
"Sudah selesai syang, udah ayo pergi makan"ucap Lian Yin.
"Makan apa syang?"tanya Yiwen, mendongakkan kepalanya menatap ke arah Lian yin.
"Bukannya tadi kamu mau makan ayam krispy, atau mau makan apa terserah"ucap Lian yin, mengusap kepala Yiwen.
"Terserah deh, asal ada es cream juga ya, entah kenapa aku merasa ingin makan es cream syang"ucap Yiwen.
Yiwen tersenyum, ia merasa nyaman dengan sentuhan Lian yin, baginya dia seperti malaikat pendampingnya. Dia begitu lembut, begitu menyayanginya. Bahkan selalu menuruti apa yang ia minta. Dan dia selalu menjaganya. Kehangatan sentuhan jemarinya membuat Yiwen tak bisa jauh darinya.
Ia merasa ingin selalu ada di sisinya, sempat berpikir untuk pergi jauh meninggalkan Lian yin, karena baginya ia bukan orang yang tak ia kenal. Tapi semakin kesini. Dia semakin nyaman dengan perlakuan Lian yin. Kalau seperti ini terus mana tega aku meninggalkan dia. Dia begitu lembut padaku. Dan sepertinya dia tulus syang dengaku, gumam Yiwen.
"Kenapa syang?"ucap Lian yin, merangkul pundak Yiwen, dengan leher dan ke dua tangan memegang beberapa belanjaan yang ia beli tadi.
"Kenapa apanya syang?" tanya Yiwen, menatap aneh pada Lian yin.
"Kamu kenapa melihatku seperti itu, apa aku terlalu tampan ya buat kamu" ucap Lian yin, dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Yiwen mendongakkan lagi kepalanya, tersenyum tipis, menatap Lian yin yang begitu lucu, ekspresi wajahnya benar-benar sangat imut. meski dia terlihat pendek di samping Lian yin. Ia tidak perduli, yang penting kehangatan tubuhnya dan keramahaannya membuat ia selalu ingin dekat dan terus dekat.
"Tu kan terus memandangku, aku udah bilang kamu semakin lama pasti akan semakin tergila-gila denganku. Dam kamu juga tidak akan pergi lagi ninggalin aku"gumam Lian yin, mencubit hidung mancung, yang terlihat mungil itu.
"Ih, jangan kepedean deh, aku hanya melihat kamu lucu saja"ucap Yiwen menahan senyumnya.
"Emang aku badut ya lucu segala"gumam Lian yin.
"Lebih dari badut, kamu itu kadang nyeselin, gemesin, dan lucu" Yiwen, menjijitkan kedua kakinya, mencoba meraih pipi Lian yin. Ia mencubit gemas ke dua pipinya.
"Suamiku seperti boneka hidup ku"gumam yiwen.
"Kalau seperti boneka, jadi ya setiap malam itu aku di peluk, tidur bareng setiap harinya. Masak suaminya di suruh tidur pisah ranjang. Apa kata orang syang, apalagi kalau kamu belum hamil juga. Nanti banyak yang bilang kalau aku gak bisa bikin lagi"ucap Lian yin menggoda.
"Kamu itu ya, aku udah bilang jangan dulu. Kapan-kapan saja kita punya anaknya. Aku masih belum ingin punya anak"ucap yiwen, tersenyum lebar.
"Ya udah sekarang kamu duduk, dan buka menu makanan apa yang kamu minta"tanta Lian yin, yang mulai menarik kursi untuk Yiwen duduk lebih dulu.
"Aku mau steak saja, sama jus apukat, dan es cream. Sama makanan penutup roti yang paling enak di sini"ucap yiwen, yang hanya melihat menu sekilas, ua hanya menatap steak yang terlihat menggoda matanya itu.
__ADS_1
"Ya sudah, aku juga pesan sama kayak kamu"ucap Lian yin duduk di depan Yiwen.
"Permisi tuan, mau pesan apa?" tanya waiters yang berdiri di sampingnya.
"Steak 2 sama jus apukat 1, dan makanan penymutup yang paling enak di sini. Dan air putih satu gelas."ucap Lian yin pada witers di sampingnya.
"Bentar kenapa kamu gak minum jus atau apa gitu, dan kenapa setiap makan selalu minum air putih"tanya Yiwen yang bingung dengan kebiasaan suaminya itu.
"Aku lebih suka banyak minum air putih, dan kalaupun di rumah teh hangat atau kopi. Kalau yang lain tidak begitu suka"ucap Lian yin, melipatkan ke dua tangannya di atas meja.
"Ohh... aneh juga kebiasaan kamu. Kalau aku suka teh hijau."gumam Yiwen. "Oya aku ingat, nanti beli teh hijau dulu ya, biat minum di hotel."ucap Yiwen.
