Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Grace jatuh


__ADS_3

"Grace, aku suka denganmu. Tapi aku tidak mau melukaimu, aku belum bisa memberikan cinta sepenuhnya. Sekarang aku ingin bisa memperdalam rasa cinta aku, agar aku semakin mencintaimu. Tapi entah gimana dengamu." gerutu Changmin, menundukkan kepalanya, ia memegang ke dua kepalanya, yang kini perlahan sangat penat.


Grace yang masih berdiri di depan pintu, ia mendengar apa yang di katakan Changmin, namun tak mau membalikkan bedanya. Ia melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Changmin.


"Jangan pernah menyukaiku, jangan pernah!! Itu tidak boleh terjadi, tidak boleh," gerutu Grace, berlari masuk ke dalam kamarnya. Ia beranjak duduk di sofa, mencoba untuk menenangkan hatinya.


Drrttt... Drttt...


Ponsel Grace di atas meja, terlihat bergetar. Wanita itu, meliriknya sejenak, panggilan dari 'Lyly'


"Kenapa Lyli menghubungiku, apa dia ada masalah?" pikirnya dalam hati, ia segera meraih ponselnya di atas meja. Dan mulai menerima panggilan telepon dari Lyli.


"Hallo!! Grace, kamu di mana sekarang?" tanya Lyli, di seberang sana. dwngan nada yang terlihat sangat panik.


"Aku di rumah, memangnya mau pergi kemana lagi," gumam Grace, datar. Lagian aneh Lyli, bertanya dia di mana, lagian selama di rumah Lian yin, ia tidak pernah sama sekali keluar dari rumah itu. Tapi hal yang ia curigai, kenapa dia masih bertanya tentang hal itu.


"Kamu ambilkan tasku sekarang. Kamu bisa kan bantu aku?" ucap Lyli dengan nada memohon.


"Iya, bisa. Kamu di mana sekarang?"


"Aku di depan rumah, Kamu lemparkan saja tas itu, tepat depan gerbang masuk rumah Lian yin. Aku akan mengambilnya,"


"Baiklah,"


"Aku curiga akan ada yang melihatnya nanti, jika kamu keluar jauh!" lanjutnya.


"Baiklah!! Tenang saja, aku akan menjaga diri, tidak akan keluar jauh." ucap Grace. "Tapi di mana tas kamu?" lanjutnya.


"Ada sofa!" Grace melirik ke arah Sofa, dengan segera ia mengambilnya, dan segera mengakhiri panggilannya dan beranjak pergi dengan langkah cepat keluar dari rumah Lian yin.


Changmin yang sadar Grace terlihat terburu-buru, ia melangkahkan kakinya mengikuti kemana Grace pergi, dengan langkah sangat hati-hati, ia tidak mau jika Grace melihatnya


"Kemana dia pergi, kenapa dia membawa tas?" tanya Changmin pada dirinya sendiri. "Dia terlihat sangat mencurigakan." pikirnya.


Ia bersembunyi di balik tiang, saat Grace, terlihat gugup, menatap ke belakang dan ke depan bergantian, dengan wajah was-was.


----


"Emm... Sepertinya ada yang mengikutiku? Tapi dia siapa, dia begitu lihainya mengikutiku, sampai dariku, tidak tahu siapa yang bersembunyi. Tapi sepertinya aku harus cepat pergi, ngapain juga perdulikan orang itu." gumam Grace, yang mulai memanjat pagar belakang, ia memang sengaja ke pagar belakang.


"Apa yang di lakukan Grace," gumam Changmin. Ia segera berlari memergoki Grace.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Changmin, meninggikan suaranya, membuat Grace terkejut dan sontak, menoleh ke belakang cepat, membuat kakinya terpeleset, saat mau memejat sampai atas.


"Aaw---"


Sreettt.... kraakkk..


Brukkkk...


Leher Grace tergores sedikit, besi yang menjulang, membuat sebagian bajunya sobek, membuat bra dalam miliknya terlihat, setengah. Ia terjatuh tepat di atas tubuh Changmin, hingga tersungkur ke bawah.

__ADS_1


Ke dua mata mereka saling tertuju sejenak, dengan cepat Changmin mengalihkan pandanganya. Ia tidak mau terlalu lama menatap mata cantik Grace, yang hanya akn membuatnya semakin tertarik dengannya.


