
"Jangan sampai kamu kehilangan jejak dia" ucap Yiwen, menepuk bahu Lian yin.
"Iya tenang saja!!"
"Agak cepat Yin, itu mobil Changmin sudah makin jauh."
"Iya!!"
"Cepetan Yin, sudah semakin jauh"
Yiwen, menepuk bahu Lian yin untuk yang kesekian kalinya. sia terlihat heboh sendiri di dalam mobilnya. "Yin, kita sudah kehilangan jauh!!" ucap Yiwen, memukul bahu Lian yin. Ia masih tidak mau diam, membuat Lian yin tidak begitu fokus mengemudi mobilnya.
"Syang jangan bawel deh!! Aku ini lagi fokus mengemudi, agar bisa cepat sampai. Eh.. Kamu malah mukulin aku, sakit tahu!!" ucap Lian yin, mengusap bahunya yang terasa sakit.
Yiwen menguntupkan bibirnya. "Ih.. kenapa aku yang di salahin, Kamu naik mobilnya kurang cepat dikit." gumam Yiwen kasal.
"Syang aku yang bawel, Kalau aku tambah kecepatan. Kita gak malah mata-matain Taksi itu, tapi kita malah semakin memperburuk suasana. Gak malah dapat informasi malah kehilangan jejak nantinya." ucap Lian yin menjelaskan.
"Udah sekarang jangan banyak tanya. Udah mau kehilangan jejak nih" gumam Yiwen. Dengan pandangan tertuju ke depan, menatap mobil Changmin, yang kini jaraknya tidak bergitu jauh. Hanya sata tertutup dua mobil di belakangnya.
----
beberapa menit kemudian..
Taksi itu berhenti di sebuah rumah mewah. Bernuansa putih. Dengan bangnan lantai dua yang sangat megah Yiwen dan Lian yin menatap kagum.
Namun, pandangannya terhenti. Dan tiba-tiba melihat Changmin dari kejauhan, memang benar jika laki-laki itu mengikuti taksi di depannya. "Ini rumah siapa?" tanya Yiwen.
"Entahlah, tapi lihat ke depan. Itu bukannya Mei" ucap Lian yin, menunjuk ke depan.
"Kenapa Mei ada di situ? Apa itu rumah Mei yang sebenarnya. Dia tidak pernah cerita jika dia punya rumah mewah." tanya Yiwen, menatap ke arah yang di tunjuk Lian yin.
"Benar yang aku duga selama ini. Sekarang yang harus kita pikirkan, gimana cara kita bisa masuk ke dalam rumah itu. Setidaknya hanya sementara. Untuk mencari incirmasi tentang Mei" ucap Lian yin, menatap sekeliling rumah itu. tidak ada tetangga sama sekali, rumah mewah itu terletak di pusat kota yang jauh dari tetangga. Ia juga bingung mau bertanya dengan siapa lagi jika buka bertanya dengan oenjaga di rumahnya. Atau diam-diam masuk ke dalam rumah itu.
"Iya, aku akan menyamar sebagai pelayannya. Kamu bawa perlengkapanya gak. Aku akan pura-pura, hanya sementara. Tidak lebih og" gumam Yiwen memohon.
Lian yin menajamkan tatapannya. Gimana bisa ia harus membiarkan Istrinya sendiri masuk ke sana. Itu bakalan jadi senjata paling mematikan dirinya, jika Yiwen kenapa-napa di dalam. Jima masuk ke dalam rumah itu, malah sangat berbahaya nantinya jika sampai ketangkap.
"Kenapa kamu diam?" tanya Yiwen memastikan.
"Aku diam itu karena lagi mikirin sesuatu" ucap Lian yin."kita jangan gegebah mau masuk begitu saja. Kita gak tahu dalamnya ada apa. Siapa tahu kalau ada cctv atau perangkap lainnya." gumam Lian yin. "Aku gak akan biarkan kamu ke sana sendiri. Kita bisa menyamar saja untuk tanya pada penjaga. Biar aku yang tanya, aku ada topeng karet yang biasa aku gunakan dengan Lay.
"Baiklah!! tapi sepertinya kamu dekati Changmin. Biar dia juga tahu. Seperti yang kamu bicarakan tadi di rumah sakit."
Lian yin, mengernyitkan matanya, menatap ke arah Yiwen.
__ADS_1
"Jadi kamu tadi dengar apa yang aku katakan pada Changmin"
"hehe.. Dikit syang!!" ucap Yiwen tersenyum. Lalu berubah, memajukan bibirnya beberapa senti.
"Udah kamu tunggu sini dulu. Kamu jaga aku dan changmin dari kejauhan, apalagi kamu ahli tembak jitu" gumam Lian yin, dengan raut wajah sangat bangga punya istri seperti Yiwen. Ia tersenyum tipis, mengusap lembut ujung kapala Yiwen, mengacak-acak rambutnya.
Yiwen mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Lian yin, memasang wajah gemesin yang ia miliki dengan pipi cabinya.
Membuat Lian yin tidak bisa manahan dirinya ingin sekali mencubit pipi menggemaskan yiwen.
