
"Udah, kenapa kalian jadi bahas Ley, nanti dia bersin-bersin gara-gara kalian bicarain dia. Lagian benar sih tidak ada kabar sma sekali dari dia." ucap Lie Wei.
"Sekarang sudah malam lebih baik kalian masuk ke kamar kalian masing-masing, aku masih mau bicara dengan Yiwen berdua"ucap Lian yin.
"Baiklah"ucap Mei menarik tangan Lie Wei untuk pergi dari ruangan itu.
"Selamat bersenang-senang ya, jangan lupa kunci pintu takutnya Lie Wei, tiba-tiba masuk dan ganggu kalian." goda Mei, di balik pintu.
"Kenapa aku lagi, sih." tanya Lie Wei kesal pada Mei.
"Kan biasanya kamu gitu yang sering ganggu hubungan mereka." ucap Mei.
"Kapan aku gangguml mereka?" tanya Lie Wei mulai kesal.
"Gak tau," jawab Mei berbalik dengan nada kesalnya.
"Kalau gitu sekarang kita mesra-mesraan berdua." ucap Lie Wei menggoda Mei.
"Gak mau." jawab Mei tegas.
"Ayolah.." ajak Lie Wei merayu.
"Nikahin dulu aku, baru nanti aku mau bermesraan dengamu," ucap Mei.
Lie Wei terdiam, bukannya ia tidak siap menikah dengan Mei tapi maih banyak yang harus ia lakukan. Dan gak mau Mei terlibat juga dalam masalahnya. Apalagi Lie Wei baru pertama kali jatuh cinta dan itu hanya saat bertrmu dengan Mei. Sebenarnya ia sangat berharap dengan segera menikahi Mei.
"Kenapa kamu diam?" tanya Mei. "Kamu gak mau ya menikah denganku." ucap Mei menatap aneh pada Lie Wei.
"Bukannya aku gak mau, tapi belum saatnya." ucap Lie Wei menegaskan.
"Terus saatnya kapan, nunggu sampai aku punya pasangan baru terus menikah dengannya." ucap Mei kesal.
"Terserah kamu kalau itu yang kamu mau, aku tidak memaksa kamu untuk terus bersamaku. Kamu punya kehidupan sendiri punya kebebasan sendiri. Jika memang kamu tak bisa bersabar, pergilah sesuakmu aku tidak melarang." ucap Lie Wei, yang kini sudah mulai sangat kesal, ia beranjak pergi meninggalkan Mei sendiri di belakangnya.
"Arrggg.. kenapa sih dia susah banget kalau di ajak menikah, padahal aku itu mau menikah denganya, bukannya aku maksa tapi karena aku ingin bisa salamanya bersamanya." ucap Mei kesal.
"Lagian kenapa dia seperti itu." ucap Mei. "Kalau memang sudah tidak suka denganku baiklah, tapi setidaknya jelaskan semuanya tentang hubungan kita kelanjutanya gimana" gerutu Mei. Dia terus berdecak kesla menyalahkan Lie Wei yang tidak tahu perasaannya saat ini.
Yiwen yang baru mau keluar dari ruangan itu melihat perdebatan mereka berdua di depannya, tapi ia tidak mau menemui Mei, kalau di lihat seperrinya Mei lagi kesal dan tidak mau di ganggu lebih dulu. Lagian kenapa Lie Wei tidak mau menikahi Mei, ada apa sebenarnya. Atau dia hanya pura-pura mencintai Mei atau ada seseuatu yang masih di sembunyikan Lie Wei.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih berdiri di sini, cepat masuk ke kamar, udah malam istirahatlah, lagian kamu pasti capek tadi terus berpikir." gumam Lian yin menguap rambut Yiwen dan beranjak pergi meninggalkan Yiwen di belakangnya.
"Yin tunggu,"Yiwen menarik tangan Lian yin mencegahnya pergi.
"Ada apa?" tanya Lian yin.
"Kemu tidur dimana?" tanya Yiwen memastikan.
"Emangnya kenapa tanya, mau tidur bersama lagi ya, atau kamu kangen sama aku." ucap Lian yin.
"Apaan sih, udah aku cuma mau tanya jika aku ingin..."Yiwen mengehentikan ucapnya seolah berat untuk mengatakan itu lebih dulu pada Lian yin.
"Hayo ingin apa?" tanya Lian yin.
"Tidur denganmu" ucap Yiwen menunduk malu.
