
Mei terkejut saat mendengar Lay tidak ada di sini. Mei takut jika yang di khawatirkan itu terjadi, penembak jitu yang di sewa menggunakan senjata yang sama dengannya dulu sebelum masuk dalam dunia mafia. Tapi Mei belum memastikan itu benar atau tidak, ia harus bertemu dengan yiwen dulu untuk bertanya, dia pasti tahu semuanya.
"Apa Lay di mana sekarang?" tanya Mei, yang langsung mengambil buktinya, lalu bangkit dari duduknya dengan segera.
"Tunggu! Kamu mau kemana?" tanya Changmin, dengan tangan memegang lengan Mei, agar dia tidak pergi jauh darinya.
"Lay gak ada di sini, dia pergi dari tadi, masih ada yang ingin ia cari. " ucap Changmin.
Mei menoleh, mengerutkan keningnya seketika. "Apa katamu, kenapa kamu gak mengikuti dia, dia teman kamu tapi kamu biarkan dia keluar sendirian" ucap Mei yang terkejut, gimana bisa tadi Lay memutuskan untuk keluar sendiri. Meski sekarang keadaan belum sepenuhnya stabil. Entah apa bisa dia menyelesaikan semuanya sendiri. Ada hal bahaya yangvpasti akan mengincarnya.
"Kenapa jadi kamu yang snagat peduli dengannya. Kamu suka dengannya?" tanya Changmin dengan nada tinggi.
"Apa maksud kamu? Kamu bilang aku suka dengannya. Bukannya kamu tahu gimana perasaan aku sebenarnya. Kamu tahu apa perasaanku padamu. Tapi kenapa kamu menuduhku suka dengannya. Harusnya kamu itu sadar diri, dia teman kamu yang biasa selalu nolongin kamu, selalu bekerja sama dengan kita. Gimana bisa dia pergi sendiri tanpa kita. " ucap Mei yang terlihat sudah mulai kesal, ia berbicara dengan nada tingginya.
Changmin menunduk sejenak, ia sadar memang benar apa yang di katakan Mei, "Maaf bukan maksud aku nuduh kamu." ucap Changmin menundukkan kepalanya menyesal. "Tadi dia bilang suruh aku tetap di sini, melihat gimana kelanjutan pemeriksaan di kantor" lanjut Changmin lirih, ia serba salah sekarang. Membuatnya jadi bingung apa yang harus di lakukan saat seperti ini.
"Kamu kejarlah dia, aku di sini saja akan memeriksa gimana kelanjutan pemeriksaan oleh petugas keamanan. Jangan khawatir lagi tentang itu. Dia teman kamu, kalau kenapa-napa kamu pasti akan terluka juga. Kamu lebih baik sekarang pergi dan bantu dia" ucap Mei, memegang ke dua bahu Changmin. Mencoba mengingatkan dia, Mei mencoba menyakinkan Changmin jika hatinya hanya untuk dirinya.
"Baiklah, apa kamu baik-baik saja di sini. Kamu bisa jaga diri sendiri kan?" tanya Changmin.
"Bisa, kamu pergilah sekarang" ucap Mei.
"Baik" Changmin, ia beranjak pergi mencari di mana Lay pergi. Mei ada benarnya juga kalau dia kenapa gak cuma dirinya yang khawatir, bahkan Lian yin juga akan sangat khawatir. Meski sekarang Lian yin gak ada di sini tapi dia pasti tahu semuanya apa yang terjadi.
Mei hanya tersenyum tipis menatap langkah Changmin yang sudah semakin menjauh, ia melihat tanda kupu-kupu tadi. Kali ini ia sadar siapa yang menyerang. Dia adalah agen Intelijen yang pernah dirinya dan Yiwen ikut. "Aku tahu sekarang, ternayata kamu yang melakukan semuanya. Kamu yang membuat kegaduhan semuanya. Aku gak nyangka kamu bekerja sama dengan negara Timur" ucap Mei, yang tersadar ada seseorang di belakangnya. Sebenarnya dari tadi ia sudah sadar ada orang yang bersembunyi di balik pintu. Tapi karena Mei tahu siapa dia, ia tidak mau cerita dengan Changmin jika dia tidak tahu sendiri siapa dia.
"Ternyata kamu tahu" ucap seorang lelaki yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.
"Aku tahu dari tadi, apa kamu juga yang ingin membunuhku tadi?" tanya Mei, perlahan membalikkan badanya, menatap ke belakang. Seorang lelaki yang sangat familiar di matanya itu, kini berdiri tepat di depannya.
