
Yiwen dan lian yin sibuk dengan kegiatannnya masing-masing.
"Syang nanti kalau kamy mau makan juga buat sendiri ya" ucap Yiwen.
"Kenapa tadi gak sekalian buatkan aku syang" ucap Lian yin tanpa menatap ke arah Yiwen
Yiwen duduk di sofa kamarnya, menatap televisi di depannya.
Kringgg....
"Syang ponsel kamu berbunyi!!" Teriak Yiwen yang sibuk makan mie instan yang baru saja ia buat.
Lian yin masih menatap ke laptopnya.
"Ada panggilan atau pesan syang?" Tanya Lian yin, yang masih tetap fokus dengan laptopnya. Sekarang Yiwen sudah lebih mengerti keadaan, pekerjaan yang Lian yin lakukan. Jadi ia tidak perlu khawatir dan curiga lagi padanya. Ponselnya saja ia yang bawa, jadi lebih aman. Tanpa harus berdebat dengannya setiap hari.
"Bukan syang!! Ini sepertinya peringatan" ucap Yiwen lirih, memincingkan matanya menatap layar ponsel Lian yin yang masih menyala, terlihat sebuah alarm peringatan bahaya.
"Peringatan apa syang?" Tanya Lian yin semakin penasaran yapi tanganmya teak berhenti mengotak atik laptopnya.
Yiwen menatap sejenak layar ponsel Lian yin, sebuah peringatan. "Bahaya!!" Ucap Yiwen lirih dengan mulut masih setengah menganga terkejut.
Lian yin yang mendnegar itu, ia sontak terkejut, dan segera mematikan laptopnya, ia meletakkan di ranjang dan beranjak mendekati Yiwen. Dengan langkah terburu-buru.
"Peringatan bahaya, katamu?" Tanya Lian yin memastikan, yang langsung meraih ponselnya. Ia melihat layar ponselnya.
"Ini Lay!!" Gumam Lian yin melebarkan matanya. "Apa yang sebenarnya terjadi" lanjutnya Lirih. Tanpa banyak bicara lagi Lian yin segeta bertindak menyiapkan semuanya dan segera pergi.
"Yiwen kamu letakkan makanan kamu!!" Ucap Lian yin terburu-buru mencari entah apa yang ia cari. Yiwen hanya menatap Lian yin bingung.
"Apa kita harus pergi sekarang?" Tanya Yiwen yang terlihat bingung dengan situasi yang ada sekarang.
Lian yin hanya diam, ia bergegas mengambil dua jaket yang menggelantung di gantungan samping ranjang Yiwen. Lalu melemparkan salah satu pada Yiwen. Dengan cepat tangan Yowen menangkapnya, namun ia masih tetap bibgung dengan apa yang terjadi. "Cepat pakailah!! Kita harus pergi sekarang!" Ucap Lian yin tergesa-gesa.
"Sebenarnya apa yang terjadi!!" Tanya Yiwen, mencoba bertanya lagi pada Lian yin.
"Sudah siapkan senjata kamu!! Nanti kamu juga akan tahu apa yang terjadi. Kita harus cepat sampai di alamat yang tertera tadi" ucap Lian yin, meraih tangan Yiwen, yang belum sempat memakai jaketnya. Ia bergegeas keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil sport hitam yang sudah terparkir di depan.
"Cepat pakai seatbelt mu!!" Ucap Lian yin, yang biasanya selalu memakaikan seatbelt untuk Yiwen kini ia terburu-buru dan menyuruh Yiwen memakainya sendiri.
Yiwen tidak perduli itu, ia tahu sepertinya situasi dalah bahaya. Ia hanya diam dan mengikuti apa kata Lian yin, yang sudah terlihat sangat panik.
Lian yin melanju dengan kecepatan tinggi, keluar dari halaman rumah Yiwen, ia terbueu-buru tanpa menatap ke arah Yiwen sama sekali. Suasanya yang hening tanpa suara dari ke dua mulut mereka memnuat Yiwen merasa hampar. Lian Yin Menuju sebuah hotel yang lumayan memakan waktu sepuluh menit jika dia menggunakan kecepatan di atas rata-rata.
Yiwen yang merasa bosan ia memutuskan untuk bertanya pada Lian yin, agar tidak membuat suasana terlihat sangta serius.
"Syang!! Apa Changmin sudah tahu peringatan bahaya tadi?" Tanya Yiwen, yang dari tadi Changmin terus menghubungi Lian yin, dan dia masih berada di rumah bersama dengan Grace.
__ADS_1
Lian yin masih fokus mengemudi mobilnya.
"Pastinya dia juga tahu!!" Ucap Lian yin. "Sekarang kamu rakit semua senjara yang aku bawa di mobil, kita harus bertindak cepat. Sepertinya di sana tidak hanya satu orang tapi puluhan dan Lay gak mungkin melawannya sendiri." Ucap Lian yin dengan wajah seriusnya.
"Tapi kenapa Lay berada di hotel itu? Dia bertemu dengan siapa? Dan kenapa juga dia sendiri ke sana kalau tahu di sana itu ada hal yang mencurigakan" Tanya Yiwen yang tak berhentinya curiga dan selalu ingin tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Lyli!!" Ucap Lian yin. Tanpa menatap ke arah Yiwen, ia masih fokus mengemudi mobilnya .
"Lyli kenapa kamu tahu? Apa kamu juga tahu sebenarnya Lyli ada di sini? Dan dia tinggal di hotel itu?" Tanya Yiwen beruntun, terkejut dengan apa yang Lian yin katakan tadi.
