Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Diskusi


__ADS_3

“Dimana Lian yin?”


“Shit.. aku kehilangan jejak dia.” Gerutu Yiwen, kesal.


Yiwen berjalan mengendap-endap, mengikuti setiap langkah Lian yin, menuju ke ruang kerjanya. Membuat dia menarik napasnya lega. Yiwen bersembunyi di balik tembok, mengusap dadanya, “Aku kira jika dia bertemu dengan orang lain, atau Amerta perempuan itu. Tatapannya pada gadis itu mencurigakan, membuat aku semakin penasaran.” Ucap Yiwen tanpa sadar sebelumnya. Ia yang mengingat gadis kecil itu, tiba-tiba tersendak, ia teringat dengan Amerta, iya bagaimana jadinya jika nanti dia bertemu dengan Amerta di dalam, atau mungkin dia akan bermanja berdua dengannya, setetelah dengan aku!! Bayangan mengerikan itu muncul di pikirannya.


Yiwen berjalan mendekat, memelankan langkahnya, ia sengaja memelankan langkahnya, agar Lian yin tidak mengetahuinya. Yiwen mendekatkan tubuhnya ke depan pintu, memasang pendengaran tajamnya di balik pintu ruang kerja Lian yin.


Puk!


Seseorang menepuk pundaknya, membuat wanita itu terkejut, terdiam sejenak, dengan bola mata seakan mau melompat keluar. “Siapa yang menyentuhku?” gumamnya dalam hati, wajahnya mulai was-was, ia memejamkan matanya berdiri tegap.


Oh.. Tuhan semoga bukan hantu, aku paling benci jika ada hantu.


Yiwen, memejamkan matanya, membalikkan badanya dengan tangan di lipat, seperti memohon sesuatu.


Melihat istrinya yang aneh, Lian yin menautkan oe dua alisnya. Dengan senyum samar terukir di bibirnya.


“Kamu sedang apa?” suara serak, berat, seorang laki-laki, seketika membuatnya terjingkat, membuka matanya lebar, menatap siapa yang ada di depannya. Seketika dia meringis, mengedip-ngedipkan matanya.


Lian yin hanya terseyum tipis, melihat kelakuan istrinya itu.


“Ehh... syangku!!” ucap Yiwen, memegang dada Lian yin, mencoba menggodanya manja. Mengusap dadanya, melangkahkan dua jemarinya, naik turun dada Lian yin.


Lian yin yang merasa geli, dengan sentuhan jemari Yiwen. Ia menatap datar Yiwen, menahan rasa geli di tubuhnya.


“Lian Yin, kenapa kamu di sini? Bukanya tadi kamu, di dalam?” tanya Yiwen heran. Ia masih bingung, padahal jelas-jelas tadi ia melihat suaminya itu masuk ke dalam ruang kerja, dan kapan dia keluar? Tapi, ia keluar dari mana?” ucap Yiwen, menahan rasa malu sudah ketahuan oleh Lian yin, jika dia diam-diam mengikutinya.


Lian yin menautkan ke dua alisnya, menatap aneh pada istrinya. Memegang tangan Yiwen, di dadanya. menjatuhkan ke bawah.


“Kamu saja yang gak sadar,” ucap Lian yin, menarik sudut bibirnya, hingga membentuk sebuah senyuman tipis yang membuat Yiwen sangat tertarik. Lian yin, mengulurkan tangannya, ke arah Yiwen, dan langsung di sambut oleh Yiwen tanpa pikir panjang lagi.


Ternyata dugaanku selama ini salah, mungkin hanya aku yang terlalu curiga dan cemburu padanya. Aku kira tadi dia akan berduaan dengan Amerta. Bodohnya aku.. tidak percaya dengan teman suami aku sendiri.


Lian yin, mengusap lembut rambut Yiwen, dan. Cupp!


Laki-laki itu mencium kening Yiwen lembut, beberapa menit. Lalu melepaskan kembali.


“Karena kamu sudah ada di sini. Ayo, kita masuk!!” ajak Lian yin, memegang tangan Yiwen, masuk ke dalam ruang kerjanya. Di sana semua sudah berkumpul untuk membahas sesuatu yang entah apa yang akan mereka bahas. Mata Yiwen berkeliling menatap di sekitarnya, tidak ada Amerta. membuat ia bisa menarik napasnya lega.

__ADS_1


“Apa yang akan kita bahas?” tanya Yiwen, menatap bergantian ke arah mereka semua.


"Kamu duduklah dulu!!" ucap Lian yin, pada Yiwen.


"Gak ada masala penting. Ya, mungkin ada sedikit yang ingin kita katakan." jawab Lyli.


"Baiklah, katakanlah!!" ucap Lian yin.


Semua terdiam saling menatap satu sama lain.


“Mungkin selama dua hari ke depan, aku akan berdiam diri di kamar dengan Lyli. Jangan ada yang mengganggu kita” ucap Grace, yang mulai menyuarakan apa yang ingin ia katakan, menghilangkan keheningan yang dari tadi menghiasi ruangan itu.


“Memangnya kalian, lagi melakukan misi apa?” tanya Yiwen, yang duduk di samping Lian yin. Dirinya mulai penasaran dengan apa yang di rahasiakan mereka.


“Kita akan memperbarui sistem yang belum selesai, sekalian ada misi yang akan aku lakukan, untuk meretas komputer Jack dan ayah aku. Aku yakin mereka menyembunyikan suatu yang sangat penting.” Jelan Grace, emntap ke arah Yiwen.


