
"Syang, kenapa kamu hanya diam, cepat katakan pada Lay jangan aku yang merawatnya. Aku masih ada hal lain yang ingin aku kerjakan. Dan soal tadi pagi juga aku masih ada hal yang ingin aku ungkapkan juga" ucap Mei, yang masih memegang tangan Changmin.
Changmin meepaskan tangan Mei. "Apa maksud kamu lelaki lain itu?" Tanya Changmin.
"Maksud kamu apa?" Tanya Mei bingung.
"Sudahlah lupakan" gumam Changmin, yang masih merasa sangat kesal. Ia sebenarnya tahu jika Mei bohong dengannya. Namun, tidak ada bukti membuat ia tidak bisa berkutik lagi. Changmin hanya bisa percaya dengannya. Meski dalam hatinya ragu.
"Kamu sebanarnya kenapa? Kenapa kamu sama saja dengan Lay, apa kalian memang besekongkol sebelumnya" gumam Mei yang merasa sangat kesal, ia mendorong pelan tubuh Changmin hingga menyisakan jarak dua langkah dengannya.
Tanpa banyak bicara, Changmin memegang tangan Mei, membawanya pergi menuju ke kamarnya. Dengan wajah datar, ingin marah, tapi takut salah, ingin protes tapi protes dengan sama. Banyak hal yang membuat Changmin merasa hatinya sangat gundah. "Duduklah dulu, aku ingin bicara sama kamu" ucap Changmin, melepaskan tangan Mei.
Dengan perasaan kesal, Mei mengerutkan bibirnya dengan tangan bersendekap. "Kenapa kamu gak dukung aku sih. Aku sebanarnya siapa kamu. Kenapa kamu malah gak pernah dengerin apa kataku" ucap Mei yang masih kesal.
"Apa aku gak pernah dengerin apa yang kamu katakan. Aku selalu diam, aku selalu mengalah. Tapi apa kamu gak pernah berhenti salah paham dan marah-marah. Kalau kayak gini terus apa hubungan kita akan harmonis. Kamu contoh Lian yin dan Yiwen, mereka janrang sekali betengkar. Malah terus terlihat mesra. Gak seperti kamu yang selalu salah paham dan marah-marah gak jelas. Aku capek Mei, capek" ucap Changmin dengan nada tingginya.
"Kenapa kamu membentakku. Sekarang kamu berani berbicara dengan nada tinggi denganku." Ucap Mei kesal.
"Aku capek kamu selalu marah denganku, aku mengalah juga sama saja. Itu mulut gak berhenti marah-marah. Udah aku gak mau bertengkar lagi" gumam Changmin dengan nada lebih lembut dari sebelumnya.
"Iya, kenapa kamu gak dukung aku untuk menolak apa yang di perintahkan Lay tadi" ucap Mei, mengerutkan bibirnya.
"Bukannya aku gak dukung kamu, tapi dengarkan aku dulu. Kali ini aku mau bicara dengan kamu syang. Aku akan ceritakan kenapa Lay tidak mau merawat Grace" ucap Changmin, memegang ke dua bahu Mei, dan membantu dia agar duduk di sofa, bicara dengan tenang dari hati ke hati. Tanpa ada emosi lagi di antara mereka, yang akan membuat suasana akan semakin keruh, tak terkendali.
"Baiklah, cepat bicara" ucap Mei dengan nada cueknya.
Changmin yang sudah takut kekasihnya akan marah dan salah paham lagi dengannya. Ia segera duduk di sampingnya. memegang ke dua tangan Mei, yang berada di atas pahanya.
"Bukannya kamu tahu syang, Grace itu kenapa?" Gumam Changmin mencoba basa-basi, seakan mulutnya benar-benar susah untuk mengungkapkan semuanya.
" ya, tahu dia sakit" ucap Mei.
"Iya, maksud aku itu sakit apa, kamu kan tahu. Dia juga cerita sedikit dengan kamu kan" ucap Changmin. Namun Mei hanya diam, ia masih tetap menguntupkan bibirnya kesal.