Lian yin tertawa kecil melihat istrinya itu, "Aku suami kamu ya jelas tidur dengan kamu, emangnya aku mau tidur dengan siapa lagi jika bukan dengan kamu?" ucap Lian yin, mengusap lembut rambut istrinya itu.
"Aku kira kamu tidur sendiri." ucap Yiwen yang masih menundukkan kepalanya, ia tak mau menatap Lian yin karena terlalu malu sudah mengatakan itu lebih dulu.
"Udah ayo kita ke kemar." Lian yin memegang tangan Yiwen, namun Yiwen masih tetap berdiri di tempatnya.
"Bicaranya nanti di kamar saja Yiwen"ucap Lian yin mengangkat tubuh Yiwen menggengdongnya ala bridal style berjalan menaiki anak tangga yang menjulang lurus menuju kamarnya.
"Yin, turunkan aku." Yiwen mencoba meronta.
"Kenapa, bukannya ini yang kamu mau"ucap Lian yin.
"Bukan gitu, aku malu kalau Mei melihat kita." ucap Yiwen.
"Sudahlah dia tidak akan melihat kita"ucap Lian yin.
"Emangnya kamu mau membawaku kemana?" tanya Yiwen kembali.
"Ke kemar "ucap Lian yin dengan senyum menggoda.
"Ngapain ke kamar?" Yiwen tak berhenti terus bertanya pada Lian yin.
"Ya, tidur lah, memangnya kita mau ngapain lagi di kamar kalau gak tidur"ucap Lian yin.
__ADS_1
Yiwen bernapas lega, Lian yin tidak mengajaknya aneh-aneh lagi. Ia berharap Lian yin gak mengajaknya menikmati malam hari ini.
"Emangnya kamu kira mau ngapain lagi selain tidur"tanya Lian yin.
"Enggak tahi." ucap Yiwen.
"Jangan bilang kamu mau berhubungan denganku ya, kita bikin anak?" tanya Lian yin dengan tatapan menggodanya.
"Apasih yin, enggak mau." ucap Yiwen kesal.
"Jangan ngelak bilang saja jujur"ucap Lian yin.
"Beneran gak." ucap Yiwen tegas.
"Ya sudah" Tak terasa terus berbicara mereka sudah sampai di kamar, Lian yin membaringkan tubuh Yiwen dan menarik selimut menutupi sekujur tubuh Yiwen.
Yiwen yang semula berpikir negatif tentang Lian yin ternyata dia beda, jika tahu Yiwen tidak mau berhubungan dengannya ia lebih memilih tidak memaksa dari pada menjadi sebuah masalah dan pertengkaran di antara mereka.
Lian yin bagi yiwen orang yang bisa mengimbanginya, bahkan dia tidak mau marah sedikitpun pada Yiwen. Karena baginya sebuah masalah kecil akan menjadi dampak besar nantinya.
"Sudah cepat tidur, jaga kesehatan ya"ucap Lian yin mengecup kening Yiwen lembut.
Yiwen terdiam menatap kagum pada suaminya itu, yang begitu tulus mencintainya, bahkan dia rela melakukan apa saja demi dirinya.
"Aku pergi dulu ada usuran sebentar, kamu tidur saja dulu gak apa-apa" ucap Lian yin.
"Tunggu, kamu mau pergi kemana?" tanya Yiwen memegang pergelangan tangan lian yin.
"Aku gak lama kok, hanya sebentar sjaa syang."ucap Lian yin memegang tangan yiwen.
"Tapi aku mau kamu di sini temani aku, apa kamu mau lupakan urusanmu sebentar saja dan di sini temani aku" gumam Yiwen.
Lian yin tersenyum, "baiklah demi kamu apa yang enggak sih, aku akan temani kamu"ucap lian yin duduk di samping Yiwen.
Ia membelai lembur rambut Yiwen hingga dia tertidur lelap dengan tangan masih memegang tangannya. Seakan memang Yiwen tak mau Lian yin pergi dari sisinya.
"Kamu kalau seperti ini membuatku semakin cinta, meskipun hilang ingatan tak menghambat cintaku dan cintamu." gumam Liam yin mencium bibir Yiwen.
"Kalau aku pergi gak mungkin, dia gak bisa di tinggal sekarang. tangannya semakin memegangnya erat, sepertinya dia tahu kalau aku akan pergi." gumam Lian yin.
__ADS_1
Ia meraih kursi di samping meja rias, duduk memegangi tangan Yiwen, hingga ia ikut tertidur di posisi yang sama.