Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Sudah mulai baikan


__ADS_3

Keesokan harinya, Lian yin yang tidak tidur semalaman, ia beranjak menuju ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Dan segera masuk ke dalam kamar Yiwen, melihat dia terbangun nantinya. Ia duduk di balkon kamar Yiwen menikmati udara sejuk pagi hari, dengan harum bunga menyeruak masuk dalam penciumannya. Di temani dengan secangkir kopi panas, yang ia seduh dengan perlahan.


Sesekali Lian yin menatap ke kamar Yiwen, di lihatnya Yiwen masih tertidur pulas di ranjangnya. "Mungkin dia gak bisa tidur kemarin. Sekarang udah jam 7 dia masih belum bangun juga" gumam Lian yin, menatap pemandangan luar.


Lian yin hanya diam merenung, ingin sekali ia berkata jujur dengan Yiwen. Saat seperti ini, hubungan seperti ini memang sangat berat, terlalu banyak masalah. Bukannya ia tidak bisa menghadapi semuanya. Tapi, bagi Lian yin keselamatan Yiwen lebih penting dari pada segalanya, ia ingin sekali melihat Yiwen bisa hidup bahagia. Dan tanpa ada bahaya yang mengancamnya. Selagi bahaya itu menghantui dirinya. Maka semua penderitaan belum berakhir.


Mata yang semula terkenal dengan tatapan tajam dan dinginya, kini mata itu mulai berkaca-kaca, seolah lelaki itu menhan air mata yang ingin jatuh membasahi pipinya, namun dengan sekuat hatinya, ia mencoba menahan semuanya, ia tidak mau terlihat lemah. Saat Yiwen terbangun dari tidurnya, ia tidak ingin istrinya tahu jika ia mengeluarkan air mata.


Lian Yin mendongakkan kepalanya ke atas, mencoba semakin menahan air mata yang sudah terbendung tak tertahan di kelopaknya. Yiwen, maaf untuk semuanya, aku salah telah membawamu dalam masalah besar, tak seharusnya kamu ikut denganku. Kehidupanmu dulu jauh lebih bahagia, dan bersamaku, kamu harus merasakan semua masalah ini, mara bahaya yang terus menghantui kamu, seandainya aku tidak mengenalmu dulu, mungkin semua tidak akan seperti ini, gumam Lian yin.


Ia mencoba untuk mengeluarkan senyum samarnya, menatap ke taman yang terlihat sangat indah dan luas terpapang di depannya.


~


"Huaaammm" Yiwen menguap lebar, mengusap matanya berkali-kali, mengedipkan matanya, yang terkena silauan mentari pagi dari sela-sela selambu yang masih menutup jendela kaca kamarnya, seakan mentari itu, menyambutnya untuk bangun. "Siapa yang buka selambunya, tolong tutup lagi. aku ngantuk" gumam Yiwen, yang masih sangat malas untuk bangun dari ranjangnya. Ia tidak mau ada orang yang mengganggu tidur nyenyaknya kali ini.


Dari beberapa hari tetakhir, ia baru bisa tidur nyenyak, saat tahu jika Lian yin sudah semakin membaik.


Suara Yiwen terdengar di telinga Lian yin yang masih duduk melamun di balkon kamarnya, ia langsung meletakkan kopinya di atas meja. Dan mulai bangkit dari duduknya. Menghampiri Yiwen, dan berdiri tepat di wajah Yiwen agar silau matahari tidak memantul langsung ke wajahnya. "Tidurlah, selagi kamu bisa tidur nyenyak" gumam Lian Yin lirih, menatap wajah yiwen yang tepat di depannya.


Lian yin, terus menatap detail setiap sudut wajah Yiwen yang mulai berbaring tepat menghadapnya. Wajah yang begitu cantik itu kini terlihat jelas, ingin sekali ia mengusap lembut lagi wajah cantiknya. Membelainya saat ia tertidur, agar belaian tangannya bisa membawanya masuk dalam mimpi indah. Namun, ia tidak mau jika Yiwen terbangun dari tidurnya. Lebih baik memandanginya dari jauh, dan bisa menatapnya saja sudah bersyukur.