"Apa yang kamu lakukan tadi?" tanya Changmin. Pandangan matanya tertuju ke bawah, tak sengaja ia melihat pemandangan tepat di atas dadanya. Seketika Changmin, menelan ludahnya. menahan dirinya, untuk bisa menyentuhnya, karena itu tidak mungkin. Dan pasti akan di tampar terus terang oleh Grace.


"Grace baju kamu!!" ucap Changmin, tanoa menayap Grace, berusaha untuk tidak melihat dada Grace.


Grace seketika menatap ke bawah, dan spontan, langsung menutupi dadanya, yang terlihat terbuka,


"Dan kamua ap gak mau berdiri sekalian, mau sampai kapan kamu di atas tubuhku, atau memang kamu mau seperti ini?" goda Changmin, yang mencoba untuk menjadi dirinya yang seperti biasanya, selalu friendly pada semuanya.


"Ini semua gara-gara kamu, kamu yang membuat aku terkejut. Hingga aku jatuh." decak kesal Grace memukul bahu Changmin lirih.


"Lagian kenapa kamu pergi diam-diam seperti itu," ucap Changmin tak mau di pojokkan.


"Aww---" Gracee terdiam, meringai kesakitan memegang lehernya.


"Darah!!" ucap Grace, melebarkan matanya. Menatap tangannya yang ternodai dengan tetesan darah segar.


"Gimana bisa darah segini banyaknya.." Grace beranjak berdiri, dengan tangan keri menarik sebagian bajunya menutupi dadanya. Seakan dia melupakan godaan yang di lintarkan Changmin padanya.


Changmin duduk di depan Grace, menatap lehernya kanananya.


"Bentar aku lihat!!" Changmin, mencoba melihat luka Grace.


Melihat darah masih keluar, Changmin memegang tangan Grace untuk berdiri.


"Ikut aku!!" Changmin tak mau pikir panjang, ia mengangkat tubuh Grace.


"Turunkan aku!!" ucap Grace meronta.


Membuat Grace tertegun, wajah Changmin saat marah, terlihat sangat, menakutkan!


"Eh.. Maaf, sudah membentak kamu," ucap Changmin, melihat wajah Grace yang sepertinya terdiam, tidak suka dengan perlakuan kasar Changmin.


"Kasih tas Lyli. Dia suruh melemparnya di depan, tapi aku memberikan lewat belakang. Sambil cari tahu siapa yang diam-diam memata-matai kita, aku yakin dia sembunyi di luar pagar ini." pikir Grace menjelaskan.


Changmin mengerutkan keningnya.


Jadi itu masalahnya, kenapa dia tadi berlari, dengan langkah terburu-buru, ia ternyata hanya ingin memberikan tas Lyly. Kenapa dia tidak menyuruh aku saja. Dan kenapa harus membuat dirinya selalu menanggung bahaya sendiri. Dasar Grace, sifat kamu dari dulu masih sama. Tidak mau membuat orang lain menjadi bingung dengan keadaan kamu. Dan tidak mau merepotkan orang lain.


"Changmin, kenapa kamu hanya diam, dan terus menatapku seperti itu?" tanya Grace, mengernyitkan matanya, menatap aneh pada Changmin.


Apa dia masih mengingat kejadian tadi, soal ciuman tadi.


"Emm.. Soal tas, berikan pada pengawal. Dan soal mata-mata, kamu gak usah pikirkan, dan jangan khawatir, yang penting luka kamu harus di obati." ucap Changnin, tegas, melangkahkan kakinya dengan cepat, berjalan masuk ke rumah Lian yin.


"Kamu sini!!" panggil Changmin pada pengawal yang berjaga di luar rumah Lian yin.


"Baik tuan!!"


"Berikan tas ini pada Lyli, dan bilang padanya jika Grace tidak bisa memberikannya, dia terjatuh tadi." jelas Changmin, yang segera memberikan tas Lyly, lalu mulai, beranjak pergi dengan langkah semakin cepat, ia masuk ke rumah, menaiki anak tangga, menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Grace hanya diam menatap wajah Changmin, yang terlihat sangat panik saat tahu dia terluka.


Apa dia beneran suka denganku? Atau hanya pura-pura suka, tau dia hanya ingin dekat dengan aku, dan mencari tahu perasaanku padanya.


Changmin, menurunkan tubuh Grace di sofa, dan segera mencaei kotak ibat, dengan wajah sangat panik, dengan jemari tangan bergetar, melihat wanita yang ia cintai terluka. "Aku bisa mengobatinya sendiri." ucap Grace, meraih kotak obar di tangan Changmin.


