
Di saat semua bingung tentang Lian yin. Lyli dan Ley belum tahu kabar tentangnya. Dia benar-benar belum menghubungi Lie Wei dan Lian yin dari kemarin. Bahkan semuanya ia tidak tahu kabar di sana.
"Syang!! Ada kabar dari Lian yin dan yang lainya tidak?" tanya Ley, beranjak duduk, menayap Lyli yang sudha sibuk menyiapkan makanan untuknya
"Belum ada, dari kemarin aku juga belum menghubungi mereka. Entah sekarang merrka di mana." ucap Lyli tanpa menatap ke arah Ley.
Ley hanya diam, beranjak berdiri, melangkahkan kakunya mendekati Lyli, memeluk tubuhnya dari bekakang dengan tangan kanan memegang tangan kanan Lyli yang sedang sibuk menyiapkan makanan.
"Syang!! Kamu sudah sehat sekarang. Kita pergi sekarang tau tunggu kamu sepenuhnya sehat!!" lanjut Lyli melirik sekilas ke bekakang, membuat ke dua mata mereka saling tertuju.
"Kita pergi habis makan. Tapi apa boleh aku memeluk kamu seperti ini. Aku ingin segera menikahi kamu secepatnya. Jika semua sudah beres. Aku akan segera menikahi kamu. Tunggu lima belas hari lagi, kita akan menikah." ucap Ley, mengecup lembut pipi Lyli.
Lyli menguntupkan bibirnya, menatap Ley di sampingnya, dia terlihat sangat tampan meski baru bangun tidur, dan belum sempat mencuci mukanya
"Lebih baik kanu sekarang cuci muka dulu. Baru aku akan kasih jawaban ke kamu," guman Lyli, menarik dua sudut bibirnya tipis membentuk sebuah senyuman kecil.
"Aku akan pergi jika kamu jawab,"
"Baiklah aku jawab sekarang!" gumam Lyli.
"Cepat aku aku siap dengarkan," Ley memasang pendengaran tajamnya, ia mendekatkan telinganya.
"Aku sayang dengan kamu!! Tapi aku gak mau..." ucapan Lyli terhenti, seakan berat mengungkapkan, ia memasang wajah datar, dengan kepala sedikit menunduk ke bawah.
"Apa kamu gak mau menikah denganku?" tanya Ley, menatap wajah Lyli yang terlihat datar, ia melepaskan pelukannya, dan berdiri di samping Lyli.
"Jika kamu tidak mau, aku gak masalah" lanjutnya, penuh kekecewaan dalam hatinya.
Lyli tersentum, menatap Ley, menvubit pipi kiri Lay yang terlihat sangat menyedihkan, dengan wajah di tekuk, "Dengarkan ucapanku dulu!!" ucap Lyli.
__ADS_1
"Padahal aku hanya bilang jika aku, gak mau menolak menikah dengan kamu!!" Lyli menahan senyumnya, melihat ekspresi Ley tadi membuatnya sangat gemas.
Lay tersenyum lebar, memeluk erat tubuh Lyli. "Ley!!"
"Opss.. Maaf. Tadi aku terlalu senang," ucap lay, melepaskan pelukannya, memegang ke dua tangan Lyli, lalu mengecup lembut punggung tangan Lyli, meluapkan kebahagiaan dalam dirinya.
"Kamu tahu aku sekarang sangat bahagia. Aku akan segera menikah dengan kamu. Dan aku harap kita jadi pasangan yang selalu romantis, sampai kakek! Nenek!. Dan sampai maut memisahkan kita." ucap Ley. tiba-tiba pikirannya terhenti, raut wajahnya berubah seketika, bibir yang semula tersenyum lebar, perlahan ia menarik bibirnya ke bawah.
"Tapi maaf!! aku belum bisa membuat suasana sangat romantis. Di moment seperti ini. Tapi aku janji akan menjadi hal yang romantis nanti. Saat semua sudah selesai masalah kita," ucap Ley, melepaskan tangan Lyli, membalikkan vadanya, lalu beranjak menuju ke sofa. Duduk bersandar di sofa dengan pandangan wajah kosong menatap ke meja depannya.
Lyli hanya diam, ia tahu apa yang di rasakan Ley. Ley yang terlihat romantis di awal dan selalu ada buatnya. pasti merasa dia sangat tertekan dengan semua masalah yang ada. Dan mulai sekarang aku akan membantu ia menyelesaikan semua masalah yang ada.
"Udah!! Sekarang kita makan dulu," ucap Lyli, menarik tangan Ley duduk di sampingnya, menikmati makanan yang sudah susah payah ia sajikan, dia dari kemarin Lay sakit, seharian belajar masak, melalui resep yang ia lihat di internet. Meski gak tahu rasanya gimana, tapi setidaknya dia sudah mencoba.