"Baiklah, tapi kita di hotel seranjang ya"
"Apa?"
"Seranjang syang, mau ya"menatap dengan kedipan menggoda.
"Gak mau"
"Terus kenapa gaka mau, sampai kapan kamu gak mau, lagian kamu tadi bilang jika aku itu boneka hidup kamu. Terus kenapa seranjang saja gak mau. Boneka itu di sayang-sayang, di peluk, di usap lembut. Ya kalau kamu gak ada lembutnya sama sekali sama suami kamu sendiri"gumam Lian yin.
"Beneran ya aku tunggu"gumam Lian yin, mencubit pipi kiri Yiwen yang terlihat cabi menggemaskan.
"Syang aku mau tanya?" ucap Lian yin.
"Tanya apa?" ucap yiwen.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini banyak makan, an ada saja apa yang kamu inginkan"ucap Lian yin, dengan wajah yang mulai serius. Ia mendekatkan wajahanya ke arah Yiwen.
"Apaan sih syang, aku itu hanya suka saja. gak lebih, mungkin karena aku lagi pengin banyak makan akhir-akhir ini. Aku juga gak tau sih sebenarnya kenapa?" ucap Yiwen.
"Nanti pulang ikut aku Check up ya?" tanya Lian yin.
"Maksud kamu? Check up apa?"tanya Yiwen menatap bingung.
"Check up kehamilan syang, ku yakin jika kamu hamil"ucap Lian yin.
__ADS_1
"Aku udah bilang, aku gak mungkin hamil syang" gumam Yiwen yang seakan tidak mau terima jika dia hamil.
"Udah nurut saja, kalau gak hamil juga gak apa-apa sayang, aku hanya mau kamu check up saja"ucap Lian yin, mencoba membujuk Yiwen.
"Baiklah" ucap Yiwen pasrah, ya mau gimana lagi, dia juga harus nurut dengan Lian yin, hari ini Lian yin sudah memberinya banyak gaun, baju sepatu dan lain-lain. Dan hari. ini dia juga baik banget.
"Syang nanti barang belanjaan kamu yang bawa semua ya"ucap Yiwen, senyum tipis merayu.
"Kok aku sih, ya kamu sebagian syang, aku mana bisa bawa semuanya. Banyak banget ini syang"ucap Lian yin.
"Gak mau ya sudah, ku gak mau check up,"ucap Yiwen kesal.
"Baiklah, jangan ngambek tapi."gumam Lian yin.
"Permisi tuan, ini pesannya. Selamat menikmati"ucap waiters itu, yang mulai menaruh semua pesanan Lian yin di atas meja.
Yiwen tersenyum menatap ke arah makanan yang begitu menggodanya itu, sepertinya ini enak banget"gumam Yiwen, yang terasa mengeluarkan air liurnya tak tahan melihat lezatnya makanan di depannya itu.
Tanpa menunggu Lian yin, yiwen segera meraih pisau dan garbu untuk makan steak yang terlihat menggoda matanya itu.
Ia mulai menyantap perlahamln dengan menikmati rasa steak yang agak pedas dan benar-benar membuat lidahnya tak bisa berhenti mengunyah dan meraskan.
"Yiwen pelan-pelan kalau makan, ini steak daging bukan nansi, kalau kesenfak nanti sakit"ucap Lian yin mengingatkan istrinya itu.
"Cepat makan syang, enak banget lho"ucap Yiwen dengan mulut yang masih terus mengunyah steak.
"Iya ini aku mau makan, tapi lihat kamu makan seperti itu lucu, rasa lapar seakan sudah hilang"gumam Lian yin.
"Kamu ini selalu menggodaku"gumam yiwen.
"Emang kenyataan syang"ucap Lian yin.
"Udah-udah gak usah bahas itu lagi syang, aku lagi gak mood bahas rayu-rayuan."jawabnya. "Oya syang gimana sola Yhing yin, mulai dari mana kita selidiki tentang dua dan Lee, lagian kita tidak tahu mereka di mana sekarang. Dan sendang merencanakan apa."ucap Yiwen, yang tiba-iba teringat tentang Yhing yin.
"Iya, kemarin dia bisa lolis gitu saja, saat polisi akan menangkapnya. Mungkin sekarang dia sudah merencanakan suatu hal yang akan membuat kacau segala rencana kita" ucap Lian yin, semabari menikmati steak yang dari tadi ia olak-alik belum di makan.
"Benar-benar sangat membingungkan, tapi biarkan aku yang pikirkan apa yang harus kita lakukan nanti"ucap Yiwen.
__ADS_1
Ia meletakkan garbu dan pisau di atas piring kosong, steak itu sudah ludes di mulut Yiwen. Ia segera meraih jus apukat, lalu meminumnya perlahan. Dengan wajah menatap ke arah Lian yin.