
"Aku hanya bercanda syang, kenapa.kamu ngambek." guman Lian yin mencubit pipi Yiwen.
"Tapi kenapa terlihat sangat serius tadi," umpat kesal Yiwen.
Lian yin melirik ke arah Amerta, ia memberi kode padanya, agar dia cepat pergi.
"Kamu kenapa malah lihat Amerta? Apa benar kamu suka dengannya? Dari kemarin aku sudha curiga denganmu, kamu selalu curi pandang pada Amerta. Iya, oke dia lebih cantik, tapi apa kamu gak mengerti perasaanku." rengek Yiwen, mengungkapkan isi hatinya, yang selama ini terpendam. Ia menghentakkan kakinya bergantian, seperti anak kecil, yang merengek seperti, biasanya minta permen.
"Apa kamu suka dengannya" tanya Yiwen Memastikan, dengan nada semakin kesal. Ia menundukka kepalanya sembari terus merengek sedih.
Lian yersenyum, menatap Yiwen. Ia meletakkan ke dua tangannya di pipi Yiwen. Sedikit mengangkat ke atas, membuat ke dua mata mereka saling tertuju. "Kenapa.kamu malah tersenyum??" Yiwen memukul lengan Lian yin. Umpatak kesal dalam hatinya semakin menggebu.
"Lagian, kenapa kamu selaku curiga padaku, aku tidak pernah suka dengan wanita lain. tapi kenapa kamu selalu saja curiga padaku syang, memangnya aku terlihat playboy," tanya Lian yin heran, dengan Yiwen cemburunya yang minta ampun. Tiap menatap sedikit wanita lain, di kira suka, padahal ia hanya ingin mengamati, apakah wanita itu berbahaya atau tidak. Tapi gara-gara cemburu Yiwen semuanya berubah, ia tidak berani menatap lama wanita lain.
"Tapi kamu jahat, kamu suka dengan wanita lain," gumam Yiwen, semakin merengek keras, dengan ke dua tangan memukul dada bidang Lian yin.
Lian yin memegang ke dua tangan Yiwen.
"Udah, hentikan!! Lagian kamu sudah tahu semuanya kan. Hari ini aku mau menunjukan sesuatu padamu," gumam Lian yin.
"Sesuatu apa?" ucap Yiwen datar, yang masih merasa kesal dengan Lian yin. "Lagian aku tahu apa? Apa benar jika kamu suka dengannya?" lanjutnya, masih belum sepenuhnya percaya dengan Yiwen.
Lian yin menarik napasnya dalam-dalam, Mencoba untuk sabar menghadapi wanita seperti dia, hanya kalau di terusin tambah benartem nantinya, ia hanya ingin jadi laki-laki, yang bisa selalu mengalah agar tidak menimbulkan pertikaian dalam rimah tangganya.
"Yiwen! Dengarkan aku!! Aku tidak melihat wanita lain, selain kamu. Bagi aku! Detik ini, menit ini, jam ini, dan hari ini, sampai selamanya. Hati, raga, dan jiwa ini. Hanya milik kamu, selamanya." ucapan Lian yin, membuat Yiwen seketika malu, wajahnya mulai merah muda, dengan senyum tipis terukir di bibirnya. Ia semakin tersipu di buatnya, hanya mendengar sebuah rayuan manis dari mulut Lian yin, rasa marah dan kesalnya perlahan mulai pudar.
"Kata-kata yang indah. Gombalan kamu, membuat hatiku tertusuk, tapi manis kata-katamu membuat hatiku seketika sembuh," ucap Yiwen, membalas rayuan Lian yin.
Lian yin tersenyum, mengusap ujung kepala Yiwen. Hingga membuat rambutnya berantakan. "Udah ayo masuk, atau kita menikmati pemndangan berdua di sini." ucap Lian yin.
"Bentar!! Aku tadi masih berbincang dengan Amerta," Yiwen menoleh, tidak ada Amerta di belakangnya, seketika ia tertegun, menarik kepalanya sedikit ke belakang, dengan wajah terkejutnya.
"Kemana dia?" tanya Yiwen, bingung. kembali menatap Lian yin, hanya di balas dengan senyum yipisnya, menarik salah satu alisnya ke atas. Seakan dia tidak tahu di mana Amerta pergi.
"Dia sudah pergi, mungkin"
"Pergi kamana? Apa kamu tadi menyurihnya pergi" tanya Yiwen, yang seakan sudah mulai kesal.
