Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Kehangatan hubungan Yiwen


__ADS_3

Kemana perginya Changmin, kenapa jam segini belum juga pulang.” Ucap ametrta dia tak hentinya menengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya.  Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan Changmin belum juga kembali, bahkan dia sudah menghubungi Lay, dan Lian yin. Tapi katanya Changmin yidak ada di rumah mereka, terus sekarang dia pergi kamana? Gumamnya tak hentinya terus menggerutu, dia berjalan mondar mandir di depan pintu rumahnya. Menunggu kepulangan Changmin.


“Aku coba hubungi nomornya lagi,” Amertya mencoba ,enghubungi nomor Changmin lagi.


“Hah.. Gak di angkat lagi, sebenranya dia kamena.” Decak kesal Amerta.


“Apa dia gak tahu kalau aku sangat mengkhawatirkannya,”


Tak lama mobil Changmin berhenti tepat di depan pintu, dia beranjak turun dengan tubuh lunglai berjalna mendekati Amerta.


“Kenapa kamumasih ada di sini?” tanyanya, menjatuhkan tubuhnya tepat dalam dekapan Amerta. Bau rkok, dan alkohol menyetruak ke penciuman Amerta, membuiat gadis itu seketika mengerutkan hidunganya.


“Apa kamu habis dari club malam?” tanya Amerta.


“Jangan banyak tanya, bawa aku masuk.” Ucap Changmin kasar.


“Tapi..”


“Kalau kamu gak mau bantu aku, panggilkan pembantuku.” Potong Changmin cepat sebelum mendengarkan penjelasan dari Amerta.


Amerta menghela napasnya kesal, “Baiklah! Aku bantu kamu.”


Amerta memapah tubuh Changin masuk ke dalam, dan Changmin lansgung menarik tanganya. “Sudah, aku bisa jalan sendiri,” ucapnya.


“Aku antar kamu,”


“Gak usah!!”


Changmin berjalan menyeret tubuhnya hinga terjatuh di sofa, dia berbaring tengkurap di sofa dengan mata yang perlahan terpejam.


“Grace!”


“Grace!”


Changmin terus mengucapkan nama Grace, membuat Amerta yang diam berdiri di depannya hanya diam, menatap kesal pada Changmin. Tapi dia tidak boleh cemburu, karena memang yang dia sukai adalah Amerta dan dia tidak akan pernah menyukainya, dan Amerta tahu itu.


Amerta mengambil selimut tebal di kamar Changmin, dan segera membawanya turun, lalu menyelimuti tubuh Changmin.


“Maafkan aku, gak bisa mengobati sakit hati kamu,” ucap Amerta, mengusap embut rambut Changmin.


 


 

__ADS_1


 


laki-laki dengan tubuh tegap, terlihat sangat seksi dengan bentuk tubuh sispek, dengan dada kotak-kotak terlihat berjalan membuka kelambu yang menutupi jendela kaca, membiarkan sinar matahari masuk menembus ke dalam kamarnya. Dia kembali lagi duduk di ranjang sampingnya, berjalan dengan langkah snagat hati-hati, jemari tangnaya mengusap lembut rambut istrinya, mencium kepalanya. “Syang!! Bangun,” ucapnya, sembari terus mengusap ujung kepalanya sampai ke belakang.


“Emm.. apa, sih. Aku masih ngantuk..” gumam malas Yiwen, menarik ke dua tangannya ke atas, merengganggkan tulangnya yang terasa sangat kaku tidur pulas seharian.


“Syang, kita mau periksa ke dokter. Jadi sekarang cepat bangun!!”


“Kalau aku gak mau,”


“Berarti kamu gak syanag aku dan anak kita,” Lina yin mengusap wajah Yiwen, jemari-jemarinya tak hantinya mengusap setiap lekuk wajah mulus Yiwen yang masih terbaring.


“Apa yang kamu katakan?” tanya Yiwen, membuka matanya lebar, dia menoleh tepat menatap ke arah Lian yin di sampingnya, dengan alah satu tangnaya menyangga tubuhnya, dan tangan kiri mengusap rambut Yiwen.


“Kondisi bayi kita harus sehat dan aku ingin kita punya baby yang tampan nantinya,”


Yiwen menautkan ke dua alsinya, dengan salah satu mata menyipit. “Aku gak mau!! Aku mau **** wanita yang snagat cantik,” jelas Yiwen.


“Terserah!! Yang penting anak kita sehat,” Lian yin tersenyum samar, dia mengusap pipi kanan Yiwen.


Yiwen menarik ke dua pundaknya ke atas, berbarengan dengan ke dua alisnya yang kompak naik bersamaan. Yiwen menyentuh wajah Lian yin, “Kamu dan bayi kita adalah anugerah terindah yang di berikan oleh Tuhan, untuk melengkanglkapi hidup aku. Dan aku berterima kasih banyak padanya, telah di satukan lahi dengan kamu..” Yiwen mengecup bibir Lian yin beberapa detik.


“Kenapa Cuma sebentar?” tanya Lian yin mengunyupkan bibirnya.


“Iya, tapi kamu gak mandi juga masih cantik.”


“Kamu ya pinter banget kalau merayu wanita,”


“Siapa yang merayu kamu?”


