
Tok.. tok...
Ketukan pintu di pagi hari tidak membuat Yiwen dan Lian yin terbangun dari tidurnya nyenyaknya semalam.
Lian Yin masih merengkuh erat tubuh Yiwen di sampingnya. Seperti memeluk boneka kesayangannya. Ia terlihat seperti anak kecil manja pada ibunya.
"Tok..Tok.. Tok.."
Ketukan pintu lebih keras membuat Yiwen terbangu dari tidurnya. "Siapa sih jam segini ketuk pintu ganggu aja" gumam Yiwen.
"Siapa?" tanya Yiwen.
"Saya pelayan tuan Chengyu non, tuan suruh non Uiwen sama tuan Lian yin untuk makan pagi di meja makan, tuan sudah menunggu" gumam pelayan yang berdiri di depan pintu dari tadi.
"Iya bentar, uku mau mandi dulu. Bilang sama Chengyi untuk nunggu sebentar," teriak Yiwen, yang masih malas untuk membuka matanya.
Yiwen mengusap matanya perlahan membuka mata menatap ke pinggangnya yang terasa ada benda yang mengganjal di perutnya. "Tangan siapa?" gumamnya dalam hati.
"Ini tangan.." Yiwen langsung beranjak duduk menatap Lian yin yang tidur nyenyang di sampingnya.
"Haaa.... Yin kenapa kamu tidur di sampingku?" tanya Yiwen meloncat bangun dari tidurnya.
"Apa sih syang pagi-pagi gini teriak." ucap Lian yin yang baru tersadar dari tidurnya.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Yiwen menarik semilut tebal menutupi tubuhnya.
"Syang aku gak ngapa-ngapain kamu, kenapa kamu tutupi tubuh kamu,"tanya Lian yin, kenarik selimut yang menutupi tubuh Yiwen.
"Terus kenapa kamu di sini?" tanya Yiwen kesal.
"Aku temani kamu tidur, lagian hanya berbaring di samping kamu." ucap Lian yin, beranjak berdiri mendekati Yiwen.
"Kamu mau apa?" tanya Yiwen berjalan mundur ke belakang.
"Kenapa kamu jadi sensitif gitu sama aku, padahal aku hanya mau ambil ini," ucap Lian yin memegang bahu yiwen mengusap matanya yang terlihat ada kotoran.
Yiwen menatap Lian yin di depannya. "Maafkan aku, bukannya aku gak mau"ucap Yiwen menundukkan kepalanya.
"Gak mau apa?" tanya Lian yin menggoda.
"Bukannya kamu udah tahu?" tanya Yiwen kesal.
"Belum, emangnya kamu gak mau apa?" tanya Lian yin dengan senyum tipis di bibirnya. Ia sebenarnya tahu tapi ia tidak mau memberi tahu Yiwen dulu.
"Gak mau begituan dengan kamu?" ucap Yiwen, menundukkan kepalanya.
Lian yin tertawa, menatap wajah Yiwen.
"Nyebelin banget sih, kenapa kamu malah tertawa?" gumam kesal Yiwen.
__ADS_1
"Lagian kamu lucu ya, udah tahu aku itu tahu semua tubuh kamu dari dulu. Kamu aja yang lupa"ucap Lian yin menggoda. "Udah sekarang cepat mandi syang"lanjutnya mengusap lembut rambut Yiwen.
"Gak mau." Yiwen berjalan munduk menjauh dari Lian yin.
"Kamu saja mandi duluan, aku mau cari udara segar dulu," gumam Yiwen.
"Yiwen kemarilah"ucap Lian yin, mengulurkan mengulurkan gengaman tangannya ke depan.
Yiwen menoleh dan segera mendekati lian yin. "Lihatlah ini?" ucap Lian yin.
"Apa ini?" tanya Yiwen.
"Udah Lihatlah"ucap Lian yin membuka telapak tangannya .
"Yaa... gak ada!" ucap Lian yin menggoda.
"Yin, awas ya kamu" gumam Yiwen kesal.
"Udah sekarang ayo mandi," ucap Lian yin.
"Aku mau keluar sebentar, sayang." Ucap Yiwen, beranjak menuju pintu.
