
"Iya, meski hanya tebing. Tapi kan lebih indah syang."
"Indah mana melihatku atau tebing?" tanya Lyli.
Lay menelan ludahnya, mendengar uacapan Lyli yang membuatnya terkejut. Entah kenapa dia jadi berubah. Semakin menunjukan jika dia itu suka dengannya.
"Lebih indah melihatmu,"
"Kalau lebih indah aku, ya sudah kamu lihat aku saja."
"Lebih indah tanpa baju," goda Lay, membuat ke dua mata wanita itu menajam, ia beranjak duduk, mengeram kesal.
"Maksud kamu?"
Wanita akan indah tanpa itu,"
"Emm.. Sekarang kamu berani ya, berpikir kotor padaku. Emangnya aku wanita murahan yang bisa kamu rayu dengan kata-katamu itu." Lyli bernahak berdiri, mendekati Lay.
"Kamu mau memukulku?"
"Iya!!"
"Satu pukulan, satu sentuhan."
Lylu menautkan ke dua alisnya bingung.
"Maksud kamu?"
"Iya, satu sentuhan tangan kamu itu. Maka aku akan membalasnya dengan sentuhan lembut juga syang." ucap Lay.
plaakkkk...
"Dasar otak mesum!!"
Lyli mendaratkan tangannya sempurna, di pipo Lian yin. Hingga membentuk sebuah tangan di pipinya.
"Bagus ya, ada bekas tangan aku di pipi kamu. Biar kamu ingat, jangan sembarangan bicara mesum dengannya."
Lay tersenyum tipis, menarik sudut bibirnya dengan otak yang seakan terus memutar, untuk berpikir, apa yang harus ia lakukan tadi. Dan hanya satu tang terbesit di pikirannya.
Lay mendekatkan wajahnya, "Apa kamu yakin tidur dengan aku tidak terjadi apa-apa nantinya.
"Siapa yang mau tidur dengan kamu. Aku mau kamu tidur di sofa. Aku yang tidur di ranjang." jawab kesal Lyli.
Lay memegang lengan Lily, merayap ke punggungnya, memeluknya dari belakang, dan tangan perlahan, menjalar, menyentuh bawah perutnya. "Jika kamu berpakaian seperti ini tiap malam. Tidak ada laki-laki yang tidak tergoda, syang. Apa memang kamu amu aku seperti ini?" Lay srdikit menekannya, membuat Lyli menjerit.
"Lay!! Singkirkan tangan kamu."
"Gak mau!"
"Cepat singkirkan!"
"Aku gak mau syang!! Kamu sudah menamparku, maka kalau tangan aku nakal seperti ini, aku mau lihat reaksi kamu. Salah satu tangan Lay memegang dadanya. dengan salah satu memainkan daerah privat yang tertutup rok seoaha, yang sangat oendek, Lyli saat berbaring, hingga terlihat jelas, membuat Lay, yang tak sengaja a melihatnya tadi, hanya bisa menelan ludahnya kasar. Kini ia ingin memegangnya saja, dan tidak terbesit untuk melakukan
Desahan Lyli membuatnya semakin senang, ia melepaskan pelukannya, semakin memainkan, membautvgadis itu semakin menggeiat sendiri.
"Gimana?"
"Lay hentikan!!"
"Kamu suka gak?" tanya Lian yin, duduk di kursi di balkon, sembari melihat lily yang berdiri, dengan tubuh terus menggeliat sendiri, merasakan sensasi tangan Lay.
"Lay, kamu kurang ajar padamu. Awas saja kamu nanti,"
"Awas kenaoa, aku suka melihat kamu seperti ini. Salah sendiri tadi menggodaku, sebagai menunjukan bagian dalam kamu saat berbaring."
__ADS_1
"Emangnya siapa yang menunjukan, aku tadi tidak sengaja kelihatan."
"Gak sengaja atau memang di sengaja. Kalau gak sengaja terlihat begitu jelas, untung yang melihat aku? kalau laki-laki lain gimana. Kalau aku bisa menahannya. tapi sekarang aku ingin melihat kamu merasakan sensi yang terkuoakan, dan apalagi saat aku menikahi kamu nantinya. Aku akan melakukannya setiap hari, dengan adik kecilku." ucap Lay.