“Tadi siapa?”


“Enggak tahu, lagian aku hanya bilang apa yang ada dalam hati aku.” Jelas Lian yin. Beranjak duduk di kepala ranjangnya, dengan tangan kanan masih tak hentinya memainkan rambut hitam panjang milik Yiwen.


“Asal kamu tahu.. Selama kamu dengan laki-laki lain, apa pernah aku sedikitpun berpaling dari kamu.. Tidak pernah terbesit dalam pikiran kau menduakan kamu.. Bahkan sampai ingin menikahi wanita lain,”


“Makasih, sudah jadi bagian dalam hidup aku,” ucap Yiwen mengangkat kepalanya mehtap wajah Lian yin. “Sekarang aku mau tidur lebih dulu,” lanjutnya.


“Bentar, temani aku dulu.” Lian yin, mengusap perut Yiwen yang sudah terlihat buncit.


Yiwen menarik tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Lian yin, jari lentiknya mengusap berkali-kali, memutarnya dengan sentuhan menggoda dadanya. “Syang!! Maafkan aku, tapi aku janji tidak akan mengulagi kesalahan yang ke dua kalinya,”


“kamu itu gak salah, aku syang dengan kamu. Lagian itu juga saah aku membiarkan kamu sendiri di sana. Dan sekarang setealh pernikahan Lay, kita akan keliling beberapa negara, sampai anak kita lahir nantinya.”

__ADS_1


“Baiklah, sekarang aku amndi dulu,” Yiwen mberanajak dari ranjangnya.


“Yiwen!!” panggil Lian yn lembut, memegang ke tangan kanan Yiwen yang hampir saja masuk ke dalam kamar mandi.


“Ada apa?”


Lian yin memegang wajah Yiwen, lalau sebuah kecupan lembut di bibir Yiwen. Yiwen menggulum bibir Lian yin penuh gairah, dia yang selama ini mengira Lian yin orang asin. Kini ia mulai memuaskan nafsunya membalas setiap apa yang di lakukan Lian yin. Ke dua tanganya memeluk tubuh yin, mengusap punggungnya.


Lian yin menyudahi kecupannya sejenak. “Makasih!!” ucapnya, mengecup kembali bibir mungil Yiwen.


“Bentar!!”


Lian yin menarik ke dua alisnya bingung, dengan ke dua tanganya memegang pinggang ramping istrinya, menariknya masuk dalam dekapan hangatnya.


“Kenapa?” tanyanya.


“Aku mau mandi dulu,”


“Oke, baiklah!!” ucap Lian yin, tersenyum mengusap ujung kepala Yiwen.


Yiwen melepaksan tangan suaminya dari pinggangnya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi, hari ini dia akan melakukan periksa kandungan pertamanya.


Yiwen segera mandi kilat, dia yang biasanya berendam di bathup kini tak seperti biasanya dia mandi di shower. Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang menutupi dari dadanya sampai ke pahanya, melangkah ringan dan tangan mengusap rambutnya yang basah. Duduk di depan kaca, melihat wajahnya yang sangan bersih tanpa baluan make up.


“Syang!! Kenapa sudah keramas?” tanya Lian yin, beranjak berdiri dari ranjangnya dan bergeges memegang rambut Yiwen, mengusapnya dengan handuk, lalu mengambil hair dryer mengeringkan rambut istrinya.


“Memangnya kenapa?” tanya Yiwen.


“Padahal kita belum melakukan apa-apa,”


“Sudah aku ingin istirahat dulu, minggu depan saja,” gumam Yiwen beranjak membaringkan tubuhnya di ranjang, dan langsung di susul Lian yin memeluk tubuh Yiwen dari belakang dengan tangan kanan tak hentinya mengusap perut Yiwen.


“Bukanya kita mau ke dokter, kenapa kamu tidur lagi?”


“Emmm.. enggak tahu,” ucap Yiwen malu-malu, sebenarnya dia memang sengaja berbaring untuk memancing Lian yin.


Lian yin mendekatkan bibirnya, hembusan napas beratnya terdengar jelas di telinganya.


“Semoga anak kita tetap sehat, dan bisa menjadi penerus papanya,”


Yiwen memalingkan tubuhnya menatap ke arah Lian yin, dia mengusap lembut wajahnya. “Kamu juga tetap sehat,” Yiwen mengecup bibir Lian yin, dan di balas langsing oleh Lian yin, dia menggulum bibir mungil Yiwen, jemari tanganya merayap ke tubuh Yiwen, dengan hasrat yang semakin meninggi, jari-jari tangannya sangat lihai membuang semua benang yang menempel pada tubuh Yiwen. Lian yin menarik selimutnya menutupi sekujur tubuh mereka, berbalik ke kanan dan ke kiri, melakukan olah raga, namun kini perlakuan Lian yin lebih hati-hati agar kandunganya tak terjadi apa-apa.


Selesia melakukan kegiatan, Lian yin mengecup kening Yiwen dan segera membantu istrinya memakai bajunya lagi. Dia beranjak bangun dari ranjangnya.

__ADS_1


“Waktunya kita periksa kandungan sekarang!!”  ucap Lian yin, merapikan rambutnya kembali.


__ADS_2