
Yiwen baru saja keluar dari kamar mandi, ia mengusap rambutnya yang masih terlihat basah, dengan handuk putih di tangannya. Berjalan mendekati Lian yin yang terlihat diam sendiri di ranjangnya.
"Kenapa sayang wajah kamu serius gitu?" tanya Yiwen, yang baru saja membasuh tubuhnya.
Lian yin tak menjawab, ia mengalihkan pembicaraan Yiwen.
"Lay akan datang ke sini, kamu sudah ganti baju belum?" tanya Lian Yin, dengan wajah nampak terlihat muram. seakan banyak masalah yang mengganggu pikirannya sekarang.
"Kamu sudah lihat kan syang kaalu aku sudha ganti baju, kenapa tanya lagi?" gumam Yiwen, merasa aneh pada Lian yin.
Yiwen berjalan perlahan mendekati Lian yin, yang bersandar di ranjang, dengan mata nampak memandang ke arah depan dengan tatapan kosong. Dan ia memainkan ponselnya, memutar-mutar dengan jemarinya.
Merasa tak di hiraukan oleh Lian yin, Yiwen segera meraih ponsel Lian yin di tangannya. "Kamu sebenarnya kenapa?" tanya Yiwen, yang duduk di pinggiran ranjang, menatap ke arah Lian yin.
"Aku merasa sangat membebankan kamu"ucap Lian yin, yang beranjak duduk tegap dan tak bersandar lagi.
Yiwen menyentuh pipi Lian yin, mengusap lembut wajah Lian yin dengan jemarinya, dengan senyum manis terpapang di wajahnya. "Yin, aku merasa tidak ada beban sama sekali dari kamu, aku suka dengan pekerjaan ini, asal kita lakukan pekerjaan ini bersama-sama. Kita akan lalui semua ini bersama, susah senang kita akan lalui bersama. Sekarang kamu jangan cemberut gitu"ucap Yiwen, menyentuh pipi Lian yin. menatap dekat wajah Lian yin di depannya.
Lian yin menyentuh tangan Yiwen yang menyentuh pipinya lembut, ia memandang mata Yiwen yang masih sama seperti dulu. Mata yang penuh cinta dan kasih sayang.
"Yiwen, makasih, kamu sudah jadi bagian hidup aku, aku ingin selalu bersama kamu selamanya. Jangan tinggalkan aku"ucap Lian yin, ia menunjukan matanya seakan sangat takut jika kehilangan Yiwen lagi seperti sebelumnya. Ia tidak mau Yiwen yang sangat ia cintai tiba-tiba pergi meninggalkannya nantinya.
Lian yin menarik kepala belakang Yiwen mencium keningnya lembut. "Jangan pergi lagi, tetaplah di sini bersamaku. Jalani masa sulit ini bersamaku. Aku akan terus menjagamu Yiwen"ucap Lian yin, melepaskan kecupannya.
"Iya, janji akan selalu berada di samping kamu, bersama kamu. Dan aku ingin kamu juga selalu ada di sampingku menjagaku"ucap Yiwen.
"Oya sekarang aku mau hubungi Luhan dulu, aku mau tanya sesuatu tentang tadi, siapa tahu dia tahu. Karena ini masih dalam batas wilayahnya. Dan siapa tahu juga mobil tadi memang suruhan luhan untuk mengikuti kita, kitanya saja yang terlalu curiga"ucap Yiwen, segera beranjak berdiri meraih ponselnya di dalam tas di atas ranjangnya.
"Baiklah, cepat tanyakan. Dan setelah itu kita pergi menemui Lay, sekarang dia ada di sini di kamar yang tak jauh dari sini. Jadi kita harus segera memberi tahu dia, dan menyusun rencana selanjutnya"ucap Lian yin.
"Apa Lay sudah datang di sini?" tanya Yiwen.
__ADS_1
"Sudah, dia ada di kamar yang dekat dengan kita."ucap Lian yin.
"Dengan siapa dia di sini, apa bersama wanita yang ia jemput kemarin. Atau bersama Mei dan Changmin?" tanya Yiwen menatap ke arah Lian yin, ia masih memegang ponselnya. Dan belum menatapnya.
"Kenapa.kamu tanya soal itu?" tanya Lian yin, yang nampak tidak suka jika terus tanya sola Lay.
"Kamu cemburu ya?" ucap yiwen menggoda, ia mencolek pipi Lian yin yang terlihat cemberut karena cemburu.
"Kamu sudah tahu tanya"ucap Lian yin kesal.
"Baiklah, baik"gumam Yiwen, ia tidak mau memperpanjang masalah lagi dengan Lian yin. Takutnya ia tambah ngambek nantinya.
Yiwen segera mencari nomor ponsel Luhan yang baru ia simpan tadi pagi.
"Kenapa belum di angkat juga oleh Luhan?" gumam Yiwen kesal.
"Kenapa syang?" tanya Lian yin, yang berbaring miring di ranjang, dengan menyangga kepalanya menatap ke arah Yiwen, yang sedang bingung dengan ponselnya.
"Belum di angkat juga syang sama Luhan, apa mungkin dia sibuk sekarang ya?" gumam yiwen.
"Bentar, yin di angkat nih"ucap Yiwen, mengangkat tangannya ke arah Lian yin, memberi kode padanya agar diam tidak menjawab ucapanya.
Yiwen beranjak agak menjauh dari Lian yin.
