
"Sekarang kita teruskan lagi!!" ucap Lay, yang
mulai menyerang, mereka yang menggunakan senjata, dan Lay seperti biasa hanya tangan kosong, melawan merek semuanya. Ley mulai Memukul, menendang, kecepatan tangan dan kakinya mampu melumpuhkan lawanya seketika.
"Shiitt...!" decak Ley, melihat lenganya tergores mengeluarkan darah segarnya.
"Kamu yakin, gak mau menyerah, senjara itu di lengkapai racun. Dna jika kamu semakin banyak bergerak maka racut itu semakin cepat menyebar dalam tubuh kamu.
"Sialan!!" ucap Ley, memegang lengannya, ia
merobek separuh kaosnya dan segera mengikatnya di atas lengannya yang terluka.
"Pecuma kamu mengikatnya, racun itu juga akan dnegan cepat menyebar. Jadi jangan harap kamu bisa hidup,"
"Jangan banyak bicara!!"
Tap... Tap.. Tap..
Ley berlari dan mulai mengeluarkan kemampuannya. Ia segera menendang dada mereka satu-persatu, dengan tubuh sedikit terangkat dan memutar seperti jarum jam.
Tap..
Ia meloncat, menampakkan kakinya ke pohon besar sampingnya. Dan mulai memutar tubuhnya, menendang satu persatu dada musuh di depannya.
Bruuukkkk..
Bukkk.. Bukkk...
Sebuah pukulan bertububi-tubi ia ****** selesaikan, meski goresan demi goresan ia dapatkan di tangan kiri dan kanannya.
Lyli yang bersembunyi di balik pohon, ia tidak bisa membiarkan Ley terus terluka. Ia tidak mau orang yang paling ia sayangi sekarang terluka.
Racun itu berbahaya dan hanya orang yang punya penawarnya. Tapi meski aku bisa menghisap racun itu dnegan senjata aku tapa jika musuh masih menyerang dia ak lebih terluka parah. Dan semakin banyak racun nantinya.
Lyli menatap Ley, yang tak hentinya terus menyerang meski sudah banyak luka goresan di tangannya.
"Dia benar-benar sudah gila!! Tidak perduli dengan dirinya sendiri. Aku gak mau dia terus mengorbankan nyawanya untukku. Aku harus
membantu dia. aku harus membawa dia pergi untuk menghisap racun yang sekarang
pastinya sudah menjalar di tubuhnya." gumam Lyli, memutar matanya menatap
sekelilingnya.
Srekkk... Kaki alyli tak sengaja menggeser sebuah sejata yang entah milik siapa.
"Senjata? Kenapa di sini ada senjata, pa sebelumnya di sini ada snipper.?" gerutu Lyli.
Ia mulai mencoba senjata itu, dan beranjak mengincar orang yang akan ia tembak.
__ADS_1
Lyli memejamkan matanya.
Aku pasti bisa, aku yakin pasti bisa
Dorr...
Dor...
Dor...
"Shitt.. Habis perlurunya. Aku harus segera keluar. Yang penting daei mereka sudah berkurang,"
"Ley berhenti, jangan lukai diri kamu. Kau gak mau kamu kenapa-napa," teriak Lyli, yang berlari mendekati Ley, yang sudah hampir
terluka parah.
"Jangan pernah melukai Lay, aku akan memberi kamu apa yang kamu inginkan" ucap Lyli, berdiri di depan Ley, dengan ke dua tangan terlentang. Melindungi Ley yang ada di bekakangnya, tertunduk menahan sakit di
sekujur tubuhnya.
"Lyli jangan bodoh!! Pergilah, biar aku yang melawan mereka,"
"Aku gak mau!! Aku akan tetap di sini, melindungi kamu!!" ucap Lyli tegas, menato ke belakang, melihat Ley yang sudah tak
bisa lagi untuk berdiri.
"Lay!!" teriak Lyli, duduk memegang tangan Ley yang sudah tak berdaya lagi Tubuhnya sudah lemah.
san menyerahkan apa yang di inginkan.
Lyli mencoba membantu Lay untuk berdiri. "Kamu berdirilah, aku sudah tidak bisa lagi berdiri." Ley mendorong tubuh Lyli
menjauh.
"Aku gak mau pergi! Aku mau tetap di sini bersama kamu. Jika kamu terluka maka aku rela terluka bersama dnegan kamu," ucap Kyli,
kembali mendekati Ley, memeluk tubuhnya.
"Udah, jangan kebanyakan drama di sini, lebih baik kamus serahkan apa yang harus mau serahkan. Kamu sudah mencurinya. Jadi kamu harus kembalikan. Dan kanu harus serahkan diri kamu, ikut dengan aku."
ucap musuh di depannya.