"Kamu gemesin deh" Lian Yin mencubit ke dua pipi Yiwen.
"Udah kamu di sini. Dan ingat jaga diri. Jangan ceroboh lagi, bikin aku khawatir saja" gumam Lian yin, bergegas mengambil topeng karet agar ia bisa berganti wajah. setelah selesai, ia turun dari mobilnya. Menoleh ke arah Yiwen dan tersenyum beberapa detik menatap Yiwen, lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Yiwen di dalam mobil sendiri.
"Dasar pria ngeselin, tapi aku cinta dengannya. Aku gak bisa jauh darinya. Meski hanya satu detik saja, rasanya udah berhari-hari gak ketemu" gumam Yiwen, menatap punggung Lain yin yang sudah pergi menjauh darinya.
----
Tok.. tok..
Lian yin mengetuk kaca mobil Changmin. Di balas dengan tatapan bingung dengan Changmin. Ia sempat tidak mengenali wajah orang yang mengetuk pintu mobilnya.
"Yin!! Kenapa dia bisa di sini" gumam Changmin lirih.
ia segera membuka kaca mobilnya. "Ada apa?" tanya Changmin.
"Baiklah!! Apa kamu akan masuk ke sana?" tanya Changmin.
"Kamu ikuti saja, kita hanya bertanya"
Changmin bergegas memakai topeng karet di wajahnya, dan segera turun dari mobilnya. Ia selalu membawa topeng itu di saat genting. Untuk menghilangkan jejak jika wajah banyak di kenali orang.
Lian yin melangkahkan kakinya berjalan menuju rumah mewah itu.
"Permisi!!" ucap Lian yin pada penjaga.
"Iya!! Kamu siapa?" tanya Penjaga.
"Apa nona kalian ada di dalam, aku mau bicara dengannya. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padanya!!" sambung Changmin.
"Baiklah aku akan panggilkan, kalian tunggu di sini. Dan jangan berani coba-coba untuk masuk ke depan." Penjaga rumah itu segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Bukan Mei yang keluar dari rumah itu, melainkan seorang perempuan cantik yang membuat semuanya tercengang bingung.
Changmin, mendekatkan bibirnya di telinga Lian yin, dan berbisik.
"Siapa dia?"
__ADS_1
"Aku juga gak tahu" ucap Lian yin.
"Kalian mencariku?" tanya Wanita itu.
"Maaf saya mencari wanita yang rambut sepunggung. Apa dia juga tinggal di sini. soalnya dia bilang jika tinggal di sini" ucap Changmin mencoba beralasan.
wanita itu nenarik bibirnya tipis.
"Oo.. Dia sibuk di dalam. Emangnya kalian siapa?" tanya Wanita itu.
"Aku Leon, dan ini Jack" ucap Lian yin, menggunakan nama samaran.
"Oo.. baiklah.. aku Amerta" Kamu bisa panggil Aku meta" Amerta mengulurkan tangannya ke arah Lian yin, dengan rasa gugup Lian yin menerima uluran tangan Amerta. Mata Amerta memandang laki-laki di depannya yang membuatnya tertarik.
"Meta cepat masuk!!" panggil Mei, yang berdiri di depan pintu yang menjulang tinggi di depannya.
"Iya kak!!" ucap Amerta.
"Kakak!!" gumam Changmin.
"Meta mereka siapa?" tanya Mei, menatap tajam ke arah dua laki-laki yang merasa asing baginya.
"Eh.. Meta apa itu kakak kamu?" tanya Lian yin.
"Iya, dia kakak aku. Dan dia akan segera melangsungkan pernikahan bulan depan. Kalian boleh datang ke pernikahannya. aku akan tunggu" ucap Meta, dia sangat berbeda dengan kakaknya, Meta lebih dominan feminim, dan friendly dengan semua orang.
Lian yin menepuk pundak Changmin di sampingnya
"Menikah? Dengan siapa?" tanya Changmin memastikan.
"Ya, pastinya dengan orang-lah.."
"Ya tahu kalau orang." jawab Kesal Changmin.
"Meta cepat masuk!!" teriak Mei, "Aku tunggu kamu di dalam. Jangan lama-lama berbicara dengan orang asing" lanjutnya, melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Meta sendiri.
"Dia itu di jodohkan, tapi entahlah kakak aku nerima gitu saja tanpa penolakan. Dan yang jadi tunangannya sekarang adalah mantan pacarnya dulu." ucap Meta. "Udah ya, aku amu pergi dulu. Oya mana ponsel kamu" ucap Meta, tertuju pada Changmin.
"Buat apa?" tanya Changmin bingung.
"Kalau gak boleh ya ponsel kamu!!" gumam Meta bergantian pada Lian yin kali ini.
"Ponsel Jack saja ya!!" ucap Leon, dengan cepat menolak.
"Ini!!" Changmin memberikan begitu saja ponselnya. Ia tidak tahu apa yang di lakukan Meta pada ponselnya.
__ADS_1
"Byee... Sampai jumpa lagi kakak-kakak semuanya" ucap Meta berlari masuk ke dalam rumahnya.