Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Dalam bahaya


__ADS_3

Keesokan harinya..


Changmin dan Lay, yang sudah selesai melakukan tugasnya, ia sudah mendapatkan semua yang mereka cari dengan mudah, tanpa harus bertemu dengan ayah Grace, dan berurusan lagi dengannua, mereka menggunakan topeng wajah orang lain saat  pergi keluar, jadi tanpa harus bertemu dengan para ajudan ayah Grace yang seakan sangat sadis di sini.


"Mei bangun" panggil Changmin, menarik selimut kekasihnya itu, yang menutupi sekujur tubuhnya.


"Apa syang, aku masih ngantuk sekarang. Emangnya kita mau kemana pagi-pagi gini?" tanya Mei yang masih memejamkan matanya, dengan ke dua tangan memeluk erat guling di sampingnya.


"Kita segera pulang sekarang, Lay sudah bersiap, sekarang kita harus pergi dari sini sebelum jejak kita bisa tercium olrh ayah Grace, tuan Moxa. Kita jangan terlalu lama tinggal di sini" Changmin duduk di ranjang samping Mei, ia menatap wajah Mei, yang masih tertidur.


Emm iya, tapi bentar 1 jam lagi, aku ingin melanjutkan" ucap Mei, mengangkat tangannya, memberi kode dengan jari telunjuk pada Changmin jika ia ingin tidur hanya satu jam.


"Satu jam kelamaan, udah sekarang cepat bangun, dan segera pergi. Tadi Yiwen dan lian yin telepon" ucap Changmin.


"Emm." jawabnya malas.


"Ayo bangun" changmin menarik tangan Mei, yang tak mau cepat bangun dan beranjak dari ranjangnya.


"Iya , aku bangun sekarang" Mei yang merasa risih dengan apa yang di katakan Changmin terus membangunkannya tak henti. "Yiwen bicara apa tadi?" tanya Mei, yang duduk di ranjang dengan mata menyipit dan susah untuk terbuka.


"Hehe.  yang telepon tadi Lian yin agar kita cepat pulang, karena hari ini adalah ulang tahun Yiwen jadi kita harus membantunya untuk merayakan semuanya."ucap Changmin.


Mei membuka matanya lebar, "Apa? Yiwen ulang tahun sekarang, kenapa aku tidak tahu. Ya, sudah sekarang aku mau pergi dulu untuk mandi. Tunggu jangan di tinggal" ucap Mei, yang mulai beranjak untuk pergi ke kamar mandi.


"Iya, jangan lama-lama" ucap Changmin.


Sedangkan Lay, hanya diam duduk di balkon kamar hotel yang ia sewa dari kemarin, dia menikmati pemandangan di luar, namun sesekali ia mendeteksi apa ada hal bahaya di luar hotel, yang terlihat mencurigakan.


Lay masih terdiam memikirkan seseorang yang selalu pergi meninggalkannya, ia ingin mencari Lyli tapi waktu di sini tidak banyak lagi, ia juga harus segera pulang dan menyerahkan sebuah bukti yang akan memecahkan sebuah teka-teki yang sudah lama Lian yin simpan.


"Kamu pasti mikirin Lyli ya?" tanya Changmin, berjalan ringan mendekati Lay yang duduk di balkon kamar hotel.


Lay hanya tersenyum tipis. "Menurut kamu?" ucap Lay, yang masih tidak mau bahas tentang Lyli.


"Sudahlah jangan terlalu khawatir dengan dia, lagian di sangat cerdik, aku yakin dia baik-baik saja di sana. Yang harus di pikirkan sekarang adalah kamu, kamu kalau terus seperti ini. Lyli malah tertawa melihat kamu, dengan keadaan seperti ini. Dia sekarang adalah musuh kita, memang dia adalah teman kita, tapi itu dulu. Sekarang semuanya sudah beda, teman bisa jadi musuh kan" ucap Changmin duduk si samping Lay. Ia mencoba memberi semangat Lay, agar dia tidak terpuruk seperti ini terus.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" tanya Lay, menatap ke arah Changmin bingung.


"Dia tidak suka dengan kamu, kenapa kamu repot-repot memikirkannya. Lihatlah dirimu sekarang jadi lemah. Apa kamu tidak malu jika pergi ke kota kita, kalau kamu yang terkenal sangat dingin dan kejam dulunya, kini nampak sangat menyedihkan hanya karena seorang wanita." ucap Changmin mencoba menasehatinya, agar tidak terpuruk karena cinta yang gak pasti buat dia.


Lay hanya diam, ia mencoba berpikir sejenak. Benar juga apa yang Changmin katakan, tapi kenapa dia merasa susah untuk lupa. Mungkin aku harus menyibukan diri, agar bisa melupakan semuanya, gumamnya dalam hati.


"Syang kamu di mana?" tanya Mei, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku pergi dulu, sekarang lebih baik kamu renungkan semuanya" ucap Changmin bangkit dari duduknya, dengan tangan menepuk pundak Lay, yang masih duduk melamun sendiri.