"Jangan ikut!! Aku gak mau kamu pergi lagi bersama dengan mereka. Jangan pergi dari sisiku." ucap Ley, memegang tangan Lyli.
“Tenang saja, aku akan pergi dengan kamu. Sekarang kamu harus kuat. Aku akan lari, akan aku coba mengeluarkan racun dalam tubuhmu. Degan menggunakan teknologi yang aku miliki, untuk membunuh racun
menggunakan laser. Sekarang aku hanya butuh untuk mencari tempat sembunyi dari
mereka semuanya”
__ADS_1
Lyli membantu Ley lagi untuk berduir, ia meletakkan tangan kiri Ley ke pundanya.
“Baiklah, aku akan serahakn. Tapi kalian harus menajauh dariku.” Ucap Lyli.
“Baiklah, tapi aku gak mau kamu banyak alasan, sekarang cepat lemparkan chip itu. Dan kamu dengan dia ikut kau.”
“Baiklah, aku akan lemparkan, tapi kamu harus hati-hati ya,”
Lyli melemparak peledak yang ia bawa dari di, kini sapanya semakin tebal, Lyli segera membawa Lay berlari menjauh, meski tubuh Ley terasa sangat berat, ia menahannya, dan beranjak terua berlari, bersembunyi di balik
sebuah pohon.
“Kita di sini saka, aku gak kuat, Lyli.” Ucap Ley, yang langsung terkapar”
“Lay bersbarlah, aku akna melakukannya sekarang.” Ucap Lyli, yang mulai memngertik di jam tangan yang ia bawa, sebuah cahaya merah langsung tertuju pada tangan Ley.
“Kemana dia pergi,” teriak para musuh, yang mulai berpencar untuk mencari mereka semua.
“Gawat, aku butuh waktu lima belas meniti untuk menghancurkan semua racun dalam tubuhnya, dan sekarang aku hanya bisa
menyembuhkannkaki dan tanganya, aku harus segera bawa Ley ke hotel agar dia
bisasecepatnya di sembuhkan dan segera pulih.” Gertu Lyli.
“Ley.. aku mohon, kamu bersabarlah, aku ingin kamu tetap tenang ya, aku akan membantu kamu. Tapi aku gak mungkin melepadkan baju kamu di sini, semua peralatan aku di hotel.”
Lay yang setemagh sadar, ia memegang tangan Kiri Lyli, “Lyli makasih, tapi jangan terlalu berusaha, jika aku gak ada kamu bisa pergi dengan orang yang kamu suka.”
“Apa maksud kamu, aku suka dengan kamu, dan aku hanya ingin pergi dengan kamu Ley. Saat kaki dan tangan kamu pulih, kamu bisa berlari untuk sampai ke hotel, setidaknya kamu sembuh sementara. Aku akan melanjutkanya di hotel.
Lay memegang tangan Lyli, mencium lembut punggung tangannya. “Makasih!! Kamu telah memilih aku untuk jadi kekasih kamu, makasih kamu sudah bisa membuat aku jatuh cinta padamu,” gumam Ley, meletakkan telapak tanganya di pipi Lyli, mengusapnya lembut.
Lay, jangan banyak bicara, mereka ada di sekitar sini. “ Lyli seketika menutup mulut Lay.
Ia menahan napas beratnya agar tidak terdengatr oleh mereka”
“Sepertinya mereka sudah kabur jauh,” ucap salah satu musuh.
“Kita balik saja, besok kita cari lagi. Aku yakin dia gak akan bisa bertahan tinggal di hutan ini. Dia pasti akan belaka, tubuhnya bahkan
sudah tak berdaya.” Ucap boss dari para pengaal itu.
Lyli yang sembunyi di balik semak-semak belukar yang snagat lebat di tutupi dengan pohon besar di depannya, mengintip mereka dari pohon itu, melihat langkah mereka yang sudha pergi menjauh. Lyli melepaskan tanganya di mulut Ley.
“Sepertinya mereka sudah jauh, sekarang aku bisa tenang, meyenmbuhkan kamu. Sekarang jangan bergerak, aku kan mneyembuhkan kamu dan setelah itu kita akan pergi.” Ucap Lyli, mentap sekelilinganya dnegan pandangan was-was, takut ada musuh lagi yang bersembunyi di balik semak belukar di
belakangnya.
Ia menghembuskan napasnya lega, mengusap dadanya. “Aman
__ADS_1
syang,” gumam Lyli mencium dahi Ley, dan mulai untuk menyembuhkannya.