Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Pendekatan Amerta lagi


__ADS_3

Hari sudah larut malam, Lay yang masih sibuk berbincang dengan yang lain, dia beranjak pergi menemui istrinya yang sedang duduk bersama dengan Yiwen dan yang lainya.


"Grace gak ke sini?" tanya Yiwen pada Lyli.


"Sepertinya dia sudah lupa denganku," Lyli menunduk, sahabatnya dari dulu itu entah kenapa dia perlahan mulai lupa dengannya. Bahkan nomornya tidak bisa di hubungi sampai sekarang. Dan tidak dapat kabar darinya sama sekali.


"Apa kamu tidak ingin mencarinya?" tanya Reysa.


"Sebanarnya aku ingin mencarinya, tapi itu tidak mungkin. Suami aku mungkin tidak perbolehkan aku eprgi!!" jawabnya.


"Syang!!" panghil Lay manja, membaut semua wanuta di sana kenoleh ke arahnya.


"Ada apa?" jawab Lyli.


"Aku jngin bucaara dnegan kamu sebentar,"


"Oke.. Baiklah!!" Lyli beranjak berdiri dari duduknya.


"Teman-teman, maaf ya. Aku gak bis aterus di sini. Aku akan pergi dulu."


"Iya, siap!!" ucap yang alinya sembari slaing nenyenggol sikut, seakan tahu apa yang akan mereka lakukan.


"Kami maklumi, seornag oengantin baru!!" saut Reysa.


Lyli hanya diam menjawab dengan sebuah senyukan tipis, dan Lay memegang tanganya berjalan menjauh dari wanita yang lainya.


"Ada apa?" tanya Lyli, menatap bingung. Kenapa dia membawanya di dapur, padahal ia mengira akan di bawa di kamar. Ternyata pikirannya salah. Bikin dia kesal dan gak mood lagi bicara dengan Lay. Meski wanita tapi dia yang sangat menantikan malam pertama dengan Lay, hal yang belum pernah sama sekali dia lakukan sebelumnya.


"Syang!! Kamu tidur duluan, ya?" ucap Lay, mengecup kening istrinya.


"Kenapa?" tanya Lyli menguntupkan bibirnya kesal.


"Syang!! Masih banyak yang lain di sini, aku gak enak kalau meninggalkan mereka yang sedang menikmati acara pesta kita,"


Layli berdengus kesal, dia menarik bibirnya sinis, perasaannya berkecamuk, campur aduk jadi satu. Marah, kesal, kecewa jadi satu.


"Baiklah!! Tapi kamu nanti cepat balik ke kamar," ucap Lyli merendahkan suaranya.


"Iya, ayang!! Aku tungggu yang lainya pulang, setelah itu aku akan temani kamu tidur!!" ucap Lay, mengusap lembut rambut Lyli.


"Pengantin baru, lebih baik kalian masuk saja ke kamar," goda Yiwen berjalan mendekati mereka.


"Apaan, sih. Yiwen!!" ucap Lyli malu.


"Udah cepat masuk sana," Yiwen memukul lengan kanan Lay.


"Udah, aku akan menemani kalian dulu. Aku gak mau meninggalkan mereka semuanya. Lagian masih banyak teman, gak enak kalau aku tinggal!!" ucap Lay, membalikkan badannya.


"Kamu cepat masuk, syang!!"


"Memangnya aku gak boleh temani kamu?" tanya Lyli kesal.


"Baiklah, boleh. Tapi apa kamu masih mau pakai baju ini terus. Mendingan ganti baju sana," ucap Lay.

__ADS_1


"Aku antar kamu, ya!!" ucap Yiwen.


"Baiklah!!"


Satu hari penuh berpesta dengan para teman-temannya. Sampai jarum jam menunjukan pukul 2 pagi, semua sudah bersiap untuk pulang, bahkan ada yang berbaring di sofa rumah Lay. Sedangkan Changmin dan yang lainnya hanya diam, duduk menikmati minuman. Changmin duduk sendiri di sofa ruang tamu menjauh dari yang lainya, yang masih menikmati minumannya bersama para istrinya masing-masing.


