Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Jalan-jalan


__ADS_3

"Kamu sudah siap belum" tanya Lian yin, memeluk tubuh Yiwen dari belakang, menyandarkan dagunya ke pundak Yiwen.


"Kamu suka gak aku seperti ini" tanya Yiwen menatap wajah polos Lian yin di balik pantulan kaca di depannya.


"Sebanarnya aku gak mau kamu pakai make up berlebihan, takutnya ada lelaki yang memerhatikan kamu nanti. Lagian kamu istriku tidak boleh ada orang lain yang menatapnya, selain aku" gumam Lian yin.


"Tapi aku mau tampil cantik di depan semua orang bukan karena mau di lihat lelaki lain. tapi ingin tampil cantik saat bersamamu. kalau semua orang lihat kamu punya istri cantik pasti semua iri padamu" ucap Yiwen.


Lian yin melepaskan pelukannya, membalikkan badan Yiwen menatap wajahnya. Jemarinya menyentuh wajah Yiwen yang sudah terbalut make up tipis. "Kamu bagiku sudah terlihat cantik meski tanpa make up. meskipun kamu kumel, atau lusuh pun aku masih menganggapmu cantik" gumam Lian yin.


"Sudahlah jangan gombal, jadi pergi gak" tanya Yiwen menepis tangan Lian yin dari pipinya.


"iya, iya. ayo pergi" ucap Lian yin, memegang tangan Yiwen erat beranjak turun. Hari pertama di Vila membuat Lian yin merasa sangat senang dan tegang. karena tadi sempat ada masalah dikit dan kini semua sudah terselesaikan. tinggal satu yang belum selesai. Ingin punya anak dari Yiwen namun belum juga di kasih sama dia. sepertinya dia harus bersabar menunggu sampai dia benar-benar mau dengannya.


Mereka berjalan beriringan, menelusuri pinggiran pantai. dengan pamandangan matahari yang sudah mulai di sebelah barat dan sebentar lagi sudah akan tergelam.


"Lihat itu," ucap Lian yin menunjuk ke atas.


"Mana?" tanya Yiwen yang sibuk melihat ke atas tak ada apa-apa di sana.


"Disini" Sebuah kecupan tiba-tiba mendarat di pipi kiri Yiwen.


"Yin kamu bohongi aku" ucap Yiwen terus mencubit pinggang Lian yin berkali-kali.


"Ampun-ampun.. udah maaf" ucap Lian yin mengangkat ke dua tangannya. Namun Yiwen yang masih jahil tersandung jatuh tepat di atas tubuh Lian yin.


"Apa kamu mau melakukannya di sini"Bisik Lian yin.


"Maksud kamu?" Yiwen sontak membelalakkan matanya.


Lian yin membalik tubuh Yiwen di hamparan pasir yang membantang luas. "Apa kamu gak tahu maksudku, atau langsung kita praktekkan disini" ucap Lian yin menggoda.


"Lepaskan aku, jangan gila deh"ucap yiwen mencoba mendorong tubuh Lian yin. Namun tak bisa berkutik sama sekali.


"Siapa yang gila, aku hanya ingin menawarkan sesuatu padamu." ungkap Lian Yin.


"Menawarkan apa?" tanya Yiwen menatap bingung wajah lian yin di depannya.


"Aku ingin kamu menemaniku malam ini, gimana? kalau kamu jawab iya aku akan melepaskan pelukan aku sekarang."ucap Lian yin.


"Kalau aku gak mau gimana?" tanya Lian yin.


"Kalau gak mau, berarti kamu bukan istri yang berbakti pada suami kamu. lagian ini kesempatan kita jauh dari siapapun. kalau kita sudah balik lagi. Aku akan lebih sibuk kerja nantinya"gumam Lian Yin.

__ADS_1


Yiwen terdiam, menimang-nimang apa yang Lian yin katakan padanya. ia masuh ragu menuruti kata Lian yin atau hanya tinggal diam tak menjawab apa yang di katakan dia. tapi ada benarnya dia sekarang istri Lian yin, jadi menemani setiap ia minta itu hal wajib baginya, gumam Yiwen.


"Gimana mau gak?" tanya Lian yin memastikan.


"Entahlah"ucap Yiwen mendorong keras tubuh Lian yin hingga terpental ke hamparan pasir tepat berbaring di sampingnya.


"Tahu gak, baru kali ini aku merasakan senyaman ini. Dulu hidupku selalu di penuhi dengan musuh dan pekerjaan. Aku tidak pernah bisa berlibur seperti ini"Cerita Lian yin melipat ke dua tangannya tepat di bawah kepalanya, dengan pandangan menatap ke atas langit.


"Apalagi aku, dulu gak tahu apa pernah liburan atau tidak tapi setidaknya sekarang aku juga nyaman"ucap Yiwen memandang Lian yin di sampingnya.


"Kamu jangan pernah pergi lagi dariku"Ucap Lian yin memiringkan badanya menatap Yiwen di sampingnya.


"Tidak akan, karena aku sekarang istri kamu gak mungkin aku pergi meninggalkan kamu"ucap Yiwen menyetuh hidung mancung Lian yin yang kini tepat di depannya.


tatapan mereka semakin dekat, dekat dan dekat bahkan semakin dalam. Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir tipis Yiwen, kini tanpa penolakan mereka saling membalas hingga menjadi sebuah kecupan panas. Tepat dengan pemandangan matahari terbenam, namun mereka tak bisa mengabadikan moment tersebut. Karena terlalu sibuk dengan kegiatan mereka bermadu kasih berdua.


lama berciuman, Mereka beranjak kembali ke Vila. Karena hari juga sudah malam takutnya Ley juga sudah datang dan mencarinya. apalagi kalau melihat mereka gak ada di Vila pasti dia akan khawatir.


