
Lian yin masuk ke dalam ruang kerjanya mendapati Lie Wei dan Mei sudah ada di dalam. Mereka seakan sudah mulai merencanakan apa yang akan di lakukan nantinya. Semua rencana sudah di rencanakan dengan terstruktur.
"Apa yang ingin kalian bicarakan" tanya Lian yin berjalan mendekati mereka. Ia segera duduk di sofa dengan kaki menyilang.
Lay beranjak mendekati Lian yin.
"Lihatlah robot itu, ku sudah melihat semuanya tak ada organ tubuh manusia di dalamnya, dua mengunakan kecanggihan tenologi yang di milikinya membuat robot yang benar-benar sama dengannya. Lihatlah wajah robot itu, apa kamu tidak ingat?" tanya Ley.
Lian yin terdiam sejenak, ia menatap wajah robot itu dengan seksama, sepertinya aku pernah melihatnya,gumam Lian yin. Terus mengamati robot itu, sekana muncul sebuah ingatan yang hampir ia lupakan.
"Oo. Iya aku ingat wajah lelaki itu yang menodai Yiwen dalam mobil waktu ia tak sadar, ia aku ingat sekarang. Kemarin aku mengira itu wanita bukan Yiwen." gumam Lian yin menundukkan kepalanya. Seolah ada penyesalan dalam dirinya yang terus terbayang di otaknya. Mengingat hal itu, membuat Lian yin snagat marah. Rasanya ia benar-benar ingi memusnakan lelaki itu.
Lie Wei beranjak duduk di samping Lian yin.
"Sekarang kita akan pancing semua orang mata-mata dia dengan robot ini, kita akan mengubah semua sensor pendeteksi suhu tubub di robot ini. Bikin orang itu benar-benar tahu jika ini adalah tuanya. Kita bikin lebih semirip mungkin dengannya dari cara dia bicara. Bukannya Mei juga kenap dia ini akan lebih mudah membantu kita dalam penyelesaian masalah ini. Aku yakin semua tahu jika dia adalah robot karena masih ada perbedaan sedikit yang jarang ada orang tahu. Dan kali ini kita akan ciptakan tanpa ada perbedaan sama sekali dengan lelaki itu" gumam Lie Wei menjelaskan pada Lian yin. Ia merasa begitu banyak ide dalam otaknya untuk merubah semuanya yang ada dalam robot itu. Dengan kemapuan berpikir dan teknologi yang sudah ia ciptakan sendiri.
"Baiklah terserah kamu, lakukan seperti yang kalian rencanakan. Saat aku pergi nanti aku serahkan semuanya di tangan kalian. Aku harap dalam waktu dekat lelaki itu ada di depanku" gumam Lian Yin.
"Itu pasti, kita akan mengumpulkan lebih banyak masa lalu tentang dia, apa penyebab dia menjadi memberontak dengan kita."ucap Ley.
Mereka saling berbincang hingga tak sadar Yiwen berada di depan pintu. Namun meskipun Yiwen mendengar sedikit pembicaraan mereka ia tetap tak tahu apa maksud mereka dengan robot itu. Lagian itu juga bukan urusan dia, ia juga tidak terlalu perduli dengan urusan mereka. Ia datang ke sana hanya untuk mencari Lian yin tidak ingin menganggu mereka yang sedang sibuk bekerja.
Sebaiknya aku cepat masuk sekarang, gumam Yiwen. Ia menarik napas panjangnya, segera mengetuk pintunya.
Tok..tok...
Suara ketukan pintu itu membuat pembicaraan mereka terhenti seketika.
Lian yin menoleh ke belakang, mendapati Yiwen berdiri di depan pintu yang memang sudah terbuka sedikit.
"Yiwen!!" Panggil Lian yin beranjak berdiri.
"Aku ganggu kalian ya??" tanya Yiwen penuh keraguan dalam hatinya.
"Gak, kita hanya bahas tugas kerjaan yang menumpuk" Lian yin mencoba menyembunyikan kenyataan tentang Lee dari Yiwen, bukannya ia tak boleh Yiwen tahu tentang itu. Tapi ia tak mau Yiwen mengingat lelaki yang telah membuat dia seperti ini. Bahkan tega membuang smeua ingatannya.
"Ooo. Ya sudah aku tungu di luar ya?" ucap Yiwen membalikkan badannya beranjak pergi.