Amerta yang melihat Changmin sendiri, dia membawa satu gelas minuman di tangannya, berjalan dnegan langkah ringan mendekati Changmin.


"Kamu sendiri, kak?" tanya Amerta basa basi, dengan raut wajah gugup dan malu-malu.


"Iya, bukanya kamu sudah lihat?"


Amerta duduk di samping Chamgmin, mel3takkan gelas di tangannya di atas meja.


"Kak!! Ayo kita pulang. Kakak sudah minum banyak!!" Amerta mencoba memegang tangan Changmin, dia ingin membawanya pergi. Melihat kondisi Changmin yang sangat memprihatinkan. Dia bahkan sudah lemas terlalu banyak minum vodca.


"Aku masih ingin minum." Changmin menepis tangan Amerta.


Amerta mencoba untuk sabar, hatinya terasa tersayat-sayat melihat orang yang dia sayangi sekarang menghancurkan tubuhnya sendiri, dengan minuman banyak sendirian. "Kak, kamu sudah minum banyak. Lagian sudah habis beberapa botol minuman. Dan tadi kamu juga sudah habiskan 10 gelas minuman," ucap Amerta khawatir, dia mencoba memeluk tangan Changmin. Dan langsung di tarik oleh Changmin, wajahnya kesal menatap Amerta yang terus memaksanya.


"Aku gak perduli. Lagian sudah tidak ada yang perduli denganku, dan aku hanyalah seorang laki-laki pecundang!!" umpat kesal Changmin, menatap tajam ke arah Maerta, membuat wanita itu seketika bergidik takut melihat tatapannya.


"Aku akan kembali seperti dulu lagi, bersenang-senang dengan wanita sesukaku. Tidi dengan siapa saja yang aku inginkan. Tanpa sakit hati, dan trauma jatuh cinta!!" ucap Changmin sambil tertawa kecil."


"Aku sangat perduli denganmu!!" ucap tegas Amerta. Changmin menoleh ke arah Anerta, ke dua matanya yang masih sipit, kini semakin menyipit menatap wajah Amerta yang terlalu serius dengan apa yang di ucapkannya.


"Ha.. Ha...Haha.." Changmin menunjuk wajah Amerta yang duduk tegap di sampingnya. Dia tertawa terbahak mendengar ucapan yang di katakan Amerta baginya hanyalah sebuah candaan.


"Kenapa kamu ketawa, lagian aku serius jika aku itu suka kak Changmin, aku perduli..."


"Aku gak akan pergi," Amerta tetap diam bersikukuh bersama dengan Changmin.


"Dasar keras kepala,"


"Aku gak perduli dengan apa yang di katakan semua orang. Tapi aku sangat perduli dengan kamu. Aku gak akan pernah meninggalkan kamu, dan mungkin memang perbedaan umur kita jauh.. Tapi aku tidak suka melihat kamu terpuruk seperti ini!!"


Changmin mencengkeram rahang Amerta, mendekatkan wajahnya, hembusan napas berat penuh amarah terasa di depan wajah Amerta. "Baiklah!! Jika kamu perduli denganku. Maka cium aku sekarang!!" pinta Changmin, mencengkeram semakin erat.


"Kak, lepaskan!!" Amerta mencoba memegang tangan melepaskan tangan Changmin. Napasnya sudah terasa tersendak-sendak di ujung tanduk.


"Changmin, apa yang kamu lakukan?" tanya Lian yin mendorong tubuh Changmin tersungkur ke sofa.


"Tanya dengannya!!" jawab Changmin kesal, menajamkan pandangannya menatap Amerta yang masih memegang


"Lihatlah!! Apa yang kamu lakukan, bodoh!!" umpat kesal Lian yin.


"Lihatlah kamu terlalu pecundang. Kenapa kamu minum sebanyak ini. Jika kamu memang suka Grace, lebih baik kamu cari dia. Jangan jadi pecundang dan merusak tubuh kamu sendiri," bentak Lian yin, dengan tangan menunjuk ke wajah Changmin.


