
Lian yin kembali seperti semula, ia sudah lega bisa melihat Lay dekat dengan Lyli. Wajahnya yang semula redup, seperti gmtak ada tanda kehidupan. Berbuah drastis menjadi wajah yang penuh kebahagiaan dan harapan.
Tugasnya seakan sudah selesai, dia bisa mendekatkan mereka sudah kebahagiaan sendiri baginya. Lay begitu berarti bagi Lian yin, dia seperti saudaranya saat ini. Hanya dia dan Changmin yang ia anggap sebagai keleuarganya yang tersisa sekarang. Dan Yiwen sekarang adalah keluarga barunya, yang ia cinta dan syang. Bahkan sudah seperti belahan hidupnya, saat ini.
Dan Yiwen yang baru terbangun dari tidurnya, ia membuka matnya, melihat sekelilingnya yang terlihat sangat sepi. Di liriknya jam dinding, sudah menunjukan pukul tiga sore.
Ia terdiam tidak melihat Lian yin di sana. Pikirannya mulai berkecamuk dan berpikir yang tidak-tidak.
Yiwen segera bangkit daei ranjangnya, menarik selimutnya. Dan beranjak dari kamar kesayngannya itu. Yiwen memegang knop pintu, di bukanya perlahan. Ia mengeluarkan sebagian tubuhnya, melirik ke kanan dan ke kiri. Melihat siapa yang masuk. Ia takut jika ayahnya tiba-yiba muncul.
Dan ia merasa saat tidur tadi ada yang memegangnya, ada yang bicara dengannya.
Di mana Lian yin, apa dia belum juga selesai bicara dengan ayah, kenapa dia lama sekali, pikirnya.
Yiwen segera bernjak, an menurup kembali pintunya, menuju ke ruangan kerja ayahnya. Ia ingin memastikan apakah ayahnya dan Lian yin masih di dalam ruang kerja ayahnya atau sudah pergi tanpa mengajaknya tadi.
Krukkk...
"Perutkku kamu gak bisa di ajak kompromi. Aku lapar! Di mana Lian yin, kenapa dia tidak ingat aku, bahkan diabtidak tanya aku sudah makan belum," Yiwen terud menggerutu, dan langsung masuk dalam ruang kerja ayahnya.
"Semua sudah selesai, besok kita akan ciba yang lainnya. Jadi kamu jangannpergi kemana-mana jika tidak terlalu oenting. Waktu aku untuk mengajarkan kamu hanya sedikit. Kamu harus bisa menggunakan semuanya dalam kurun waktu singkat. Jangan menyerah, jika kamu gagal dalam membat, bangkit lagi dan buat lagi. Aku yakin kamu bisa" wo jian, berjalan kenghampiri Lian yin.
"Baiklah, makasih sudah memberiku ilmu yang berguna." Ucap Lian yin penuh ragu.
Wo jian tersenyum, menepuk-nepuk pundak Lian yin.
"Aku ingin kamu sebagai penerusku. Kalau pengetahuan ini tidak di kembangkan lrbih jauh lagi maka tidak ada gunanaya aku membuat ini"
"Tap---"
"Jangam menolaknya, selagi kamu belum mencoba jangan bilang kamu gak bisa" potong Wo jian cepat, menyela pembicaraan Lian yin.
Lian yin mrnunduk pasrah, bagaimanapun ia harus coba. Dan ini juga bermanfaat untuknya dan ke anak-anaknya kelak nanti. Agar mereka bisa mengembangkan lebih jauh lagi.
"Baiklah! Aku akan coba"
~
"Yin, kamu di mana?" Teriak yiwen, yang tiba-tiba langsung masuk ke ruang kerja ayahnya.
Mendengar suara Yiwen Lian yi. Dan Wo jian saling menatap.
"Sepertinya Yiwen datang, cepat pergilah" ucap Wo jian, pada Lian yin yang baru saja melakukan percobaan pertamanya, menggunakan alat tembus waktu. Bahkan mereka sudah melakukan dengan baik. Wo jian juga selalu memberi semangat menantunya itu untuk bisa mengembangkan penemuannya itu. Lian yi. Harapan satu-satunya Wo jian saat ini.
