
“Apa kalian benar akan balik ke utara sekarang?” tanya Chengyi pada Lian yin dan Yiwen yang sudah bersiap untuk pergi dari rumahnya.
“Iya, lain kali aku akan datang mengunjungi lagi. Sekarang aku masih banyak hal yang harus aku kerjakan bersma Lian yin. Banyak teka-teki yang belum terpecahkan siapa
sebenarnya aku. Dan masih banyak juga rahasia Lee yang harus aku ketahui.”ucap
Yiwen.
“Baiklah, aku kan dating ke rumah Lian yin jika ada waktu luang. Kita bisa saling silahturahmi lain waktu. Dan aku harap Lian yin tidak menolaknya.” Ucap Chengyi basa-basi pada Yiwen dan juga Lian yin.
“Pasti boleh, kamu boleh datang kapan saja kerumahku. Aku tidak akan melarangnya lagi.
Sekarang kita bisa bekerja sama seterusnya. Dalam bentuk pertahanan kita dalam
dunia mafia. Maupun dalam hal bisnis. Kita akan bicarakan lagi lain waktu. Rumah aku selalu terbuka untuk kamu.” ucap Lin yin, melirik ke arah Yiwen. Ia ingin melihat ekspresi wajah Yiwen saat berpisah dengan Chengyi dan pulang ke rumah Lian Yin lagi.
Merasa Yiwen terlihat biasa tanpa ekspresi sedih maupun menyesal yang terpapang di wajahnya, saat berpamitan dengan Luhan. Ia tak merasa khawatir lagi. “Gimana kita jadi
pulang gak?” tanya Yiwen menatap ke arah Lian yin.
“Kenapa buru-buru. Apa sudah malas ya lihat wajahku ini?” ucap Chengyi menatap ke arah
Yiwen di depannya.
Yiwen memukul lengan Chengyi, “Siapa bilang aku malas melihatmu. Udah aku sekarang balik dulu. Dan Yhing yin semoga dia tidak mngganggumu lagi. Aku berharap dia segera pergi jauh dari kota ini. Meskipun begitu kamu juga harus lebih hati-hati lagi. Dia pasti akan merencanakan hal buruk lainya.”ucap Yiwen, mencoba mengingatkan pada Chengyin yang sekarang sudah ia anggap jadi saudaranya.
“Pasti aku akan lebih hati-hati lagi sekarang. Dan kalian juga jangan bertengkar lagi.
Kalian harus hati-hati juga di jalan. Mungkin di kotaku kalian masih aman. Tapi kalau sudah keluar dari perbatasan kotaku ini. Aku tidak bisa jamin lagi keselamatan kalian. Aku harap kalian bias jaga diri sendiri.” Ucap Chengyi, meraih tangan Yiwen. Seperti pertama bertemu di rumahnya, ia mengecup tangan Yiwen sangat lembut. Sebelum yiwen pergi dengan Lian yin.
“Lepaskan tangannya” ucap kesal Lian yin, yang merasa cemburu dengan Luhan. Luhan tertawa kecil, menatap tajam kearah Luhan.
“Ha. Ha.ha. kamu jangan terlalu tegang gitu. Lagian kan aku hanya mengucapkan selamat
tinggal dengan yiwen.” Canda Chengyi.
“Terus kenapa kamu mengecup tangannya.” Tanya Lian yin meraih tangan Yiwen menariknya agar sembunyi di belakang punggung Lian Yin. “Bukannya gak boleh, kamu terlalu mencium tangan istri orang, jadi membuatku salah paham jadinya.”ucap Lian yin
“Sudahlah aku yakin jika hati Yiwen hanya untuk kamu,lagian hatinya dan perasaan yang
tidak bisa di lupakan hanyalah kamu. Meskipun dia hilang ingatan. Aku juga
sudah berusaha untuk mengingatkan Yiwen tentang perasaan lalunya denganku. Tapi
yang di ingat dalam hatinya hanya kamu suaminya sekarang.” Ucap Chengyi panjang
lebar, menjelaskan pada Lian yin agar tidak salah paham lagi.
“Iya, makasih juga sudah mau bekerja sama denganku, sekarang kita mau pergi ke
utara.” Ucap Lian yin berjalan masuk ke dalam mobilnya, yan memang sudah berada
di halaman depan. Dan emang sudah disiapkan oleh sopir Chengyi.
__ADS_1
“Bye…”ucap Yiwen melambaikan tangan ke arah Chengyi.
Chengyi hanya tersenyum menatap kepergian Yiwen dan suaminya. Kini suasana rumahnya Nampak sepi lagi. Tanpa Yiwen dan Yhing yin, wanita pencuri itu.
“Yin kenapa kamu tadi gak jujur saja pada Chengyi, jika kita tidak ingin terus merepotkan
dia. Dan mengambil alih kasus tentang Yhing yin sendiri tanpa melibatkan Chengyi,
lagi?” tanya Yiwen mendekatkan wajahnya ke arah Lian yin, dan hanya berjarak 3
telapak tangan.
Lian yin mendorong pelan dahi Yiwen, “aku gak mau melibatkan dia lagi, lagian kita dan
luhan juga korban. Aku hanya ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh Yhing yin
selanjutnya. Mungkin kita akan lebih aman jika menginap di hotel dekat dengan
perbatasan. Aku gak ingin Chengyi dan Yhing yin juga tahu. Lagian apa kamu mau
melibatkan Chengyi terus” ucap Lian yin. “Atau mungkin kamu mau dekat dengan
Yi, ya?” lanjut Lian yin, yang masih focus dengan jalan di depannya.
