
Hufftt.. Dia kenapa sih, hari-hari ini sensi amat. Apa dia lagi datang bulan, ya? Gumam Amerta sembari tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kamu ketawain?" Changmin yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung menatap ke arah Amerta. Dia berjalan dengan langkah ribgan, tubuhnya hanya di balut handuk dari pinggang sampai lututnya, dada bidang Changmin terlihat jelas. Amerta seketika langsung menutup matanya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Kenapa? Kamu gak suka, padahal sudah aku bilang padamu jika aku mau mandi," gumanya, membuka lemari mengambil beberapa pakaian untuk ia pilih nantinya.
Amerta menelan ludahnya susah payah, dia benar-benar tak menyangka jika melihat tubuh Changmin terang-terangan begini.
"Cepat pergilah!!" ucapnya, melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Amerta memalingkan oandanganya, ia menghela napasnya lega kali ini Ia pikir jika Changmin akan ganti baju di depannya. Ternyata tidak.
"Ih.. Kenapa juga aku berharap itu.. dasar pikiran menjijikkan.. Pikiran jorok!" gumam Amerta memukul-mukul kepalanya pelan.
Dia mengusap dadanya, menarik napasnya lagi, mencoba mengontrol hatinya yang tak hentinya terus kesemutan menatap wajah tampan Changmin saat selesai mandi.
"Lebih baik sekarang aku keluar dulu, tunggu dia di depan pintu!!" ucapnya, menarik dua sudut bibirnya tipis. Membentuk sebuah senyuman yang mengukir manis di wajahnya.
Seakan terbesit dalam pikirannya sebuah ide gila, yang tiba-tiba muncul di pikirannya sekarang.
--------
Changmin yang sudah selesai pakai baju, kaos putih dengan celana jins membalut kakinya, dia berhenti sejenak menatap cermin, merapikan rambutnya yang kurus dan lembut, bahkan sangat mudah di rapikan hanya dengan jari-jari tangannya.
"Apa wanita itu sudah pergi? Hmm.. Aku harap dia cepat pergi saja. Capek aku harus berhadapan dengannya." gumam Changmin, mencengkeram kesal wastafel di depannya.
Selesai menatap wajahnya, Dia membuka pintu kamar mandi, seketika matanya menyipit saat melihat ruangan kamarnya kosonh, awalnya dia merasa dalam hatinya tak rela jika harus pergi meninggalkannya. Tapi entah kenapa pikirannya selalu menolak perasaan itù.
Hah...
Untunglah dia sudah pergi! Aku bisa tenang sekarang!!
Changmin menghela napasnya lega, dia bergegas pergi membuka pintu kamarnya, dan seorang jatuh tepat refleks Changmin menompang tubuhnya agar tak jatuh ke lantai.
Tangan kanan munglil seorang gadis cantik melingkar di leher Changmin, ke dua mata mereka saling tertuju, Amerta tersenyum menatap wajah yang sangat nyaman namun dinginnya membuat hatinya tak membeku. Tak bisa merasakan cinta yang lain selain manusia es ini.
"Makasih!!" ucap Amerta menahan senyumnya.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Changmin kesal. Dia melepaskan tangannya dari punggung Amerta, membiarkan tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai.
"Jangan cari kesempatan untuk bisa mendekatiku," ucap Changmin, mengisbaskan tangannya. Lalu beranjak pergi meninggalkan Amerta.
__ADS_1
"Ih... Sial banget sih.. Gak ada romantisnya sama sekali. Tatap aku terus kecup bibirku gitu. Eh..Malah dia pergi membiarkan aku di sini.." gumam kesal Amerta dengan kaki menendang-nendang seperti anak kecil.
--------
Di sisi lain pendekatan Amerta dan Changmin. Lyli dan calon suaminya sedang berbahagia bersama. Meski dia belum bisa tinggal berdua sekarang, tapi setidaknya dia bisa melihat wajahnya setiap malam. Lagian pernikahanya kurang satu hari lagi. Dan mereka sudah tidak sabar menantikan itu semua.
"Permisi!! Bi, tuan ada?" tanya Lyli mencoba masuk ke dalam rumah baru Lay yang memang tak jauh dari rumah Lian yin dan Yiwen.
"Ada, non. Sepertinya Tuan sekarang lagi di luar rumah belakang,"
"Ngapain bi?" tanya Lyli.
"Sepertinya melihat taman belakang,"
"Oo.. Ya, sudah. Makasih!!" Lyli berlari menuju ke taman belakang, langkahnya terhenti saat melihat Lay yang duduk dengan kaki di masukan
ke dalam kolam.
"Lay apa yang kamu lakukan di sini? Di laur sangat dingin, dan kaki kamu juga. Jangan berendam malam-malam," ucap Lyli khawatir, ia beranjak duduk di samping Lay.
