Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Episode 269


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, rumah sudah nampak


sangat sepi, apalagi di rumah besar yang ia tempati hanyalah beberapa saja yang


tinggal dan Boby juga sudah tidur lebih dulu, karena memang sekarang ia di


tugaskan untuk menjaga rumahnya setiap malam, ia ingin tahu apakah benar Boby


adalah orang yang benar-benar akan mengabdi pada Lian yin, atau hanya


melancarkan mata-matanya. Tapi ali ini Changmin lebih berbaik hati padanya, dia


lebih memilih untuk menyuruhnya istirahat.


Dan Grace, masih setia di depan laptopnya, bahkan sampai 3


laptop di depannya, dia juga belum berkutik sama sekali dari dudukya. Changmin


yang melihat Grace begitu serius, ia memutuskan untuk keluar, membawakan


makanan dan minuamn hangat untuk menemani kerjanya.


Grace kenapa kamu


begitu serius, dan apa yang di katakan Lian yin, seakan kamu ingin menurutinya


semua. Apa kamu masih belum bisa melupakanya, apa di hati kaecil kamu tidak ada


sama sekali perasaan untukku.


Changmin bergegas berdiri, dan melangkahkan kakinya pergi


meninggakkan Grace, yang masih sibuk sendiri.


“Kamu mau kemana?” tanya Grace, tanpa menatap ke arah


Changmin, yang sudah berdiri di depa pintu. Membuat Changmin menoleh seketika,


menatap ke arahnya.


“Kamu tunggu saja, aku hanya turun sebentar” ucap Chnagmin


“Iya,” jawab Grace, datar, jemari dan tanganya masih fokus


dengan laptopnya, semua tugasnya sudah hampir selesai dan dia juga sudah janji


pada Yiwen akan membantunya 1 minggu lagi, jadi ia bertekat untuk segera


membereskan semua tuda dan segera pulang kembali, mengumpulkan bukti jika


ayahnya bersalah.


Changmin yang melihat Grace sibuk, ia bergeges pergi,


seeblum ia nanti bertanya lagi padanya.


Grace melirik ke arah pintu tidak mendapati Changmin di


sana, seketika ia menundukkan kepalanya, dengan ke dua tangan memegang kepala


yang yang terasa terlalu berat, berat untuk memikirkan beberapa masalah yang


membuay ia benar-benar penat.


Ayah, maaf aku harus


bongkar semuanya. Aku tidak mau jika ayah terus terjebak dalam dendam masa lalu


yang membuat ayah akan tersiksa sendiri. Aku ingin ayah bisa hidup tenang


dengan ayah , lebih abik ayah harus merasakan apa yang harus, ayah dapatkan.


Iyu memangbhukuman untuk ayah, setelah apa yang ayah lakukan pada keluarga Lian


yin.


“Aku harus melupakan semuanya, aku gak mau terbayang dalam


masa lalu lagi, aku tidka ingin seperti ini. Ini memang sebagai balasan untuk,


ayah. Maaf!!” ucap Grace, yang mulai melanjutkan lagi mentap layar laptopnya.


“Grace, kamu masih sinuk?” tanya Changmin, berjalan


mendekati Grace, membawa makanan dan minuman hangat untuk mereka seduh berdua.


Grace menghelannapasnya, “Iya, aku masih sangat sibuk, jika


kamu mau tidur, tidur saja, aku masih meneruskan semua tugas Lian yin. Jadi


jamgan ganggu aku.” Ucap Grace datar tanpa menatap Changmin yang sidah ada di


sampingnya, meletakkan makanan dan dua gelas minuman di depannya.


“Aku tahu, tapi...”


“Sudahlah, jangan ganggu, aku juga gak lapar. Buat kamu saja


makanannya,” Grace terllihat masih sangat datar, masalah dalam pikirannya, menganggu

__ADS_1


dia untuk bisa berbicara dnegan baik pada Changmin. Sifat cuek Grace yang


secara tiba-tiba itu membuatnya terkejut.


Changmin menatap aneh pada Grace, melihat wajah yang penuh


dengan kesedihan dan masalah yang terpendam.


Changmin menepuk pundak Grace, “Jangan paksakan diri kamu,


aku tahu kamu banyak masalah.” Ucap Changmin, menarik ke dua bahu Grace, menatap


ke arahnya.


“Changmin! Apa yang kamu lakukan, aku masih sangat sibuk


sekarang, jadi tolong jangan ganggu aku,” ucap Grace, menepis tangan Changmin,


dan kembali menatap laptopnya.


“Jangan perduli lagi padaku,” lanjut Grace, dengan Anda


penuh kekesalan.


Ia memang sengaja untuk menyibukan dirinya, agar bisa


melupakan semua pikiran yang menganggunya selama ini.


“Grace, sudah. Lebih baik kamu tidur sekarang, jangan


memaksakan diri kamu untuk bekerja seharian. Kamu juga butuh istirahat, aku gak


mau jika kamu akan cepek nantinya.” Ucap Changmin, duduk di samping Grace.


“Pergilah!!” pinta Grace.


“Gak, aku akan tetap di sini. Aku mau menemanmu. Tapi jika


kamu ingin makan, aku akan pergi,”ucap Changmin memberikan satu piring makanan


memang khusu untuknya.