Hingga setengah jam berdiri, Lian yin tanpa merasakan capek, atau bosan. Demi orang yang ia sukai bisa tetap tertidur pulas, tanpa beban pikiran yang mengganggunya. Ia rela melakukan hal ini.


"Emmm.. " Yiwen membuka matanya perlahan. Pandangan pertamanya tertuju pada Tubuh Lian yin di depannya.


"Siapa?" gumam Yiwen menatap bingung, ia beranjak duduk mendongakkan kepalanya menatap ke atas wajah Lian yin.


"Yin" ucap Yiwen terkejut, Suaminya itu sudah berada di depannya. "Kamu sejak kapan di kamarku?" tanya Yiwen bingung, dengan wajah nampak terkejut melihat suaminya itu.


"Kamu sudah bangun" ucap Lian yin, yang mulai memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup melihat wajah Yiwen, saat ia meneteskan air mata yang dari tadi ingin sekali menetes.


"Iya, kamu kenapa di sini?" tanya Yiwen dengan suara lembutnya.


"Aku hanya ingin melihat kamu, kalau kamu ingin tidur lagi, silahkan tidur aku pergi dulu" gumam Lian yin, yang mulai melangkahkan kakinya pergi dari kamar Yiwen, namun belum sempat langkahnya keluar dari pintu kamar Yiwen. Wanita itu memanggilnya.

__ADS_1


"Tunggu Yin!"  suara Yiwen, menghentikan langkah Lian yin. "Aku ingin bicara sama kamu?" lanjutnya.


"Aku tunggu kamu di kamarku, lebih baik sekarang kamu mandi, dan ganti baju. Setelah itu masuklah ke kamarku. Aku juga ingin bicara sama kamu" ucap Lian yin, tanpa menoleh ke arah Yiwen.


Mendengar Lian yin berkata seperti itu, ia merasa sangat senang kali ini. Dia membiarkannya untuk berbicara meski hanya sebentar, Yiwen ingin menjelaskan semua yang terjadi.


"Baiklah" ucap Yiwen dengan senyum senang terpancar dari bibir tipisnya.


Lian yin langsung melanjutkan langkah kakinya pergi dari kamar Yiwen. Dan segera menuju kamarnya.


Yiwen hanya diam, ia masih duduk di ranjang, "Silau banget" ucap Yiwen, mengernyitkan matanya.


Bentar, tadi kenapa aku tidak silau waktu tidur, dan apa yang Lian yin lakukan berdiri di depanku. Tanpa menyentuhku sama sekali, apa memang dia tidak membiarkan sinar matahari itu menembus langsung memantul ke wajahku, dan biar aku tidak terbangun dari tidurku, gumam Yiwen yang penuh tanda tanya di otaknya.


Yiwen langsung menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Ia tidak ingin jika Lian yin menunggu lama, lagian ini kesempatan untuk dirinya, memperbaiki hubungannya dengan Lian yin.


Dengan langkah kaki cepat, Yiwen berjalan menuju ke kamar Lian yin. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamarnya. Ia terdiam sejenak, rasa ragu menyelimuti hatinya saat ingin membuka kamar Lian yin.


Yiwen menghela napasnya sejenak, mencoba menghilangkan rasa ragu dalam hatinya. Ia mulai membuka pintu kamar Lian yin perlahan, dengan satu langkah kaki sudah di depan, ia mulai masuk, memutar matanya menatap sekeliling ruangan kamar Lian yin, ia mencoba mencari di kana sosok suaminya itu.


Pandangannya terhenti saat ia melihat Lian yin sudah duduk di sofa sendiri, ia hanya diam menatap ponselnya. Entah, siapa yang menghubunginya, namun pikiran Yiwen hanya menganggap jika pasti Lay atau Changmin yang membari kabar pada Lian yin.


"Kamu datang?" tanya Lian yin, tanpa menoleh ke arah Yiwen yang berjalan sangat hati-hati di belakangnya.


Langkah Yiwen terhenti, saat Lian yin tahu keberadaannya. Ia tidak menyangka jika Lian yin menyadari kehadirannya. "Kenapa kamu tahu jika aku berjalan mendekatimu?" tanya Yiwen penuh rasa kebingungan.