"Tunggu yiwen!!" Panggil Lian yin. Berlari berhenti di depan Yiwen mencegahnya melangkahkan kakinya lebih jauh lagi.
"Kamu mau kemana? Apa gak mau masuk dulu. Atau kuta langsung pergi saja sekarang?" tanya Lian yin. Merentangkan ke dua tangannya seolah tak perbolehkan Yiwen pergi.
"Aku gak mau ganggu kalian, aku bisa kok tunggu kamu di bawah. Kalian lanjutkan saja pembicaraan kalian." gumam Yiwen.
__ADS_1
"Sudah selesai, apa kamu sudah selesai siap-siap juga?" tanya Lian yin.
"Sudah beres semuanya, dan koper aku sudah di bawa pelayan, dan di masukkan dalam bagasi mobil" ucap Yiwen.
"Ya sudah ayok pergi bersama." ucap Lian yin menggenggam tangan Yiwen.
"Kalian di sini, ku tinggal dulu ya. Semoga rencana dapat berhesil dengan lancar"ucap Lian yin pada patner kerjanya yang masih di dalam rungan itu.
Ley dan yang lainnya tersenyum menatap mereka berjalan berdua, bisa akur dan bersama seperti itu membuat mereka sangat senang. Lian yin juga tak mudah marah-marah lagi pada yang lainnya. Saat kehilangan Yiwen semua kena bentak dari Lian yin. Bahkan Ley dan Lie Wei juga, termasuk dengan pegawai-pegawainya yang lainnya di kantor. Mereka juga tak luput kena semprot dari Lian yin.
Yiwen menatap wajah Lian yin yang berjalan beriringan bersama dengannya. "Wajah yang tak asing di hatiku, tapi meskipun otakku bilang tak kenal dengan dia tapi entah kenapa aku merasa hatiku luluh dengannya. Dan percaya jika dia benar-benar orang baik." gumam Yiwen dalam hatinya.
"Kenapa kamu melihatku" tanya Lian yin tersenyum tipis, memergoki Yiwen terus memandangnya.
Wajah Yiwen memerah seketika, "Emm.. siapa yang melihatmu?" ucap yiwen beralasan.
"Barusan, kamu curi pandang denganku. Apa kamu sudah mulai terpesona dengan ketampananku ya??" tanya Lian yin penuh percaya diri.
"Ih.. pede banget sih, emang kamu tampan ya" ucap Yiwen penuh keraguan di wajahnya.
Lian yin terdiam menatap aneh pada Yiwen . Banyak wanita bilang dirinya sangat tamlan tapi wanita ini masih ragu-ragu menatapku tampan atau tidak. "Emang menurut kamu aku tidak tampan??" tanya Lian yin semakin penasaran dengan Yiwen.
Yiwen mengamati detail wajah Lian yin. "Emm.. entahlah" ucap Yiwen singkat. Jawaban yang tak bisa melegakan hati Lian yin.
Yiwen mengerutkan keningnya,
"Suka apa, maksudnya??" tanya Yiwen bingung.
"Suka denganku, dengan penampilanku, wajahku, dan sifatku, serta yang lainnya" gumam Lian yin menarik matanya dengan pandangan menggoda pada Yiwen.
Yiwen terdiam menatap semakin aneh pada Lian yin. "Kenapa kamu tanya itu padaku??" ucap Yiwen tak mengerti maksud pembicaraan Lian yin. Lagian ia masih belum tahu apa yang sebenarnya yang ada dalam hati dan pikiranya saat ini.
Lian yin menarik napas panjangnya, "Ya sudahlah, ayo cepat masuk!!" ucap Lian yin membuka pintu mobil untuk Yiwen.
Yiwen hanya tersenyum dan segera masuk ke dalam mobil, ia menatap sekilas lagi wajah Lian yin. Sebanarnya kamu memang sangat tampan, baik dan entah kenapa selalu ada dalam hatiku. Tapi aku masih belum tahu tentang perasaan ini. Apa aku dulu pernah kenal dengamu beneran atau tidak. Tapi setidaknya sekarang aku nyaman bersamamu. Aku berharap juga lama-lama aku menemukan jawaban dari semu pertanyaan yang ada di pikiranku saat ini, gumam Yiwen.
"Hyoo..kamu curi pandang lagi ke arahku kan??" foda Lian yin.
