Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Bermanja


__ADS_3

Lian yin yang masih di atas, Yiwen membalikan badan Lian yin. 


"Syang, aku ingin kamu seperti ini, tapi mungkin perpisahan sementara akan menghalangi kita." ucap Yiwen, membelai lembut wajah Lian yin, membuat Laki-aki itu, memejamkan matanya menikmati sentuhan demi sentuha jemari tangannya. 


"Kamu, sangat memuaskan syang!!" ucap Lian yin, yang masih menikmati sentuhannya.


"Mamuaskan apa syang?" tanya Yiwen, memeluk tubuh Lian yin erat. 


"Tubuh mungil, yang selalu menghangatkan aku setiap waktu," Lian yin, mengacup cepat bibir Yiwen. Dengan pandangan penuh arti.


"Iya, tapi aku ingin, segera punya baby kecil, syang." ucap Yiwen, tepat di telinga kiri Lian yin dengan suara khas manjanya.


"Maaf, ya syang. Selama beberapa hari ini. aku selalu membuat kamu sakit." ucap Lian yin, menyilakan rambut Yiwen, yang menutupi matanya.


"Tapi aku yakin, selama satu bulan ke depan. Kamu pasti akan hamil, tapi kamu harua jaga kehamilan kamu. Aku ingin bisa segera hidup bersama syang, dengan keluarga kecil, dan hidup bahagia di rumah ini Aku gak mau lagi berurusan dnegan dunia mafia." ucap Lian yin, merengkuh manja punggung Yiwen. 


"Tapi apa kamu yakin, bisa melepas semua kemewahan yang kamu miliki syang," ucap Yiwen, menatap ragu pada Lian yin. 


"Kenapa gak yakin, emangnya kamu kira aku tidak bisa menghidupi kamu sayang. Memenuhi kebutuhan kamu dan anak-anak kita. Lagian aku juga hanya pindah rumah. Aku gak mau tinggal di rumah mewah. Dan tetap bekerja di perusahaan." 


"Udah, sekarang kamu mandi, aku hak mau nantinya ayah kamu datang, kita masih seperti ini. Lagian ada yang aku ingin bicarakan padanya." lanjutnya.


"Bicara apa?"


"Lian yin melepaskan adik kecilnya yang memang dari tadi belum lepas, ia beranjak duduk, "Nanti kamu juga akan tahu sendiri syang. Sekarang aku mau kamu cepat mandi, aku ingin kamu tampail cantik dan seksi nanti "


"Baiklah!!" Yiwen bergegas berdiri, dan beranjak menuju kamar mandi, ia menatap ke belakang lebih dulu, menatap wajah tampan Lian yin.


"Udah cepat masuk, tapi jangan di kunci ya. Aku mau membasuh keringat juga nanti." 


Yiwen tersenyum dan menutup pintunya, ia segera membasuh tubuhnya, dan Lian yin, beranjak di menuju kamar mandi, langsung memeluk tubuh Yiwen, yang memang mandi di shower. 


Lian yin membantu Yiwen membasuh tubuhnya, dengan sabun, mengusap seluruh tubuhnya. 


"Syang, habis ini kamu keluar dulu ya, aku mau berendam air hangat," Yiwen, membalikkan tubuhnya, menatap wajah Kian yin, mendekapnya beberapa detik, lalau melepaskannya, saling menatap dalam. 


"Aku basuh tubuh kamu syang!!" ucap Lian yin, menciumi leher Yiwen, dengan pancuran air yang terus menyala, membuat suasana lebih berbeda. 


Desahan tipis keluar dari bibir Yiwen. 


"Ayang!! Sudah ya, aku mau berendam. Kamu keluarlah." ucap Yiwen, mendorong tubuh Lian yin, menyisakan jarak dengannya. 

__ADS_1


"Baiklah, bye" Lian yin, tersenyum melangkahkan kakinya keluar, setelah selesai membasuh tubuhnya. dna segera memakai pakaiannya. 


Aku punya suami tapi henar-benar nafsuan, tapi aku gak masalah. Kalau hanya denganku. Kalau sampai dengan wanita lain. Jangan harap aku akan memaafkannya.


Tokk... Tok.. Tokk..


"Siapa?" tanya Liam yin. 


"Ayah Yiwen!!"


Mendengar nama itu seketika Lian yin beranjak, mempercepat memakai bajunya, dan bergegas membuka pintu kamar Yiwen. 


"Om!!" ucap Lian yin, menatap bingung, kenapa bisa ada di sana. 


"Kapan, om datang?" 


"Baru saja, tapi aku gak mau basa-basi. Karena aku gak punya banyak waktu lagi Lian yin. Kamu harus segera belajar, jika kamu ingin"


"Iya, aku ingin, Om. Tapi apa aku bisa peegi ke sana?"


"Kamu bisa masuk ke dalam tanpa Yiwen. Karena kamu sudah menikah dengan Yiwen, aku harus perhatikan Yiwen dan akan hidup bahagia di sini.Aku mau kamu jaga rumah ini bersama Yiwen. Dan sekarang kamu bisa pergi, sendiri ke sana. Aku hanya memberimu waktu 15 menit dari sekarang."


"Hanya 15 menit?" tanya Lian yin memastikan, dengan pandangan mata melotot tak percaya. 


"Baiklah, cepat pergi sekarang." Wo Jian segera pergi menjauh dari Lian yin. 


Lian yin bergegas pergi, menuju ke akamr mandi, ia ingin mengetuk pintu kamar mansi. Tapi ia ragu, dan mengurungkan niatnya. Lian yin takut nantinya malah kelamaan ngobrol dengan Yiwne keburu wkatunya habis. 


