
“Sekarang kamu cepat pergi dari sini, aku gak mau melihat
wajah kamu lagi” ucap Grace tegas, mendorong tubuh Jack menjauh darinya.
“Aku bukan pria bodoh, yang bisa kamu bohongi dan kamu tipu
dengan todongan senjata kamu” ucap Jack, ia mengeluarkan senjata dari balik jas
hitam yang membalut tubuhnya.
“Kau mau menembakku, silahkan. Jika kamu berani berurusan
dengan aku” ucap Grace, tanpa rasa takut dalam dirinya.
“Aku gak pernah takut berurusan dengan siapapun, akau juga
akan melawan kamu. Melawan yang sepatutnya aku lawan. Musuh yang selalu menghalangi
rencana aku, siapapun itu. Bukannya itu prinsip kamu juga ya?” ucap Jack,
berjalan mendekati Grace, yang sudah semakin lemas. “Aku tahu jika tubuh kamu
sudah lemas, jadi jangan paksakan diri kamu lagi, untuk melawan aku. Kamu tidak
akan bisa, Grace.” Prianitu tersenyum picik melihat, Grace yang semakin
lunglai, tubuhnya tak bisa berdiri tegap, hingga dia hampir saja jatuh. Namun,
seseorang di belakang manyangga tubuhnya.
Grace menoleh ke samping. Melihat wajah Lyli di sampingnya,
membuat ia tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
“Lyli, gimana kamu bisa keluar dari dalam?’ ucap grace
terkejut melihat Lyli bisa keluar dari kamar Lian yin.
“Sekarang jangan pikirkan itu, mana mungkin aku biarkan
sahabt aku melawan bahaya sendiri. Dengan tubuh kamu yang terlihat lemas. Aku
gak bisa biarkan ini terjadi. Aku gak mau kamu terluka ke dua kalinya... Kamu
juga telah menyelamatkan Lian yin. Dan sekarang kamu menyelamatkan ku. Sekarang
aku akan bantu kamu” ucap Lyli, di balas dengan senyum tipis dari Grace.
Lyli kembali menatap ke depan. Melihat Jack di depannya,
yang masih menodongkan senjata ke arah mereka.
“Grace, memang sudah tidak bisa, tapi aku masih sehat, apa
kamu tidak mau melawan aku juga” ucap Lyli, menodongkan senjata ke arah Jack di
depannya.
“Satu wanita lagi, gak ada gunanya kalian melawan. Dan aku
akan menyerah, tenang saja. Jika aku melawan wanita lemah seperti kalian. Sama
saja aku mempermalukan diri kau sendiri. Sekarang lebih baik kalian pergi dari
sini. Dan ikutlah dengan aku.” Lanjut Grace, memasukkan kembali senjatanya, dan
berjalan mendekati Lyli dan Grace
Grace, mencoba berdiri tegap, mengangkat tangangannya
perlahan ke depan.
“Jangan mendekat, jika kamu berani mendekatiku. Maka aku
tidak segak menemabkakkan. Sekarang pergilah, aku tiddak suka ada orang seperti
__ADS_1
kamu menginjakkan kakinya di rumah ini.
Dorr...
Gracae menembakkan, tepat di samping kaki Jack sebagai
pemanansan, membuat Jack yang tadi mencobo berjalan mendekatinya, ia terkejut
dengan apa yang di lakukan Grace tadi.
“Baiklah, aku akan pergi,” ucap Jack, merapikan jas hitamnya
dan beranjak pergi dengan senyum tipisnya. Ia berjalan santainya masuk ke dalam
mobil yang sudah terparkir di depan rumah Lian yin.
Melihat mobil jack sudah pergi menjauh, Grace seketika
lemas, di tumpuan tangan Lyli. “Grace kamu gak apa-apa, sekarang kita masuk
dulu.” Ucap Lyli, ia segera menuntun Grace masuk ke dalam rumah. Dan menuntun
Grace duduk di sofa perlahan.
“Kamu di sini dulu, aku akan ambilkan obat kamu,” Lyli,
berjalan meninggalkan Grace, dan beranjak menuju ke dalam kamar Grace, mengambil
beberapa obat Grace sekaligus, lalu beranjak rurun kembali. Mnegambil air putih
di dapu.
“Grace, minumlah.” Ucap Luli, mengulurkan obat pada Grace.
Grace segera meminum obatnya, mengambil air di tangan Lyli. “Makasih”
ucap Grace.
