
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, rumah sudah nampak
sangat sepi, apalagi di rumah besar yang ia tempati hanyalah beberapa saja yang
tinggal dan Boby juga sudah tidur lebih dulu, karena memang sekarang ia di
tugaskan untuk menjaga rumahnya setiap malam, ia ingin tahu apakah benar Boby
adalah orang yang benar-benar akan mengabdi pada Lian yin, atau hanya
melancarkan mata-matanya. Tapi ali ini Changmin lebih berbaik hati padanya, dia
lebih memilih untuk menyuruhnya istirahat.
Dan Grace, masih setia di depan laptopnya, bahkan sampai 3
laptop di depannya, dia juga belum berkutik sama sekali dari dudukya. Changmin
yang melihat Grace begitu serius, ia memutuskan untuk keluar, membawakan
makanan dan minuamn hangat untuk menemani kerjanya.
Grace kenapa kamu
begitu serius, dan apa yang di katakan Lian yin, seakan kamu ingin menurutinya
semua. Apa kamu masih belum bisa melupakanya, apa di hati kaecil kamu tidak ada
sama sekali perasaan untukku.
Changmin bergegas berdiri, dan melangkahkan kakinya pergi
meninggakkan Grace, yang masih sibuk sendiri.
“Kamu mau kemana?” tanya Grace, tanpa menatap ke arah
Changmin, yang sudah berdiri di depa pintu. Membuat Changmin menoleh seketika,
menatap ke arahnya.
“Kamu tunggu saja, aku hanya turun sebentar” ucap Chnagmin
“Iya,” jawab Grace, datar, jemari dan tanganya masih fokus
dengan laptopnya, semua tugasnya sudah hampir selesai dan dia juga sudah janji
pada Yiwen akan membantunya 1 minggu lagi, jadi ia bertekat untuk segera
membereskan semua tuda dan segera pulang kembali, mengumpulkan bukti jika
ayahnya bersalah.
Changmin yang melihat Grace sibuk, ia bergeges pergi,
seeblum ia nanti bertanya lagi padanya.
Grace melirik ke arah pintu tidak mendapati Changmin di
sana, seketika ia menundukkan kepalanya, dengan ke dua tangan memegang kepala
yang yang terasa terlalu berat, berat untuk memikirkan beberapa masalah yang
membuay ia benar-benar penat.
Ayah, maaf aku harus
bongkar semuanya. Aku tidak mau jika ayah terus terjebak dalam dendam masa lalu
yang membuat ayah akan tersiksa sendiri. Aku ingin ayah bisa hidup tenang
dengan ayah , lebih abik ayah harus merasakan apa yang harus, ayah dapatkan.
Iyu memangbhukuman untuk ayah, setelah apa yang ayah lakukan pada keluarga Lian
yin.
“Aku harus melupakan semuanya, aku gak mau terbayang dalam
masa lalu lagi, aku tidka ingin seperti ini. Ini memang sebagai balasan untuk,
ayah. Maaf!!” ucap Grace, yang mulai melanjutkan lagi mentap layar laptopnya.
“Grace, kamu masih sinuk?” tanya Changmin, berjalan
mendekati Grace, membawa makanan dan minuman hangat untuk mereka seduh berdua.
Grace menghelannapasnya, “Iya, aku masih sangat sibuk, jika
kamu mau tidur, tidur saja, aku masih meneruskan semua tugas Lian yin. Jadi
jamgan ganggu aku.” Ucap Grace datar tanpa menatap Changmin yang sidah ada di
sampingnya, meletakkan makanan dan dua gelas minuman di depannya.
“Aku tahu, tapi...”
“Sudahlah, jangan ganggu, aku juga gak lapar. Buat kamu saja
makanannya,” Grace terllihat masih sangat datar, masalah dalam pikirannya, menganggu
__ADS_1
dia untuk bisa berbicara dnegan baik pada Changmin. Sifat cuek Grace yang
secara tiba-tiba itu membuatnya terkejut.
Changmin menatap aneh pada Grace, melihat wajah yang penuh
dengan kesedihan dan masalah yang terpendam.
Changmin menepuk pundak Grace, “Jangan paksakan diri kamu,
aku tahu kamu banyak masalah.” Ucap Changmin, menarik ke dua bahu Grace, menatap
ke arahnya.
“Changmin! Apa yang kamu lakukan, aku masih sangat sibuk
sekarang, jadi tolong jangan ganggu aku,” ucap Grace, menepis tangan Changmin,
dan kembali menatap laptopnya.
“Jangan perduli lagi padaku,” lanjut Grace, dengan Anda
penuh kekesalan.
Ia memang sengaja untuk menyibukan dirinya, agar bisa
melupakan semua pikiran yang menganggunya selama ini.
“Grace, sudah. Lebih baik kamu tidur sekarang, jangan
memaksakan diri kamu untuk bekerja seharian. Kamu juga butuh istirahat, aku gak
mau jika kamu akan cepek nantinya.” Ucap Changmin, duduk di samping Grace.
“Pergilah!!” pinta Grace.
“Gak, aku akan tetap di sini. Aku mau menemanmu. Tapi jika
kamu ingin makan, aku akan pergi,”ucap Changmin memberikan satu piring makanan
memang khusu untuknya.
