
Mereka sampai di sebuah rumah mewah di pusat kota, dengan penjagaan sangat ketat, bahkan tak akan bisa bagi orang biasa yang masuk ke sana, Lian yin sudah membuat camera pendeteksi suhu tubuh setiap orang yang lewat depan rumahnya. Jika suhu tubuh itu negatif, mereka orang jahat atau berencana jahat di sekitar rumahnya. Otomatis sebuah tembakan akan meluncur ke arah orang itu bertubi-tubi.
Lie Wei dan Ley yang membuat desain tenologi itu, ia mengembangkan otaknya untuk membuatnya seunik mungkin tanpa di ketahui bagi manusia awam biasanya. Tanpa harus menembak dengan tangannya sendiri. Di balik tembok besar yang tepapang memutar di seisi rumah itu ada sebuah alat untuk menembak secara otomatis. Apalagi niat masuk untuk mata-mata, mungkin sudah mati di depan gerbang karena tembakan yang bertubi-tubi.
Karena banyak yang terluka di sana, tak ada musuh Lian yin yang berani mendekat ke rumah itu. Karena seluru penjuru rumah itu sudah ada jebakan yang tersembunyi. Dan termasuk camera CCTV yang tak terlihat oleh mata telanjang.
Dan Lian yin mendarat tepat di atas rumahnya, yang memang sudah khusus untuk pendaratan halicopter miliknya.
Yiwen beranjak turun, rambutnya kini benar-benar berantakan. Baling-baling halicopter itu membuat tubuhnya yang kecil seakan mau terbang.
Yiwen terdiam menatap di sekelilingnya, pamandangan yang sangat luar biasa nampak dari atas atap itu. Rumah ini begitu megah bahkan lebih luas dari lapangan Golf, dari gerbang masuk menuju rumahnya saja membuatnya tak bisa membayangkan jika jalan kaki, mungkin akan mati rasa.
Yiwen hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya dengan rumah megah ini. Ya, bagaimana tidak mau masuk di penuhi dengan hutan lebat di depan arah masuk ke rumahnya, kalau ingin ke rumah itu ya siap-siap capek jalan kaki. Dan mereka bisa masuk hanya menggunakan Halicopter atau jalan kaki.
"Sudah ayo kita masuk ke dalam" Lian yin mengangkat tubuh kecil Yiwen menuju ke kamarnya ya memang tepat di bawah mereka berdiri tadi di lantai dua.
"Aku ingin sesuatu darimu" bisik lembut Lian yin mencium telinga Yiwen.
"Baru saja sampai sudah minta lagi, aku mau kita menikah dulu baru kita berhubungan lagi" Gumam Yiwen, tersenyum tipis.
"Baiklah, kita menikah sekarang"ucap Lian yin. Membuat mata Yiwen melebar seketika. Ya, bagaimana tidak, ia belum siap menikah sekarang, hari ini juga.
Lian yin membaringkan tubuh Yiwen di ranjangnya, bukannya diam Yiwen beranjak dari ranjangnya.
"Kamu mau kamana?." tanya Lian yin memegang erat tangan Yiwen. Ia tak ingin Yiwen pergi dari sisinya, Ia merengkuh erat pinggang Yiwen, mencegahnya untuk pergi.
"Aku hanya ingin ke toilet kamu masih melarangku" ucap Yiwen melepaskan tangan lian yin yang merengkuh erat pinggangnya.
"Baiklah, jangan lama-lama ya aku ingin kamu menemiku sekarang" Lian yin memandang Yiwen dengan tatapan menggodanya.
Tok..tok..
"Yin apa kamu di dalam?." suara Lie Wei terlihat jelas di pendengarannya.
Ia segera berjalan menuju ke arah pintu, lalu membukanya.
__ADS_1
"Gimana apa Yhing yhi sudah kamu tangkap?" ucap Lian yin dengan nada penuh emosi kali ini, karena Lie Wei mengganggunya yang akan senang-senang.
"Sudah aku kurung dia di penjara bawah tanah, tapi dia masih tidak mau ngaku di mana ia sembunyikan berlian itu" ucap Lie Wie.
Kini Lie Wei dan Mei yang mengatasi kasus Yhing yhi. Sejak Mei memutuskan untuk gabung bersama Lian yin. Dan kini ia jadi wanita pertama andalan Lian yin. Selain Yiwen, karena Yiwen hanya kusus untuknya.
"Sekarang kita juga harus pergi ke kantor untuk urusan kerja sama kita dengan tuan Mo" ucap Lie Wei.
"Baiklah, tunggu sebentar" Lian yin segera masuk dan mengganti pakaiannya dengan jas hitam, serta kemeja putih membalut tubuh kekarnya. Ia menatap ke arah cermin, dengan tangan membenarkan kancing lengan di pergelangan tangannya.
"Kamu mau ke kantor?" tanya Yiwen berjalan kendekati Lian yin. Jemari tangannya sangat lihai memasangkan dasi melingkar di leher Lian yin, sangat rapi dan cepat.
