
"Yiwen!, kamu kenapa diam?" tanya Lee.
"Gak apa-apa, cuma aku merasa asing dengan tempat ini. Sebanarnya ini di mana?" Tanya Yiwen menatap sekelilingnya. Kota kecil dengan penduduk yang sangat padat. Dan di tambah lagi kendaraan yang berkeliaran sangat banyak dari roda dua dan empat, semua memenuhi jalananan di sana, dan semakin membuat kota itu penuh polusi dan sering terjadi kemacetan. Benar-benar tak bisa di bayangkan jika dia tinggal kota seperti ini. Benar-benar jauh dari kesejahteraan.
Beda dengan kota tetangga yang lebih canggih, dan di sana lebih nyaman, pepohonan di kota barat juga masih banyak yang memenuhi pinggir jalan. Dan hiasan bunga serta lampu kelap kelip saat malam hari akan terlihat lebih indah. Tapi di sini entahlah, dia tak begitu tahu tentang itu semua.
Kota yang Jauh beda dengan kota Luhan dan Lian yin, yang lebih nyaman dan penduduk di sana kebanyakan pejalan kaki. Dan terkadang hanya mengenakan sepeda saat pergi kemana-mana. Yang naik montor dan mobil hanya satu dua saja, bisa di hitung kalau kamu jalan kaki di pinggiran kota. Kota ini tak begitu jauh kota Lian yin. Namun perbedaan kota itu sangat jauh.
Yiwen masih mengamati sekitarnya, ia tersentuh saat melihat seseorang di pinggir jalan sedang tertidur sepertinya ia sedang kelaparan.
Yiwen membuka kaca mobilnya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang ketas dalam sakunya. "Ambilah untuk membeli makam" ucap Yiwen memanggil orang itu.
"Terima kasih non, makasih"orang dengan pakaian lusuh itu, terua menunduk tak henti mengucapkan terima kasih pada Yiwen. Bahkan dia memeberikan uang yang di kira cukup banyak baginya.
Lee tersenyum tipis, melihat Yiwen begitu baik dengan Sesama. Dia benar-bemar wanita yang menarik, gumam Lee.
Namun senyumnya memudar saat mendapati Yiwen, terdiam merenenung dengan wajah di tekuk ke bawah, seraya ia menyembunyikan sesuatu dari Lee.
Lee tahu apa yang di ada dalam pikiran Yiwen, meskipun ia tak begitu paham dengan pikirannya. Manda bahkan terus melamun dengan tangan kanan memegang kepalanya, mungkin ia berusaha mengingat sesuatu. Tapi sebelum itu terjadi, ia ingin mengajak ia bicara agar dia bisa lupa lagi dengan ingatannya.
"Yiwen kamu pasti menatap aneh ya pada kita ini"ucap Lee, meskipun ia tahu bukan itu maksud Yiwen dalam pikirannya.
"Ini kotaku, aku tinggal di sini, karena tempat ini banyak penduduk. Entah kenapa aku suka saja tinggal di sini, banyak teman sanak saudara yang baru aku kenal, karena aku tak punya siapa-siapa lagi di sini hanya teman-taman di sekitarku. Orang tuaku di bunuh dan kejadian itu saat aku tak ada di rumah. Mereka tega menyakiti semuanya, tanpa memikirkan perasaan anak-anaknya nanti apakah bisa hidup tidak saat orang tuanya meninggal" curhat Lee, ia merasa ingin menceritakan semuanya pada Yiwen kali ini. Agar ia tahu kelak, jika calon suaminya Lian yin itu dulu adalah seorang yang sangat kejam, benar-benar sangat kejam, bahkan dia tak punya hati, tapi biarkan kamu sendiri kelak yang akan memergokinya bebuwat kejam.
Namun di balik itu semua, sebanarnya Lee ada alasan lain kenapa ia ingin tinggal di sana, karena musuh tak akan mudah menemukannya di sana. Di sana banyak orang yang hampir mirip dengan ciri-cirinya. Bahkan lee juga menciptakan robot sama seperti dirinya. Untuk mengelabui para musuh. Tak hanya satu robot yang ia ciptakan namun 3 robot dengan gaya yang berbeda namun penampilannya sangat mirip.
Robot yang bisa berbicara sama sepertinya, melakukan segala pekerjaan sama sepertinya. Pengendalian dari robot itu adalah sensor komunikasi dan penglihatannya mereka. Bahkan kecanggihannya ia bisa mendeteksi mana orang yang benar-benar baik atau orang jahat. Jika di dekatnya berniat jahat dengan dirinya, maka ia akan melukai orang itu.
Yiwen terdiam sejenak, menatap ke arah Lee.
__ADS_1
"Siapa yang membunuh orang tua dan saudara kamu?" Tanya Yiwen yang kini nampak sangat penasaran dengan cerita Lee.
Lelaki di sampingnya itu hanya tersenyum.
"Nanti kamu juga akan tahu, sangat tahu" gumam Lee. "Sekarang kamu turun dulu, istirahat sejenak di rumahku, entar itu aku akan membawamu jalan-jalan berkeliling kota" lanjut Lee.
Lee beranjak turun lebih dulu, dan membukakkan pintu untuk Yiwen. Dengan senyum terpaksa ia juga menerima uluran tangan lee. Tangan yang tak sebegitu nyaman seperti tangan orang yang ia kenal dulu, yang selalu mengahangatkan hatinya dalam dekapannya dan selalu membuat ia semangat untuk hidup. Namun ia merasa Lee berbeda.