"Jangan marah aku mau kamu rawat dia, karena wanita di sini hanya kamu. Apa kamu mau aku merawat dia. Terus kalau dia mandi gimana. Apa aku yang anterin dia ke kamar mandi. Lay menyuruh kamu itu juga karena dia tahu Grace pasti gak bisa mandi sendiri, ke toilet sendiri. Kalau sesama wanita dia tidak ragu minta tolong. Lay juga gak mungkin bisa setiap hari bisa bantu dia. Kamu tahu sendiri Lay banyak misi yang harus di lakukan. Dan Lian yin baru saja menghubunginya jika 2 hari ke depan ia akan pergi ke suatu tempat berdua dengannya" ucap Changmin, memegang tangan Mei, ia mencoba menjelaskan apa yang ada di pikiran Lay.
"Bukannya dia pacarnya, kenapa harus minta tolong orang lain" ucap Mei yang masih belum terima.
"Syang, kamu jangan egois gitu. Dia itu sekarang berada dengan kita. Berarti dia juga dalam lindungan kita. Di sini wanita yang bisa selalu ada dengannya tidur dengannya hanya kamu. Kalau aku dan Lay apa kamu ijinkan aku dekat dengannya" ucap Changmin.
"Enggak!" Gumam Mei dengan bibir masib menguntup kesal.
"Kalau enggak harusnya kamu tahu. Lagian apa kamu gak kasihan dengannya." Ucap Changmin.
__ADS_1
Mei terdiam sejenak, memikirkan apa yang di katakan Changmin. Berbagai jawaban muncul di otaknya. Ia benar-benar harus putar otak untuk memilihnya. Tapi ini juga demi keselamatan orang lain. "Baiklah aku akan merawat dia, itu juga aku gak mau kalau kamu ikut merawat dia. Jangan suka ganjen dengan wanita lain. Aku gak suka, awas saja kalau sampai aku tahu kamu suka lirik wanita lain" ucap Mei, menatap tajam mengarah pada Changmin, membuat lelaki itu menciut. Ia tidak bisa berkutik di hadapan kekasih yang ia syangi.
" iya syang aku yang gemesin, dan bawel" ucap Changmin.
~
Lay beranjak menuju ke kamar Grace, setelah semua orang pergi dari kamarnya. Ia memang sengaja ingin bertanya padanya. Ia ingin tanya soal pribadi dengannya dan tidak ingin Changmin dan Mei tau semuanya.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Lay berjalan masuk ke kamar Grace.
"Aku baik, makasih kamu sudah menolongku. Apa kamu sekarang bisa menghubungi Luhan, atau kamu punya nomornya. Aku akan menghebunginya, memberi tahunya jika aku dalm kodisi baik-baik saja." Ucap Grace.
"Buat apa menghubunginya. Kamu sekarang di rumah Lian Yin. Dan dia tidak terlalu suka dengan Luhan" ucap Lay duduk di sofa, menyilangkan kakinya.
"Oo.. ya sudah. Aku bisakah kirim satu pesan saja" ucap Grace memohon dengan tatapan ragunya.
"Apa sekarang kamu bisa cerita gimana kamu bisa bertemu dengan Luhan?" Tanya Lay, menatap ke arah Grace.
"Aku bertemu dia saat dia jenguk aku di rumah sakit, dan kebetulan ayah aku tidak ada di sana" ucap Grace.
#Flash Back Grace.
"Gimana keadaan kamu?" Tanya Luhan, berdiri di samping Grace yang masih berbaring di ranjang pasiennya, di sebuah rumah sakit.
"Aku hanya ingin jenguk kamu, lagian aku dan Tao ke sini hanya bermaskud jenguk kamu gak lebih" ucap Luhan.
"Aku kira kamu mau menikah denganku saat kondisiku seperti ini. Hemm... tapi gak mungkin juga kamu menyetujui apa yang di bilang ayah aku padamu. Di hati kamu masih ada orang lain, dan termasuk aku. Sama di hatiku juga masih ada orang lain" ucap Grace tanpa menatap ke arah Luhan.
