Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Yiwen


__ADS_3

Keesokan harinya. Lian yin dan Yiwen bangun bersamaan. Baru kali ini Yiwen bangun lebih pagi. Jarum jam masih menunjukan pukul empat pagi. Bahkan matahari belum menampakkan sinarnya, hari masih gelap hanya penerangan buatan yang masih terlihat sangat cerah tepapang di luar. Dan sebelumnya kemarin malam Yiwen sudah mengirim pesan pada Mei dan ia setuju untuk bertemu di rumah Lian yin yang satunya. Dan dia bertemu tanpa sepengetahuan Changmin dan Lay. Bukannya ingin menyembunyikan semuanya dari mereka. Tapi Mei tidak mau jika Lay dan Changmin memetomg pembicarananya dan menyangkal semuanya dengan bukti yang Lay bawa sendiri. Dan nanti bisa Lian yin yang menjelaskan pada mereka.


Dan yiwen kemarin juga sudah dapat balasan pesan dari ayah Yiwen jika dia mau membantunya untuk menyetabilkan perusahaan Lian yin. Tetapi Yiwen harus merahasiakannya dari Lian yin. Dan Yiwen menyetujuinya. Ia juga tidak mau jika Lian yin tahu jika dia dan ayahnya yang membantunya.


Gara-gara Lian yin kemarin malam mengganggu tidurnya. Ingin minta lagi, dan dengan terpaksa ia menurutinya, tanpa menolak dan dia membalas permainan Lian yin dengan sangat antusias tanpa penolakan darinya. 


"Yiwen sekarang kamu bawa jaket ini" ucap Lian yin, memberikan jaket pada Yiwen.


"Buat apa? Aku seperti ini saja" gumam Yiwen.


"Jaket ini nanti peluru, aku takut jika di luar ada bahaya. Lagian di luar sepertinya juga dingin. Kamu harus tetap jaga kesehatan. Jangan sampai sakit, nanti bibit anak kita hak jadi lagi" ucap Lian yin, segera memakaikan jaket hitam ke tubuh Yiwen. 


"Bibit apaan syang, ada saja kamu ini. Emang gara-gara dingin bisa gak jadi anaknya nanti?" tanya Yiwen.


"He. he. aku gak tau syang" ucap Lian yin mengusap lembug rambut Yiwen. 


"Ya, sudah Kamu juga harus pakai jaket" ucap Yiwen.


"Iya syang, ini juga baru aku mau pakai" jawabnya, ambil memakai jaket yang dari tadi di tangannya.


"Yin, kamu sudah siap?" Tanya Yiwen. Yang sudha mulai siap semuanya. Ia membawa tas, dan sudah memakai sepatu yang biasa ia pakai. 


"Sudah, ayo kita jalan" ucap Lian yin segera berjalan menuju ke ruangan yang di tunjukan Yiwen kemarin. 


Namun kakinya seakan berat untuk melangkah masuk. Ia ragu apa dia benar-benar bisa masuk ke dalam atau tidak. Ia juga tidak tahu tapi setidaknya gak ada salahnya jika di coba dulu untuk masuk ke dalam bersama Yiwen. 


"Yiwen apa yakin kemu kemarin bisa melakukan teleportasi seperti ayah kamu lakukan? Entah kenapa aku merasa sangat ragu syang" Tanya Lian yin yang masih ragu jika istrinya itu bisa melakukannya, saat masuk ruangan yang ayahnya biasa pakai. Tapi ia juga baru tahu jika dia sebenarnya bisa.


"Entahlah.. tapi kemarin aku bisa. Kita sekarang coba saja semoga bisa. Sebelum ayah ke sini, kita pergi dulu sebentar setelah itu kita kembali lagi ke rumah ini tepat waktu" ucap Yiwen, segera menarik tangan Lian yin untuk masuk ke sebuah ruangan yang sangat gelap dan tertutup. 


Dan tanpa di duga Lian yin, Yiwen berhasil membawanya pergi dan tepat keluar di depan ruang kerja ayahnya. "Sekarang gimana aku bisa buktikan denganmu kan" ucap Yiwen. 


"Iya aku percaya sekarang, tapi kita nanti jangan lama-lama di luar" ucap Lian yin, yang tiba-tiba merasa sangat khawatir dengan Yiwen. 


