Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Lalat buatan


__ADS_3

"Lay, aku yakin ini salah satunya." ucap Lyli, beranjak berdiri, menatap ke atas, melihat lalat yang beterbangan ke atasnya.


"Apa syang!!" ucap Lay dengan wajah yang sangat malas.


"Lihatlah, lalat ini. Bukanya kamu yang bilang sendiri jika di sini tidak ada lalat," ucap Lyli.


Lay seketika bangkit dari duduknya, ia beranjak berdiri. Menatap atas.


"Sepertinya ini bagian dari salah satu camera itu." ucap Lay.


"Kamu tangkap sekarang"


"Gimana aku bisa menangkapnya syang!!"


"Pakai raket nyamuk."


"Aku mana bawa, kalau di rumah ada. Kalau lagi kerja aku gak bawa."


"Atau pakai plastik saja! Pakai botol! Pakai karung! Kardus! Atau..."


"Udah-udah, biarkan saja!"


"Kenapa di biarkan?" Lyli menarik tangan Lay, uantuk seggera membuang cctv itu.


"Kamu yakin jika itu cctv?"


"Yakin!!"


"Seberapa yakin?"


"Emmm... Seratus.."


"Aku dua ratus..."


"Lay!! Aku serius!!" umpat Lylu, menghentkakan kakinya kesal,


"Aku juga serius, Lyli." ucap Lay, mengusap wajah Lyli.


"Terus, kamu mau bantu aku gak?"


"Kalau bantu mandiin kamu skearang aku mau,"


"LAY!!!" teriak Lyli kesal. Menatap tajam dengan ke dua tangan mengepal, meluapkan emosi yang semakin menjalar di tubuhnya.


"Apa, syang?" Lay, mencoba merayu Lyli, mengusap lembut rambut Lyli manja.

__ADS_1


"Dasar otak mesum!!" umpat kesal Lyli.


"Wajar syang, jika laki-laki seperti itu. Bukanya kamu sudah tahu, jika aku laki-laki seperti apa."


"Iya, suka lihat wanita cantik dan seksi du club malam." decak kesal Lyli.


"Sudah tahu, tapi aku sudah berubah. Sejak ada kamu!!" Lay meletakkan tangannya menutupi ke dua telingannya, mendekatkan ke arah Lyli semakin. Hingga hembusan napas mereka saling berpacu cepat, dengan detak jantung yang sudah tidak beraturan.


"Kenapa kamu bahas ini sekarang, lebih baik usir itu lalat." lanjutnya Lyli.


"Gak mau, biarkan saja mereka tahu. Jika kita hanya bermesraan." ucap Lay, kembali duduk di ranjang.


"Maksud kamu?" tanya Lyli bingung.


Lay menarik tangan Lyli, duduk di sampingnya. dan berbisik padanya. "Kamu nurut aoa kata aku, tetap seperti tadi, sekaan hubungan kura selalu ada bernateknya. Aku ingin tahu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Mereka berbuat licik, kita juga harus berbuat licik, lebih dari mereka" ucap Lay. Membiat Lyli tersenyum tipis, menganggukan kepalanya kecil, seakan dia tahu apa yang di rencanakan Lay.


"Apa yang kanu inginkan?" tanya Lay.


"Aku ingun, lalat itu segera pwrgi, gimana aku mandi nantinya, kalau lalat itu masih di sini. Ya biarkan saja jeluar, setelah itu kunci rapat semua pintu hotel ini. Jangan sampai dia bisa masuk. Atau perlu bakar semua saja."


"Bakar? Apa kamu gila? Kalau bakar aku yang dapat masalah!!"


"Sudah percayalah, aku selaku mendukungmu." Laly menepuk bahu Lay, mendekatkan tubuhnya.


"Kamu gak sadar, saat kita bicara seperi uni. Lalat itu terbang di atas kepala kita tepat, sepertinya dia mendengarkan apa yang kita bicarakan." bisik Lyli sembari mengibaskan tanganya ke atas, agar lalat itu segera pergi.


"Canggihan mana dengan aku?" ucap Lyli, tersenyum tipis, beranjak berduri, menangkap lalat itu dengan sempurna, hanya menggubakan ke dua tangannya.


"Kamu punya plastik gak?" tanya Lyli.


"Gimana kamu bisa menangkapnya?" tanya Lay, yang bingung, kapan Lyli berdiri di depannya padahal baru saja berbicara, ternyata ia dengan cepat, menangkap lalat itu tanpa bantuan alat apapun.


"Aku punya. Plastik hitam, agar tidak bisa lagi melihat apa yang di lakukan. Setelah itu kita bung ke kamar orang lain." ucap Lay, seakan penuh ide kejahilan dalam otaknya kali ini.


"Baiklah terserah kamu!!" ucap Lyli.


Lay segera mengambilkan plastik hitam, yang tergeletak di meja.