Sebuah kecupan bibir membuat Yiwen tersipu malu. "Kamu tetap di sini, jangan pergi kemana-mana ya" ucap Lian yin, melangkahkan kakinya pergi.
#Flash back on
Mei yang terus memaksa yhing yhi untuk berbicara. Yhing yhi terkurung bebas tanpa ikatan di tangannya. Lian yin tak suka menyiksa wanita. Bahkan lebih baik ia bertanya baik-baik jika tak mau di ajak bicara, maka ia akan bertindak menghancurkan keluarganya atau mejebloskan dia kepenjara.
Brakk...
"Di mana kamu sembunyikan berlian itu" tanya mei dengan nada membentak.
Yhing yhi tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu?" jawab Yhing yhi tanpa rasa takut dari hatinya.
"Apa perlu aku bertindak lebih dari ini" ucap Mei berdiri dengan senyum tipis mendekati Yhing yhi depannya. Ia memberi Yhing yhi sebuah obat di tangannya.
"Apa ini" tanya Yhing yhi terlihat bingung.
"Kamu minumlah, jika kamu mau mengakhiri hidupmu. Atau keluargamu yang akan tersiksa" Mei berdiri mondar-mandir seperti seorang polisi yang mengintrogasi tidak kejahatan maupun kriminal. Bahkan kini sepertinya mei lebih ganas dan sadis dari pada polisi itu. Ia tak mau bertele-tele dan ribet jika susah menjawab, maka ia memberkian kesempatan orang itu untuk mati atau tetap bertahan dengan siksaannya. Namun jik bukan karena Lian yin tak perbolehkan dia menyakiti Yhing yhi. Mungkin dari kemarin sudah mengaku dia.
"Gimana apa dia mau jawab" tanya Lie Wei berjalan mendekati mei.
"Mulutnya masih bungkam tak mau menjawab siapa yang menyuruhnya" ucap Mei. Dengan tatapan tajam mengarah ke Yhing yhi.
__ADS_1
Seolah tak merasa takut Yhing yhi tertawa kecil menatap Lie Wei dan Mei.
"Kalian tidak akan bisa menemukannya"
"Baiklah, kalau kamu tak mau menjawab di mana berlian itu berada, maka keluarga kamu akan merasakan imbasnya. Mereka bakalan hidup di jalanan telantung tidur di pinggir jalan" ancam Lie Wei dengan tatapan sinisnya.
Kali ini Ley tak mau berurusan dengan Yhing yhi. Dia sudah pergi ke Sydne untuk menjemput seseorang. Dan Lian yin juga akan segera ke Itali. Sebelum ia pergi Lian yin mau mendengar sebuah jawaban dari Yhing yhi.
"Jangan pernah sentuh keluargaku, kalian akan merasakan akibatnya" ucap Yhing yhi dengan nada semakin mengancam. Tatapannya sangat tajam mengarah pada Mei dan Lie Wei
"Aku akan melukai kalian di sini" Yhing yhi berdiri hampir saja menusuk Lie Wei namun dengan sigap Mei menendang pisau itu dari tangan Yhing yhi. Ia menarik tangan Yhing yhi ke belakang. "Kalau kamu berani menentang maka aku sendiri yang akan menyakitimu" ucap Mei. Ia terlihat sangat marah ksli ini. Apalagi harus berurusan dengan Lie Wei ia tak mau lelaki yang ia sukai lelakinya terluka.
#Back story
Lian yin yang semula di kamarnya bersama Yiwen, ia segera pergi ke kantornya meninggalkan Yiwen sendiri di kaamrnya, dengan menaiki halicopter itu lagi. Tak butuh waktu lama. Hanya 10 menit saja ia sudah sampai di kantornya.
Lian yin berjalan terburu-buru menuju ke lobi kantornya. Sudah ada seseorang client yang menunggunya di sana.
Ia tak mau menyia-nyiakan kerja sama ini. Karena cliennya kali ini sangat penting. Bahkan ia benar-benar bisa membuat kekuatan perusahaannya bertambah.
Namun bukan hal mudah bisa menguasai semua yang mereka miliki. Butuh ekstra kesabaran dan kerjasama dengan baik untuk mengambil hatinya.
"Tuan Mo apa kabar?" sapa Lian yin memeluk, dan menepuk punggungnya.
"Baik-baik.. " Tuan Mo tersenyum membalas sapaan lian yin.
"Ayo kita masuk dan berbicara di ruangan kerja ku" ucap Lian yin mempersilahkan tuan Mo berjalan mengikutinya.
Di setiap langkah mereka terus berbincang membicarakan hal tentang bisnis. Dan kerja sama mereka nantinya.
"Wie cepat sini bawa tuan Mo ke dalam, kamu atur semua kerja sama kita. Aku akan pergi dulu sebentar" ucap Lian yin pada Lie Wei? yang sudah berada di belakangnya dari tadi.
"Baiklah!!" Dengan senang hati Lie Wei menerimanya.
"Baiklah silahkan tuan Mo. Kita akan mulai pembicaraan bisnis kita" ucap Lie Wei mempersilahkan Tuan mo untuk duduk.
__ADS_1