“Makanan itu buat kamu, aku gak lapar.”
“Aku ambil makanan ini untuk kamu. Lagia kamu seharian di
kamar, bahkan tidak keluar sama sekali dari kamar. Aku gak mau jika kamu sakit,
Grace. Tolong mengertilah!” ucap Changmin.
“Aku harus mengerti bagaimana, aku tidak lapar,Changmin!”
Kruukkkk... Krukkk..
Grace mengusap perutnya, yang tiba-tiba tak bisa di kontrol
di depan Changmin.
Kenapa perut aku bunyi
segala, memalukan, Grace.
Grace bergumam dalam hatinya, ia memalingkan pandangannya,
agar Changmin tidak terlalu perduli dengannya.
“Aku pergi dulu!”
“Kamu ke mana?” tanya Changmin, memegang lengan Grace.
“Mau ke balkon, pasti udara malam membuat pikiran bisa
fress.” Ucap Grace, menepis tangan Changmin di bahunya.
Changmin menarik tangan Grace duduk kembali, “Makalahlah.
Baru kamu boleh pergi.”
“kenapa kamu memaksa ku, Changmin.”
“Kalau gak mau makan, aku suapi kamu sekarang. Aku paksa
sampai kamu mau.”
“Baiklah, apa yang kamu mau.” Ucap Grace, mentap dengan
wajah datarnya menatap Changmin.
“Makanlah!!” bentak Changmin.
“Baiklah, aku akan makan, tapi aku bisa makan sendiri.”
Grace segera mengambil makanan di tangan Changmin, dan dengan lahapnya ia
segera makan, tanpa menandang ke arah Changmin, ia sudah terlanjur sangat malu,
gara-gara perutnya tadi yang tiba-tiba berbunyi tak bisa di ajak kompromi.
Changmin terima, terukir senyuman tipis di bibirnya, menatap
__ADS_1
wajah Grace yang sangat lahapnya memakan habis makanan di piring. Wanita itu
meraih minuman di meja, yang semula hangat berubah menjadi dingin.
Grace meminum habis minumannya, menyeka bibirnya dengan
punggung tanganya dan bergegas pergi tanpa menandang Changmin, yang masih setia
menunggunya.
“Kamu mau kemana?”
“Bukanya kamu sudha anya. Apa kamu mau tanya ribuan kali.”
Jawab Grace jutek. Raut wajahnya sudah sangat kesal, dengan berbagai pertanyaan
Changmin yang selalu membuat dia terpojok.
“Jangan bekerja lagi, kamu istirahat saja, besok pag bisa di
lanjutkan.”
“Tapi, aku belum bisa tenang.” Jawab Grace menundukkan
kepalanya.
“Kenapa? Apa ada masalah yang mengganggu pikiranmu?” tanya
hangmin.
“Sudah gak usah di bahas, mana laptop aku.” Grace meraih
laptopnya. Dan dengan sigap di raih oleh Changmin, ia segera menutup semua
laptopnya dan memberikannya.
“Aku mau kamu istirahat, jika kamu tidak mau menurut apa
kata aku. Pergilah dari rumah ini,” ucap Changmin, membuat Grace terdiam
seketika. Ia menatap tajam ke arah Changmin, wajahnya sudah mulai memerah
menahan amarah yang semakin menjalar ke tubuhnya.
“Ya, sudah,” ucap Grace kesal, ia bergegas pergi dari
kamarnya, dengan langakh penuh dengan amarah. Ia berjalan menuu ke lantai satu
rumah Lian yin duduk sendiri di sofa ruang keluarga mereka. Menyandarkan punggungnya
di sofa, dengan ke dua tangan bersendekap.
“kamu kenapa?” tanya Boby duduk di samping Grace.
“Kesla!!” jawab Grace datar.
“kesal? Dengan siapa?”
“Bukan urusan kamu!!”
“Baiklah, tapi...”
“Gak usah banyak bicara lagi, aku mau kamu besok temani aku
ke Timur, dan jangan membatah anatu menolak.” Potong Grace, tak membiarkan Boby
berbicara.
“Dan kamu siapkan baju kamu, mungkin kita akan seminggu.” Lanjut
Grace, bergegas pergi meninggalkan Boby yang masih menatp bingung tak tahu apa
yang di maksud Grace, yang tiba-tiba menyuruhnya untuk ikyt denganya.
“Memangnya ke sana mau apa dia? Dan kenapa aku harus ikut?”
pikir Boby, yang hanya bisa menggelengkan kepalanya mnetap langkah Yiwen yang
sudha pergi menjauh.
``````
“Kenapa dia marah denganku, memangnya aku salah apa denganya.”
Gumam Changmin, membaringkan tubuhnya di sofa, menatap atap langit kamar Grace.
Grace kembali ke kamarnya, dan langsung membaringkan
tubuhnya di ranjang, tanpa perdulikan Changmin lagi yang sudah berbaring di
sofa menatap ke arahnya.
“Kamu dari mana?”
“Bukan urusan kamu, sudah au mau tidur. Bukanya itu yang
kamu mau.” Ucap Grace, dengan nada penuh kekesalan.
“baiklah, selamat tidur.”
__ADS_1