"Iya bawel" ucap Yiwen. "Tapi sekarang kita harus cepat keluar sekarang" lanjut Yiwen menarik tangan suaminya itu untuk segera keluar dari rumahnya. Ia berlaei menuruni anak tangga. Dan berlari menuju ke pintu rumah Yiwen. Mereka berdiri dan menunggu pintu itu terbuka dengan sendirinya. 


"Syang, gimana dengan mobil kita?" Tanya Yiwen. 


"Tenang saja, kamu lihat saja nanti" ucap Yiwen. Melihat pintu yang sudah mulai terbuka Yiwen segera menarik tangan Lian yin keluar. 

__ADS_1


Mata Lian yin terpanah saat melihat mobilnya tiba-tiba sudah ada di depannya ia tidak tahu kapan mobil itu ada. Dan sejak kapan mobil itu keluar dari parkiran bawah tanah milik ayahnya. Hal itu tak berhenti membuat Yiwen terkagum-kagum dengan apa yang di lakukan ayah Yiwen.


"Gak usah bingung, dari pada kamu pusing sendiri. Lebih baik sekarang kita cepat masuk ke dalam mobil sebelum banyak orang yang tahu" ucap Yiwen menarik tangan Lian yin menuju ke mobilnya, yang sudah terparkir di halaman kecil miliknya.


Lian yin masih tak percaya kecanggihan rumah Yiwen sangat berbeda dengan rumahnya. Meski kecil sederhana tapi banyak banget fasilitas yang di luar dugaan Lian yin. 


Kriingggg..


Panggilan telepn dari Lay, membuat Lian yin tersadar dari lamunanya. "Kamu bisa mengemudi mobil kan, aku mau angkat telepon Lay." Ucap Lian yin. 


"Baiklah, aku yang akan mengemudi" ucap yiwen mengambil kunci Lian yin dan segera menyalakan mesin mobilnya, melaju keluar dari halaman rumahnya. 


Sedangkan Lian yin mengangkat panggilan dari Lay. Belum sempat Lian yin berbicara Lay menyerobot pembicaraanmya lebih dulu. 


"Yin aku dan Changmi semalaman bekerja, menemukan hal ganjal" ucap Lay dengan sangat buru-beru. 


"Maksud kamu hal ganjal apa? Apa ada yang terjadi lagi? Atau kalian tahu siapa yang bermain dengan pasar saham kita?" Tanya Lian Yin yang bingung dengan perkataan Lay. 


Yiwen yang mendengar tak begitu jelas, ia tersenyum tipis. Ia yakin jika itu pasti ayahnya. Dia pasti sudah membantu Lian yin. Ayahnya memang tidak pernah ingkar janji pada anaknya, meski jarang bertemu tapi dia selalu membantunya diam-diam.


"Iya, ada seseorang yang diam-diam membantu kita. Dia menyetabilkan pasar saham kita dengan waktu hanya 1 menit. Dan aku coba lacak siapa yang melakukannya namun aku tidak bisa menembus akunnya. Pengamannya sangat kuat. Aku yakin dia bukan orang sembarangan. Changmin saja tidak bisa menembus situsnya. Orang itu malah balik nyerang Changmin, membuat laptop Changmin kini penuh virus" ucap Lay. 


"Yin kenapa kamu diam?" Tanya Lay mengejutkan Lian yin yang sedang melamun.


"Eh.. iya aku yang akan melanjutkan tugas kalian nanti. Kalian tenang saja. Setelah ini aku ingin bertemu dengan kamu dan Changmin. Aku ingin tahu siapa sebarnya dia. Jadi aku yang akan turun tangan langsung" ucap Lian yin.


"Baiklah" ucap Lay.


Lian yin segera nenutup teleponnya. Yiwen yang tahu wajah Yiwen yang murung antara senang dan bingung siapa yang menolongnya. Lagian dia itu terlalu bodoh sih, dari kemarin gak langsung di cari siapa penolongnya malah tidur dengan aku.


"Yiwen kita jadi bertemu Mei sekarang?" Tanya Lian yin. 


"Jadi, dia sudah menunggu kita" ucap Yiwen yang masih fokus dengan jalan di depannya.


Mobil Yowen berhenti tepat di depan rumah lama Lian yin. Dengan segera ia masuk menemui Mei yang sudah menunggunya di dalam. "Syang aku mau kamu nanti temani aku pergi ke rumah dulu" ucap Lian yin. 