Lian yin menarik tangan Yiwen. "jangan keluar sendiri jika tidak denganku?"ucap Lian yin terlihat wajahnya kesal dengan Yiwen. Lian yin semakin mencengkram erat tangan Yiwen menariknya kenjauh dari pintu.
"Sakit tahu..."ucap Yiwen menepis tangan Lian yin.
"Lagian kamu juga di suruh mandi malah mau keluar"gumam kesal Lian yin.
Lian yin menarik bahu Yiwen menatap ke arahnya. "Kita mandi dulu baru keluar maoan pagi"gumam Lian yin.
"Gimana kalau kita berendam beraama,"ucap Lian yin menarik tangan Yiwen masuk ke dalam kamar mandi.
"Gak mau." Yiwen menarik tangannya dari cengkraman suamianya itu..
"Jangan maksa aku, lagian aku mau keluar dulu sebentar"ucap Yiwen memegang tangannya yang masih merasa sakit.
"Sudah ikut aku, aku gak mau kamu keluar bertemu Luhan sendirian lagi." ucap lian yin, ia terlihat cemburu kali ini.
Yiwen menatap aneh pada Lian yin, lalu ia tiba-tiba tertawa melihat suaminya yang cemburu pada Luhan. "Kenapa kamu jadi cemburu gini, lagian kamu tahu kita kesini hanya rencana kerja sama. Dan kemarin kamu menyuruh Luhan juga untuk menemuiku di luar"ucap yiwen. "Lagian aku gak tahu sebelumnya ada hubungan apa dengan Chengyi"lanjutnya.
"Kemarin itu aku masih ngawasi kamu, tapi kalau aku mandi aku gak bisa awasi kamu"ucap Lian yin, menarik lagi tangan Yiwen masuk ke kamarnya.
"Yin lepasin aku, aku gak akan pergi kemana-mana"ucap Yiwen.
Lian yin mengangkat tubuh Yiwen menjeburkan ke dalam bathup berisi penuh air. "Yin, apa yang kamu lakukan"Ucap kesal Yiwen bajunya harus basah kuyup gara-gara Lian yin.
"Udah mandi di situ, copot semuanya. Lagian aku mau mandi di shower."ucap Lian yin beranjak menuju shower yang tersedia diding kaca di balik kamar mandi pemisah antara shower dan bathup, dengan selambu keemasan yang menutupi.
"Ih.. nyebelin." gumam Yiwen kesal memukulakn tangannya ke air bathup.
__ADS_1
"Sudah cepat mandi"ucap Lian yin.
"Entar pakai handukku, dan keluarlah sebentar"ucap Lin yin. "Jangan lupa bawakan aku baju ganti dan handuk"lanjutnya.
"Ia bentar, aku juga baru aja berendem"gumam yiwen.
"Oya gimana rencana kita nanti"tanya yiwen yang mulai ingat dengan rencananya.
"Aku sudah janjian dengan Chengyi, nanti kita akan ikut dia ke kantornya. Sekalian kita selidiki Yhing yin yang juga bekerja sebagai manajer di sana"ucap Lian Yin.
"Apa katamu? Kalau dua jadi manajer kasihan dengan Chengyi, perusahaannya dalam ambang batas"ucap Yiwen.
"Tapi Chengyi gak sebodoh itu, ia tahu dia orang yang cerdik, mana yang harus di lakukan mana yang harus di hindari. Ia sudah merencanakan semuanya. Meskipun dia manajer di sana Chengyi tak sepenuhnya percaya dengan dia. Baginya semua orang tidak bisa di percaya. Karena semua orang pasti punya masalah hidup masing-amsing dan punya rasa iri pada kita yang terlihat lebih berkuasa."Ucap Lian yin menjelaskan.
"Benar juga apa yang kamu ucapkan, aku gak habis pikir jika mereka akan menjadi patner kerja. Tapi apa Yhing yin tahu jika Chengyi tidak sepenuhnya percaya dengannya. Kalau dia tahu pasti dia akan melakukan berbagai cara untuk mendekati luhan, termasuk berencana untuk..."Yiwen terhenti berbicara seketika. Ia baru ingat apa rencanan Yhing yin selanjutnya pada Chengyi.