~


Selesai beres-beres semua barang -barang yang ia bawa untuk pulang. Changmin dan yang lain segera masuk ke dalam mobilnya. Ia ingin keluar dari hotel itu dengan segera.


"Kamu mau makan dulu atau enggak?" tanya Lay, yang memang mengemudi mobilnya.


"Boleh juga tuh, aku lapar nih" ucap Mei.


"Baiklah, kita pergi ke restauran terdekat, atau rumah makan sederhana juga bisa" sambung Changmin.


"Baiklah, terserah kamu, lagian mana aku tahu jika di sini gak ada restauran sama sekali, di kota kita kalau perbatasan ada beberapa restaurant mewah" ucap Changmin.


"Iya, lagian apa yang kamu tahu, di otak kamu hanya robot dan beeberapa alat di dunia IT" sambung Mei menggoda.


"Bukan hal itu, yang aku tahu itu hanya cintaku padamu" ucap Changmin membalas Mei dengan tatapan menggoda, ia yang duduk di depan di samping Lay, menoleh ke belakang menatap Mei yang duduk di belakangnya.


Lay hanya menarik bibirnya tipis, dan nenggelengkan kepalanya. Dasar ini anak gombal terus, Mungkin ia harus belajar merayu dari Changmin, untuk dapatkan wanita.


"Gimana menurut kamu lay?" tanya Changmin, menatap ke arah Lay.


"Terserah kalian saja, kalau masalah cinta-cintaan jangan tanya padaku, aku masih lugu gak tahu apa-apa tentang cinta. Dan kamu yang lebih pengalaman harus kasih tahu aku gimana caranya untuk bisa dapatkan wanita, gak terus tersakiti seperti ini" ucap Lay menggoda.


Mobil mereka berhenti tepat di depan rumah makan kecil di pinggir jalan. "Cepat turun" ucap Lay.


"Emang kita sudah sampai?" tanya Mei.

__ADS_1


"Sudah, dini tempatnya" gumam Lay, yang mulai beranjak turun.


Changmin menatap bingung, melihat tempat yang sangat kecil, yang penuh dengan kerumunan orang yang ingin makan di sana. Ia hanya bisa berdengus kesal, tapi mau gimana lagi.


"Kita makan di sini?" tanya Changmin yang nampak sangat ragu saat melihat rumah makan itu sangat kecil dan ramai.


"Iya, kamu mau makan gak?" tanya Lay.


"Kalau kamu gak mau ya sudah, aku makan berdua saja dengan Lay. Lagian aku sangat lapar, makan di mana saja aku mau, asalkan bisa kenyang saja sudah mendingan" sambung Mei, yang langsung turun dari mobilnya.


Changmin terdiam, kalau mereka makan berdua, takutnya mereka macam-macam. Changmin yang merasa cemburu jika Mei hanya berdua dengan Lay, Changmin dengan terpaksa setuju dengan apa yang mereka bilang. Lagian perutnya juga sangat lapar.


"Baiklah, aku makan sekarang" ucap Changmin.


"Lagian kalau gak mau juga gak apa-apa, hanya ada satu rumah makan di sini" ucap Lay, yang mulai berjalan masuk lebih dulu. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sekilas lewat di belakangnya.


"Ada apa berhenti, kita gak jadi makan?" tanya Changmin menepuk pundak Lay yang berdiri di depan pintu.


"Jadi, kita cepat masuk" ucap Lay, dengan wajah yang masih sangat curiga dengan orang yang melintas sekilas tadi, ia terus menatap sekelilingnya.


"Udah ayo masuk" ucap Mei.


"Iya, ini baru mau masuk" gumam Lay. Yang langsung masuk ke dalam.


~


Selesai makan dan semua sudah ia segera kembali ke rumah Lian yin. "Kamu kenapa dari tadi terus melamun?" tanya Changmin.


"Ada yang mengikuti kita, seperti yang aku duga" ucap Lay, menatap ke spion mobil, ia melihat sebuah mobil hitam melaju tepat di belakangnya.


"Kalian semua cepat pegangan" ucap Lay yang sudah semakin tegang dan panik. Ia mulai menambahkan laju mobilnya.


"Siapa mereka?" tanya Mei, menoleh ke belakang dengan wajah paniknya.


"Aku yakin mereka pasti adalah utusan dari ayah grace" sambung Changmin.

__ADS_1


"Sepertinya begitu" gumam Lay, kecepatan mobil mereka semakin tinggi. Dengan kecepatan di atas rata-rata, Lay melenggak lenggokkan mobilnya. Menyalip beberapa mobil di depannya dengan sangat lihai, menyalip ke kanan dan ke kiri, Changmin dan Mei hanya bisa diam, berpegangan sangat kuat. Mei memikirkan cara untuk bisa cepat membuat mobil itu tidak mengikutinya lagi.


__ADS_2