
Aron membuka matanya lebar, "Apa maksud kamu?" tanya Aron memegang ke dua bahu Yiwen agar ia bisa lebih tenang, berbicara dengan jelas.
"Kamu coba lihat apa ada pesan di ponsel kamu. Tadi itu Mei memberi tahuku jika kantor kamu di serang, oleh sekelompok orang." ucap Yiwen, tergesa-gesa menyampaikan pada Lian yin.
Lian yin meraih membuka ponselnyaN sebuah pesan dari Changmin dan Lay, dan beberapa panggilan tak terjawab.
sekelompok orang tak di kenal, dari timur menyerang. Seperti dugaan kita. Mereka mencari dokumen kamu, tapi semua sudah teratasi dengan mudah. sebuah pesan dari Lay.
"Gimana pesannya? Apa mereka baik-baik saja sekarang" tanya Yiwen yang sudah mulai panik dan khawatir dengan Mei beserta yang lainnya.
"Apa kalian akan pergi?" tanya Wo Jian.
Yiwen hanya diam menatap ke arah Lian yin, ia hanya menunggu jawaban dari Lian yin mau pergi atau tidak itu juga semua keputusan ada di tangannya. "Gak, aku akan tetap di sini sementara, besok aku baru akan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Lagian aku bisa menghubungi Changmin atau Lay lewat Vidio call. Dan aku percaya dengan mereka pasti bisa mengatasi semuanya dengan mudah" ucap Lian yin.
"Baiklah, terserah kamu." ucap Yiwen menarik napasnya lega. "Aku kira kamu akan langsung pergi untuk melihat situasi di kantor kamu" lanjut Yiwen, memegang dada Lian Yin. Ia mencoba menundukkan kepalanya, menarik napas panjangnya karena terlalu oanik dan khawatir. Bahkan Lian sendiri saja santai tidak terlalu panik setelah tahu apa yang terjadi pad kantornya.
"Aku pergi dulu, kalian di sini saja. Sepertinya ada hal yang ingin kalian ceritakan berdua nanti." ucap Wo Jian. "Yiwen, ayah akan kembali nanti. Kalau kamu butuh ayah, kamu bisa kirim pesan pada ayah" lanjutnya memegang pundak Yiwen.
"Iya yah, makasih sudah setuju pada hubunganku dengan Lian yin. Aku kira ayah akan menantangnya. Tapi ternyata sepertinya juga sangat akrab denganya. Seperti dengan Tao dulu" gumam Yiwen, melebarkan senyumnya.
"Iya, dan kamu Lian Yin kamu jangan sakiti anak aku, besok aku akan ke sini, banyak hal yang ingin aku ajarkan pada kamu. Selagi aku masih hidup. Aku ingin mewariskan semua yang aku punya pada cucu aku kelak nanti atau kamu Lian yin." ucap Wo Jian.
"Jadi ayah segera ingin cucu ya," tanya Lian yin memastikan.
"Iya, kalau kalian segera buat cucu untuk ayah. Pasti hari-hari tua ayah nanti sangat menyenangkan. Jangan lama-lama menunda kehamilan" sindir Ayah Yiwen pada anaknya.
"Sepertinya anak perempuan ayah itu tidak ingin punya anak dulu, dia maunya bermesraan terus denganku. Bahkan selalu ingin di manja" ucap Lian yin menggoda. di sambut dengan tawa kecil dari Wo Jian.
Yiwen melotot tajam menatap ke arah Lian Yin, memukul dadanya dengan ke dua tangannya. "Apa yang kamu katakan" ucap Yiwen kesal.
"Bukannya emang benar ya" goda Lian Yin.
"terserah kamu" ucap Yiwen melemparkan pandangannya berlawanan arah dengan Lian yin.
"Udah kalian bicara saja berdua" ucap Wo jian.
Ayah Yiwen segera pergi, membiarkan anaknya saling berbincang berdua. Lagian dia tidak mau mengganggu hubungannya untuk membuat sebuah cucu untuknya.
Wo jian langsung mengilang masuk dalam sebuah lorong yang biasa untuk ayahnya mulai teleportasi.
Yiwen melangkahkan kakinya menuju ke ranjang, ia yang merasa sangat lelah, membaringkan tubuhnya di ranjang.
__ADS_1
"Syang" panggil Yiwen lembut dengan suara manjanya.
"Mau sekarang ya syang buat anaknya, ternyata kamu gak sabaran nunggu nanti malam ya" ucap Lian yin penuh semangat, ia berjalan mendekati Yiwen dan langsung berbaring di sampingnya.
Yiwen mengerutkan keningnya, "Siapa yang ajak buat anak?" tanya Yiwen, menatap aneh pada Lian yin.
Lian yin mendekatkan tubuhnya di samping Yiwen. "Terus kamu mau minta apa syang? Kenapa panggil aku tadi?" tanya Lian yin, mengusap lembut rambut Yiwen.
"Kamu duduklah sekarang, jangan ikut berbaring di sampingku"ucap Yiwen, mendorong tubuh Lian yin hingga mengisahkan jarak antara mereka.
Lian yin segera duduk seperti apa yang di perintahkan Yiwen. "Aku sudah duduk syang" ucap Lian yin.
"Pijiti aku syang" ucap Yiwen tidur tengkurap, dengan menunjuk punggungnya yang terasa sangat capek.
"Apa? Pijit?" ucap Lian yin memastikan.