"Entar aku tunggu ya?" ucap Lian yin mengingatkan.


Yiwen hanya tersenyum tipis berjalan menuju ke vila lebih dulu. Lian Yin mencoba mengejarnya dan berdiri tepat di depan Yiwen dengan berjalan mundur.


"Senyum itu tadi, tanda kamu mau ya?" tanya Lian yin memastikan.


Lian yin tahu jawabannya meski tak langsung terucap dari bibirnya, ia langsung memeluk Yiwen erat.


"Susah lepaskan, aku gak bisa napas nih"ucap Yiwen meronta.


"Baiklah" Lian yin tiba-tiba nampak mulai cemberut dan berjalan lebih dulu.


Yiwen mengejarnya dan langsung naik ke punggung Lian yin. "Gendong aku sampai ke vila"ucapnya.


"Sampai sana dapat kecupan kan?" ucap Lian yin menggoda.


Yiwen memeluk leher Lian yin dari belakang, dengan bibir tepat menempel di pipinya. "Enak ya kalau di gendong gini tanpa jalan kaki"ucap Yiwen.


"Iya tapi kamu berat" goda Lian yin.


"Enak saja, ku segini tu kurus tahu"balas Yiwen.


Mereka terus berbincang, hingga langkah mereka tak sadar sudah sampai di depan Vila, ia melihat sosok lelaki sudah berdiri di depan pintu Vila. sepertinya memang dia baru saja datang.


"Lay!!" sapa Lian yin.

__ADS_1


Lay menoleh, dan langsung menanyakan beberpaa pertanyaan pada Yiwen dan Lian yin.


"Kalian gak kenapa-napa kan"tanya Ley yang baru saja datang. Ia terlihat sangat panik mendekati Lian yin dan Yiwen.


"Tenang saja, dia yang melindungiku"ucap Lian yin yang merasa bangga dengan istrinya itu.


Ley mengusap dadanya, ia merasa lega tidak terjadi apa-apa dengannya.


"Maaf aku datang terlambat, gara-gara pesawat aku deley. aku sampai gak bisa tenang dan terus marah-arah sama pegawai bandara. tapi sekarang aku lega bisa melihat kalian baik-baik saja" cerita Ley.


"baiklah, kamu yang udah sampai sini kita akan liburan dulu" ucap Lian yin.


"Aku liburan?" tanya Ley tak percaya.


"iya emangnya kamu gak suka?" goda Lian yin.


"Suka, tapi tumben-tumbenan bebas tugas nih"gumam Ley.


"Tapi setelah itu kamu ke Sydney jemput seseorang." ucap Lian yin.


"Ya, aku kira akan bebas tugas beberapa hari, ternyata masih ada tugas lagi, ada lagi, ada lagi"gerutunya.


"kalau kamu gak mau ya, gak apa-apa aku gak memaksa kamu. tapi kamu akan menyesal nantinya jika menolak" ucap Lian yin.


Ley terdiam, ia mulai penasaran dengan apa yang di perintahkan Lian yin. jarang-arang dia bilang seperti itu padanya. seperti ada sesuatu yang di sembunyikan darinya, atau sebuah kejutan yang akan di persiapkan dia untuknya di sana.


"Baiklah"ucap Ley.


"Oya, sekarang Lee dimana?" tanya Ley pada Lian yin.


"Syang bikinin kopi atau teh ya, atau minuman apa saja deh yang bisa kamu buwat"ucap Lian yin pada istrinya yang duduk di sampingnya dari tadi.


"Baiklah" Yiwen bernajak berdiri melangkahkan kakinya menuju ke dapur, dengan rasa ragu, ia bahkan tak bisa membuat sesuatu, ia bingung gimana cara buwatnya. dan apa yang ia lakukan nantinya. "Ah.. ambil saja di kulkas" ucap Lian yi. dengan segera mengambil beberapa minuman di kulkas, dan membawnya keluar untuk menemani obrolan mereka berdua.


"Aku gak tau di mana Lee berada, waktu itu Yiwen terlihat sangat ketakutan telah. melukai Lee, ia merasa takut dan terus memukulkan tanganya. tak mau ambil pusing manangkap Lee aku segera ke kamar melihat keadaan yiwen dan membiarkan Lee di bawah kesakitan. lagian dia juga bersama Yhing yhi dan anak buahnya" gumam Loan Yin.


"Iya kamu lebih fokus dengan Yiwen karena ia tidak boleh terlalu banyak berpikir, agar ia cepat sembuh. biarkan pikiran dia mengalir dengan sendirinya. Jangan memaksanya untuk membuat dia berpikir keras." ucap Ley


"iya aku tau" ucap Lian yin


"Ini minumnya" ucap Yiwen meletakkan beberapa minuman di meja.


Lian yin menatap aneh pada istrinya itu, dinsuruh buwatkan minuman tapi yang ada malah minuman botol di kulkas. Tak mau memarahi atau menasehatinya. Lian yin hanya tersenyum dan menatap Yiwen yang sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


"kalian bicarain apa sih serius amat" gumam Yiwen duduk di samping Lian yin.


__ADS_2