Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Tangisa kehancuran amerta


__ADS_3

Pov Changmin


Changmin sudah hampir dua hari keliling tak ada tanda-tanda di mana Grace berada. bahkan di setiap perjalanan hubungannya dengan Amerta masih saja sama. Mereka saling bertengkar, dan Changmin masih saja kasar padanya di setiap perjalanan. Bahkan sama sekali tidak perduli jika dia lapar atau tidak, yang penting dia bisa bertemu dengan Grace itu yang ada dalam pikirannya saat ini gampang memikirkan hati dan perasaan orang lain.


Changmin menghentikan mobilnya di bahu jalan, dia bergegas turun membuat Amerta hanya bingung manatap ulah orang yang dia sayang itu.


"CEPAT TURUN!!" bentak Changmin membuka pintu mobilnya menarik tangan Amerta kasar keluar dari mobilnya.


"Kenapa kamu selalu kasar padaku?" ucap Amerta dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku ingin kamu pergi jauh dari kehidupanku!!" ucap Changmin, menatap tajamvdengan ke dia alis sedikit di tekuk ke atas.


Dan Amerta hanya diam memandang wajahnya. "Apa yang kamu katakan?" tanya Amerta lirih menatap wajah Changmin yang terlihat begitu marah.


"Kamu lebih baik pulang saja, aku gak mau kamu temani lagi," ucap Changmin pada Amerta, sudah dua hari melakukan perjalanan jauh keliling kita hanya untuk mencari Grace.


"Aku ingin bilang padamu!!" ucap Amerta.


"Blang apa lagi!!" bentak Changmin.


"Kenapa kamu malah marah padaku, padahal aku hanya ingin bilang jika aku tahu di mana Grace." ucap Amerta menggebu.


"Kalau kamu tahu, kenapa tidak bilang dari awal, apa kamu memang sengaja ingin dekat dengan lama-lama, begitu." ucap Changmin dengan nada semakin meninggi.


Amerta menundukkan kepalanya, dia memegang jari-jarinya sendiri, menghilangkan rasa gugup dalam dirinya. "Aku takut bilang padamu, dan kamu gak mau sama sekali mendengarkan apa yang aku katakan. Kamu sibuk sendiri mencari Grace tanpa perdulikan aku,"


"Kalu kamu merasa tidak di perdulikan. Lebih baik kamu pergi jauh dariku. Dan ingat jangan pernah lagi muncul di hadapan aku!!"


"Apa kamu gak ingin bertemu dengan Grace?" tanya Amerta mengangkat kepalanya, dan mulai memberanikan diri berbicara keras padanya. Lalu dia menundukkan kepalanya lagi.


"Aku tahu di mana dia berada, sekarang kamu hidupkan mesin mobilnya lagi. Dan ikuti petunjuk yang aku berikan,"


"Jika kanu bohong, kamu pergi dari hidup aku. Dan jangan pernah menemui aku lagi. Selamanya!!" ucap Changmin.


"Kamu yakin?" tanya Amerta memastikan, jika apa yang di katakan Changmin itu memang benar dari dalam hatinya. Jika memang ia tidak mau melihatnya lagi, itu tidak masalah bagi Amerta, karena dia juga sudah cukup selama i i terus sakit hati, meski di wajah cerianya penuh canda tawa, di sisi alin dia merasa sangat sakit, jika Changmin terus menghinanya, bahkan sampai membentaknya. Ini pengalaman pertamanya ada laki-aki yang berani membentaknya, papanya saja tidak pernah sama sekali membentaknya.


"Aku yakin!!" ucap Changmin tegas.


"Baiklah!! Jika Grace tidak ada di rumahnya. Maka aku akan pergi dari kehidupan kamu, selamanya. Dan aku tidak akan pernah mencari kamu lagi, aku akan berusaha sebisanya melupakan cinta aku pada laki-laki batu seperti kamu." ucap Amerta, masuk kembali dalam mobilnya, ia mendongak kepalanya menahan air mata yang seakan ingin tumpah membanjiri pipinya.


Changmin bergegas masuk ke dalam mobilnya kembali, melirik sekilas ke arah Amerta yang menghadap berlawanan arah dengannya, tes...


Air mata perlahan keluar dari mata hitam bulat milik Amerta, dia tak kuasa menahan sakit hatinya yangnterus di bentak olehnya. Selama ini dia mencoba untuk tetap sabar dan selalu menahan tangisnya. Tapi hari ini hatinya benar-benar sangat sakit, sakit banget. Bahkan dia ingin sekali meluapkan amarahnya. Ucapanya yang menyuruhnyanperhi membuat dia berhenti lagi berharap dnegan Changmin. Percuma jika dia bersama dengannya. Dan Changmin tidak akan pernah sama sekali melirik ke arahnya. Dia hanyalah serpihan debu bagi Changmin. Dan Grace adalah bunga yang selaku di puji dan di idam-idamkan sampai sekarang.


"Kamu menangis?" tanya Changmin, tang perlahan mobilnya mulai melaju kembali.


"Tidak!!" ucap Amerta, mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan tangan kanannya.