"Sekarang kamu pulanglah.. Jangan seperti ini lagi. Aku akan bantu kamu cari Grace." lanjutnya.


"Buat kamu, Amerta. Bawa dia pulang!!"


"Iya, kak Yin!!" ucap Amerta menunduk takut.

__ADS_1


"Kak Changmin, ayo kita pulang!!" Amerta mencoba mengangkat tubuh lemas Changmin, dengan tangan ia letakkan di atas pundaknya, dia membantunya berjalan keluar perlahan dari rumah itu.


Dasar cinta? Membuat orang bodoh, dan buta?


Lian yin menggelengkan kepalanya, dan bergegas untuk pergi kembali menemui istrinya.


--------


Changmin berjalan menuju ke rumahnya, karena rumah mereka memang sangat dekat, bahkan hanya 10 menit jika berjalan kaki. Dan Amerta dengan senang hatinya membantu tubuh Changmin yang kulai, memapah tubuhnya untuk terus berjalan meski dia merasa sangat berat, namun diam-diam dia menyembunyikannya semuanya.


"Kenapa kamu mau membantu aku?" tanya Changmin, menatap wajah Amerta dari samping.


"Aku sudah banyak bilang padamu, aku akan selalu menunggu kamu sampai kamu suka denganku. San aku yakin, kamu akan suka denganku!!"


"Itu gak mungkin dan gak akan mungkin,"


"Kenapa kamu bilang seperti itu?"


"Karena aku tidak pernah suka denganmu?" ucapnya dnegan suara sedikit lantang. Membuat wajah Amerta berubah mueung, dia menahan air nata yang entah kenapa ingin sekali keluar dari matanya.


Kenapa aku merasa sangat sakit saat mendengar ucapan Changmin yang menghinaku. Om ini benar-benar membuat aku benar-benar gila. Aku suka dengannya, tapi dia tak suka denganku. Dan hubunganku dengannya seperti bola, yang tak akan pernah menemukan ujungnya.


"Aku tidak suka dengan anak kecil, karena itu prinsipku. Jadi jangan harap aku bisa suka denganmu. Itu tidak akan mubgkin!" ucap Changmin memperjelas.


"Iya? aku paham itu," jawab Amerta sedikit kecewa.


"Makasih!! Kalau kamu sudah paham!!"


Mereka sampai di rumah Changmin, Amerta langsung membawa Changmin masuk ke dalam rumahnya.


"Bi, bantu aku!!" teriak Amerta memanggil para pembantu Changmin.


"Tuan, kenapa non?"


"Dia mabuk bi, bantu aku bawa dia ke kamarnya," ucap Amerta cemas.


Changmin sudah tak sadarkan diri, dia hanya diam tubuhnya semakin lunglai tanpa yulan dan semakin berat.


"Baik, non!!" pembantu Changmin membantu Amerta membawa tuanya untuk masuk ke dalam.kamarnya, membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Amerta melepaskan ke dua sepatu yang masih menempel.di kaki Changmin.


"Bi!! ambilkan air dan handuk kecil, ya!!" pinta Amerta.


"Baik, non!!" jawabnya, dan bergegas pergi mengambil apa yang di perintahkan Amerta.


"Kenapa kamu seperti ini?" ucap Amerta, mencoba membuka setengah kancing kemeja yang di kenakan Changmin.


Apa perlu aku beri tahu di mana keberadaan Grace sekarang. Aku gak sanggup melihat dia seperti ini, tapi entah dia nanti bisa terima atau enggak. Jika Grace akan menikah dengan Luhan kakaknya sendiri. Gumam Amerta.


"Ini non, airnya!!"


"Makasih bi!! Bibi boleh pergi," ucap Amerta lembut. Dia segera membasahi handuk dnegan air, lalu mengusap lembut rambut tubuh Changmin.


"Kamu kenapa pergi!!" Changmin menegang lengan Amerta, tanpa sadar dia mencengkeramnya semakin kasar.

__ADS_1


"Dia bergumam lagi!!" umpat kesal Amerta.


Perlahan Changmin mulai melepaskan tangannya, dan kembali tidur lagi.


__ADS_2