Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Episode 282


__ADS_3

Jarum jam menunjukan pukul 11 malam. Yiwen masih belum memejamkan matanya, ia masih berbaring di ranjangnya, menatap atap langit, entah kenapa, perasaannya terasa sangat cemas. Tak seperti biasanya, hari ini benar-benar menegangkan baginya. Tapi bukan masalah Jack tadi yang membuat ia cemas, bahkan ia tidak tahu kenapa hatinya merasa cemas, dan mulai memikirkan Lian yin. Terbesit dalam pikirannya untuk menghubungi suaminya itu.


 


 


"Lian yin, kamu di mana sekarang? Aku sudah kirim kamu pesan, jika aku sudah sampai, kenapa kamu masih belum membalasnya. Apa kamu sibuk?" gumam Yiwen dalam hatinya.


 


 


Ia segera meraih ponselnya, tepat di meja sampingnya. Menyalakan ponselnya berharap ada balasan dari Lian yin. Namun, bukan balasan chat yang ia terima dari Lian yin. Tetapi chat dari Grace, yang ingin memberi kabar padanya.


 


 


Yiwen segera membuka pesan dari Grace. "Yiwen, hari ini Changmin sudah tahu jika aku akan menikah. Dan aku harap bulan depan kamu bisa datang ke pernikahanku," pesan Grace.


 


 


Yiwen tersenyum, ia ikut bahagia dengan kabar itu, dan pada akhirnya, cinta pertamanya itu sekarang sudah menemukan cinta terkahirnya "Semoga kalian bahagia!!" gumam Yiwen. Terbanyang dalam ingatanya, yang mulai memutar kembali kisah bersama dengan Luhan.


 


 


"Yiwen!! Kamu belum tidur?" tanya Amerta, dia juga belum bisa tidur. Entah kenapa matanya juga tak bisa tenang memikirkan kakaknya sekarang. Ia takut jika kakaknya akan mendapatkan perlakuan buruk lagi dari Jack.


 


 


"Belum, kenapa kamu belum juga tidur?" tanya Yiwen, tanpa menatap ke arah Amerta. Mereka berdua memandang ke atap langit.


 


 


"Aku mikirin kakak aku. Dan kamu juga, kenapa belum tidur, Yiwen?" tanya Amerta.


 


 


"Emm... Sekarang aku tahu, pasti kamu memikirkan suami kamu, kan?" goda Amerta, membalikkan badannya, miring ke kiri, menatap Yiwen di sampingnya.


 


 


"Oya, jika kita belum tidur. Gimana kalau kamu ikut aku!!" ucap Amerta.


 


 


Yiwen yang dari tadi hanya diam, ia menayap ke arah Amerta. "Kemana?" tanya Yiwen.


 


 


"Aku ingin menemui kakak aku. Aku ingin melihat kondisi dia. Apalagi tadi dia pasti dapat perlakukan buruk dari, Jack." Amerta mengerutkan wajahnya, menatap ke bawah, seakan sangat terpukul dengan semua yang terjadi. Tetapi di balik keceriannya yang selalu terlihat tegar, dia menyimpan segudang masalah yang tidak di ketahui siapapun.


 


 


"Baiklah!! Tapi apa mereka malam ini tidak berduaan?"


 


 


Amerta melirik jam tangan di meja sampingnya, sudah menunjukan jam setengah dua belas malam.


 


 


"Oya, tadi kamu bicara apa dengannya?" tanya Amerta, ia yang teringat pembicaraan Yiwen tadi bersama Jack di kamarnya. Ia belum sempat bertanya pada Yiwen.


 


 


"Tidak bicara apapun, tapi merasa aneh kenapa dia membawa aku ke tempat koleksi lukisannya. Yang bikin aku bingung, ada lukisan yang aneh, tentang pembunuhan. Tapi siapa dalam lukisan itu," gunan Yiwen.


 


 


Amerta sontak menarik tubuhnya, untuk bangkit, duduk bersandar di ranjangnya. "Lukisan pembunuhan!!" Amerta mencoba memutar otaknya, mengingat tentang kukisan yang sangat familiiar di pendengarannya itu.


 


 


"Apa kamu tahu?" tanya Yiwen, beranjak duduk di samping Amerta.


 


 


"Bentar, apa kamu tahu lukisannya seperti apa?" tanya Amerta semakin penasaran.


 


 


"Tahu, lukisan itu tentang pembunuhan, sepertinya satu keluarga. Dan tapi di sisi lain, ada gambar juga yang menunjukan suasana di sana, lalu banyak sekali orang yang berlumuran darah,"


 


 


Amerta teringat apa likisan itu. Ia langsung melebarkan matanya, menatap wajah Yiwen


"Ssssttttt... Jangan bicara keras tentang itu. Aku akan ceritakan sesuatu tentang itu," Amerta meletakkan telunnuka jaririnya di bibir, dengan mata memutar menatap sekelilingnya was-was.


