Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Masuk ke ruang kerja ayah.


__ADS_3

Yiwen segera menarik tangan Lian yin untuk mengikutinya menuju ke ruang kerja ayahnya. Ruang kerja yang sangat rahasia, bahkan anaknya saja juga baru tahu. Dan pernah sekali untuk tinggal di ruangan kerjanya yang sangat unik itu. 


Yiwen memang senagaj membawa Lian yin ke sana agar Dirinya bisa tinggal di ruang kerja ayahnya untuk sementara waktu. Jika ada musuh meledakkan rumah itu-pun tidak akan bisa. Rumah kecil itu sudah di desain khusus oleh ayah Yiwen jika tidak akan bisa di hancurkan oleh peledak apapun.


"Syang aku ragu bertemu dengan ayah kamu" ucap Lian yin, yang memang sangat ragu bertemu dengan orang yang sangat pintar dalam bidang teknologi dan IT. 


"Sudahlah, emangnya ayah aku galak. kenapa kamu harus malu atau takut segala, tenang saja ayah aku itu baik banget orangnya. Gak segalak atau segarang yang kamu lihat tadi" gumam Yiwen, terus menarik tangan suaminya itu. Dan berhenti tepat di depan pintu ruang kerja ayahnya. 


TOKK.. TOK..TOK..


"Yah!" panggil Yiwen.


Ayah Yiwen keluar menatap ke arah Yiwen dan Lian yin bergantian, dengan wajah nampak sangat datar. Seperti biasa ia menarik anaknya segera masuk ke dalam ruangan yang sangat gelap. Dan Lian yin juga hanya dia mengikuti Yiwen dan ayahnya. Ia masuk ke dalam ruangan yang terlihat sangat gelap, bahkan ia tidak bisa melihat wajah Yiwen atau ayah Yiwen di sampingnya. 


Ingin sekali ia bertanya pada Yiwen. Namun, mulutnya seakan terkunci rapat untuk bertanya, membuat ia harus mengurungkan niatnya dalam-dalam untuk bertanya dan memilih untuk tetap diam. Dari pada banyak tanya dan membuat Yiwen merasa kesal dengannya nanti. Lagian dia juga tidak mau membuat ayah Yiwen juga kecewa dengannya jika dieinya banyak tanya yang gak penting padanya. 


Hingga beberapa detik, ia bisa sampai di suatu ruangan yang membuat Lian yin bingung dan terkagum-kagum. Matanya melebar seketika melihat setiap sudut ruangan itu yang sangat lengkap, semua ada di sana seperti rumah kecil yang serba guna. Ia memutar matanya melihat setiap sudut ruangan itu yang nampak kecil dan lengkap dengan kamar dan beberapa alat untuk mengembangkan teknologi yang akan ayah Yiwen ciptakan lagi. "Sepertinya ini yang di maksud ruang kerjanya" batin Lian yin yang masih tak berhenti memandang ruangan itu. 


Mata Lian yin tak berhenti menatap kagum melihat apa yang ada di depannya. Ia bahkan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. Rumah yang luarnya nampak sederhana kecil dan jauh dari kata mewah. Tapi di dalamnya menyimpan sebuah rahasia besar. Dan bahkan tidak ada yang tahu.


"Ini apa?" Tanya Lian yin lirih pada Yiwen. 


"Duduk-lah, aku sebelumnya tidak suka jika kamu masuk ke sini. Tapi berhubung kalau kamu adalah suami anak aku. Maka kamu yang bertanggung jawab untuk menjaganya. Dan aku membawamu ke sini. Aku ingin mewariskan semua ini padamu dan Yiwen. Aku sudah mengganti semua desainnya dan jalan pintasnya untuk masuk. Dan Tao juga tidak akan bisa masuk lagi ke sini. Karena ini hanya bisa masuk jika menggunakan suhu tubuh Yiwen dan aku, sama seperti pintu rumah di depan. Dan Tao juga sudah tidak bisa masuk ke dalam rumah ini dengan mudah" ucap ayah Yiwen menjelaskan pada Lian yin dan Yiwen yang baru saja duduk di depannya. 