"Iya, saya ingin melanjutkan pembicaraan kita besok, apa ayah bisa bertemu dengan ku di sini?" Tanya Lian yin, penuh keraguan dalam hatinya. Mengungkapkan itu, membuat besar nyalinya.
__ADS_1
"Aku ingin kamu tahu apa perbedaan alat ini dengan penemuan baru aku besok. Meski dalam dunia mafia ini sangat awam, tapi jangan bocorkan ini pada semua orang. Jika alat ini bocor maka akan di salah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab." Ucap Wo jian, yang mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Di susul dengan Lian yin yang berjalan di belakangnya.
"Nah.. kalian di sini? Kalian dari mana? Kenapa tadi aku keliling ruangan ini gak ada batang hidung kalian" gumam Yiwen terus menggerutu gak jelas. Ia menguntupkan bibirnya, menahan amarah yang semakin membalar perlahan dalam tubuhnya.
Lian yin, melangkahkan kakinya mendekati Yiwen, memegang ke dua bahunya, menepuknya perlahan. "Bukannya tadi kamu yang biarkan aku datang sendiri, jadi sekarang jangan ngambek gitu" ucap Lian yin. "Kamu yang mengijinkan aku bicara sendiri dengan ayah kamu, tapi kamu malah marah-marah. Nanti gak cantik lagi kalau marah" goda Lian yin, mencubit hidung mancung Yiwen. Di balas dengan senyum manis menyungging di bibirnya, dan memegang tangan lian yin.
Yiwen memegang tangan Lian yin.
"Maaf, aku kira kalian tidak ada di sini , jadi sempat kepikiran aku akan marah" ucap Yiwen. Menggoyang-goyangkan tangan Lian yin.
Wo jian tersenyum, melihat kemesraan anaknya itu dengan suaminya.
"Kalian bicara saja berdua, ayah akan pergi" ucap Wo jian.
"Ayah mau kemana?" Tanya Yiwen, menatap ayah bingung, dia tidak pernah stay di rumah. Waktunya selalu di luar tidak pernah bercanda, dan berkumpul bersama dengan anaknya. Meski Yiwen ingin sekali berkumpul lagi dengan keluarga kecilnya sekarang, tapi itu hanya harapan saja, tidak bisa terlaksana.
Wo jian tersenyum,
"Ayah mau pergi, ada urusan mendadak" ucap Wo jian pada anaknya.
"Baiklah, ayah hati-hati" Yiwen, melepaskan pegangan tangan Lian yin. Melangkah mendekati ayahnya. Dan berbisik padanya.
"Apa ayah sudah melakukan apa yang Yiwen katakan kemarin?"
Wo jian tersenyum, menepuk pundak anaknya. "Tenang saja!" Ucapnya, yang langsung melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Yiwen. Mendengar itu Yiwen merasa sangat gembiri, tapi ia harus merahasiakan dari suaminya. Seperti apa yang ayahnya bilang. Entah kenapa ayahnya ingin membantunya diam-diam padahal dia mertuanya tapi dia selalu main rahasia, bahkan dengan anaknya juga selalu merahasiakan sesuatu.
"Yin!" Panggil Yiwen, meraih tangan Lian yin, dan mengayunkannya seperti anak kecil.
"Ada apa? Temben banget kamu manja begini?" Lian yin, memegang kepala Yiwen mengusapnya dengan lembut.
"Aku ingin bicara pada mu" ucap Yiwen penuh manja.
"Bicara apa?" Tanya Lian yin, badan agak sedikit menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Yiwen.
"Aku mau kamu temani aku tidur nanti" ucap Yiwen malu, biasanya memang dia tidak pernah minta Lian yin untuk menemaninya. Bahkan Lian yin sering di tolak jika berbaring di ranjang yang sama dengannya. Hanya saja, sejak kemarin Yiwen jadi manja dan sekarang ingin di temani tidur.
"Cium dulu" ucap Lian yin, dengan tangan menunjuk pipi kananya.
"Gak mau! Wekk..." goda Yiwen, melepaskan tangan Lian yin, mejulurkan lidahnya ke depan.
"Benar gak mau?" Tanya Lian yin memastikan. Menarik alisnya ke atas.