"Emm.. Lay!!"
"Nikmati saja, syang!!"
"Aku gak mau menika...."
Belum sempat berbicaran, Lyli menarik bibirnya ke dakam, menahan desahan yang terus ingin keluar.
"Gimana?"
"Aku sudah bilang jangan banyak bicara, kalau banyak bicara, yang semakin cepat nantinya."
Merasa sudah melihat Lyli basah, Lay beranjak pergi meninggalkan Kyli sendiri.
Dan berjalan menuju ke kamar mandi, mencuci tangannya. Dan kembali lagi, sudah melihat Lyli didik di ranjang.
"Gimana? Jika mau lagi bilang saja. Aku yakin setelah ini, kamu akan merasakan nikmat, yang ingin kamu ulangi,"
"Nikahi aku," ucap Lyli, tanpa ragu, seakan dia sudah mantap untuk berbicara seperti itu.
"Uhuk... Uhuk..." Lay yang meminum kopinya, seketika keluar semua dari mulutnya.
"Aoa aku gak salah dengae?"
"Enggak... Aku mau kamu membuat aku merasakan sensi itu."
Lay tersenyum tipis, meletakkan kopinya di meja.
"Apa kamu bilang, apa kamu memang lagi ingin ya?"
"Semua gara-gara kamu," Lyli yang malu menutupi bagian miliknya dnegan selimut, sedikit menekannya Rasa basah membuat ia merasa ketagihan.
Aku merasa sangat menikmati, tapi apa Lay akan menertawakan. Saat kamu menginginkannya lagi. Tapi memang benar, dengan menikah bisa merubah segalanya nanti. Aku ingin dia yang melakukannya. Dan menghilangkan gelar perawannya pada Lay, setelah menikah.
"Kamu benar, aku ingin lagi, tapi aku hanya ingin kamu."
"Baiklah, jika semua sudah selesai, aku akan menikahimu." Lay, mengecup kening Lyli lembut. "Sekarang kita makan dulu, nanti di bahas lagi syang. Aku gak mau nanti kamu sakit. Lagian seharian kita belum makan, dan sibuk dengan mata-mata itu,"
Lyli beranjak daei eanjangnya, berjalan mendekati Lay. "Iya, aku juga sudah sangat lapar sekarang."
"Iya, cepat makan. Aku mau kamu sekarang pergi,"
"Pergi kamana, kamu mengusirku , Lay?"
"Siapa yang mengusirmu, aku mau kanu pergi ke pernikahan denganku."
rayuan Lay membuat Lyli tersipu malu.
"Apa kamu yakin menikah denganku?
"Iya, memangnya apa yang membuat aku tidak yakin?" tanya Lyli
"Entahlah, aku kira kamu tidak mungkin mau menikah denganku. Sementara perasaan kamu masih ada satu orang." ucap Lay, menundukkan kepalanya, seakan dia merasa ingin sekali kecewa. Tapi tak bisa, ia hanya ingin memeluk erat tubuh Lyli, meluapkan perasaan hatinya selama ini.
"Satu orang dan itu, adalah kamu!!"
"Aku?"
"Iya, kamu, siaoa lagi. Aku syang denganmu Lay.
Lyli mengecup bibir Lay, lembut dan kembali duduk tegap, menikmati makanan yang ada.
__ADS_1
Lay masih diam, ia tak percaya dengan kecupan yang di berikan Lyli, seakan ia terbang dalam dunia mimpi.
Puk! Puk! Puk!
Lay mencoba menyadarkan dirinya dari mimpi.
"Ternyata sakit, jadi ini tidak mimpi?" Lay, tersenyum menatap Lyli di sampingnya, memandangi wanita yang sangat cantik di depannya itu.
Lalu memeluknya sangat erat, "kamu cantik syang. selamanya akan jadi yang ter-cantik di duniaku. Dan kita akan menciptakan dunia kita sendiri berdua. Hanya ada kamu dan aku, serta anak-anak kita nantinya."