“Apa itu tidak berbahaya?” sambung Lay, yang baru masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Benar, kata Lay, apa itu tidak terlalu bebehaya bagi kalian, jika mereka tahu gimana?” saut Lian yin, yang dari tadi diam, ia mulai menyuarakan ke khawatiran, apa yang ada di dalam hatinya.


Lyli mulai serius, mentap ke arah Lay, yang duduk di depannya.


“Mereka gak akan tahu, kita akan melakukannya sangat hati-hati.” Ucap Lyli, yang semula diam, ia ingin menyuarakan apa yang ada dalam hatinya juga.


“Kenapa dia sama Lyli, bukanya itu bahaya bagi Lyli. Apalagi Lay juga baru sembuh.” Sambung Yiwen.


Lian yin, memegang bahu Yiwen, “Jangan khawatir!! Aku hanya menyuruhnya untuk memasang sistem ke amanan di sana. Untuk melacak siapa yang keluar masuk di sana, aku bisa memasang sitem ke amanan canggih, tanpa di ketahui musuh.” Ucap Lian yin, menjelaskan pada Yiwen.


Yiwen terdiam, “Memang tidak ada yang bisa jika selain Lyli dan Grace, jika Grace juga tidak mungkin untuk melakukan, ia fokus untuk meretas semua dokumen ayahnya, yang belum pernah sama sekali ia buka sebelumnya.” Saut Changmin.


“Benar kata Lay,” ucap Lian yin. “Apa kamu siap, Lyli.” Tanya Lian yin.


“Baiklah!!” ucap Lyli tegas. "Itu masalah mudah, bagiku."


“Oke. Sedangkan, Aku dan Yiwen, akan terus berusaha mencari peta itu di rumah Yiwen.” sambung Lian yin.


“Ke rumaku? Apa kamu mau ke rumah aku lagi, sekarang?” tanya Yiwen.


“Iya, syang. Kita akan ke rumah kamu, mungkin selama satu hari, aku juga ingin bertemu dengan ayah kamu. Ada hal yang ingin aku bicarakan juga padanya.”

__ADS_1


Yiwen, menautkan bibirnya, sedikit menggerakkan rahangnya. “Baiklah, tapi kalau ayah aku gak ada, aku ingin bertemu dengan kakek. Kita bisa minta bantuan dia, lagian ayah aku sulit di hubungi. Selama dua hari ini, entah di mana dia sekarang, aku juga tidak tahu.” Gumam Yiwen, mengerutkan bibirya, sedikit kesal.


“Ya, sudah aku pergi dulu,” ucap Grace, beranjak berdiri, melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Lian yin.


"Kalian lanjitkan saja bicaranya. Kita juga harus segera pergi menyelesaikan semuanya." sambung Lyli.


“Aku juga, jika ada sesuatu. Kalian bisa menghubungiku nantinya.” Saut Changmin, yang juga beranjak berdiri berbarengan dengan Lyli melangkahkan kakinya pergi.


“Bagaimana denganmu?” tanya Lian yin, menatap Lay, yang masih duduk di depannya.


“Oya, di mana Amerta sekarang? Apa dia sudah pulang?’ tanya Yiwen, entah kenapa hatinya bergerak ingin bertanya pada Amerta.


“Dia masih berada di dalam kamar, aku menyeruhnya tinggal di sini. Dan Boby juga sekarang tinggal di sini.”


“Baiklah, aku pergi dulu,” ucap Yiwen, yang langsung berlari begitu saja keluar.


Yiwen berjalan mencari Amerta. Bahkan sampai lupa untuk bertanya di mana kamarnya tadi.


“Haduh,,, di mana kamar Amerta ya?” gumam Yiwen, menatap sekelilingnya.


Puk!!


Sososk Amerta tiba-tiba berdiri di belakang Yiwen, sontak membuat Yiwen terjingkat, meloncat mundur. Ia menbarik napasnya lega, mengusap dadanya.


“Kami bisa gak, kalau tidak mengejutkanku.” Gumam Yiwen kesal.


“Maaf kak, oya dari tadi aku cari Changmin, tapi kenapa dia gak ada?” tanya Amerta, dengan bola mata berkeliling menatap sekitarnya, berharap jika Changmin tiba-tiba muncul.


“Memangnya, ada apa? Kenapa kamu cari, dia? Tanya Yiwen yang mulai curiga.


“Aku mau tanya padanya?” gumam Amerta.


“Tanya apa? Kenapa tidak tanya padaku saja?” Yiwen, mengerutkan bibirnya, dengan tangan sedikit bersendekap.


Amerta mengerutkan keningnya, “Aku mau tanya padanya, lagian kita belum pernah bertemu sebelumnya.”


“Memangnya amu pernah bertemu dengan Changmin?”


“Belum” ucap Amerta, menggelengkan kepalanya cepat.

__ADS_1


“Terus kenapa kamu tidak bertanya padaku saja. Dan selama beberapa hari, kamu gak akna bisa bertemu dnegan Changmin, dia lagi berdua dengan pacarnya,” ucap Yiwen, sedkit menyondongkan badanya ke depan. “Jadi jangan coba-coba dekati dia,” lanjut Yiwen, ia tidak mau jika Changmin suka dengan adik Mei, yang sudah jelas-jelas adik pengkhianat.


Amerta menarik bibirnya ke bawah, dengan raut wajah sedihnya, sedikit menundukkan kepalanya. "Aku-- Aku, ingin tanya padanya," ucap Amerta lirih.


__ADS_2