Changmin memegang dagu Ameta, menariknya menghadap ke arahnya. "Lihatlah kamu menangis?"


"Siapa uang nangis, aku hanya kelilipan yadi?" jawab Amerta beralasan.


"Lagian slalu aku nangis atau tidak, apa kamu perduli denganku. Bukanya kamu tidak perduli denganku, an menyuruh aku pergi dari kehidupan kamu."


"Tapi aku gak suka jika ada wanita kenangis,"


"Kalau gak suka melihat wanita menangis, jangan pernah sakiti hati wanita yang tulus suka dengan kamu. Dan aku yakin suatu saat kamu akan menyesal dengan semua keputusan yang sudah kamu ucapkan padaku." ucap Amerta menggebu, dia meneteskan air matanya kembali membasahi pipinya tanpa ragu lagi melibatkan tangisannya pda Changmin.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyesal," ucap changmin, menghentikan kembali mobilnya di bahu jalan, dia memegang wajah Amerta, mengusap lembut air mata yang membasahi pipinya. Mata Amerta yak berhenti memandang wajah Changmin di saat dia menyentuhnya, hatinya terasa gemetar di buatnya. Sentuhannya meski hanya sekilas tapi membuat hatinya tak bisa tenang selamanya.


"Kenapa kamu hanya diam?" tanya Changmin.


"Kenapa kamu menyentuhku?" tanya Amerta dengan wajah kosong.


"Aku tidak suka melihat wanita menangis, bukanya aku sudah bilang padamu,"


"Terus kenapa kamu bait aku menangis?" tanya Amerta.


"Maaf!!" ucap Changmin lirih, lalu melepaskan tangannya dari wajah Amerta dan bergegas mengemudi mobilnya lagi.


Amerta menarik bibirnya tipis, "Hanya sebuah maaf! Maaf dan maaf. Setiap kali melukai hatiku. Kamu hanya bilang itu. Dan kamu benar-benar gak perduli dengan perasaanku,"


"Aku sudah bilang berkali-kali padamu, jika aku tidak suka denganmu. Jadi jangan memaksa aku untuk suka denganmu. Dan ingat, di hatiku selamanya hanya Grace."


Amerta menarik napasnya dalam-dalam


"Aku tahu itu," ucapnya.


"Jika dia sudah menikah, apa kamu akan menunggunya juga, apa kamu tidak mau bahagia."


"Aku yakin jika dia suka aku. Dia sudah lama suka denganmu. Dan gak mungkin dia menikah dengan orang lain,"


"Yang menikah dengannya bukan orang lain, tapi kakak kamu sendiri."


"Aku tidak menganggap dia kakak, saat dia pergi meninggalkan aku lagi.Bahkan dia tidak perduli dengan status kakak adik kita. Dia pergi dengan wanita dan tidak perdulikan adiknya yang belum.pernah dia temui dari kecil?" ucap Changmin, meluapkan isi hatinya.


"Mungkin dia masih butuh waktu untuk mengakui kamu jadi adiknya,"


"Waktu apa lagi? Apa waktu selama ini kurang, semau bukti kurang? Atau gara-gara kita mencintai orang yang sama dia pergi lagi meninggalkan aku." ucap Changmin semakin penuh marah.


Amerta mencoba memejamkan matanya, dia sudah lelah capek pikirannya terus memikirkan orang yang sama sekali tidak pernah memikirkannya. Dia ingin beristirahat sejenak, merendam pikirannya dalam balutan mimpi menghiasi tidur siangnya.


Lebih baim aku tidur, dari pada aku harus menajdi pendengar setia yang mengisahkan cinta mereka. Semakin aku mendengarkan apa yang dia katakan, sakit hatiku semakin membahas sekujur tubuhku. Hatiku seakan sudah hancur, tangisan di sembuhkan lagi. Aku sudah tidak tahan dengan semuanya. Gumam Amerta. Lalu memejamkan matanya hingga tertidur di mobil. Dan Changmin yang masih fokus mengemudi mobilnya, dia hanya melirik sekilas ke arah Amerta.


Melihat air mata yang amsib membasahi pipi Amerta. Jemari tangannya mengusap.lembut ari mata itu.


"Maafkan aku!! Aku melakukan ini semua agar kamu tidak terlalu berharap padaku. Pada orang yang tidak pernah sama sekali mencintai kamu, dan kamu hanyalah adik bagiku. Hanya sebatas adik!!" ucap Changmin, dan fokus kembali dengan jalan di depannya.


Sedangkan Amerta yang mendengar ucapan Changmin, dia memiringkan tubuhnya meluapkan tangisan yang semakin pecah tak tertahankan lagi. Air matanya semakin deras menetes.


------


Sampai di sebuah rumah mewah, entah milik siapa rumah itu nampak.sangat asing bagi Changmin.


"Apa Grace ada di sini?" tanya Changmin.


"Iya," ucap Amerta.


Changmin bergegas masuk ke dalam halaman rumah mewah itu. Seketika langkahnya terhenti saat mendengar ada langkah kaki mendekat ke arahnya.