"Apa kami gak mau?" tanya Yiwen melirik tajam ke arah Lian yin. "Kalau gak mau ya sudah , aku gak mau punya anak" lanjutnya mengancam
"Baiklah, aku mau. Tapi gimana kalau nanti gantian ya." gumam Lian yin.
"Iya kalau aku gak ketiduran ya" ucap Yiwen.
Lian yin segera pijiti punggung Yiwen dengan penuh perasaan. hingga Yiwen tertidur pulas tanpa mendengarkan apa yang di katakan Lian yin padanya.
Mei dan Changmin masih di kantor Lian yin, ia masih tetap stay untuk menjaga kantornya.
"Syang ikut aku" ucap Mei, menarik tangan Changmin, untuk segera pergi.
"Bentar syang!" ucap Changmin, yang mulai membenarkan resleting jaket Mei kekasihnya agar tertutup sampai ke bawah dagunya pas. ia tidak mau kemolekan tubuh Mei di lihat oleh lelaki lain. "Jangan umbar tubuh kamu dengan orang lain" ucap Changmin, merengkuh pundak Mei. "Biarkan saat aku menikah dengan kamu, baru boleh menunjukan semuanya" ucap Changmin, dengan senyum menyungging di bibirnya.
Mei hanya diam tersenyum, melihat kelakuan manis Changmin yang membuatnya semakin gemas. Dan semakin cinta saja.
"Kenapa diam saja menatapku seperti itu, kalau kamu terus menatapku lama-lama aku jadi latung lo" ucap Changmin menggoda.
Mei mengerutkan keningnya, menatap aneh pada Changmin. "Kenapa bisa jadi patung?" tanya Mei.
"Karena tatapan mata kamu melumpuhkan hatiku, membautku tak bisa melangkah jauh pergi dari kamu." ucap Changmin, mengusap lembut pipi Mei.
"Kamu bisa saja syang, udah ayo pergi" ajak Mei.
"Jangn pergi!" ucap Changmin.
__ADS_1
"Apalagi sih syang, jangan banyak bercanda ini masih dalam situasi serius" ucap Mei kesal.
"Padahal aku hanya ingin bilang jika tali sepatu kamu lepas" ucap Changmin, yang langsung duduk jongkok membenarkan tali sepatu Mei.
Mei yang semula kesal, kini ia hanya bisa tersenyum, ia merasa bangga punya pasangan yang romantis seperti Changmin.
"Udah kamu gak usah romantisan di sini, ayo jalan ke depan lihat, masih ada musuh di sekitar sini atau tidak. Ini bukan saatnya jntuk bermanjaan, tau bermesraan di sini" ucap Lay, yang tiba-tiba datang dan marah gak jelas dengan Changmin.
"Bilang saja kalau kamu iri dengan kemesraan kita kan" ucap Changmin, beranjak berdiri di smaping Mei, ia merengkuh pundak Mei, dan selalu ingin menunjukan kemesraannya pada Lay. Agar dia tambah marah dan kesal dengannya.
Lay hanya diam, menarik bibirnya sinis. Menggelengkan kepalanya, dan melangkahkan kakinya pergi tanpa perdulikan dua pasangan di belakangnya yang tidak pernah berhenti memamerkan kemesraan mereka.
"Dia marah syang? Gara-gara kamu tuh" ucap Mei, mendorong tubuh Changmin menjauh darinya.
"Kenapa kamu malah marah denganku syang" ucap Changmin.
"Kamu terlalu mesra" ucap Mei menggoda.
"Udah ayo pergi syang" ucap Changmin.
"Bentar, jaket kamu juga harus terlihat rapi syang" ucap Mei, yang mulai merapikan jaketnya agar tampil lebih bagus dan tidak terlalu formal.
"Kalau gini lebih tampan, sekalian pakai topi ini" lanjut Mei, memakaikan topinya pada Changmin.
"Kamu saja yang pakai topinya" ucap changmin.
"Aku ada topi jaket ini lebih nyaman" ucap Mei, dengan langkah ringan menuju ke lobi kantor Lian yin yang sudah nampak sangat sepi, semua pegawai sudah mereka pulangkan. Dan kini hanya beberapa polisi yang sedang melakukan penyelidikan. Di bantu dengan Mei dan Changmin, sedangkan Lay pergi entah kemana. Ia ingin mencari siapa yang sebenarnya dalang dari semuanya.
"Pak gimana apa ada perkembangan sebenarnya siapa mereka?" tanya Changmin pada petugas keamanan.
"Masih belum ada bukti jelas, nanti kalau sudah ada bukatinya saya akan segera hubungi tuan Changmin" ucap pegawai keamanan di sana.
"Syang, ikut aku sekarang" ucap Mei, menarik tangan Changmin pergi ke tempat yang terlihat sepi tak terlihat para petugas kemanana di sana.
"Ada apa syang?" tanya Changmin.
"Aku punya sesuatu bukti" ucap Mei. Mendengar itu, Changmin segera menarik tangan Mei duduk di sofa.
"Kamu menemukan bukti apa?" tanya Changmin penasaran.
"Sebuah bukti yang entah apa benar atau tidak prediksi aku" ucap Mei yang mulai menunjukan peluru yang ia dapat tadi. Dan sebuah benda pengenal berbentuk sebuah lambang kupu-kupu.
__ADS_1
"Peluru ini apa kamu tahu siapa pemiliknya?" tanya Changmin, mengambil peluru itu dan menciba melihatnya setiap detail pelurunya. Ia memang tidak asing dengan peluru itu. Tapi sepertinya soal senjata Lay lebih kenal dan pengalaman." ucap Changmin , meletakkan kembali peluru itu di atas meja.