"Apa sih, syang!!" Lay menoleh ke belakang, menyambut kedatangan Lyli dengan sebuah senyuman penuh cinta.
"Memangnya kenapa, bawel!!" Lau mencubit hidung Lyli manja.
"Aw-- sakit!!"
"Memangnya aku boneka apa?" jawab Lyli menguntupkan bibir ya.
"Memamg kamu gemesin tahu, gak. Bahkan kamu adalah boneka hidup aku nantinya." lay meletakkan tangannya melingkar ke belakang kehernya, mendarat tapat di atas pundak kanannya, lalu menariknya ke dalam dekapan tubuhnya.
"Setiap hari kamu akan benar-benar jadi boneka hidup aku. Dna juga sekaligus boneka kesayangan aku... Aku gak sabar nunggu hari itu, syang!!"
"Hari bahagia kita berdua," Lyli menempelkan kepalanya, sembari tersenyum bersama mendongakkan kepalanya kompak menatap menatap langit.
"Ih... Kamu, ya!!" ucap Lyli mendorong tubuh Lau manja.
"Napa? Lagian hanya peluk dikit, saja!!" ucap Lay.
"Oya, katanya besok kamu mau pergi, ya?"
"Besok kapan? Lagian juga aku akan menikah denganmu, memangnya mau pergi kemana lagi," Lau mengusap lembut rambut Lyli dengan ke dua tangannya. Lalu berhenti di pipi Lyli, "Aku akan temani kamu, syang!!"
"Yakin?" tanya Lyli.
__ADS_1
"Iya, lagian hanya pergi ke rumah kakak Lian yin sebentar. Setelah itu kembali lagi,"
"Jangan terus-terusan berantem lagi," ucap Lay.
"Aku gak berantem," Gumam Lay, mencubit ke dua pipi Lyli.
"Sakit!!" umpat kesal Lyli.
"Hehe.. Oya maaf.." Ke dua mata mereka saling tertuju, perlahan Lay mendekatkan wajahnya, sebuah kecupan lembut mendarat di kening Lyli. Setelah itu duduk tegap lagi.
"Hanya itu?" tanya Lyli kecewa. Dia sebenarnya berharap lebih dari itu .
"Memangnya apa lagi, syang!!"
"Tauk!! Udah aku mau pergi," jawab kesal Lyli , mencoba beranjak pergi, dengan sigap tangan Lay memegang pergelangan tangan Lyli.
"Jangan pergi!!" ucapnya lembut. "Duduklah kembali!!"
Lyli menoleh melirik ke arah Lay, dia beranjak duduk kembali meski dengan perasaan kesalnya.
"Ada ap..." ucapan Lyli terpotong, Lay yang secara tiba-tiba mengecup bibir tipis Lyli tak memberinya celah untuk bicara, dan Lyli yang terkejut dia hanya dia mengerjapkan matanya berkali-kali.
Ciuman pertama aku! Ternyata dia mengerti apa yang aku katakan, kenapa tadi dia pura-pura gak tahu, nyebelin!!
"Udah gitu saja, kan?" ucap Lay mengakhiri kecupannya.
Lyli yang emrasa snagat kecewa, ia hanya menghela napasnya kesal. "Iya" jawabnya singkat.
"Ada apa lagi?" tanya Lay, mengusap ujung kepala Lyli sampai ke belakang kepalanya.
"Gak napa-napa, aku gak sabar ingin cepat menikah denganmu, dan kita bisa bulan madu."
"Memangnya kamu mau bulan madu kemana?" tanya Lay.
"Di rumah saja, dengan nuansa romabtis, dari pada jauh-jauh ke luar negeri aku sudah bosan. Dulu sering keliling luar negeri hanya untuk menghindar dari ayah Grace." kata Lyli sembari menbayangkan indahnya saat malam pertama dengan Lay dengan nuansa romantis.
"Oya, teringat Grace? Di mana dia sekarang?" ucap Lay.
"Kenapa kamu mencari Grace?"
"Gak napa-napa, hanya saja aku ingin melihat teman aku bahagia. Kasihan dia sekarang sering sendiri melamun sendiri,"
"Aku yakin suatu saat Changmin akan membuka hatinya lagi untuk wanita lain,".
__ADS_1
"Malang sekali kisah cintanya. Selalu di sakiti wanita." Lay menatap ke arah Lyli. "Kamu jangan pernah pergi dariku, aku ingin kita menikah hanya satu kali. Satu untuk selamanya," lanjutnya, memegang ke dua pipi Lyli.
"Aku ingin kamu temani hidup aku, sekarang dan selamanya," lanjut Lay, mengecup lembut kening calon istrinya.