga baru sembuh dari lukanya.
Dengan pikiran curiga, dan was-was. Tiba-tiba terbesit dalam pikirannya, jika kamar ini di psani sebuah cctv kecil.
“Kenapa aku baru kepikiran itu, jika memang di pasangi cctv kecil. Mereka pasti akan memantau gerak, gerik kita.” Gerutu Lyli, yang mulai menekan tombol jam tangannya, dan memencet sebuah sandi. Jam tangan itu di lengkapi dengan sensor pendeteksi, ia bisa mendeteksi apa saja yang sedang di cari pemiliknya. Hanya dengan mengucapkan satu kata, dan bisa melihat caa hari ini, serta banyak sekali kelebihannya. Dan hanya satu jam tangan itu di dunia, hasil jerih payah Lyli sendiri yang membuatnya.
Lyli yang sibuk mencari cctv yang seperti dalam kecurigaannya selama ini.
“Lyli, kamu sedag apa?” tanya Lay, yang mulai menbuka matanya, ia melihat Lyli sibuk mencari sesuatu.
“Sudah, kamu istirhat saja, aku harus menemukannya. Aku curiga dengan tempat ini!” ucap Lyli, tanpa menatap ke arah Lay yang masih duduk di sofa.
“Kenapa kamu curiga, lagian tepat ini berdiri sudah lama. Dan tidak ada pembunuhan juga di sini,” ucap Lay, a beranjak berdiri, berjalan mendrkati Lyli yang sepertnya siuk sendiri, matanya tidak tertuju denganya, tapi ia mennegaran apa yang di kataka Lay tradi.
“Kamu diam saja, dan lihat nantinya, jangan banyak tanya.” Decak kesal Lyli, ia terus mencari camera itu, dan berakhir menemukan sesuatu yang mencurigakan di menja kecil sampingnya.
“Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu malah membentakku?” Lay merasa sangat kesal, ia berjalan menuju ranjangnya, dan duduk sebagai penonton saja, menatap Lyli yang sibuk sendiri.
“Ini, apa?” tanya Lyli pada lay.
Lay menatap ke arah Lyli, ia menatap jam backer di tanganya. Seketika mebuatnya menghela napas kesal. “Itu jam syang, apa kamu gak tahu?”
“Aku sudah tahu, jika ini jam, maksud aku, kenapa jam ini berada di sini. Jika memang jam ini untuk kita bisa melihat jam, harusnya di pasang di tengan dan jam ini ada dua sisi dan berhadapan berlawanan arah, dan anehnya, jam ini satun ya mengahap ke meja dan balkon kamar.” Jelas Lyli dengan wajah seriusnya.
“Mungkin itu hanya kebetulan saja, sudah lebih baik kamu sekarang mandi,” ucap Lay, yang seakan menganggap remeh apa yang di katakan Lyli.
Lyli menghela napasnya kesal, ia segera menyalakan gelang di tanganya lagi, dan mulai berbicara sangat pelan, membuat Lay merasa bingung, jam itu mengeluarkan sebuah cahaya sepeti flash.
“Ada sebuah benda asing di dalamya, dan di duga seperti Camera tersembunyi.” Suara robot di balik jam tangan itu membuat Lay melebarkan matanya, mentap tidak percaya, ia beregas bangkit dari duduknya, dan menghampiri Lyli.
__ADS_1
“Kdnapa tadi bisa bicara?” tanya Lay.
“Bukanya kamu tadi sudah tahu, kenapa masih tanya lagi.” Ucap Lyli jutek.
“Kamu masih marah?” tanya Lay, yang mencoba meraih jam tangan itu, setelah alat Lyli mendeteksi, Lay mulai percaya dan ingin mencari tahu apa di dalam jam itu.
“Bukanya kamu tidak percaya, kenapa sekarang kamu menyentuh jam milikku,”
“Sudah diamlah!!” Lay segera mencari alat untuk menbuka jam itu di tas kecil yang selalu ia bawa.
“kamu mau apa?” tanya Lyli.
“Aku buka jam ini, aku yakin ada di balik huruf jam ini ada camera.”
“Kenapa kamu bisa berpikir sekarang, kamu tadi malah nyalahin aku. Dan tidak percaya dengan kecurigaanku.” Umpat kesal Lyli, ia melipatkan ke dua tanganya, dia atas dadanya, dengan bibir manyun beberapa senti.
“Bagaimana kalau camera ini kita buang saja, kita jatuhkan ke luar. Lagian kenapa kamu repot-repot membukanya,” sara Lyli.
Sekertika Lay menepuk jidadnya, gimana bisa ia begitu bodoh di depa Lyly.
“Iya, kenapa kau tidak kepikiran itu ari tadi,”
Lyly hanya diam, ia meraih jam itu dan berjalan menuju ke balkon kamarnya, melempatkan jauh jam itu ke bawah. “Sekarang kita cari lagi, aku yakin masih ada lagi, jika kamu tidak membantuku, aku tidak akan bisa menemukannya sendiri. Siapa tahu ada di atap langit, atau sela-sela dinding.” Ucap Lyli , menjelaskan.
Lay dan Lyli sibuk mencari lagi setiap detai dan sudut ruangan itu, hingga duia jam berlalu mereka tidak menemukannya lagi Lyli yang merasa sangat lelah, ia beranjak duduk, tak sengaja melihat seekor lalat yang menancap di selambu balkon samping ia duduk.
"syang, kenapa ada lalat di sini?” tanya Lyli, sembari menarik napasnya, mencoba mengatur napasnya kembali.
“Mana ada lalat syang, ruangan ini sangat bersih. Dan dari mana juga datangnya lalat.” Ucap Lay, memberingkan tubuhnya di atas ranjang, merenggangkan ototnya yang terasa sangat kaku.
“Hanya mencari sebuah camera saja, kenapa terasa cepek banget, syang.” Ucap Lay, menarik napasnya panjang.
“Aku juga capek,” ucap Lyli, dengan mata tak jauh memandang benda seperti lalat, yang bisa terbang hinggap kemana-mana itu.
__ADS_1