 


 


"Memangnya ada apa dengan lukisan itu?" tanya Yiwen penasaran.


 


 


"Pelankan suaramu, jika kamu ingin selamat. Sekarang kita sembunyikan tubuh kita di balik selimut, aku ingin bicara, tapi jangan keras-keras"


 


 


Amerta segera menutup tubuhnya dengan selimut tebal, yang kini membungkus tubuhnya. Yiwen masih diam, menatap aneh pada Amerta.


 


 


Sepertinya ini masalah serius. Pasti dia tahu sesuatu.


 


 


"Yiwen, cepat!!" Amerta menarik tangan Yiwen. "Ini masalah serius, jadi kamu harus lebih hati-hati. Kau ingat dulu orang tua Jack di kenal sangat kejam. Dan tidak ada yang berani melawannya. Dan sekarang hanya satu orang yang bisa melawannya, pembalasan dendam orang tua yang pernah di bunuh dia, aku yakin jika itu orang tua Lian yin." jelas Amerta.


 


 

__ADS_1


"Gimana kamu bisa yakin?" tanya Yiwen semakin bingung.


 


 


"Oeang yang membunuh orang tua Lian yin adalah ayah Grace!!"


 


 


"Iya, tapi apa kamu tahu siapa pembunuh sebenarnya. Orang tua Grace hanya menciba membunuh, tapi mereka tidam tahu apakah orang itu sudah meninggal atau belum. Dan semua tugas itu di selesaikan sempurna oleh ayah Jack. Dan yang paling mengerikan. Dialah yang membunuh semua yang terlibat dalam dunia IT nimor satu di dunia."


 


 


Seketika Yiwen tercengang. Ayahnya belum pernah cerita tentang itu padanya. Te4besit dalam pikirannya untuk meminta lukisan itu, bukanya Jack pernah ingin memberinya, untuk menaruh lukisan itu di kamarnya, ia ingin menunjukan pada semuanya.


 


 


"Dari mana kamu tahu tentang itu? Dan apa ayah kamu juga terlibat? Atau kamu hanya ingin menebarkan sesautu kebencian padaku?"


 


 


"Kenapa aku melakukan itu, aku tidak sengaja ayah aku pernah bicara tentang itu. Dan sebenarnya masih banyak lagi yang aku dengar, tapi aku gak mungkin cerita sekarang. Lebih baik kamu cari tahu sendiri kebenarannya." ucap Amerta, membuka selimutnya, beranjak berdiri.


 


 


"Kamu mau kemana?" tanya Yiwen.


 


 


"Bertemu kakak aku, aku ingin tanya keadaannya!!"


 


 


"Aku ikut!"


 


 


"Baiklah, cepat!!"


 


 


Yiwen membuka selimutnya, dan beranjak bangun dari ranjangnya. Mereka berjalan keluar, dengan pandangan was-was. Agar tidak ada yang curiga saat dia masuk ke kamar Jack.


 


 


-------


Jack Pov


 


 


Jack dan Mei, yang sudah selesai bermalam, bermanja berdua, Jack memeluk tubuh Mei, sangat erat, di balik dengan selimut tebal miliknya.


"Makasih!!" ucap Jack, mengigit telinga belakangnya.


 


 


 


 


"Kamu telah menemani setiap malam aku. Dan aku akan percepat pernikahan kita."


 


 


Mei hanya diam, meratapi semua yang terjadi, dan. Tes.. Buliran air mata keluar dari mata indahnya.


 


 


"Kamu kenapa?" tanya Jack memegang dagu Mei, menariknya menatap ke arahnya.


 


 


Tok... Tok.. Tok..


"Kak Mei, apa kamu di dalam?" tanya Amerta, terus mengetuk pintu kakaknya.


 


 


"Sepertinya Amerta mencarimu" ucap Jack, melepaskan oelukannya, dan beranjak nerdiri, melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


 


 


Mei tak perdulikan Jack, ia beranjak dari ranjangnya, dan segera memakai bajunya,lalu membuka pintu kamarnya. "Ada apa?" tanya Mei, mencoba untuk bicara datar.


 


 


Amerta mengamati setiap wajah Mei, pandangannya tertuju pada mata dan pipi kakaknya. "Kak kamu pasti habis nangis, ya? Terus pipi kamu kenapa? Apa dia menampar kakak?" Amerta yang panik memegang pipi Mei.


 


 


"Aww--"


 


 


"Udah lebih baik kamu pergi dari ini. Jangan di sini lagi," ucap Mei, menatap ke belakang, ia takut jika Jack tiba-tiba datang di belakangnya.