"Apa kamu mau bertemu dengan Grace?" Tanya Yiwen.


"Kenapa jadi Grace, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Lay. Bukannya kamu tahu sendiri aoa yang aku bicarakan tadi di balik telepon" ucap Lian yin kesal, Yiwen selalu menuduhnya.

__ADS_1


"Baiklah, iya syang. Aku percaya. Lagian tadi aku hanya bercanda" ucap Yiwen. 


"Jangan gitu lagi" ucap Lian yin.


"Yiwen!" Teriak Mei memanggil Yiwen yang sudah berdiri di depannya. 


"Mei" yiwen segera berjalan mendekati Mei. Dan duduk di sofa sampingnya.


"Gimana kita langsung saja apa yang ingin kamu bicarakan" ucap Yiwen. 


"Baiklah, kita akan bahas Jeff kemarin. Aku sudah mendapaykan buktinya, ini peluru yang di gunakan Jeff. Dan ini lambang kita. Aku temukan ini di kantor Lian yin" ucap Mei, mengeluarkan bukti itu dan menaruhnya di atas meja.


"Maksud kamu? Yang melakukan penyerangan itu dari agen intelijen kita?" Tanya Yiwen yang masih tak menyangka


"Iya, aku berpikir seperti itu. Dan lambang ini mamang sengaja ia buat untuk para pengawal ayah Grace." Ucap Mei. 


"Aoa maksudnya ini?" Tanya Lian yin yang bingung dengan apa yang di katakan Mei dan Yiwen. "Dan Jeff itu siapa?" Lanjutnya. 


"Sudah kamu diam saja dengarkan dulu apa yang di katakan Mei" ucap Yiwen.


"Jeff anggota Intelijen ogi sama dengan kita. Dia bisa di bialng wakil ketua, meski Yiwen tidak pernah athu wajahnya. tapi kamu pasti tahu namanya." Ucap Mei.


"Apa mereka dari awal bekerja sama dengan ayah Grace. Soal tugas aku mencuri dokumen di kantor Lian yin itu sebnarnya tugas dari ayah Grace. Kenapa ketua tidak bilang sebelumnya" ucap Yiwen yang semakin kesal, ia mengepalkan tangannya. Gimana bisa ia tidak tahu temtang itu, dan begitu mudahnya ia di manfaatkan. 


"Iya, mereka kerja sama. Aku diam-diam mengeirimkan paparazi untuk mencari tahu informasi ini sendiri. Merke juga tidak suka kita keluar dan gabung dengan dunia mafia utara" ucap Mei. 


Yiwen hanya menggelangkan kepalanya tak percaya dengan semuanya. Kenaoa semua terasa begitu sulit. Dan Luan yin hanya bisa diam. Ia tidak percaya jika awalnya Yiwen bekerja sama dengan Ayah Grace.


"Dan kamu Yin, jangan salah paham dengan kita. Aku dan yiwen tidak tahu jika kita kerja sama dengan penjahat itu" ucap Mei. 


"Iya, jangan marah dengaku" sambung Yiwen.


Lian yin mengusap lembut rambut Yiwen. Siapa juga yang marah syang. Aku hanya serius mendengarkan apa yang kalian bicarakan berdua. Dan mengambil pengalaman untuk kita lebih hati-hati lagi." Ucap Lian yin. 


"Mereka akan bertindak lagi. Aku yakin mereka akan menyerang lagi ke kantor kamu dalam waktu dekat. Dan Jeff gak akan bisa bertindak apa-apa, kemarin aku menembaknya dari jarak jauh tepat mengenai kakinya" ucap Mei.


"Terus apa yang kita perbuat nantinya" tanya Yiwen. 


"Kita harus cari tahu, memasukan mata-mata kita ke perkumpulan mereka. Dan cari tahu kapan mereka bertindak. Sekaligus siapa saja orang besar yang bertindak di dalamnya. Kita akan berjaga di depan saat kita sudah tahu kapan, jam berapa mereka bertindak. Aku yakin smeua sudha di rencanakan secara terperinci" ucap Lian yin.

__ADS_1


"Benar kata Lian yin. Aku juga berpendapat sepeti itu. Dan Yiwen kamu juga harus pergi. Kita berjuang bersama nantinya" gumam Mei, Di balas dengan senyum dan anggukan kecil oleh Yiwen.


__ADS_2