
Yiwen tak berhenti terus mengumpat kesal, dengan apa yang sudah ia lihat tadi. Apalagi Mei juga sama, kenapa Mei mau saja melakukan kecupan gairah di depannya. Mereka berdua sama saja gak punya malu. Laki-laki itu sangat kompak dengan Mei.
Melihat kelakuan mereka yang di luar batas penglihatannya. Membuat Yiwen merasa sangat muak.
Yiwen yang merasa sangat kesal, tak perdulikan mereka, melakukan apaplagi, samoai berhubungan pun di publik pun tak persudi, lagian itu bukan urusannya.
Ngapain juga aku urusin mereka. biarkan saja mereka melakukan hubunagn lebih jauh lagi. Dan sekarang yang ada dalam pikirannya dalah Lian yin. ia harus membantu Lian yin dengan segera. Dan pualng bemanja dengannya.
Dengan segera ia beranjak pergi, mengambil kopernya yang ketinggalan dan bergegas menuju ke kamarnya.
Jack yang menyadari jika gadis itu pergi, mengakhiri mesranya dengan Mei, dan melepaskan tubuh Mei dari depannya.
"Shiittt... Benar-benar wanita aneh, dia tidak tertarik dengan permainannya." gumam Jack, menatap perginya Yiwen. Meski ia tidak sadar siapa wanita itu sebenarnya adalah Yiwen, istri dari Lian yin. Namun ia hanya tahu jika dia adalah teman Amerta, yang kini terlihat menarik baginya.
Jack yang memang pecinta wanita, merasa sangat bangga dengan statusnya itu. Dia seenaknya memainkan perasaan wanita sesuka hatinya Namun ia hanya ingin serius dengan satu orang, yaitu Mei. Dia yang bisa menaklukan separu hatinya. Dan separu lagi, ia masih berkeliling menatap wanita sana dan sini.
Namun meski vanyak wanuta tahu statusnya, mereka masih suka ngejar-ngejarnya.
Jack yang terkenal sangat sadis tanpa pandang bulu, entah itu wanita atau perempuan.
"Kenapa kamu menatapnya, apa kamu seperti ini padaku, hanya ingin menunjukan pada wanita itu?" tanya Mei, mengusap bibirnya, dengan punggung tangannya. Menatap tajam ke arah Jack.
Jack tersenyum, mengusap pipi Mei dengan jemarinya. "Bukan karena dia, tapi memang aku suka dengan kamu, jadi aku ingin menunjukan pada semua orang tentang hubungan kita."
"Baiklah, tersetah kamu, aku mau ke kamar." ucap Mei datar, mendorong tubuh Jack menjauh darinya
Jack hanya diam, menatap setiap langkah Mei yang sudah pergi menjauh darinya Ia menarik ke dua alisnya, dengan sudut bibir tertarik penuh dengan pikiran licik terbesit di otaknya.
Mei aku itu, syang banget sama kamu, tapi Kenapa kamu dulu, sampai melukai hatiku, dan hampir membunuhku. Tapi sekarang, aku akan melakukan hal yang sama denganmu, tugas aku membuat kamu bertekuk lutut padaku, syang.
Jack bergegas pergi menuju ke kamarmya, ada hal yang masih ia selesaikan. Dan dia memang sangat tertarik dengan penyamaran Yiwen, dengan wajah yang berbeda terlihat lebih cantik. Tanpa harus tahu identitas aslinya.
Rasa penasaran dengan gadis tu, Jack berniat untuk segera nencari tahu tentang dia.
------
"Bella, kenapa kamu lama?" tanya Amerta, yang duduk di ranjangnya, sudah dari tadi menunggu Yiwen yang belum juga masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Apa aku harus cerita pada dia ya. tapi aku malu jika aku harus cerita, entah kenapa mereka yang melakukan tapi aku yang malu, mereka benar-benar pasangan yang aneh. Tapi yang patut aku pikirkan sekarang, apa Amerta tahu tentang hubungan Jack dan kakaknya itu.
Amerta yang melihat Yiwen yang melamun masih memegang kopernya, ia bergegas mendekati Yiwen, mengibaskan ranganya ke depan wajahnya, ia masih tetap saja tidak berkutik.
Puk! Puk! Puk!
"Eh.. Iya, Ta, ada apa?" tanya Yiwen, yang tersadar dari lamunannya
"Yiwen, kamu gak apa-apa kan? Kamu kenapa? Apa kamu sakit? Atau Jack mendekatimu? Atau dia menyakitimu?" celoteh Amerta tapa henti.