 


 


"Kak, jujurlah!!"


 


 


"Aku bilang pergi!!" ucap Mei dengan nada semakin meninggi.


 


 


"Ada apa?" Jack yang baru keluar dari kamar mandi, hanya meneganakan handuk yang menutupi dari oinggang sampai kututnya.


 

__ADS_1


 


"Jangan bicara keras di sini, jika kalian mau bicara pergi," ucap Jack, melangkahkan perlahan kakinya menuju ke pintu.


 


 


Mei menatap sejenak ke arah Jack, lalu menarik tangan adiknya, menjauh darinya.


 


 


Yiwen yang berdiri di depan pintu, hanya diam. Ia tak bisa mengikuti Mei dan adiknya bicara berdua. Karena itu masalah dan urusannya, ia tak berhak untuk ikut campur.


 


 


"Kamu mau kemana?" Jack memegang tangan Yiwen, menariknya masuk ke dalam kamar Mei, melemparnya ke tembok.


 


 


"Jangan pergi!! Kenapa kamu gak temani aku dulu," ucap Jack, memegang pipi Yiwen, seketika di tepis olehnya.


 


 


"Jangan berani menyentuhku!!" ucap Yiwen pelan, dengan pandangan mata menajam.


 


 


Jack, memegang dagi Yiwen, mendekatkan birbirnya, lalu berbisik pelan.


"Oppss. Maaf!! tadi gak senagaja. Tapi ingat, jika sudah masuk dalam rumah ini, tak akan bisa pergi dariku, dan kamu juga harus menyerahkan segalanya?" Sebuah kecupan tiba-tiba mendarat di pipi Yiwen.


 


 


Plaaakkkkk...


 


 


"Jangan pernah kurang ajar denganku!!" ucap Yiwen, menunjuk ke wajah Jack.


 


 


Jack memegang pipinya, menarik bibirnya tipis. Dan menarik bibirnya sinis, senyuman yang menyimpan berjuta kelicikan dalam otaknya.


 


 


"Kamu berani mrlawanku," ucap Jack, mendekatkan tubuhnya, menempelkan tubuhnya pada Yiwen, dengan ke dua tangan mencengkeram erat tangan Yiwen, ia mengecup lembut bibir Yiwen, dan langsung di balas gigitan, membuat darah segar keluar dari bibir Jack .


 


 


"Jangan pernah kurang ajar dengan ku," Yiwen mencoba melepaskan cengkraman tangan Jack yang begitu kuat.


 


 


"Bella!!" panggil Amerta, membuat Jack langsung melepaskan tangan Yiwen, "Teman kamu memwnggilmu!! Kamu sekarang bisa lolos, tapi jangan harap selanjutnya kamu bisa lolos lagi." ucap Jack, menarik kasar tangan Yiwen, keluar dari Mei.


 


 


Mei yang sudah berdiri di depan pintu, ia terdiam menatap apa yang sudah ia lihat. hatinya benar-benar hancur. Namun bagaimanapun Jack setiap hari selalu menghancurkan hatiku. Memang sudah biasa seperti itu.


 


 


"Bella! Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Amerta.


 


 


"Udah sakarang kita masuk ke dalam kamar lagi," Amerta memegang tangan Yiwen, berjalan meninggalkan Mei dan


 


 


Jack, yang masih terus menatapnya


"Bella !! Lain waktu aku akan membuat kamu merasakan gimana permainanku. Aku ingin tahu gimana kamu akan bertekuk lutut padaku!!" Gumam Jack, yang yak hentinya menatap Yiwen.


 


 


Mei yang sudah sangat kesal, ia menghentakkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.


 


 


"Braakkk..."


 


 


"Kamu kembalilah ke kamar, aku gak mau melihat kamu sekarang," ucap Mei, di balik pintu.


 


 


"Baiklah!!" ucap Jack.


 


 


Jack yang begitu penasaran dengan Yiwen sebagai nama samaran. Ia menatap kamar Yiwen.


 


 


"Ada apa, Tuan,"


 


 


"Awasi kamar itu, jika ada hal mencurigakan cepat beri tahu padaku. Dan jika Amerta keluar dari kamarnya. Kamu cepat beri tahu aku juga." ucap Jack, melirik tajam ke arah kamar Yiwen dan Amerta, dengan pikiran penuh rencana licik.


 


 


"Baik!! Tuan!" ucap para pengawal, yang mulai berjaga di luar, dan ada yang mengintai kamar mereka dari jauh.


 


 


"Jika kamu berani berbohong padanya, aku akan memasak kamu melayaniku, Bella," gumam Jack. "Pasti akan lebih menyenangkan lagi. Biar aku tahu, apa status kamu," Jack dengan senyum semringai kelicikan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2