"Tapi meskipun begitu, aku tidak akan lupa begitu saja dengan kamu." Ucap Luhan.
"Kalau begitu, kamu harus bantu aku sekarang" ucap Grace menatap ke arah Luhan.
"Bantu apa? Aku akan membantumu." Gumam Luhan.
Grace beranjak duduk di ranjang pasien dengan sangat hati-hati. Kondisinya yang masih belum sepenuhnya pulih. Ia hanya bisa berbaring selama beberapa hari.
"Bawa aku pergi dari sini, aku tidak mau lagi tinggal di sini. Aku mau pergi, aku gak mau bwrada di kota yang kejam. Bahkan berani menipu penduduk dan aku gak mau dengan orang yang tega menyakiti orang lain. Aku ingin hidup bebas. Bisa pergi kemana saja yang aku mau" ucap Grace, dengan tangan memegang perutnya yang terasa masih sakit.
"Baiklah, aku akan membawamu pergi sekarang" gumam Luhan.
Grace tersenyum tipis terpaut di bibirnya, menatap je arah Luhan di depannya. "Makasih kamu mau menolongku" gumam Grace.
"Tao, kamu lihat kondisi di luar, kamu alihkan pandanhan para prngawal di rumah yangbjaga kaamr ibi. Aku tidak mu jika kita kerahuan nantinya" ucap Luhan pada Tao.
__ADS_1
"Baiklah, aku langsung keluar dan nunggu kamu di mobil. Kamu gendong dia. Dan segera bawa pergimi" ucap Tao.
Dengan segera Tao mengalihkan pandangan para pengawal itu agar mengejarnya.
Dan setelah terlihat sepi tidak ada penjaga di drpan. Luhan menggendong Grace dan segera berlari. Ada seorang perawat yang melihatnya, ia langsung menyeprotkan obat tidur. Membua dia tadi pingsan. Dan dia segera pergi dengan sangat hati-hati menunu ke mobilnya.
Sedangkan Tao sudah stay di dalam mobil, dan sudah siap mrnjalankan mobilnya pergi. Luhan meletakkan Grace di kursi belakang, dengan cepat ia juga segera masuk. Dan pergi dari kota itu. Sebelum ayahnya tahu dia membawa Grcae maka dia akan marah besar.
"Tao cepat jalan sekaramg, bawa kita ke utara" ucap Luhan.
"Ke utara? Memangnya kita mau kemana" tanya Tao bingung, kenapa Luhan tumben banget mau ke utara. Apa ada hal penting yang tidak ia juga tidak tahu menahu.
"Bawa saja ke sana, nanti aku akan memberi tahu kami" ucap Luhan.
Tao segera menjalankan mobilnya pergi, ia melaju dengan kecepatan sedang. Agar tidak terlihat mencurigakan di kota itu. Kota itu samgat ketat jika kita kebut-kbeutan di jalanan. Pasti mereka mengira kika kita adalah mata-mata. Maka harus hati-hati lagi jika kita masuk dan keluar.
Tiba-tiba Tao berhenti di suatu tempat dengan Luhan. Grace yang hanya diam di belakamg tidak ikut campur dengan apa yang mereka lakukan Baginya itu tidak terlalu penting. Karena masih ada yang penting dalam dirinya.
Grace merasa sudah tidak melihat Tao dan luhan lagi, ia segera membuka pintu mobilnya sangat pelan. Dan segera pergi dari mobilnya. Tanpa sepengetahuan mere ka. Dia sudah tahu apa rencana ayahnya. Dan ingin segera bertemu dengan Lian yin untuk bicara dengannya. Ada misi ayahnya yang tak sengaja ia mendengarnya, saat ayahnya bertemu dengan seseorang di rumah sakit.
"Ayah aku gak akan biarkan ayah untuk menyelakai Yiwen dan Lian yin. Dan orang itu akilu tahu jelas siapa kamu. Meski aku skait aku yidak akan tinggal diam hanya di rumah sakit. Membiarkan ayah aku menyakitinya."