Yiwen tersenyum, terlintas di benaknya untuk menjahili Lian yin.
"Ya sudah, kamu tutup mata dulu"
__ADS_1
"Baiklah" Yiwen tersenyum tipis, melihat Lian yim yang sudah menutup matanya.
Dengan segera Yiwen mengambil boneka yang ada di ranjangnya. Lalu mengecupnya ke pipi kanan Lian yin.
"Yiwen! bibir kamu kok beda?" Lian yin membuka matanya. Seketika ia melebarkan matanya melihat Yiwen memegang boneka Awas ya!" Ancan Lian yin menggoda.
Sebuah senyum jahil terpapang di wajah cantik Yiwen. "Hehe.. maaf!" Ucapnya, beranjak pergi.
"Eh.. kamu mau kemana?" Lian yin meraih tangan Yiwen, mencegahnya pergi.
Yiwen hanya terdiam, dengan pandangan mata saling tertuju. Dalam percikan perasaan yang tak bisa di jelaskan lagi.
Lian yin, menarik tangan Yiwen. Hingga tubuhnya masuk dalam dekapan hangatnya. Jemari tangannya mengusap lembut wajah cantik Yiwen.
"Aku ingin melihat wajah kamu dari depan dengan jelas. Jangan menghindar dariku, jangan jauh-jauh dariku." Gumam Lian yin, dengan tangan memegang pinggang Yiwen, ia semakin mempererat dekapannya.
Yiwen mengerutkan keningnya, mencoba cek dahi Lian yin, pipi hingga lehernya
"Yin, kamu gak apa-apa?" lian yin menyipitkan matanya. "Memangnya aku kenapa?" Tanya Lian yin bingung.
"Tumben bicara seperti itu, aku kira kamu gak sehat" ejeknya.
Seketika, mata Lian yin melebar, mendengarkan ucapan Yiwen yang lama-lama semakin tajam bagai belati.
"Apa? Kamu bilang aku gak sehat? Emangnya aku gila?" Ucapnya dengan mata mengobar api kemarahan.
"Cup.. cup.. jangan marah baby besarku" gumam Yiwen, memegang ke dua pipi Lian yin, dengan telapak tangannya, lalu menekannya hingga bibir Lian yin membentuk kerucut.
Lian yin, memegang pinggang Yiwen, merengkuhnya dengan ke dua tangannya dan.
"Cuppps..." Sebuah kecupan tiba-tiba mendarat dengan tepat di bibir Yiwen membuatnya terdiam seketika, menatap mata Lian yin.
"Jangan banyak bicara lagi! Aku gak bisa mengontrol hatiku jika melihat wajah kamu yang menggemaskan ini" gumam Lian yin, dengan senyum merkah di bibirnya.
Yiwen menyentil kening Lian yin dengan jari tangannya. "Kamu ini ya, sekarang nakal. Mau goda aku lagi! Sekarang masih siang. Lebih baik kita pergi lagi. Cari makan di restaurant terdekat" Yiwen melingkarkan tangannya menaja di leher Lian yin.
"Mau makan apa syang aku yang cantik ini?" Lian yin, semakin menggoda Yiwen, menggoyangkan tubuhnya, mesra, sekana sedang berdansa berdua.
"Entahlah.. apa saja yang lenting perut terisi. Aku dari tadi belum makan syang! Lapar ini perut" Yiwen mengusap perutnya berkali-kali, menandakan ia sangat lapar, perutnya terus berbunyi tak terkontrol dari tadi.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang. Sekalian aku mau beri tahu kamu sesuatu, sebelum nanti kamu tahu sendiri dan salah paham denganku. Aku gak mau kalau kamu terus marah-marah gak jelas" Gumam Lian yin, melepaskan dekapannya, merengkuh pundak Yiwen dan menuntunya untuk segera jalan.
Yiwen menggerakkan kepalanya, melirik Lian yin.
"Emang apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" Tanya Yiwen, yang sudah mulai curiga padanya.
__ADS_1
"Banyak banget, kita bicara di mobil saja ya" ucap Lian yin, yang sudah mulai melangkahkan kakinya masuk dalam ruangan. Mereka keluar, dari rumah dan masuk dalam mobil yang sudah terparkir di depan rumah Yiwen.