"Aku gak suka kamu keluar dan sekarang kamu pindah ikut dengan dunia mafia. Jika kamu ikut dalam dunia mafia, maka aku juga akan ikut. Dan akan bermusuhan dengan kamu" ucap seorang lelaki di depannya. Ia tahu jika kakinya terasa sangat sakit, hingga tes. Sebuah darah segar menetes dk balik celananya. Yang penuh dengan warna merah darah.
Mei menatap ke bawah, ia sadar ada darah. langsung menutup matanya. "Duduklah dulu" ucap Mei, memegang tangan lelaki itu untuk duduk di sofa, ia menuntunya dengan mata tertutup. Karena Mei memang tidak suka melihat ada darah.
"Jadi kamu yang ingin menembak aku tadi?" tanya Mei memastikan
"Bukannya sudah aku bilang, bukannya kita sekarang adalah musuh. Dulu memang aku cinta dengan kamu. Tapi semenjak tahu kenyataan jika memang kamu tidak pernah cinta dengan ku. Maka cinta itu akan berubah jadi sebuah benci, dan kini jarak antara kita terpisah karena perbedaan. Kamu adalah musuhku, yang sama saja harus di akhiri" gumam lelaki itu, dengan senyum meringis menahan kesakitan kakinya.
"Aku akan langgil dokter sekarang, kamu harus cabut peluru itu segera" ucap Mei yang sudah terlihat panik. Gimana-pun dia adalah teman dulunya. Ia Tidak bisa jika membiarkan tamannya menahan sakit di depannya.
"Apa katamu dokter, kamu musuhku. Kenapa kamu memanggilkan aku dokter untuk nerawatku. Biarkan saja seperti ini. Sampai aku jatuh sakit" ucap lelaki itu dengan santainya.
__ADS_1
"Jeff sudah jangan banyak bicara lagi, kamu tunggu di sini. Aku yang akan obati kamu sendiri" ucap Mei yang langsung memgambil kotak obat yang ada di ruangan itu.
"Biar aku sendiri yang cabut pelurunya" ucap Jeff, memegang tangan Mei, mencegahnya untuk mengobatinya. Ia tahu jika Mei tidak bisa melihat darah.
"Baiklah" ucap Mei, yang mulai menutup matanya, membalikan kepalanya berlawanan arah. Ia tidak ingin melihat lukannya lebih lama lagi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Mei.
"Sudah selesai, bukalah mata kamu dan balik badan kamu" ucap Jeff.
"Apa kamu tahu di mana Yiwen sekarang?" tanya Jeff.
"Dia sama suaminya, emangnya kenapa kamu cari Yiwen. Jangan sampai kamu menyakiti teman aku. Jika sesuatu terjadi padanya aku gak akan memafkan kamu" ancam Mei. Wanita itu segera mengambil kotak obat, dan mulai mengobati luka kaki Jeff, tanoa membuka matanya. Setelah selesai ia membalut lukan Jeff dengan perban.
"Sekarang kamu cepat pergi dari sini, sebelum Changmin menemukanmu. Dan akan melukaimu lebih dari ini" ucap Mei, memalingkan pandangannya. Ia sebenarnya tidak terlalu suka dengan Jeff. Tapi melihatnya terluka ia tidak sanggup, karena dia-lah teman setianya dulu. Teman dari kecil yang selalu kemanapun berdua. pantas saja dia terluka karena ia memutuskan untuk pergi meninggalkan dia, Dan tinggal bersama dengan Changmin di rumah besar Lian yin.
"Aku sudah terluka lama, bahkan hati ini juga hancur berkeping tak tersisa. Sekarang aku tidak punya hati lagi. Hati aku penuh kemarahan dan dendam" ucap Jeff, berbisik lirih ke telinga kanan Mei.
"Kamu ikutlah denganku" ucap Jeff memegang lengan Mei, ia ingin nengajak Mei kembali padanya.
"Kamu mau ajak aku kemana?" tanya Mei, mencoba melepaskan cengkraman tangan Jeff yang semakin erat di lengannya. "Lepaskan aku Jeff!" ucap Mei menvoba meronta, namun cengkraman Jeff semakin kuat. Membuatnya tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ponsel Mei berbunyi, membuat Jeff yang semula ingin bertanya, harus menunda pertanyaannya.
" Hallo, Yiwen ada apa?" tanya Mei, yang
seolah tak terjadi apa-apa.
