Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Episode 222


__ADS_3

Di dalam mobil, nampak sangat hening, tidak ada suara


sedikitpun keluar dari mulut Lian yin dan Yiwen, mereka saling melirik


bergantian. Tanpa ada yang berani untuk membuka mulutnya lebih dulu.


Hingga beberapa menit kemudian, Yiwen yang merasa sudah


bosan hanya diam, dan menunggu Lian yin untuk berbicara lebih dulu, juga


kelamaan.


Wanita itu, menarik napasnya, mencoba membuka mulutnya,


mentap ke arah Lian yin. “Yin, aku tadi melihat Luhan bersama Tao, di kota kita” ucap Yiwen, memecahkan keheningan di dalam mobil.


Lain yin menoleh menatap Yiwen, dengan wajah terkejutnya.


“Apa kamu yakin? Kamu gak salah lihat kan? Atau kamu hanya berhalusinasi karena kamu masih belum bisa move on darinya.” tanya Lian yin.


Yiwen menarik napasnya, ia mencoba sabar dengan ucapan Lian yin, yang membuatnya hanya bisa mengusap dadanya untuk sabar.


“Dua ribu yakin, aku tadi mengikuti mereka. Dan berhenti di sebuah rumah. Apa kita ke sana sekarang untuk cek secara langsung. Aku masih belum


percaya dengan apa yang di katakan Mei tadi. Dan bukan kerena kau gak Move on.” Ucap Yiwen, memasang wajah seriusnya dengan bibir seakan mengunyah sesuatu. Ia


masih geram dengan ucapan Lian yin yang selalu menyudutkannya.


Lian yin, mengusap puncak kepala Yiwen, mengusap rambutnya lembut. “Udah gitu saja marah, aku hanya tanya sayang!!”


“Lagian kamu ngeselin sih. Oya, kamu percaya dengan apa yang


aku katakn padamu kan? Dan, jangan bilang jika kamu tidak percaya dengan apa yang


aku bicarakan tadi”


“Sudah jangan banyak bicara lagi. Siapa bilang aku tidak


percaya dengan kamu, aku percaya dengan kamu. Setiap apa yang di katakan istri


aku pasti benar, dan aku tahu kamu gak mungkin ohong dengan aku” Lian yin


melirik ke arah Yiwen beberapa detik.


“Kamu bisa saja, syang. Gimana, kita jadi cari tahu rumah


itu gak?” tanya Yiwen memastikan.


“baiklah, lagian aku juga sependapat dengan kamu, aku juga


curiga. Apa tujuan mereka datang ke sini lagi. Dan Ada apa mereka diam-diam ke


sini? Begitu mudahnya mereka masuk ke perbatasan wilayah kita” ucap Lian yin.


Lian yin memang dari awal memang sangat curiga dengan Luhan.


Karena bagi dia dari kebaikannya menyimpan sejuta rahasia yang belum ia


ketahuai. Sifat yang tiba-tiba baik, membuat ia semakin tambah curiga denganya.


Tapi Yiwen yang terlalu polos itu gampang sekali terbujuk oleh kebaikan Luhan.


“apa kamu tahu di mana tempatnya?” tanya Lian yin, melirik


ke arah Yiwen.


“Aku tahu, tapi sebaiknya sekarang kita jangan ke sana dulu.


Kita pergi ke suatu tempat. Yang menurut aku lebih mencurigakan” ucap Yiwen,


dengan pandangan menoleh ke belakang. Ia mencoba melihat mobil Changmin, yang


tadi masih di belakangnya, tapi sekarang sudah tidak ada lagi di belakang mobil


Lian yin.


“Kamu ngapain menatap ke belakang. Emangnya ada apa, di


belakang. Apa Mantan yang menyakitkan” tanya Lian yin, ikut mentap ke belakang


lewat sepion mobilnya.


“Mantan yang menyakitkan itu tidak patut untuk di ingat,


amntan itu patut di lupakan. Sekarang aku hanya akan memandang masa depan


berdua dengan suami aku, yang sekarang setai menemani hidup aku” ucap Yiwen,


seketika membuat Lian yin tersipu malu. Ia memegang pipi Yiwen, mengusapnya


lembut dengan mata fokus pada jalan di depannya.


“Sekarang, kita mau kemana jadinya/” tanya Lian yin.


“Kita ikuti Chnagmin. Tapi, mobil Changmin gak ada di


belakang, apa dia berhenti di suatu tempat dengan Mei.” Pikir Yiwen, yang masih


belum puas mentap ke belakang, ia ingin lebih memastikan lagi. Apa benar mobil

__ADS_1


Sport hitam milik Changmin itu tidak ada di belakang.


Lian yin terdiam, ia melirik ke arah sepion, dan. Mencoba


untuk memastikan jika benar apa kata Yiwen. “Iya, mobil Changmin gaka ada” ucap


Lian yin, yang segera ia mengeluarkan ponselnya, dan menghubingi Lian yin


dengan segera.


“kamu mau menghubungi siapa?” tanya Yiwen.