Lyli membalas pelukan Lay, ia mengusap punggungnya, "Aku juga!!"
Baru kali ini aku merasakan sebuah pelukan yang sangat hangat. Pelukan yang membuat hati aku tenang dan damai. Aku ingin bisa seperti ini terus Lay, bersamamu. Dan aku janji tidak akan membuat kamu kecewa lagi, sekarang aku tahu perasaanku, sudah semenjak kamu berkorban untukky, entah kenapa hatiku mulai tersentuh denganmu.
"Aku ingin kamu menciumku syang!!"
"Kamu mau memangnya?"
"Iya, tapi lembut saja" ucap Lyli, ucapan wanita di pelukannya itu benar-benar sangat menggoda imannya. Gimana bisa jika dia tidak terpancing, jika Lyli terus ingin dekat dengannya.
Lay melepaskan pelukan lyli, memegang ke dua pipinya lalu mengecup lembut bibir Lyli, dengan penuh kelembutan, membaut wanita itu seakan jatuh dalam gairah.
"Udah, sekarang makanlah. Aku gak mau kamu laoar nanti," ucap Lay, melepaskan kecupannya.
"Baiklah, apa kamu mau aku suapi?"
"Boleh!!" jawab Lay antusias.
Lyli mulai menyuapi Lay, dan sebaliknya, Lay nenyuapi Lyli. Mereka saling menikmati, makanan masaing-masing, dengan saling becanda tertawa bersama.
Hari ini aku benar-benar bahagia, di kejutkan dengan suatu hal yang membuat aku, mulai yakin, jika kamu adalah jodoh aku. Selarang aku ingin bisa bersama kamu selamanya. menjaga kamu, dengan nyawaku sendiri taruhannya. Dan secepatnya aku akan menikahimu Lyli. Agar kita bisa selalu bersama setiap waktu.
"Lay, apa kamu gak mau tidur sekarang?" tanya Lyli, mulai minum air yang di bawakan Lay tadi.
"Iya, kamu tidur saja duluan, aku tidur di sofa. Tapi gak masalah. Sekarang aku masih bekum bisa tidur,"
"Kamu gak berbaring di sampingku, tapi ingat hanya berbaring, tidak lebih."
Memangnya boleh?" tanya Lay, memastikan.
"Boleh, siapa juga yang melarang. Asal tidak berlebihan. Amu sudah bilang jika mau lebih nunggu kita nikah lebih dulu." ucap Lyli.
Lay tersenyum tipis, ia beranjak berdiri, mengangkat tubuh Lyli berjalan menuju ke ranjangnya. Dan ia segera berbaring di samoingnya. Menrik selimut tebal menutupi sebagian tubuhnya. "Selamat tidur syang!!" ucap Lay, mengecuo kening Lyli.
Drrttt... Drrtt.. drrtt
Ponsel Lay bergetar, membuat ia menbuka natanya kembali, segera meraih pinselnya, "Lian yin!"
"Ada apa dia mengirimi aku oesan, apa ada hal pentjng. Atau ada masalah?" gerutu Lay.
"Siapa syang?"
"Lian yin!!"
"Ada apa dia menghubungimu?"
"Baru mau buka pesan-nya,"
Lay segra membuka pesan dari Lian yin.
Kamu dan Lyli tetap kerjakan tugas kamu, sekalian kamu harua pantau orang keluar masuk di sana. dan Changmin akan pergi ke rumah Grace. Aku yakin jika dia akan menemukan jawaban di sana, tentang kakak kandungnya, yang pernah hilang selama ini."
"Sebenarnya siapa, kakak, kandung Vhangmin. Bukanya dia selama ini tidak pernah melihat wajahnya. Jadi apa Lian hin, sudha siap kehilangan Changmin nantinya. hiam dia kembali pada kakaknya?"
"Apa Kian yin sudha menemukan kakak Changmin?"
__ADS_1
"Belum, udah syo kita tidur.Besok aku akan menghubunginya. Menayakan lebih detail apa maksud Lian yin."
"Baiklah," Lyli menyandarkan kepalanya di dada bidnag milik calon suaminya kelak.