"Apaan sih gak, tadi ada orang lewat di sana aku penasaran saja" ucap Yiwen mengelak wajahnya kini sudah semakin memerah seperti kepiting rebus.
"Ya, sudah, kalau kamu memang suka memandangku gak papa kok, kenapa kamu mesti malu gitu. Lihat tu pipi kamu memerah" ucap Lian yin. Yang mulai menyalakan mesin mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang keluar dari halaman rumahnya.
Yiwen hanya terdiam, ia benar-benar malu sudah dua kali harus ketahuan menatap lian yin. "Apa yang aku lakukan sekarang"gumam Yiwen dalam hatinya.
__ADS_1
"Jangan malu seperti itu" ucap Lian yin mengusap lembut rambut Yiwen.
"Iya," jawab Yiwen singkat, tersenyum manis menatap Lian yin.
"Kamu beneran mau menikah denganku nantinya?" tanya Lian yin. Ia masih ragu dengan kondisi seperti ini apa benar Yiwen mau menikah dengannya. Jika tidak entahlah nasibnya gimana nantinya.
Yiwen tersenyum menatap Lian yin. "Aku serius mau menikah denganmu, entah kenapa aku merasa ingin selalu berada di sampingmu." ucap Yiwen seolah mengungkapkan isi hatinya pada Lian yin.
Lian yin hanya tersenyum tipis, ia tahu jika hati Yiwen sebenarnya tak bisa melupakannya.
Lama perjalanan mereka slaing berbicara satu sama lain, saking mengungkapkan unek-unek dalam hatinya. Dan Lian yin juga tak mau kalah menyampaikan semua perasaannya pada Yiwen. Hingga kini merekas saling akrab dan mulai berbicara serius, dan saling bercanda berdua.
Hingga tak terasa mereka sampai di sebuah bandara, yang lumayan jauh dari rumahnya. Sekitar satu jam perjalanan. "Aku akan bantu kamu bawakan barang-barang kamu semuanya" ucap Lian yin.
Yiwen hanya tersenyum, dan beranjak berjalan lebih dulu di depan Lian yin.
"Ayo cepat" kata Yiwen.
Lian yin tersenyim dan segera berlari mengejar Yiwen yang sudha oebih dulu didepannya. "Tunggu aku" teriak Lian yin.
Yiwen sudah duduk di pesawat lebih dulu, an Lian yin masih berjalan menaiki pesawat. Kakinya terasa snagat berat kali ini. Tadi ia harus membawa beban berat di ke dua tangannya dengan langakh cepat, mengikuti Yiwen yang sudah jauh di depannya. Sepertinya memang Yiwen sengaja menggodanya.
"Kamu sudha di sini?" tanya Lian yin duduk di samping Yiwen.
"Habisnya kamu lama banget sih" gumam Yiwen.
"Perjalanan kita sepertinya nanti sangat lama ya" tanya Lian yin.
"Iya, kalau kamu mau tidur, gak apa tidur saja" ucap Lian yin.
"Gak mau, aku mau baca majalah saja"ucap Yiwen, meraih majalah di depannya.
"Yakin hanya baca majalah saja?" tanya Lian yin memastikan.
"Iya, aku yakin" ucap Yiwen.
Ia segera membuka lembar demi lembar majalah itu, matanya menyipit seketika. "Apa ini, majalah dewasa. Kanapa ada dalam pesawat ini. Sudah terlanjur aku buka lagi" gumam Yiwen dalam hatinya.
Liam yim tersenyum menatap yiwen, "Gimana, kamu masih tertarik kah dengan majalah itu?" tanya Lian yin.
"Emmm..masih, emang apa salahnya baca majalah dewasa, lagian juga gak buruk juga kok. Aku bisa belajar dari ini nanti setelag menikah"ucapnya mencari alasan pada Lian yin. Meski sebenarnya ia merasa geli melihat majalah dewasa itu.
"Ya, sudah lanjutkan, aku mau tidur"ucap Lian yin segera memakaia airphonya. Ia mulai mendengarkan sebuah musik yang mengenang dalam hatinya. Sebuah kagu cinta tentang dirinya.
__ADS_1
"Kenapa aku gak pinjam saja ya airphone punya dia dari pada melihat majalah dewasa yang membuat mataku sakit entar." gumam Yiwen melirik ke arah Lian yin.