# back story
"Oo. Jadi itu apa maksud kamu datang ke utara. Tapi apa itu gak akan bahaya juga bagi keselamatanmu. Kamu yang masih sakit begini harus menempuh bahaya demi keselamatan orang lain. Apa kamu gak mikir gimana keselamatanmu sendiri, nukannya kehidupanmu jauh lebih penting. Jika kamu seperti ini ayah kamu juga akan menuduh Lian yin yang menculik kamu" ucap Lay.
"Tidak, yang paling penting aku bisa bicara dengan Lian yin. Aku ingin memeberi tahunya apa yang di inginkan ayah aku darinya. Aku sudah bosan ayah terus mencari musuh. Ayah aku sudah tua, aku gak mau para musuhnya kelak akan membalas ke anak cucu aku. Semua harus di hentikan dengan segera. Keserakahaan ayah aku harus di hentikan. Aku tidak mau lagi ayah aku terus jahat seperti ini. Sudah cukup selama iani aku jadi terlihat jahat, jutek, sadis dengan orang lain. Sekarang aku juga harus menghentikan apa yang pernah aku lakukan dulu." ucap Grace dengan wajah yang terlihat sangat sedih. Banyak pikiran yang mengganggunya sekarang. Membuat ia tidak tenang.
"Ya sudah, sekarang aku akan buatkan kamu makanan. Kamu tetap diam di sini. Dan Mei yang akan merawat kamu nanti" ucap Lay, yang bangkit dari duduknya. Berjalan ringan ke arah Grace yang masih berbaring di ranjang dengan balutan selimut dan jarum infus menancap di tangan kirinya.
"Aku harap kamu cepat sembuh dan segera kembalilah ke rumah, aku yakin ayah kamu sekarang marah besar. Dan pengawal kalian melihat aku membawa kamu. Sekarang yang di incar bukan Lian yin tapi aku. Kamu telah membahayakan nyawaku. Karena mereka pasti akan mencariku" Ucap Lay lirih. Ia membalikkan badanya dan beranjak pergi.
"Lay tunggu" ucap Grace memegang tangan Lay, mencegahnya pergi.
"Ada apa lagi?" Tanya Lay.
"Lian yin di mana?" Tanya Grcae yang memang dari tadi tidak melihat Lian Yin sama sekali di rumah besar itu. Bahkan Yiwen juga tidak kelihatan.
"Mereka sedang pergi ke suatu tempat. Dan jangan ganggu mereka dulu. Kalau mereka pulang juga, jangan sampai kamu menyakitinya. Maka akan berurusan juga dengan aku." Ucap Lay.
Grace tersenyum tipis. "Aku tidak akan menyakitinya. Aku akan segera pergi dari sini, segelah apa yang ada dalam hati aku, sudah aku ungkapkan semuanya pada Lian yin dan Yiwen. Ini juga demi keselamatan mereka jug. Aku pertaruhkan keselamatanku sendiri demi mereka." Ucap Grace membuat Lay tak percaya jika dirinya itu adalah wanita baik tidak seperti apa yang di kihatnya di pertandingan. Yang di kenal sebagai wanita dingin, tanpa ekpresi di wajahnya. Bahkan dia juga sangat sadis, jika tidak suka dengan seseorang makan dia akan menyingkirkannya dengan mudah.
"Baiklah, tapi tunggu mereka pulang. Sekarang kamu istirahatlah dulu. Jangan banyak bergerak, Mei akan datang dan membantu kamu, jika kamu ingin pergi ke kamar mandi." Ucap Lay, melepaskan tangan Grace yang memegangnya, lalu beranjak pergi dari kemarnya.
__ADS_1
Grace tersenyum tipis, gimanapun mereka sangat baik dengannya. Bahkan kini mereka merawatnya pribadi di rumah, dengan dokter pribadi yang di miliki Lian yin. semua teman Lian yin membuatnya terharu, bagi orang asing seperti dirinya, mereka mau tulus merawat.