Ia menarik napasnya, mencoba bernapas lega, dan akhirnya bisa
“Gimana kamu bisa menghubungi Lay?” tanya Grace.
“Belum, dia gak bisa di hubungi. Dan nomornya juga tidak
aktif sekarang. Bahkan Chanmin dan Yiwen juga sama, nomor YIwen juga tidak bisa
terhubung” gumam Lyli duduk di samping Grace.
‘Kemana mereka?’ ucap Grace lirih, dengan otak mecoba
berpikir kemana mereka pergi.
“Kamu tahu sebelumnya Chanhmin dan Lian yin bahas apa?”
tanya grace, melirik ke arah Lyli.
“Aku gak pernah tahu, tapi aku pernah dengan Lay pernah
bilang ada misi Lian yin di sebuah pulau.” Ucap Lyli.
“Pulau?”
“Itya, tapi aku gak tahu itu di mana, di kota mana, di luar
negeri atau di sekitar kota, karen amereka menyembunyikan semuanya. Dan aku
tidak pernah tahu lagi tentang itu.”ucap Lyli.
“Baiklah, kita biarkan saja mereka. Aku yakin, mereka bisa
mengatasi semuanya. Kamu sekarang ikut aku, bantu aku untuk merakit robot itu
lagi, tinggal kasi sensor pengingat, dan masih banyak lagi kekurangan. Karena
Changmin sudah tidak bisa membantuku lagi. Jadi sekarang aku akan mengajak kamu
__ADS_1
kerja sama, dari pada kita sendiri berdua, tidak ada kerjaan juga” gumam Grace,
seakan dirinya terlihat sudah mulai pulih dari lukanya, meski sebenarnya dia
masih terasa sakit. Namun, ia tidak mau menunjukan pada orang lain tentang apa
yang ia rasakan sekarang.
Luka Grace sebenarnya sudah sembuh, hanya saja masih dalam
tahap pemulihan saat operasi setengah bulan lalu. Tapi terkadang rasa nyeri
masih terasa di perutnya. Sekarang beberapa hari di rumah Lian yin, ia sudah
merasa mendingan. Tidak seperti pertama waktu ia masih baru saja kelur dari
rumah sakit.
`````
Di balik sebuah pulau yang dulunya tidak bepenghuni, Lian
yin dan yang lain mendarat dengan selamat. Mereka semua bergegas turun dari halicopter. Berjalan ringan menuju ke
sebuah desa yang membuat lagkah mereka seketika terhenti.
Yiwen menatap sekelilingnya, pulau yang terlihat sangat beda
dengan pernah ia tinggali dulu. Tapi pulau nya juga masih sama. Di tempat yang
sama, tapi yang membuat Yiwen berpikir jikapulai itu berbeda. Karna semakin
banyak penghuni di sana.
“Apa ini tempatnya? Aku gak salah kan?” tanya Changmin pada
Lian yin dan yang lainya, ereka hanya diam menatap ke depan.
“Hai... kalian semua melihat apa, kenapa tidak ada yang perhatikanku?”
umpat Changmin kesal.
“Diamlah, min.” Ucap Yiwen.
“Changmin menatap ke depan, ia melihat berbagai orang sedang
melakukan kegiatan orang lain pada umumnya, bekerja, ada yang berkumpul dan
lain-lain. Bahkan banyak juga anak-anak yang bermain di pinggiran pantai ini.
“Kita masuk ke sana, aku merasa ada yang aneh di balik ini
semua. Kenapa pulau ini bisa di tempati banya penduduk luar pulai ini.” Ucap Yiwen.
“Dan, aku mengira penduduk di sini semakin banyak, dari yang
pernah aku lihat dulu.” Sambung Lian yin, ia terkejut kenapa bisa berubah dalam
waktu drastis. Padahal hanya berselang beberapa bulan saja.
“Saku juga mengira begitu, kita sepemikiran” saut Lay heran.
“Ya, sudah kalau gitu kita masuk sekarang!!” ajak Cangmin,
antusias.
“Tunggu!! Jangan gegabah masuk begitu saja, seperti kita jalan
di sebuah desa. Tapi di sini kita gak tahu, ini tempat musuh atau tempat kawan.
Jad kita harus tetap waspada” ucap Lian yin.
“Baiklah!!” ucap Changmin, melangkahkan kakinya mundur lagi
ke belakang.
__ADS_1