“Makanan itu buat kamu, aku gak lapar.”


“Aku ambil makanan ini untuk kamu. Lagia kamu seharian di


kamar, bahkan tidak keluar sama sekali dari kamar. Aku gak mau jika kamu sakit,


Grace. Tolong mengertilah!” ucap Changmin.


“Aku harus mengerti bagaimana, aku tidak lapar,Changmin!”


Kruukkkk... Krukkk..


Grace mengusap perutnya, yang tiba-tiba tak bisa di kontrol


di depan Changmin.


Kenapa perut aku bunyi


segala, memalukan, Grace.


Grace bergumam dalam hatinya, ia memalingkan pandangannya,


agar Changmin tidak terlalu perduli dengannya.


“Aku pergi dulu!”


“Kamu ke mana?” tanya Changmin, memegang lengan Grace.


“Mau ke balkon, pasti udara malam membuat pikiran bisa


fress.” Ucap Grace, menepis tangan Changmin di bahunya.


Changmin menarik tangan Grace duduk kembali, “Makalahlah.


Baru kamu boleh pergi.”


“kenapa kamu memaksa ku, Changmin.”


“Kalau gak mau makan, aku suapi kamu sekarang. Aku paksa


sampai kamu mau.”


“Baiklah, apa yang kamu mau.” Ucap Grace, mentap dengan


wajah datarnya menatap Changmin.


“Makanlah!!” bentak Changmin.


“Baiklah, aku akan makan, tapi aku bisa makan sendiri.”


Grace segera mengambil makanan di tangan Changmin, dan dengan lahapnya ia


segera makan, tanpa menandang ke arah Changmin, ia sudah terlanjur sangat malu,


gara-gara perutnya tadi yang tiba-tiba berbunyi tak bisa di ajak kompromi.


Changmin terima, terukir senyuman tipis di bibirnya, menatap

__ADS_1


wajah Grace yang sangat lahapnya memakan habis makanan di piring. Wanita itu


meraih minuman di meja, yang semula hangat berubah menjadi dingin.


Grace meminum habis minumannya, menyeka bibirnya dengan


punggung tanganya dan bergegas pergi tanpa menandang Changmin, yang masih setia


menunggunya.


“Kamu mau kemana?”


“Bukanya kamu sudha anya. Apa kamu mau tanya ribuan kali.”


Jawab Grace jutek. Raut wajahnya sudah sangat kesal, dengan berbagai pertanyaan


Changmin yang selalu membuat dia terpojok.


“Jangan bekerja lagi, kamu istirahat saja, besok pag bisa di


lanjutkan.”


“Tapi, aku belum bisa tenang.” Jawab Grace menundukkan


kepalanya.


“Kenapa? Apa ada masalah yang mengganggu pikiranmu?” tanya


hangmin.


“Sudah gak usah di bahas, mana laptop aku.” Grace meraih


laptopnya. Dan dengan sigap di raih oleh Changmin, ia segera menutup semua


laptopnya dan memberikannya.


“Aku mau kamu istirahat, jika kamu tidak mau menurut apa


kata aku. Pergilah dari rumah ini,” ucap Changmin, membuat Grace terdiam


seketika. Ia menatap tajam ke arah Changmin, wajahnya sudah mulai memerah


menahan amarah yang semakin menjalar ke tubuhnya.


“Ya, sudah,” ucap Grace kesal, ia bergegas pergi dari


kamarnya, dengan langakh penuh dengan amarah. Ia berjalan menuu ke lantai satu


rumah Lian yin duduk sendiri di sofa ruang keluarga mereka. Menyandarkan punggungnya


di sofa, dengan ke dua tangan bersendekap.


“kamu kenapa?” tanya Boby duduk di samping Grace.


“Kesla!!” jawab Grace datar.


“kesal? Dengan siapa?”


“Bukan urusan kamu!!”


“Baiklah, tapi...”


“Gak usah banyak bicara lagi, aku mau kamu besok temani aku


ke Timur, dan jangan membatah anatu menolak.” Potong Grace, tak membiarkan Boby


berbicara.


“Dan kamu siapkan baju kamu, mungkin kita akan seminggu.” Lanjut


Grace, bergegas pergi meninggalkan Boby yang masih menatp bingung tak tahu apa


yang di maksud Grace, yang tiba-tiba menyuruhnya untuk ikyt denganya.


“Memangnya ke sana mau apa dia? Dan kenapa aku harus ikut?”


pikir Boby, yang hanya bisa menggelengkan kepalanya mnetap langkah Yiwen yang


sudha pergi menjauh.


``````


“Kenapa dia marah denganku, memangnya aku salah apa denganya.”


Gumam Changmin, membaringkan tubuhnya di sofa, menatap atap langit kamar Grace.


Grace kembali ke kamarnya, dan langsung membaringkan


tubuhnya di ranjang, tanpa perdulikan Changmin lagi yang sudah berbaring di


sofa menatap ke arahnya.


“Kamu dari mana?”


“Bukan urusan kamu, sudah au mau tidur. Bukanya itu yang


kamu mau.” Ucap Grace, dengan nada penuh kekesalan.


“baiklah, selamat tidur.”

__ADS_1


__ADS_2