"Aku tahu hembusan napas berat yang kamu rasakan, kamu terlihat sangat gugup" gumam Lian yin.


Yiwen menelan ludahnya, ia bingung gimana bisa dia tahu semuanya. Dengan langkah cepat ia segera duduk di samping Lian yin. "Apa kamu peramal ya?" tanya Yiwen, memegang tangan Lian yin, dengan pandangan kagum menatap Lian yin.


"Peramal? Emangnya aku cocok ya jadi peramal?" tanya Lian yin, menoleh ke arah Yiwen.


Yiwen langsung terdiam, saat melihat wajah Lian yin ada di depannya, dia tersenyum tipis, memandangnya. Seakan dia sudah tidak marah lagi dengan Yiwen. Apa ini adalah mimpi, dia tidak marah lagi denganku, gumam Yiwen dengan rasa senang di dalam hatinya.


"Sudah sekarang apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Lian yin, yang kembali memberikan jarak dengan tubuh Yiwen.

__ADS_1


"Oo. iya, aku hanya..." belum sempat melanjutkan ucapanya ponsel Lian yin berbunyi.


Kring…..


Bunyi ponsel Lian yin terdengar jelas, menghentikan pembicaraan Antara Yiwen dan dirinya. Lian yin segera meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja tepat di depannya. Ada sebuah panggilan dari Lay.


“Siapa?”Tanya Yiwen penasaran.


“Lay”ucap Lian yin.


“Cepat angkat siapa tahu itu penting, soal aku gak apa-apa, lagian aku sudah tidak perduli kamu marah denganku atau tidam” gumam Yiwen dengan senyum manis menyungging di bibir tipisya.


“Baiklah” Lian yin segera mengangkat panggilan telepon dari Lay.


“ Yin gawat, kamu sekarang harus lebih hati-hati lagi.” Ucap Lay dengan nada terburu-buru.


Belum sempat Lian yin berbicara memberi sapaan padanya, Lay sudah langsung menyerobot lebih dulu berbicara dengannya.


 “ Ada apa?” Tanya Lian yin.


‘Ada beberapa mata-mata yang di kirimkan ayah Grace ke kota kita” ucap Lay dengan nada tergesa-gesa.


“Baiklah, makasih informasi yang kamu dapatkan, tapi sekarang kamu di mana, apa kamu sudah berada di perbatasan sekarang”ucap Lian yin, yang sangat khawatir dengan keadaan Lay dan Changmin di sana.


“Tenang saja, aku sudah berada di daerah perbatasan. Tapi aku tidak langsung pulang, sekarang aku lagi mengumpulkan semua informasi di perbatasan” ucap Lay, yang terdengar di balik telepon Changmin sedang berbincang dengan orang di sekitarnya. Suara di sana terdengar sangat gaduh dan ramai sekali seperti pasar.


“Apa nanti malam kamu bisa pulang segera” Tanya Lian yin.


"pasti, aku dan yang lainnya akan pulang cepat, jangan khawatir dengan keadaan kita” ucap Lay.


Lian yin menghela napasnya lega, mendengar kabar mereka baik-baik saja. Ia segera meutup pnggilan teleponya dan meletakkan ponselnya di atas meja.


“Gimana?”Tanya Yiwen.


"Mereka baik-baik saja, nanti juga akan pulang" ucap Lian yin, mengusap lembut rambut Yiwen, ia tak bisa membayangkan jika marah berlebihan seperti kemarin dengan Yiwen, istrinya itu. Lian yin menatap detail setiap inci wajah istrinya yang begitu polos mentapnya. “Kamu kenapa menatapku seperti itu?”  tanya Yiwen.

__ADS_1


"Aku hanya merasa sangat bermasalah dengan apa yang sudah aku lakukan dengan kamu" ucap Lian yin.


"Mengapa menyesal, jika kamu memang marah denganku marahlah, rlagi kamu puas. Aku tidak masalah dengan itu semua, lagian sekarang apa kamu masih marah denganku?" tanya Yiwen, menyandarkan kepalanya di pundak Lian yin.


__ADS_2