"Luhan, kenapa kamu lama angkat telefonnya. Apa kamu lagi sibuk sekarang. Kalau kamu memang sibuk aku akan tutup telefonnya sekarang. Dan maaf sudah ganggu kamu. Aku akan telefon kamu lagi kalau kamu sudah tidak sibuk lagi, selamat malam dan selamat menjalankan aktifitas."ucap Yiwen yang tak berhenti berbicara memberi kesempatan pada Luhan untuk memulai pembicaraannya duluan.
"Sudah belum bicaranya, aku belum jawab kamu nyerocos aja gak ada Hentinya. Biarkan aku bicara dulu. Baru kamu jawab pertanyaanku."Ucap Luhan.
"He.. he.. iya maaf. Habisnya kamu lama tadi, aku kira kamu sibuk. tak mau angkat telefon aku"ucap Yiwen.
"Ada hal pentingkah yang ingin kamu katakan"tanya Luhan.
__ADS_1
"Ada, soal orang yang mengejarku tadi. Di jalanan. Apa kamu tahu tentang mereka. Lagian setiap sudut jalan bukannya ada cctv apa kamu melihatnya gak?"ucap Yiwen.
"Oo.. aku tahu, soal mobil.yang mengikuti kamu ya, itu orang suruhan aku. Dan mereka sekarang sudah balik di sini. Kamu masih tetap sama jagi juga. Aku memang sengaja tidak menyuruh dia menembak. Tapi kamu yang menembak mereka duluan jadi mereka membalasnya. Mereka sudah bilang padaku semuanya."ucap Lian yin.
Yiwen mengusap dadanya , menarik napasnya lega. "Kenapa kamu gak bilang sebelumnya, kamu kan bisa hubungi aku atau Lian yin. Jadi aku gak salah paham dan menembak ke orang suruhan kamu. Kau kira tadinya itu musuh juga, jadi aku sama Lian yin meyerang mereka."ucap Yiwen.
"Karena aku baru dapat kabar jika ada seseorang yang mengincar kalian, jadi belum sempat memberi tahu kalian, aku sudah utus orang untuk mencari tahu keberadaan kalian dan mengikuti kalian. Tapi kamu salah paham duluan."ucap Luhan.
"Ya, kesalahan kamu tidak mengabariku, Oya mereka tidak terluka kan?" tanya Yiwen.
"Gak, mereka baik-baik saja. Hanya mobilku yang terluka parah."ucap Luhan.
Yiwen terdiam, ia merasa bersalah telah salah paham tadi dengan Luhan.
"Syang kamu masih lama?" tanya Lian yin, memeluk tubuh Yiwen dari belakang.
"Belum selesai bicara syang"ucap Yiwen, menutup telefonnya dengan tangannya. Agar Luhan tidak mendengar obrolannya dengan Lian yin.
"Boleh aku dengarkan sedikit ya, pembicaraan kalian"ucap Lian yin, yang hanya di jawab dengan senyuman Olehnya.
Yiwen melanjutkan pertanyaan Luhan tadi.
"Maaf ya gara-gara aku mobil kamu rusak, tapi aku curiga sejak ada yang perempuan yang mengikutiku tadi. Dia sekarang terluka di bagian tangan kanannya. Aku sudah kasih bekas luka yang tak mungkin bisa hilang. Jadi aku bisa tahu siapa dia nantinya"ucap Yiwen.
"Baiklah, kamu sekarang jaga diri. aku akan cari tahu tentang wanita itu secepat mungkin, agar kalian tetap aman nantinya. Dan jika butuh bantuan, jangan sungkan untuk telefon aku, atau kabari aku kirim pesan meminta bantuan. Aku akan seegra membantumu dan Lian yin."ucap Luhan, segera menutup telefonnya. Ia tahu jika Lian yin ada di samping Yiwen. Ia takut jika Lian yin cemburu dengannya jiak berbicara lebih lama dengan Yiwen. Karena Luhan tak mau mengganggu hubungan mereka lagi. Ia sudah benar-benar ikhlas jika Lian yin bersama dengan Yiwen cinta pertamanya.
"Yah sudah di matiin duluan, padahal belum selesai aku bicara dengannya," gerutu Yiwen, kesal.
Lian yin yang masih memeluk pinggang Yiwen, ia semakin mempererat pelukannya. Dan Menyandarkan dagunya di pundak Yiwen. "Sudah selesai syang?" tanya Lian yin tepat di telinga kiri Yiwen.
Yiwen meletakkan ponselnya di meja depannya. "Sudah syang, kamu jangan seperti ini, kalau kamu semakin mempererat pelukanmu. Lama-lama aku gak bisa napas nih"gumam Yiwen, mencoba melepaskan tangan Lian yin yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Syang peluk istri sendiri gak boleh, aku kangen nih, kangen bisa seperti ini. Kangen kamu yang dulu selalu diam dan membalas memegang tanganku saat aku peluk kamu seperti ini"gumam Lian yin.
Yiwen menoleh ke arah Lian yin, memegang ke dua pipi Lian yin, "Kamu jangan samakan aku dengan yang dulu, kalau aku sudah ingat semua. Mungkin aku juga tidak seperti ini"ucap Yiwen, tersenyum samar menatap Lian yin, ia berdiri menjijitkan kakinya. Agar bisa menyentuh pipi Lian yin yang lebih tinggi darinya.