"Apa dia Yiwen?" tanya Jeff yang lengsung merebut ponselnya.
"Mei ini aku Lian yin, Yiwen sedang tidur. Aku hanya ingin tanya padamu" ucap Lian yin.
"Oo. ternyata ini Lian yin. Yang mengakibatkan dua nggota aku harus keluar dan masuk dalam duniamu." ucap Jeff drngan nada sinis tak terima.
"Siapa kamu?" tanya Lian yin yang langsung panik.
"Di mana Mei" tanya Lian yin dengan nada tingginya.
Jeff semakin mencengkram Mei sangat erat, hingga tenaga Mei untuk melepaskan tangannya terasa sangat lemah. Ia tidak bisa mencegah tangannya pergi.
"Yin jangan bilang Yiwen soal ini" terik Mai yang masih dalam cengkraman Jeff.
__ADS_1
"Jika kamu ingin tahu aku siapa datanglah kemari. Dan lihat sendiri aku siapa. Jangan hanya tanya lewat ponsel, kamu tidak akan pernah melihatku" ucap Jeff.
"Kembalikan ponselku" bentak Mei, mencoba meraih ponselnya. Ia menginjak kaki kanan Jeff, membuat ia meringis kesakitan.
"Sialan!" ucap Jeff.
Mei berhasil merebut kembali ponselnya, dan segera ia berbicara dengan Lian yin.
"Yin, tenang saja aku tidak apa-apa, di kantor kamu dalam kondisi stabil sekarang. Jangan perdulikan omongan dia, sekarang Changmin dan Lay sedang mencari dalang dari semuanya. Kamu tenang saja selesaikan apa yang ingin kamu selesaikan dulu" ucap Mei, dengan nada terburu-buru dan langsung mematikan ponselnya. Ia segera memasukan ponselnya di dalam saku jaket.
Jeff tertawa, melihat Mei yang berbohong pada Lian yin. "Kenapa kamu bohong dengannya?" tanya Jeff berjalan menghampiri Mei.
"Bukan urusan kamu" ucap Mei sinis.
MEI.. MEI..
Teriak Lay dan Changmin yang berlari mencari Mei.
"Kita akan berjumpa lagi nanti" ucap Jeff, yang langsung meloncat dari lantai dua.
"Jeff!" ucap Mei yang ingin mencegahnya agar tidak bertindak ceroboh.
"Dasar bodoh, kenapa kamu melompat. Kamu lagi sakit Jeff" ucap Mei, berjalan menuju ke balkon, mencari Jeff.
Dia sudah gak ada di bawah, cepat banget hilangnya. gumam Mei. ia tak menyangka di saat sakit tapu ia begitu cepat berlari pergi.
"Mei.." panggil Changmin berlari menghampiri kekasihnya itu. "Mei kamu gak apa-apa kan?" tanya Changmin, yang terlihat panik, ia memeriksa Mei dari depan memutar tubuhnha sampai melihat belakang punggungnya. Lalu memegang tangannya mencoba cek apanada yang terluka tangannya.
"Kamu kenapa," tanya Mei bingung.
"Aku tadi dapat kabar jika ada seseorang yang menyerang kamu di sini" ucap Changmin. "tapi untunglah kamu gak apa-apa. Aku sangat khawatir dengan keadaan kamu Mei" ucap Changmin, dengan napas masih ngos-ngosan.
"Syang aku gak apa-apa, kenapa kamu khawatir. Lagian dia sudah pergi kok. Dia tidak menyerangku. Dia hanya tanya padaku" ucap Mei, dengan senyum tipis menyungging di bibirnya.
"Apa yang di tanyakan dia?" saut Lay, berjalan masuk menghapiri Changmin dan Mei.
Mei terdiam seketika, ia bingung harus jawab gimana lagi. Apa dia harus bicara jujur atau gimana. Ia takut jika Jeff dalam bahaya nanti.
"Hanya tanya di mana dokumen itu, tapi aku bilang gak tahu. Terus kalian mencari aku, dia udah keburu kabur" gumam Mei, mencoba mencari alasan.
Changmin hanya diam menatap mata Mei yang terlihat berbohong. "Apa sebenarnya yang di sembunyikan dia, pasti ada yang tidak beres" batin Changmin.
__ADS_1
"Ya, sudah lain kali kamu harus hati-hati." ucap Lay membalikkan badanya dan beranjak pergi meninggalkan Mei dan Changmin.