"Tunggu!!" suara laki-laki membuat Changmin menoleh seketika.


"Siapa kamu?" tanya laki-laki itu.


"Kamu siapa?" tanya balik Changmin.

__ADS_1


"Aku penjaga rumah ini!!"


"Jadi kamu tahu penghuni rumah ini di mana?" tanya Changmin penasaran, seakan ini adalah harapannya untuk bisa bertemu dengan Grace, meski hanya sesaat.


"Maaf!! Tapi non Grace, dan tuan sekarang lagi di luar negeri. Dan sekarang yang tinggal di sini hanya Aku, dan pengawal tuan Lian lainya.


"Apa? Kamu jangan bohong padaku?" tanya Changmin, mencengkeram erat kerah penjaga rumah itu.


"Saya tidak bohong. Baru sekitar 2 jam lalu pesawatnya lepas landas," ucap penjaga itu.


Changmin mendorong tubuh laki-laki itu, "Arggg..." decak kesalnya.


"Kemana mereka pergi?" tanya Changmin penasaran, dan pas beratnya menunjukan amarahnya yang semakin tak tertahankan, di saat susah payah dan berharap ini harapan terakhirnya. Ternyata harapan itu pupus, dan Grace sudah pergi jauh dengan Luhan


"Aku sudah bilang padamu. tapi kamu gak percaya padaku sekarang lihatlah mereka sudah pergi. Padahal aku sudah bilang dari awal."


"Dialah kamu!! ini semua juga gara-gara kamu, kalau kamu gak kasih tahu sejak awal. Aku tidak akan kehilangan dia. Dan aku bisa bertemu dengannya," Changmin mendorong tubuh Amerta.


"Sekarang kamu pergi menjauh dariku, jangan pernah lagi menampakkan wajah kamu di depanku. Dan ingat, aku gak mau lagi bertemu denganmu. Sekarang dan sampai kapanpun!!" ucapnya dengan nada penuh dengan kemarahan.


"Oke.. Aku akan pergi sekarang," ucap Amerta menahan air matanya agar tidak keluar lagi untuk yang ke dua kalinya.


"Jangan dekat aku lagi," ucap Changmin.


"Baik!!" Amerta berjalan menjauh dari Changmin, ia membalikkan biasanya, menetapkan air matanya yang sudah tak tertahankan lagi. Dan Dia berlari pergi menjauh dari ruang itu. Dengan uang seadanya. dia mencoba untuk mencari bus agar bisa pulang ke rumah. Dia bertekat benar-benar pergi meninggalkan Changmin.


"Dasar laki-laki batu, kamu sangat senang membuat aku sakit hati. Kamu senang melukai hatiku. Apa ini yang ingin kamu lakukan padaku, apa ini yang kamu inginkan... Kenapa.. kenapa kamu tega.. Changmin.." teriak Amerta duduk tersungkur di sebuah taman, tak kuasa dia semakin menangis tersedu-sedu.


"Aku lelah bertahan.. Aku lelah.. Sekarang aku benci dnegan. Sangat benci.. Selamanya aku benci dan semakin benci jika aku mengingat apa yang kamu lakukan. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu!!" Amerta mengepalkan ke dua tangannya. Mencengkeram rerumputan di depannya, seakan gumpalan marah keluar dari rahangnya. Wajahnya begitu sangat marah, rahangnya mulai menggertak. Menatap tajam ke depan. Hembusan napasnya semakin berat.


"Lihat saja nanti!! Aku sangat yakin semua akan berbalik. Dan kamu akan mendapatkan sebuah balasannya," guman Amerta.


------


Sementara Changmin dia masih berdiri di depan rumah Grace, mencari tahu info tentangnya. Di mana mereka tinggal. Bahkan alamat lengkapnya.


"Kamu penjaga juga di sini?" tanya Changmin.


"Iya, tuan!!"


"Apa mereka sudah Menikah?"


"Sepertinya belum tuan, dan katanya sebentar lagi akan Menikah?"


"Bukanya dulu dia akan menikah secepatnya," tanyanya.


"Iya, tapi di batalkan, lalu sekarang mereka entah apa sudah merencanakan pernikahan lagi apa belum?"


"Oo.. ya sudah. Apa Kamu tahu di mana Luhan dan Grace tinggal?" tanyanya.


"Mereka pergi ke Irlandia. Dan tuan Tak juga ikut dengan mereka."


"Apa Kamu tahu alamat mereka?" tanya Changmin semakin penasaran.


"Maaf tuan!! Saya tidak tahu alamat mereka!!" ucap penjaga itu menundukkan kepalanya dan beranjak pergi meninggalkan Changmin.


"Arggg.. Kenapa semua jadi seperti ini," Changmin berdecak kesal, dia mengusap kepalanya frustasi.

__ADS_1


"Grace!! Kenapa kamu pergi?" gerutu Changmin, beranjak pergi masuk ke dalam mobilnya. Merasa tak ada jawaban lagi dari semua pertanyaannya. Dia bergegas pergi dari rumah itu.


__ADS_2