"Dia pergi ke suatu tempat? Lagian apa yang kalian rencanakan, dan kenapa kamu berbicara pada Amerta, pa kamu ada urusan dengannya. Atau kamu merahasiakan sesuatu yang kamu ketahui tentang keluarganya." tanya Lian yin memastikan.
"Itu urusan aku, Yin. Sekarang akmu cerita padaku, kemana dia pergi? Cepat bilang!" decak kesal Yiwen. Menarik kerah Lian yon, dengan umpatan terus keluar daei wajahnya.
Yiwen, mencengkram erat tangan kanan Yiwen, meletakkan kembali tangannya ke bawah.
"Dia masuk ke rumah Yiwen, syang!! Kenapa kamu khawatir sekali. Seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan," ucap Lian yin, mencubit pipi menggemaskan Yiwen.
Yiwen terdiam, dengan bibir sedikit terbuka membentuk lingkaran. "Oo.. kenapa gak bilang dari tadi, kalau dia ada di rumah. Aku kira dia sudah pulang." Yiwen menarik napasnya lega.
"Memangnya ada apa dengannya, kenapa.kamu khawatir sekali?" gumam Lian yin. "Dia juga bukan saudara kamu kan?
__ADS_1
"Bukanlah!!" ucap tegas Yiwen.
"Ada rahasia, antara aku dan dia nantinya. goda Yiwen, mendekatkan wajahnya, mencolek dagu Lian yin, dan berlari pergi. mwnuju ke sebuah taman bunga, di belakang rumah Lian yin, taman bunga yang sangat luas, dan sensasi suasana sangat gelap di luar.
"Yiwen!!" teriak Lian yin, berlari mengejar Yiwen, memeluknya dari belakang.
"Kamu mau kemana syang?" ucap Lian yin, menciumi tengkuk Yiwen, membuat gadis itu geli.
"Yin, apa yang kamu lakukan, hentikan Yin!!" ucap Yiwen, mengeliat geli. Namun Liannyin, semakin meneruskan gelitikannya.
"Salah sendiri, kamu yang mulai duluan," kali ini, Lian yin, menggelitik pinggang Yiwen, membuat Yiwen semakin tertawa keras, menahan geli.
"Lian yin, sudah! Sudah! Aku gak akan ulangi lagi," ucap Yiwen merengek.
"Gak mau, kalau kamu masih belum merasakan sensasi geli, sampai nangis." ucap Lian yin, semakin menggoda.
Yiwen, mencoba membalikkan badannya, dan hampir saja terjatuh ke belakang, dengan sigap tangan Lian yin, menyangga tubuh Yiwen, yang sudah hampir jatuh, hanya berjarak dua tiga telapak tangan.
Ke dua mata mata mereka saling tertuju, semakin menatap dalam. "Yin!!" panggil Yiwen, tersenyum tipis, ia mulai menggelitik pinggang Lian yin. Membuat laki-laki itu spontan melepaskan tangannya, dan. Bruukkk...
Tubuh Yiwen terjatuh, membuat gadis itu meringis kesakita.
"Sakit Yin!!" ucap Lian yin, meringis, mengusap pantatnya yang terasa sangat sakit.
"Yiwen, kamu gak apa-apa kan? Lagian tadi kamu kenapa menggodaku," ucap Lian yin, terlihat oanik, ia duduk jongkok, memegang ke dua bahu Yiwen, sembari mencoba melihat apa ada yang luka di tubuh Yiwen.
"Yiwen!! Kamu marah? Maaf tadi aku gak sengaja, kenapa.kamu ngambek, sih." ucap Lian yin, mencoba memegang tangan Yiwen, dan langsung di tepis cepat oleh Yiwen.
"Jangan sentuh aku, Lian yin. Udah pergi sana." pekik Yiwen, dengan nada tingginya.
Wajah Lian yin berubah seketika, raut wajahnya terlihat merasa sangat bersalah. Ia tak berhenti terus mendekati Yiwen, dan mencoba berbicara dengannya, baik-baik.
"Yiwen!! Aku mohon, maafkan aku. Tadi aku salah, sekarang jangan marah lagi ya," ucap Lian yin, merangkak, tepat di depan Yiwen, mencoba memegang ke dua tangannya, seketika Yiwen memutar tubuhnya, dan menatap ke belakang.
"Jangan bicara padaku lagi?" gumam Yiwen.
Lian yin terdiam menundukkan kepalanya, ia seketika duduk tersungkur, dengan wajah penuh rasa bersalah.
Yiwen menarik bibirnya, membentuk sebuah senyuman kemenanngan, ia kenoleh ke belakang melihat suaminya itu, sangat bersedih, saat dia marah dengannya.