“Kenapa kamu mikir aku seperti itu, aku hanya menjalankan tugas kamu, membantumu
menyelesaiakan masalah kalian. Lagian aku sudah tidak mau ada urusan juga
dengan Yhing yin. Meskipun aku hilang ingatan terus tak masalah. Lagian ak masih
dengan Lian yin, lagian dia selalu membuat ia marah karena cemburunya yang
berlebihan.
Lian yin mengusap lembut rambut Yiwen, “Udah gitu saja ngambek, lagian tadi aku hanya bercanda syang. Kalau soal hubungan kamu dan Luhan aku percaya jika kamu tidak
ada perasaan lain dengannya.” ucap Lian yin tersenyum tipis mentap Yiwen yang masih mayun dengan tangan bersendekap.
“iya sudah,” ucap Yiwen jutek.
“kamu masih marah denganku syang, sudah aku hanya bercanda tadi. Kenapa kamu marah”gumam Lian yin.
“Siapa yang marah sih, aku gak marah denganmu. Sudah sekarang kamu focus dengan jalan di depanmu, jangan terus menatapku.” gumam Yiwen.
Sebenarnya ia sudah tidak marah, tapi ia diam ada suatu hal yang masih ia pikirkan. Ia
berpikir apa setelah semuanya selesai. Semua bias kembbali engan normal. Dan
dia bias hidup seperti orang-orang pada umumnya. Tanpa ada lagi musuh yang
terus mengganggu dirinya.
Apa aku harus pergi dari dunia mafia ini, aku merasa berat harus seperti ini, lagian aku tidak kenal dengan Chengyi, Lian yin dan semuanya. Bagi aku mereka sangat asing. Tapi apa setelah aku pergi akan
__ADS_1
mendapatkan ketenangan hidup,batin Yiwen.
Lian yin melirik sekilas ke arah Yiwen, ia melihat Yiwen yang terdiam dari tadi. Ia tahu
pasti ada beban pikiran yang mengganggunya saat ini. Tapi dia tidak mau cerita
dengan Lian Yin.
Lian yin mengusap ubun kepala Yiwen, “Apa yang ada dalam pikiran istriku ini?” Tanya Lan
yin lembut.
Yiwen menghela napasnya. “Gak ada pikiran apa-apa aku hanya memandang pemandangan di luar yang Nampak bagus.”ucap Yiwen mencoba mengelak pada Lian yin.
Yiwen menunjuk ke luar jendela kaca mobil, agar Lian yin tidak curiga padanya. “Oh..
Itu apa kamu mau makan itu?” tanya Lian yin.
“makan apa?”Tanya Yiwen bingung, Ia menatap ke depan ke tempat di mana ia menunjuk tadi.
“Bukannya tadi kamu nunjuk ke depan?”Tanya Lian yin.
"Oh.. iya aku lupa, iya aku mau makan itu. Sekalian kita belanja di mall sampingnya. Kamu mau gak? Lagian udah lama aku gak pernah masuk ke mall.” ucap Yiwen.
Lian yin menarik alisnya ke atas, “Dari mana kamu tahu, kalau kamu tidak pernah ke mall
sama sekali sejak kamu hilang ingatan.”ucap Lian yin curiga.
“kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu curiga padaku? Aku nebak aja, bukannya
beberapa hari kita sibuk, gak pernah ada waktu untuk pergi ke mall. Ya terakhir
jalan-jalan waktu kita di Italia. Tapi itu juga gak jalan-jalan ke mall, hanya liburan tanpa beli oleh-oleh lagi”jawab Yiwen, ia tidak mau menatap ke arah Lian yin. Karena takut jika Lian yin curiga padanya.
“Iya syang, lagian siapa juga yang curiga. Aku hanya tanya tadi. Kalau memang kamu mau
jalan-jalan ke mall, kita berhenti sekarang.”ucap Lian yin. Ia segera belok ke
kiri, menuju ke sebuah mall terkenal di barat.
“Udah sekaran cepat turun, aku mau ambil sesuat dulu.” ucap Lian yin.
Yiwen terdiam sejenak, ia bingung dengan apa yang di katakana Lian yin. Lagian juga aneh, apa yang mau di ambil di mobil. Yiwen saja tidak tahu tentang itu. Dan yang semakin
membuatnya curiga adalah tentang sifat Lian yin yang biasanya omantis jadi lebih agak tidak perduli. Biasanya setiap turun dari mobil ia selalu membukakan pintu mobilnya, atau setidaknya membuka sabuk pengamannya. Tapi kini Yiwen melakukan semua itu sendiri.
Meski merasa sangat aneh pada Lian yin, ia tidak perduli. Asalkan Lian yin masih tetap sama selalu menjaganya. Yiwen segera turun dari mobil, menunggu Lian yin di luar. Lagian entah apa yang di lakukan Lian yin di dalam mobil.
“Yin kamu masih lama?” tanya Yiwen, yang sudah tidak sabar lagi menunggu, sudah hampir 5 menit dia di dalam mobilnya. Dan belum juga keluar, membuat Yiwen semakin
kesal.
Yiwen menghentakkan kakinya, sesekali mentap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. “Yin kenapa kamu diam?” tanya Yiwen lagi.
__ADS_1
“Iya, ini, baru selesai sayang, kenapa kamu jadi gak sabaran gitu, apa kamu mau cepat
masuk ke mall?” tanya Lian yin, yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.