"Aku akan membawamu ke rumah gubukku" gumam Lee.
Yiwen hanya diam, ia mengernyitkan matanya menatap aneh pada Lee. Rumah gubuk kecil tidak terlalu mewah. Tapi, nampak begitu sangat indah seperti ini, rumah yang sangat megah, lebih mewah dari semua rumah yang ada di penjuru kota ini.
Yiwen memutar matanya menatap kagum melihat begitu bagusnya taman tepat di sebelah kanan ia berdiri sekarang. Taman yang begitu luas, bahkan lebih kuas dari pada lapangan golf.
Namun pandangannya terhenti, ia melihat orang yang mirip dengan Lee berkeliaran di sekitar taman, sepertinya dia bekerja di sana. "Siapa sebenarnya Lee, kenapa dia lebih dari satu? Apa dia membuwat kembaran lagi atau dia memang punya kembaran"gumam Yiwen dalam hati,
Yiwen tersadar, ia menatap ke arah Lee di sampingnya. Wajah yang asing, perasaan asing. Ia melihat jemari tangannya, cincin yang sama dengan cincinya. Yiwen mengangkat tangannya, ia melihat cincin itu masih di jemarinya. "Apa dia sebenarnya tunanganku" gumam Yiwen, ia terus bertanya-tanya dalam hati.
Tapi ia merasa hatinya selalu menolak jika berdekatan dengan Lee, solah ada yang mencegahnya berdekatan dengan dia.
"Kamu tunggu sini ya?, aku mau ambil kamu sesuatu" ucap Lee beranjak pergi dari hadapan Yiwen.
Ia menuju ke tempat kerjanya, menemui sesorang di dalam, yang dari tadi sudah menunggunya.
"Kamu sini?" panggil Lian yin pada pelayannya.
"Iya, tuan" pelayan itu berlari kecil mendekati Lee dan menundukkan badannya.
"Kamu siapkan pakaian untuk Yiwen, dan biarkan dia yang memilihnya" ucap Lee.
__ADS_1
"Baik tuan" jawab pelayan itu, ia terus nenunduk tak berani menatap taunnya.
"Jangan lupa, bawa dia masuk ke kemarnya dulu, aku sekarang ada urusan sebentar, kamu ajak dia ngobrol lebih dulu, untuk memperpanjang waktu" ucap Lee, ia segera meraih gagang pintu, memutarnya perlahan.
"Baik tuan" pelayan itu beranjak pergi.
"Ternyata kamu sudah datang juga, aku sudah menunggumu sangat lama" ucap sahabat Lee, dia orang yang sangat dekat dengan Luhan kali ini. Namun hanya sebegai mata-ata untuk mencari informasi tentang dunia mafia di sana. Ya, meskipun Lee tidak ada urusan dengannya. Tapi ia tahu jika Luhan dan Lian yin juga berseteru. Itu hal bagus yang bisa ia manfaatkan.
"Yhin yhi!!, kamu memang wanita yang tangguh, bagaimana bisa kamu bisa lolos dengan Luhan" ucap Lee,
"Ha..ha..Itu sangat mudah bagiku, karena Kuhan bukan apa-apa, sekarang dia sangat pervaya denganku" gumam Yhing yhi. "Dan saudara wanitaku, kesayanganmu itu, terlalu bodoh dia, hanya mencuri berlian saja dia tertangkap oleh Lian yin" lanjutnya, dengan wajah mengejek.
Ya, Yhing Yhi dan Yhin yhie adalah saudara kembar, namun banyak orang tak bisa msngenali kemiripannya. Meski tak begitu kembar persis. Mereka memang di tugaskan sebagai mata-mata di tempat yang berbeda. Cara Lee menempatkan dan membuat drama untuk lian yin daan lUhan, benar-benar sangat cerdik. Bahkan tak ada yang mengetahuinga.
Semua rencana dari 5 tahun lalu berjalan mulus, namun kini sepertinya ada kenadala dari yhing yhi, yang harus di sekap dan di oenjara di hawah tanah. Ia bahkan belum ada niat untuk menyelamatkan Yhing yhi dari sana.
"Kita pikirkan cara,agar kita bisa masuk ke sana" ucap Lee beranjak duduk di samping Yhing yhi.
"Baik, tapi masuk ke sana tidak bisa dengan mudah" gumam Yhing yhi.
"Apa kamu punya rencana" ucap Lee,
Yhing yhi tersenyum, seakan ia ada ide bagus untuknya. "Seorang Yhing yhi tak mungkin tidak punya rencana" wanita itu terlihat menyombongkan dirinya.
"Apa rencanamu" Lee semakin penasaran dengan rencana Yhing yhi.
"Biarkan Yiwen bertemu dengan Lian yin, tapi bujuklah dia agar mau melaksanakan semua tugasnya. Apalagi sekarang dia sudah melupakan Lian yin, kan. Biarkan saja dia kembali. Kita akan memata-matai Yiwen dari jauh. Dan suruh dia membebaskan Yhing yhi. Lagian jika dia membebaskan Yhing yhi, Lian yin pasti tidak akan marah padanya" Ucap Yhing yhi.
Lee terdiam, ia terpikir ada benarnya juga kata Yhing yhi. "Baiklah, kita rencanakan semuanya" jawab Lee,
__ADS_1