"Kenapa ayah berubah pikiran, dulu hanya Tao yang ayah kasih jalan pintas untuk untuk masuk ke dalam tapi kenapa sekarang berbeda. Apa ayah sudah gak suka lagi dengan Tao, atau Tao sekarang sudah salah jalan?" Tanya Yiwen yang penuh pertanyaan dalam otaknya. 


Lian yin hanya diam mendengarkan apa yang mereka katakan. Meski sebenarnya dia tidak tahu apa yang sedang di bahas Yiwen dan ayahnya. Ia hanya bisa diam, mendengarkan tanpa banyak tanya, jika mereka tidak bertanya dengannya lebih dulu. 


"Sekarang kamu sudah punya suami, dan tanggung jawab semua untuk melindungi kamu adalah suami kamu. Dan ingat aku ingin kalian tetap di sini selama beberapa hari. Karena mata-mata itu masih di sekitar wilayah ini. Dan lagi sibuk mencari kamu. Ini aku buat untuk kamu dan suami kamu jika dalam.bahaya, dan untuk anak-anak kalian nantinya. Cucu aku nanti akan aman jika tinggal di sini" Ucap Wo Jian. 

__ADS_1


Mendengar kata anak Lian yin tersenyum menatap ke arah Yiwen, seakan memberi kode Yiwen jika ia sudah ingin punya anak darinya. Bahkan ayahnya saja juga sudah memberi kode padanya.


"Baik yah, tapi selama ini ayah kemana? Kenapa ayah tahu jika aku menikah. Tapi ayah gak datang ke pernikahanku" tanya Yiwen. 


"Aku datang ke pernikahan kamu, tapi kamu tidak mengenaliku. Aku di sana dengan Tao, dan kebetulan Tao lagi ada tugas di sana. Dan dia mendengar kabar jika kamu akan menikah dengan Lian yin." Ucap Ayah Yiwen.


"Jadi paman dan Tao ada di pesta pernikahan aku di London?" Tanya Lian yin, yang baru membuka mulutnya. Memberanikan diri untuk bertanya. 


"Iya, meski kalian tidak tahu, aku bisa menghadiri pernikahan kalian sudah sangat senang." Ucap ayah Yiwen. 


"Yiwen apa yang kamu buatkan minuman. Biar aku yang bicara dengan Lian yin lebih dulu." ucap ayah Yiwen. 


"Baik yah, aku juga mau makan lapar. Apa gak ada makanan sama sekali" tanya Yiwen. 


"Ada kamu masak sendiri saja, kalau mau makan. Lagian aku juga lapar sekalian buatkan makanan yang banyak untuk kita ber-tiga" ucap ayahnya. 


"Kenapa aku harus masak ayah, kenapa gak ayah. Aku ingin ayah masak buat kita. Aku kangen dengan masakan ayah. Selama ini aku gak pernah bisa masak ayah yang selalu masak buat aku" Ucap Yiwen. 


"Kamu ini ya, kebiasaan. Baiklah aku akan masak untuk kalian" ucap Ayah Yiwen beranjak berdiri, menuju ke dapur kecil. Seperti biasa dapur itu sudah tersedia berbagai bahan makanan yang sangat lengkap. Dan ayah Yiwen tinggal masak. 


Lian yin terdiam, ia menatap ke arah dapur. Ia masih tidak menyangka. Ayah Yiwen bisa membuat seperti ini. Membuat sebuah lorong parelel menuju suaru ruangan. 


"Yiwen aku ingin tanya" ucap Lian yin, memegang tangan Yiwen yang berdiri di sampingnya, untuk duduk kembali


"Emangnya mau tanya apa?" Tanya Yiwen.


"Sudahlah, duduklah dulu. Aku ingin tanya sesuatu." Gumam Lian yin. 


Yiwen segera duduk di samping Lian yin. "Ini sebenarnya tembus kemana?" Tanya Lian yin yang masih merasa sangat bingung dengan semua yang ia lihat di depannya. 