"Ini bukan saatnya untuk curiga, kita harus selesaikan dulu. Setelah itu aku akan ceritakan semuanya. Jangan khawatir aku tidak pernah bertemu dengannya" Lian yin, menggerakkan kepalanya melirik ke arah Yiwen dengan senyum tipisnya, dan mengusap lembut rambut Yiwen beberapa detik.
"Baiklah, aku harap kamu tidak bohong padaku!!" Ucap Yiwen, dengan jemari tangan yang sudah lihai merakit senjata. Mereka membawa berbagai senjata dengan beberapa type. Dan Yiwen sudah memasukan beberapa senjata dan peluru di dalam jaketnya.
"Aku sudah siapkan semuanya!!" Ucap Yiwen.
Di balik rumah Lian yin, sebelumnya Changmin juga mendapatkan peringatan yang sama, ia menghentikan perakitannya. Dan beranjak berdiri dengan mata melebar terkejut saat melihat layar ponselnya.
"Peringatan bahaya!!" Gumam Changmin, menatap ponselnya.
Grace yang semula sibuk, ia menatap ke adah Changmin.
Changmin hanya diam, ia bergegas mengambil jaketnya di atas sofa dan beranjak pergi. Belum sempat membuka pintunya, Changmin menoleh ke belakang melihat Grace yang masih menatap bingung ke arahnya. Ia tersenyum tipis menatap wajah Grace yang terlihat khawatir dengannya.
"Grace kamu di sini dulu ya, mungkin aku akan pergi lama. Jika kamu lapar ada stok makanan di dalam kulkas dan ada beberapa minuman juga. Dan jangan lupa minum obat kamu. Aku pergi dulu mau nyusul Lay yang sedang dalam bahaya sekarang!!" Ucap Changmin tergesa\-gesa.
"Baiklah, hati\-hati" ucap Grace dengan nada lembutnya membuat Changmin tersipu malu. Ia segera keluar dari kamar Lian yin dan bergegas menuruni anak tangga.
Mei yang baru saja keluar dari kamarnya ia melihat Changmin berjalan dengan langkah tergesa\-gesa membuat Mei curiga.
"Kamu mau kemana?" Teriak Mei, membuat langkah Changmin terhenti. Dan menatap ke arah sumber suara.
"Mei!!" Gumam Changmin.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" Tanya Mei, mengulangi pertanyaannya tadi dan berjalan dengan langkah ringan menghampiri Changmin.
Changmin menatap Mei tanpa ekspreai di wajahnya.
"Aku mau pergi! Kamu di sini saja dulu" ucap Changmin yang merasa tidak terlalu suka kali ini bertemu dengan Mei, entah kenapa hatinya merasa beda. Dia terlalu bertanya hal yang tidak terlalu penting di saat genting seperti ini.
"Gak mau aku ikut dengan kamu" ucap Mei, memegang tangan kanan Changmin.
Changmin menarik napasnya panjang, dan mengembusakannya. Ingin sekali ia marah tapi ia juga tidak mau melukai hati Mei.
"Aku buru\-buru kamu di sini saja" ucap Changmin, mencoba melepaskan tangan Mei.
Mei mengerutkan bibirnya, ia menghentakkan kakinya berkali\-kali dengan perasaan kesla yang semakin menjadi. Membuag Changmin semakin tidak suka dengannya. Ia menghambat dirinya untuk membantu teman saat dalam masalah. "Kamu sekarang beda sejak ada Grace, kenapa kamu selalu menjauh dan tidak pernah menuruti kata aku lagi. Sekarang kamu juga sering membantahku" ucap Mei, meluapkan perasaannya yang ia pendam selama ini.
"Sekarang bukan saatnya berdebat, aku gak mau berdebat denganmu. Aku harus segera pergi sekarang." Ucap Changmin, terburu\-buru menepis kasar tangan Mei, hingga gadis itu terjatuh ke lantai. Changmin yang sadar ia menileh ke belakang, menatap sejenak dan beranjak pergi dengan langkah terburu\-buru tanpa perdulikan Mei lagi.
"Changmin kalau kamu ninggalin aku sendiri, aku akan pergi dari sini. Dan aku mau hubungan kita berakhir" teriak Mei dengan ke dua tangan memegang kakinya yang terkilir.
Changmin menarik napasnya panjang. Jika dia pergi dari sini sama saja membuatnya nanti membocorkan semua yang ada di dalam rumah ini pada orang lain, aku gak akan biarkan itu terjadi, pikirnya.
"Kalau kamu mau ikut, cepat aku tunggu kamu di mobil. Aku hitung sampai sepuluh kamu sudah harus di dalam mobilku. Aku gak punya waktu lama lagi, teman aku dalam bahaya" ucap Changmin tanpa menoleh ke belakang.
Mei yang semula sedih, ia tersenyum tipis dan beranjak berdiri berjalan mengikuti Changmin meskipun ia harus kesulitan, kaki kananya terkilir membuat dia susah untuk jalan cepat.
Mei segera masuk ke dalam mobil Changmin, ia melirik sejenak ke arah Changmin yang hanya diam tidak seperti biasanya yang selalu ceria bercanda dan saling bergurai dengannya. Tapi kini Changmin hanya diam seribu bahasa tak ada suara keculpun keluar dari mulutnya. Ia bahkan tidak perdulikan Mei pakai seatbelt atau tidak.
__ADS_1
Mei merasa tidak di hiraukan, i hanya diam. Dan tetap menemani Changmin di manapun ia pergi.