“Changmin!!” jawab Lian yin.


```


“Ada apa yin?” tanya Changmin.


“Kamu di mana sekarang?” tanya Lian yin.


“Aku ada urusan sebentar, aku gak bisa ikut kamu sekarang.


Nanti kamu share lokasi kamu. Aku akan hubungi amu jika urusan aku selesai”


ucap Changmin.


Lian yin segera mengakhiri panggilannya, ia meletakkan


ponselnya di atas paha Yiwen.


“Bawa ponselku!” ucap Lian yin.


“Gimana, apa kamu tahu di mana Changmin berada?” tanya Yiwen


memastikan.


“Belum, dia hanya bilang jika masih ada urusan, dan nanti


akan nyusul kita”


Yiwen menarik napasnya kesal. “Yah... padahal aku itu butuh


bantuan dia” gumam Yiwen.


“Kenapa kamu lebih butuh Changmin? Apa kamu sudha tidak


butuh aku lagi sekarang?” Tanya Lian yin kesal.


“jalan salah paham dulu, rencana aku tadi itu berhubungan


dengan Changmin.”


“Hubungan apa.”


sebuah pesan kan. Nah, yang aku curigai itu pesan dari mana. Kalau pikir aku


ada hubunganya dengan rumah mewah yang aku dan Mei samperin tadi. Meski aku


tidak begitu jelas mendengar pembicaraan mereka tadi.” ucap Yiwen, membalikkan


tubuhnya menatap ke arah Lian yin di sampingnya.


“Oke, sepertinya kamu sependapat dengan aku sekarang. Dulu


kamu gak pernah percaya jika aku menjelak-jelekkan Mei. Sekarang aku mau lihat


sendiri.” Ucap Lian yin, dengan senyum tipis.


Yiwen memukul lengan Lian yin. “Dulu aku gak tahu, lagian


kamu selalu mengurung aku di rumah. Gak pernah di ajak jalan-jalan. Dan sekarang


kenapa kamu malah marah dengan aku” gumam Yiwen kesal, menguntupkan bibirya.


“Siapa juga yang marah, aku hanya kasih tahu kamu. Biar kamu


itu juga buka mata kamu lebar-lebar nanti. Apa yang aku curigakan selama ini


itu benar. Tetapi aku gak mau jika kamu mengatakan hal itu pada Changmin, dan


yang lainya jika kamu sudah tahu sebenarnya. Lebih baik kita diam dan selalu


waspada, jika dia sudah mulai melakukan rencanya, baru aku akan bongkar semua


akal busuk dia dengan berbagai bukti yang kita miliki.” Ucap Lian yin, melirik


beberapa detik ke arah Lian yin. “ Tugas kita sekarang, mengumpulkan bukti


dengan segera jika dugaan kita tentang Mei benar. Jika memang tidak ada bukti,


berarti memang kita salah nuduh.


“eh.. bentar, itu bukanya mobil Changmin, dia sepertinya gak


sadar jika menyalip” ucap Yiwen , menunjuk ke depan.


“Iya, aneh banget, dia melaju tanpa menatap sekelilingya,


bahkan dia sampai lupa dengan mobil aku!”

__ADS_1


“Kita ikuti dia sekarang, sepertinya Changmin juga


mengikuti  taksi di depannya, tapi jarak


mereka sangat jauh seolah tidak terlihat jika dia mengikuti. Lihatlah cara


Changmin mengemudi mobilnya, ia bersembunyi di belakang mobil di depannya.”


Ucap Yiwen menjelaskan.


Tak banyak tanya lagi, Lian yin segera mengikuti mobil


Changmin di depanya, ia juga mengikuti cara yang di lakukan Changmin.




Di rumah yang, terasa sangat sepi bak kuburan di siang hari.


Tapi, sudah setengah siang. Hanya ada Grace, Lyli dan Lay.



Lay, masih berdua dengan Lyli dan Grace lebih memilih


berdiam di kamarnya sambil menunggu Yiwen dan yang lainya pulang. Soal makan


serta kebutuhan dia lainya, Lyli sudah memberikan padanya.



“Kenapa Lian yin dan yang lainya belum pulang, apa mereka


masih ada masalah?” tanya Lay, oada Lyli yang terbaring di sofa, ia yang sudah


terlalu capek lama\-lama duduk dan terus setia di samping Lay. Kini ia mau


merenggangkan otot punggungnya sejenak, sambil menikmati drama.



“Udah bentar lagi mereka juga akan pulang, jadi kamu jangan


khawati’ ucap Lyli, tanpa mentap ke arah Lay, yang terbaring di ranjangnya.



“Sekarang dari pada kamu tidur, lebih baik lihat drama


bersama denganku” ajak Lyli.



“Gak suka drama menyedihkan seperti itu, kalau film action


baru aku mau lihat” jawab Lay.



Ia terdiam beberapa detik, saat ia mengingat tentang Lian


yin dan yang lainnya.



Apa mereka malakukan tugas yang dari awal sudah kau


rencanakan dengan Changmin. Tetapi, berhubung aku sakit, Changmin ajak Lian yin


untuk pergi. Aku gak mau berbaring terus di sini, aku ingin mengikuti mereka


juga. Pikir Lay.



“Kenapa kamu diam?” tanya Lyli, menatap ke arah Lay, yang


tiba\-tiba melamun menatap ke depan dengan tatapan kosong. Seakan memang dia


menyembunyikan suatu hal.



“Gak ada apa\-apa, oya. Aku mau istirahat ya syang” ucap Lay.



Mendengar kata ‘syang’ membuat Lyli melebarkan matanya. Dan beranjak


duduk di sofa.



“Syang kata kamu. Lay, udah berapa kali aku bilang padamu”


gumam Lyli kesal.


__ADS_1


“Aku tahu, tapi apa teman tida boleh memanggil kamu seperti


itu. Apa harus hubungan pacar saja yang boleh panggil kamu begitu”


__ADS_2