__ADS_1


"maksud kamu ruangan kecil ini?" Tanya Yiwen memastikan. 


"Iya, aku tidak yakin ini ada di rumah kamu" ucap Lian yin. 


"Memang benar, ini tidak ada di rumah. Pasti kamu tidak akan menyangka jika ini ada di tengah hutan" ucap Yiwen.


"apa maksud kamu, di hutan?" Lian yin terkejut dengan apa yang di katakan istrinya itu. 


"Iya ini berada di tengah hutan, dan hutan ini bukan di daerah yang terpencil" sambung Ayah Yiwen.


"ini kita di kota mana, apa kita masih berada di kota utara, atau kita berada ada di daerah yang terpencil di luar kota?" Tanya Lian yin dengan wajah yang terlihat sangat bingung. Ia mencoba memastikan lagi, melihat ayah Yiwen yang terlihat sangat akrab dengannya, ia memberanikan diri bertanya padanya lebih jauh, untuk menambah pengalamannya dalam bidang IT.


Ayah Yiwen tersenyum tipis, "Kita berada di tengah hutan, yang tidak akan bisa di temukan oleh orang lain. Kecuali orang itu tahu hutan ini sebelumnya. Tapi mereka tidak akan bisa masuk ke sini. Karena tempat ini sangat rahasia. Bahkan tidak terlihat di dari luar" gumam ayah Yiwen menjelaskan pada Lian yin dengan nada ramah pada menantunya itu.


Lian yin masih bingung dengan apa yang di katakan Ayah Yiwen, ia masih tidak menyangka. Di pikirannya sekarang bagaimana bisa ia masuk dalam ruangan ini. Padahal tadi ia masuk ke ruang kerja ayah Yiwen yang sangat gelap, "apa ini masuk ke dalam sebuah dimensi ruang, kita bisa berpindah kemana saja, dengan dimensi ruang" ucap Lian yin lirih, seakan sangat ragu mengucapkan itu pada ayah Yiwen. 


Ayah Yiwen merasa kali ini mulai menyukai Lian yin, dia baik tidak seperti apa yang dulu ia ketahuai. Lelaki yang awalnya sangat baik dan selalu melindungi Yiwen. Dan kini dia berada di depannya dan berbincang dengannya. "Tenyata kamu pintar juga, tidak salah kakek menjodohkan kamu dengannya" batin Wo Jian dalam hatinya. 


"Syang di mana kamu tahu tentang dimensi itu?" Tanya Yiwen pada Lian yin, yang duduk di sampingnya. 


"Aku pernah tahu sekali melihat dimensi itu, di gedung tua bersama Changmin dan Lay. Tapi Changmin melarang aku untuk masuk ke sana. Karena ia tidak tau itu dimensi ruang waktu hanya dimensi paralel penghubung ke dunia ilusi." Gumam Lian yin menjelaskan. 


Mendengar soal gedung tua itu lagi, yiwen mengerutkan bibirnya. Hatinya masih kesal dengan apa yang di lakukan Lian yin padanya dulu. Dia begitu tega meninggalkannya sendiri di rumah. 


"Kenapa kamu manyun gitu?" Tanya Lian yin, menatap istrinya yang masih manyun. 


"Aku kesal, masih sangat kesal dengan kamu" ucap Yiwen, memalingkan pandangannya berlawanan arah dari Lian yin.


"Jengan ngembek gitu syang, bukannya kemarin kamu sudah maafin aku, tapi kenapa sekarang masih manyun gitu" gumam Lian yin, menarik dagu Yiwen agar menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Lagian kamu nyeselin sih, aku masih kecewa dengan kamu" ucap Yiwen kesal.


"Udah jangan gitu, lagian aku udah minta maaf padamu kemarin" gumam Lian yin, memegang ke dua tangan Yiwen, membuat hati Yiwen yang semula sangat kesal dan marah, langsung luluh seketika dengan kata-kata lembutnya.


__ADS_2