"Jangan banyak bicara, kamu gak bisa melakukannya sendiri!" bentak Changmin, meraih lagi kotak obat, dan segera memberikan obat pada leher Grace yang terluka, ia membersihkan darah yang terlihat masih menetes, menodai leher putih wanita itu.


Grace hanya diam, dan membiarkan Changmin mengobatinya. "Aww.. Sakit!!Pelan-pelan, Changmin" ucap keras Grace. Meringis kesakitan.


Lian yin dan Yiwen yang kebetulan lewat dari lantai bawah, melewati kamar Grace, mendengar rintihan sakit Grace, membuat Lian yin dan Yiwen semakin penasaran, ia menguping apa yang di lakukan mereka, di balik pintu. Terbesit dalam pikiran mereka, jika mereka melakukan hubungan.


"Menurut kamu apa yang mereka lakukan?" tanya Yiwen.


"Sepertinya Changmin, benar-benar sudah membobol gawang dengan sempurna," gumam Lian yin.


Plakkk...


"Jangan berpikir jorok!! Gak mungkin Grace mau dengan Changmin, apalagi berhubungan dengannya.


"Changmin!! Sakit!!" teriak Grace, mencengkram erat sofanya, menahan rasa sakit yang semakin menjadi.


"Apa bemar mereka melakukan?" tanya Yiwen, saling berpandangan curiga, dengan apa yang di lakukan Changmin di dalam, dan.


Braakkk...


Pintu tiba-tiba terbuka, membuat Lian yin dan Yiwen terjatuh ke lantai, tepat masuk ke dalam kamar Grace.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Changmin, terkejut, menatap bingung dengan apa yang di lakukan Lian yin dan Yiwen, di lantai.


Yiwen dan Changmin mendongakkan kepalanya, menatap Changmin dan Grace yang duduk di sofa, dengan pakaian lengkap.


"Harusnya aku yang tanya pada kalian, apa yang kalian lakukan tadi?" tanya Yiwen penasaran.


Changmin, mengernyitkan wajahnya, menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman lebar, seakan ia paham dengan apa yang di curigai Lian yin dan Yiwen.


"Grace terluka, memangnya kamu kira aku melakukan apa?" tanya Changmin. "Apa kamu tadi mencoba untuk mendengarkan apa yang kita lakukan, ya?" lanjut Changmin.


Yiwen, menggaruk kepala belakangnya, yang terasa memang tidak gatal. Ia meringis, tersenyum menatap Lian yin. Mencoba mengerakkan tanganya, memberi kode pada suaminya itu untuk segera pergi.


"Tapi bentar, apa kamu melakukannya dengan kasar, lihat baju Grace robek. Kalau mau bermain, pelan-pelan, jangan terlalu kasar dengan wanita kasihan dia" gumam Lian yin, seketika di balas dentan tatapan tajam dari Yiwen di sampingnya.


Yiwen yang semula masih tersungkur di lantai, ia beranjak berdiri. Menarik tangan Lian yin untuk segera bersiri, ia mencoba sekuat tenaga, membantu laki-ya itu berdiri. "Berhenti mencari kesempatan melihat tubuh Grace," ucap Yiwen kesal, menarik pipinya ke samping.


"Kalau kamu masih curi pandang, aku akan pergi dari sini." ancam Yiwen kesal.


"Apa yang kalian dengar tidak seperti apa yang ada dalam pikiran kalian. Lebih baik kalian pergi dari sini, dan sekalian. tolong tutup lagi pintunya ya," ucap Changmin, tersenyum lebar, melihat kelakuan aneh suami istri itu.


Yiwen, segera menarik tangan Lian yin, beranjak pergi masuk ke dalam kamarnya.


"Apa kamu sudah minta lagi? Kenapa mengajak aku ke kamar?" tanya Lian yin menggoda.

__ADS_1


"Nanti malam saja, sekarang kamu duduklah dulu si sini, aku akan biarkan kamu makanan enak. Kamu harus coba ya. Aku ingin masak sebentar,"


"Baiklah, jangan lama-lama ya, syang." ucap Lian yin. Membaringkan tubuhnya santai di sofa, sembari menatap pemandangan luar yang terlihat jelas dari balik kaca rumahnya.


__ADS_2