"Aku gak apa-apa kok,"
"Beneran, tapi kenapa kamu terlihat sangat cemas gitu?" tanya Amerta, sedikit menundukkan badannya, mengamati setiap gerak gerik wajah Yiwen.
"Aku gak apa-apa, oya bantu aku bereskan. Dan kamu nanti tidur denganku, jangan pergi dari sini." ucap Yiwen, melangkahkan kakinya menuju ke ranjang.
Pandangan Yiwen, memutar, menatap sekelilingnya, kamar barunya sementara, kamar yang begitu sangat luas, dengan nansa coklat, dan ranjang yang biaa di pakai tidur empat orang. Dan lukisan klasik terpapang di dinding, terlibat begitu nyata.
"Itu lukisan siapa?" tanya Yiwen pada Mei, yang membantu Yiwen membereskan kopernya.
"Jadi dia hobi juga melukis?"
"Kadang-kadang!!"
"Emm... banyak juga keahliannya."
"Memang, tapi hati-hati dengannya." ucap Amerta.
"Memangnya kenapa?"
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri," ucap Amerta. "Dia juga ahli dalam menakhlukkan hati wanita. Makanya kamu juga harus hati-hati, apalagi kamu jauh dari suami kamu." Amerta mencoba mengingatkan Yiwen, yang kini beranjak duduk di ranjang.
"Jadi dia itu Palyboy maksud kamu?" tanya Yiwen, memastikan.
"Iya, dia sangat playboy. Dia itu bisa ibarat, iblis bagi wanita. Tapi banyak wanita yang mengejar dia. Bahkan kaka kau dulu juga gitu, tapi entah sekarang gimana. Aku gak habis oikir dengan kakak aku, dan juga keluarga aku. Kenapa mereka mau berkerja sama dengan iblis itu." ucap Amerta, mulai duduk tegap, dengan mata sekana memutar, dan raut wajah sedikit menunduk, lesu.
Raut wajah muram Amerta, mulai berubah. ia menarik sudut bibirnya. Membentuk sebuah senyuman tipis.
__ADS_1
"Tapi tak masalah, jangan takut dengan dia. Aku yakin, kamu bisa menghadapinya nanti."
"Tapi sepertinya aku akan sulit untuk masuk ke dalam ruangannya. Aku harus cari cara, dan lian yin pasti juga sudah menungguku di rumah." ucap Yiwen.
"Tenang saja, kamu pasti bisa. Aku akan membantumu. mungki berada itu di laci kamarnya, sekarang yang harus kamu pikirkan, gimana cara kamu untuk pergi ke kamarnya." ucap Amerta, menepuk bahu Yiwen.
"Gimana caranya?" tanya Yiwen, yang dari tadi memikirkan hal itu, tapi ia merasa ragu jika masuk, pasti dia akan tahu.
"Kamu bisa pura-pura bersihkan kamarnya. merapikan kamarnya, mungkin semua akan kebantu nantinya. Sekalian kamu bisa ambil, jika ada kesempatan."
Apa gak malah bahaya bagiku, aku malah takut dia melecehkanku nantinya. Tapi lebih baik aku pergi ke kamarnya saat dia tidak ada di kamar itu jauh lebih baik.
Yiwen terdiam memikirkan apa yang harus di lakukan nantinya.
"Oya, kalau kamu masu masuk ke kamarnya. Kamu harus bilang padanya. Soalnya tanpa seijin darinya, tidak ada yang bisa masuk ke sana. Apalagi di luar kamarnya kamu tahu sendiri, ada bodyguard-nya di sana."
"Iya, kenaoa rumah ini benar-benar sangat ketat. Memangnya apa yang tersimpan di dalam rumah ini?"
"Mungkin uang?" Ucap Amerta smabil tertawa lebar.
"Aku serius, Amerta." decak kesal Yiwen.
"Aku juga serius," ucap Amerta, menahan senyumannya.
"Baiklah, aku sekarang pergi dulu. Kamu di sini saja," ucap Amerta, beranjak pergi meninggalkan Yiwen sendiri.
"Kamu mau kemana?"
"Aku harus pulang lebih dulu, tapi tenang saja. Aku akan datang lagi. Kau gak lama, yanya beberapa jam saja, tidak sampai 1 hari."
"Baiklah, ingat jangan lama-lama. Aku bingung apa yabg harus aku lakukan di sini!!"
"Siap!! Aku pergi dulu, bye.."
Amerta tersenyum, memandang Yiwen, di belakangnya. "Kamu harus lebih hari-hati lagi!" ucap Amerta, bergegas pergi.
Sekarang aku sendiri, gimana jadinya jika kalau laki-laki mesum itu melecehkanku. apa yang harus aku lakukan.
__ADS_1