"Ciee.. Sedih ya?" goda Yiwen, mencolek dagu Lian yin. Dengan tawa kemenangan keluar dari mulutnya.
Lian yin, mendongakkan kepalanya, menatap.Yiwen, yang seakan memang sengaja mengerjainya. Menatap tajam ke arah Yiwen.
"Udah, jangan sedih. Aku gak marah syang, kenapa kamu terlalu panik begitu." tanya Yiwen, mendekatkan tubuhnya.
Lian yin menguntupkan bibirnya, semakin menatap tajam ke arah Yiwen. "Kamu suka mengajari aku?" tanya Lian yin, merengkak semakin dekat ke arah Yiwen. "Awas pembalasnku ya syang. Kamu akan merasakan sensasi spesial sekali nantinya." lanjutnya, sembari menarik sudut bibirnya tipis.
Seakan punya rencana kotor yang akan ia lakukan pada Yiwen nantinya.
__ADS_1
"Lian yin!! Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Yiwen, menarik tubuhnya ke belakang, was-was.
"Salah sendiri, siapa juga yang mulai duluan" ucap Lian yin, di tengah pemandangan malam yang indah, di bawah bunga, Lian yin, menjatukan tubuh Yiwen.
"Lian yin, apa yang kamu lakukan?" tanya Yiwen, mencoba mendorong tubuh Lian yin.
"Puaskan aku di sini?" bisik Lian yin, menindih kaki Yiwen.
"Jangan gila, kita sudah melakukanya tadi Lian yin. Apa kamu belum puas?" tanya Yiwen, mencoba mencegah Lian yin mendekatinya.
"Lagian kamu selalu membuat aku kesal." gumam Yiwen.
"Siapa yang membuat kamu kesal syang. aku itu hanya ingin bercanda dengan laki-laki aku ini," ucap Yiwen, memegang ke dua pipi Lian yin.
"Ya, tapi kamu bercanda kelewatan, kamu tahu tadi syang. Apa yang kamu lakukan bikin aku kesal, kamu ngerjain aku, pura-pura marah," ucap Lian yin; beranjak duduk, menekuk ke dua kakinya.
Yiwen beranjak duduk di samping Lian yin. "Kita nikmati malam ini, di tengah malam, tepat di tengah taman kamu. Di kelilingi bunga yang sudah mulai tertidur.
"Oya, Yiwen. Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Lian yin.
"Melakukan apa?"
"Tentang apa yang kamu bicarakan dengan Amerta tadi." Lian yin yang masih penasaran, tak berhenti terus bertanya.
"Aku hanya bicara sedikit tentang dia? Lagian tadi dia tanya Changmin." ucap Yiwen, menyandarkan kepalanya di bahu Lian yin.
"Oo. dia tertarik dengan Changmin," ucap Lian yin, menganggukkan kepalanya, seakan dia paham dengan yang di katakan Yiwen.
Lian yin, yang jahil membuka baju, yang menempel di dada Yiwen, sembari menunduk menatap dalamnya.
"Syang, apa kamu gak pakai bra?" tanya Lian yin, tak berhenti menatapnya.
Yiwen duduk kembali, menutup dadanya. "Apa yang kamu lihat, jangan mesum lagi!!" ucap kesal Yiwen.
"Kenapa di tutupi syang, tadi hanya mengintip sedikit. Aku penasaran, kamu pakai bra tidak, lagian tadi terlihat dada kamu saat lari, naim turun." Ucap Lian yin, yang langsung di balas dengan pelototan tajam dari mata Yiwen.
"Apa yang kamu katakan syang!! Jangan kebiasaan aku gak suka, ini di luar." ucap Yiwen.
"Gak apa-apa, gitu saja marah." gumam Lian yin.
"Aku gak marah, kalau mau lihat sepuasnya di kamar jangan di luar, malu kalau ada yang lihat."
"Di sini gelap, gak ada yang tahu. Jadi aku boleh lihat ya," ucap Lian yin, memegang dada Yiwen.
"Lian yin, jangan. Aku malu, meski kalau gak ada orang, kalau aku mendesah, pasti banyak orang yang dengar."
"Kalau mendesah, berarti kamu sangat menikmati syang. Aku sangat suka, yang penting tubuh kamu gak di buka oleh orang lain, aku merasa tenang, hanya aku yang boleh memiliki kamu," Lian yin, memegang ke dua bahu Yiwen, menatap ke dua matanya, semakin dalam.
"Aku suka permainan kamu syang, selalu bikin aku puas." ucap Yiwen, mencium kening Lian yin lembut.
__ADS_1