"Ini tidak boleh di biarkan"gumam Yiwen, menggelengkan kepalanya membayangkan hal yang tak semestinya ia bayangkan.
"Maksud kamu apa?" tanya Lian yin yang penasaran dengan ucapan Yiwen, ia membuka tirai yang menutup antara mereka perlahan. Dan masuk dalam bathup duduk di belakang Yiwen memeluknya erat, menyandarkan kepalanya dari belakang pundak Yiwen.
"Apa maksud kamu Yhing yin akan menikah dengan Chengyi?" tanya Lian yin.
"Yin lepaskan tanganmu, apa yang kamu lakukan?"ucap kesal Yiwen mencoba melepaskan tangan lian yin yang merengkuh erat pinggangnya.
"Aku kangen seperti ini diamlah syang dan jawab pertanyaanku tadi?" ucap Lian yin mencium lembut leher belakang Yiwen,membuat Yiwen merasa geli, Ia terus menciumi lehernya. Dengusan napas berat terasa jelas di telingannya.
"Iya, pasti yhing yin berencana akan menikah dengan luhan, untuk melancarkan aksinya menguasai semua milik Chengyi. Dan termasuk nama baik Chengyi akan ia dapatkan untuk mendapatkan sebuah kerja sama dari perusahaan luar negeri"Ucap Yiwen sambil menahan geli, akibat permainan ciuman Lian yin.
"Emang kenapa kalau dia menikah, apa kamu cemburu pada mereka. Lagian itu urusan dia kita ambil untung saja dari kerja sama ini." tanya Lian yin. Jemari tangan Lian yin bertindak liar menjelajah ke tubuh Yiwen.
"Lepaskan aku Yin, geli."ucap Yiwen, ia manahan rasa geli yang menjalar tubuhnya. Sebuah desahan terdengar keluar dari mulut Yiwen.
"Nikmatilah syang"ucap Lian yin tersenyum tipis, Yiwen perlahan menikmati permainan tangannya yang bertindak liar.
"Syang tolong hentikan"ucap Yiwen memegang tangannya agar ia mau menghentikan pergerakan tangannya.
"Gak mau? Kamu jawab dulu. Apa kamu suka dengan Chengyi. Kenapa kamu terlihat begitu membelanya."tanya Lian yin semakin mempercepat gerakan tangannya. Desahan dari mulut Yiwen semakin keras.
"Iya aku jawab tapi hentikan dulu, " Gumam Yiwen.
"Baiklah, Lian yin melepaskan tangannya, menatap bersandar ke bathup menatap Yiwen.
"Sekarang jelaskan apa yang ingin kamu katakan?"ucap Lian yin.
"Jangan sentuh aku lagi." ucap Yiwen duduk agak mundur menhindari Lian yin.
"Chengyi memang musuhmu, tapi lama-ma musuh bisa jadi sahabat dan sahabat akan jadi musuh. Dia meskipun musuh kamu tapi dia mau kerja smaa denganmu. Meakipun soal pernikahan bukan urusan kita. Tapi apa kamu gak punya hati jika Yhing yin menghancurkan Chengyi. Bukan hanya dia kita juga akan sama nasibnya seperti Luhan. Pikir baik-baik, jangan harap kita bisa ambil keuntungan saja tanpa membantu dia. Kalau kita slaing membantu akan ada keuntungan oebih dari kita"ucap Yiwen menjelaskan. Ia kesal dengan Lian yin yang seenaknya snediri tanpa memikirkan nasib orang lain.
Lian yin mendekati Yiwen, ia mengusap lembut rambut Yiwen.
__ADS_1
"Iya, aku sudah tahu, aku hanya ingain tahu apa maksud kamu tadi. Aku kira kamu suka dengannya. Aku sudah pikirkan itu semua. Tapi cara lain untuk memancing Yhing yin aku dan Chengyi juga sudah rencanakan. Tapi aku belum beri tahu Chengyi jika musuhnya sebenarnya adalah yhing yin"ucap Lian yin.
"Ya sudah sekarang aku mau keluar, kita makan pagi dulu. keburu Chengyi menunggu kita lama. gak enak, lagian ini bukan rumah kita"ucap Yiwen menarik handuk dan beranjak keluar dari kamar Mandi.