Lily segera memasukan lalat itu ke dalam plastik. Dan lay, menutup mulutnya, ia sadar jika lalat buatan itu bisa menyadap suara di dalam ruangan.


--------


Di sisi lain, Yiwen, duduk bermanja berdua dengan Lian yin. "Apa kamu yakin, menyuruh Grace dan Changmin untuk pergi ke Timur."


"Kenapa gak yakin, aku tahu pasti ayah Grace juga sangat mengharapkan dia pulang. Jadi jangan pisahkan mereka lagi. Kasihan mereka sayang. Lagian aku juga yakin Grace bisa melindungi Cgangmin, dia gak akan mungkin dapat masalah, percaya padaku!!" ucap Lian yin, sekaan ia sudah paham segalanya.

__ADS_1


"Kenapa gak mungkin?"


"Karena Grace sangat dekat dengan Changmin sejak kecil. Kita bertiga sangat dekat dan sebaliknya Lay dekat dengan Lyli dari dulu. Tapi semuanya berubah saat mereka semua pergi. Hanya aku bertiga dengan para laki-laki yang tinggal di sini."


"Sepertinya kisah kalian jauh lebih mengharukan ya. Penuh cinta juga"


"Misah kamu yang lebih mengharukan, bukanya kamu dan Tao serta luhan sudah kenal lama. Kamu mencintai Luhan, sedangkan Tao mencintai kamu,"


"Jangan bahas itu," ucap Yiwen, memalingkan pandangannya saat mendengar nama itu, seakan ia tidak ingin lagi mendengar nama itu, yang membuatnya merasa sangat kesal. Yiwen menguntupkan bibirnya, hingga manyun beberapa senti.


"Kamu marah ya?" tanya Lian yin, mencolek dagu Yiwen.


"Enggak!! Aku hanya kesal."


"Jangan marang syang!!"


"Enggak!!" jawab Yiwen semakin jutek.


"Biklah, sekarang ayi kita tidur."


"Tidur aja sendiri,"


"Ya, usah kamu tidur di bawah ya, atau tidur di sofa. Aku capek mau tidur." ucap Lian yin.


Yiwen menarik kaki Lian yin, "Ada aoa?" tanya Kian yin kesal.


"Kamu belum cerita padaku! Kamu tadi pergi kemana?" tanya Yiwen, dengan nada kesalnya.


"Kau hanya bertemu seseorang syang. Bukan hal penting. Aku memesan sesuatu tadi." ucap Lian yin.


"Memesan apa?" tanya Yiwen.


"Besok kamu juga akan tahu," Liann yin, membaringkan tubuhnya lagi.


"Lian yin ja gan tidur dulu, bilang padaku kanu pesan apa? Hadiah untuk wanita lain ya?"


"Gak ada wanita lain di hati aku? Yang ada hanya satu nama, yang sudah terukir jelas di lubuk hatiku." ucap Lian yin, sembari memejamkan matanya, menarik tangan Yiwen, memegang dadanya.


"Jika kamu tidak percaya bukalah hatiku, kamu bisa melihat jelas nama itu hanya 'Yiwen' dan sudah paten di hati ini." ucap Lian yin. Semakin membuat Yiwen tersipu malu. Hanya rayuan kecil saja, Yiwen selalu berbunga-bunga mendenfarnya, Lian yin memang berbeda dnegan laki-laki lain. Itu yang di suka. Apalagi sifatnya yang dingin pada wanita lain, seakan dia tidak perduli dengan wanita lain, selain dirinya.


"Kamu mau tidur di sini, atau tidur di luar?" tanya Lian yin. menarik tangan Yiwen semakin dekat, membuatnya jatuh dalam dekapan hangatnya. Lian yin, membuka matanya, Ke dua mata mereka saling tertuju, menatap sangat dalam.


"Yiwen!! Aku ingin kamu temani aku di sini, berbaring di samping aku!!" ucap Lian yin lembut, mengusap rambut Yiwen, sembari jemari tangannya, menyilakan rambut yang menghalangi pandangan matanya.


Yiwen, berbaring di samping Lian yin, dengan tangan Lian yin sebagai bantal kepalanya, menempelkan kepalanya di dada bidang milik Lian yin.

__ADS_1


lian yin merengkuh tubuh Yiwen. mendekapnya sangat erat, menenggelamkan kepalanya dalam dekapan hangatnya. Ia mencium lembut ujung kepala Yiwen.


"Aku ingin bermanja sebentar. Selagi aku bisa merasakannya. Saat kamu pergi nanti. Aku gak bisa seperti ini syang. Jadi kamu temani aku tidur. Kita harus tidur berdua, jangan bertengkar lagi soal tidur." bisik Lian yin, yang tak hentinya mendekap tubuh Yiwen, membuat hadis itu perlahan tertidur dalam dekapannya.


__ADS_2