"Oya, kalau tidak enak jangan di buli," ucap Lyli, yang mulai melihat Ley yang sudah siap untuk menyantap makananya.
Rasa gugup dan khawatir rasa masakannya tidak enak, ia hanya diam mengernyitkan matanya, dengan ke dua mata terpejam, takut jika mendengar kata tidak enak dari mulur Ley.
"Apa benar yang di katakan, gak mungkin. Pasti kamu bohong, kan?" tanya Lyli, menatap wajah Ley yang terus menikmati makanan yang ada.
"Kamu coba kalau kamu gak percaya. Aku gak pernah bohong pada kamu!!" ucap Ley.
Lyli segera memakan masakannya sendiri, ia merasakan masakannya yang benar-benar enak, padahal dia beru saja belajar, dan gak nyangka masakannya bisa seenak ini.
Drrttt... Drrttt...
"Ponsel kamu getar, lihat dulu siapa yang menghubungi kamu. Siapa tahu ada kabar dari Lian yin!!" ucap Lyli melanjutkan lagi makanannya.
"Hanya pesan, dari Lie Wei!" ucap Ley, melirik sekilas ke arah Lyli, lalu mulai membuka pesan dari Lie Wei.
__ADS_1
"Lian yin hilang, an banyak orang bilang jika dia meninggal. Kamu lihatlah tv, di sana banyak stasiun tv mengabarkan jika Lian yin sudah meninggal."
"Braaakkkk!!!"
"Lay, kamu kenapa?" tanya Lyli menatap bingung ke arah Ley.
"Kita harus pergi sekarang!!" Ley beranjak berdiri, menyiapkan semua bajunya, memasukan lagi ke dalam koper miliknya. Dan beranjak meraih jaketnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Lyli.
"Aku sudah masukan semua baju kamu di dalam koper sekarang kita pergi. Lian yin dalam bahaya. Aku gak bisa terus di sini. Aku tidak bisa di sini lagi," ucap Lay, memegang ke dua tangan Lyli.
"Baiklah!! Aku ikut dengan kamu. Lagian semua pertahanan di sini. Aku sudah reset semuanya, aku sudah lihat ke belakang hotel ini di tempat kita hampir tertangkap. Lebih baik kita pergi, aku akan ceritakan semua ke kamu nanti di mobil," ucap Lyli, memegang tangan Ley, lalu laki-laki itu menarik tangan Lyli beranjak pergi, keluar dari hotel itu masuk ke dalam mobil.
"Biar aku yang mengemudi mobilnya. Lebih baik sekarang kamu hubungi Lie Wei. Kita bertemu di mana. ada hal yang ingin kita bicarakan bersama nantinya." ucap Kyli, yang mulai mengambil alih mobil Ley, dan perlahan mulai menjalankan mobilnya keluar dari parkiran hotel.
"Lie Wei bilang, kita bertemu di laut. Dekat dengan perbatasan timur. Lian yin di buang di sana oleh Jack. Dan sekarang kita semua menuju ke sana." ucap Ley, terlihat mulai panik. "Kamu lebih cepat lagi, atau aku yang ambil alih.."
"Lebih baik kamu tenangkan dulu, jangan panik. Aku yakin Lian yin tidak kenapa-napa. Dia gak mungkin selemah itu. Dan dia bukanya bisa berwenang, aku yakin dia pasti akan baik-baik saja."
"Gimana aku bisa tenang. selama ini dia sudah aku anggap saudara aku!!"
"Gak hanya kamu, aku juga anggap dia juga sebagai kakak aku. Kamu tahu aku juga sudah lama kenal dengannya. Dna dia yang selaku membantu aku. Kau tinggal di luar negeri juga dia yang biayai semuanya. Dan aku gak bisa lupa semua kebaikannya denganku." decak kesal Lyli dengan nada menibggi, membuat Ley diam, menatap wajah Lyli.
"Termasuk kamu masih suka dengannya!!"
"Kenapa kamu bicara seperti itu,"
"Karena kamu terlihat masih berharap dengannya."
__ADS_1
"Jadi kamu gak percaya dengan aku. Jika kamu masih curiga sepeti itu. Aku gak mau menikah dengan kamu! Aku sudah berusaha suka dnegan kamu, saat aku muali suka kamu malah mengira aku yang tidak-tidak. Jika kamu seperti ini terus saat kita nikah tidak akan bisa bahagia." ucap Lyli, membungkam mulut Ley seketika, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, hingga memutuskan untuk tetap diam, dari pada ia tambah emosi dan membuatnya bertengkar dengan Lyli lagi.