Loan yin berlari menuju ke ruang kerja wo Jian. dan dnegan sekejap masuk je dalam ruang rahasia keluarga Yiwen. Ia tak mau banyak basa basi, Lian yin langsung masuk ke dalam ruang paling rahasia di sana. 


Apa aku ingat sandinya ya, tapi aku coba saja. Kalau gak bisa balik lagi saja.


Ia mulai membuka satu persatu sandi pintu tersebut, di pintu pertama, dia melakukanya dengan mudah, dan pintu ke dua terlewatkan hanya dengan lima belas detik. Dan pintu ketiga, sedikit ada rintangan, karena sangat mudah bagi Wo Jian, tapi susah bagi Lian yin.


-------


"Lian yin, kenapa kamu gak mengangguku, tumben banget." ucap Yiwen yang bastu keluar daei kamar mandi. Seketika ia melebarkan matanya, saat melihat kamarnya kosong, tidak ada siapa-siapa di sana. 


"Apa Lian yin sudah bertemu dengan ayah, lebih baik aku cepat ganti baju, dan menemuinya juga. 


Seleaai ganti baju, Yiwen bergegas pergi, dan beranjak menuju ke teras rumahnya. Menunggu ayahnya, yang entah kemana ayahnya itu pergi. 

__ADS_1


"Yiwen!!" panggil Wo Jian berjalan menuju teras rumahnya. Menemui Yiwen yang duduk di sini sendiri. 


"Ayah, kapan ayah datang. Dan kenapa tadi aku gak tahu." ucap Yiwen terkejut melihat ke ayahnya. 


"Aku tadi sudah bertemu dengan Lian yin.Tapi sepertinya kamu sedang mandi Jadi aku tidak nencarimu." jelas Wo Jian.


“Yiwen, hari ini, ayah mau bicara sama kamu.” Ucap wo Jian pada Yiwen, yang duduk sendiri di teras rumahnya.


“Iya, ada apa ya?” tanya Yiwen.


“Besok kamu akan berangkat, apa kamu yakin?”


“Aku sudah yakin, ya. Dan mungkin akan sedikit berbahaya, tapi aku yakin bisa melewatinya.” Jawab tegas Yiwen, tanpa rasa takut terbesit dalam pikirannya.


“Baiklah, tapi apa Lian yin mengijinkanmu?”


“Dia mengijinkanku, tapi aku tidak boleh lepas dalam pengawasannya,”


Wo jian menarik napasnya pajang, baiklah, “kamu bawa ini, jangan sampai ada orang yang tahu, kamu bisa menembus dimensi.” Ucap Wo jian, menunjukkan benda kecil yang bisa di bilang seperti cincin, entah apa kelebihan cincin itu, ia tidak begitu paham dengann apa yang di katakan ayahnya. Ya, maklum pemikirannya tidak bisa secerdas ayahnya, dia hanya gadis polos, tapi tidak polos-polos benget, yang gak begitu pintar.


“Pakailah ini, dan di balik cincin itu ada tombol sangat kecil, kamu bisa menekannya dengan jarum. Kamu bisa membuka pintu dimensi untuk berpindah tempat tanpa banyak orang yang tahu, dan aku hanya ingin bilang padamu. Jangan ceroboh lagi, kamu pasti bisa mengakhiri keributan selama ini, jangan biarkan dunia mafian semakin meraja lela dan berkuasa. Ayah ingin kita semua bsa hidup tenang tanpa bayangan dunia mafia, kamu ingat jangan bilang jika ayah kamu adalah wo Jian.” Jelas Ayah Yiwen, secara terperinci.


Yiwen hanya menganggukan kepalanya seakan dia paham dengan apa yang di katakan ayahnya, ia memang sangat butuh alat seperti itu, “Tapi, kenapa ayah tidak menginjiknan aku mengekspos siapa ayah aku sebenarnya?” tanya Yiwen, yang tidak paham dengan ayahnya dari dulu ia selalu merahasiakan identitas siapa dirinya.


“Hanya kamu dan Luhan serta Tao yang tahu, tapi mereka sekarang ada bersama Jack. Aku tidak tahu dia berpihak pada mereka smeua atau hanya untuk mata-mata karean semua tidak begitu jelas, kamu bisa mencari tahu sendiri.”


“Baik, ayah tenang saja. Aku akan menyelesaiakn semuanya dengan cepat, dan kembali dangan ke adaan baik-baik saja.’ Uca Yiwen penuh percaya diri.


“Baik, aku pergi dulu, aku sudah bicara dengan Lian yin tadi, dia akan bersama aku di sini, sambil memantau kamu nantinya, kamu bisa tekan tobol atas cincin itu, untuk komunikasi secara mudah dengan kita.” Wo Jian bangkit dari duduknya, dan beranjak berdiri, melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Yiwen, tanpa kata apapun yang terucap di bibirnya.


Yowen tersenyum tipis, memandangi cincin di tangannya itu, ia mentap setap lingkaran cincin yang sepertinya pas dengan jari manisnya.


“Cincin yang bagus, mungkin akan terlihat seperti cincin berlian sesungguhnya.” Ucap Yiwen, yang masih mentyap detyal, lalu memakainya di jari manis tangan kananya.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki mendekat ke arahnya, membuat Yiwen langsung menyambunyikan cincinya, ia beranajk berdiri, sebelum Lian yin suaminya itu menghampiri dirinya.


“Ehh,, syang, kamu sudah selesai mandinya?” tanya Yiwen , dengan suatra centil dan manjanya, ia menglingkarkan tanganya di leher Lian yin, menatap deta wajah tampan Lian yin yang berada dekat di denagn wajahnya.


“Syang, kamu menghilang begitu saja. Aku sudah bilang, kalau tunggu aku di kamar, kamu malah pergi keluar.” Gumam Lian yin, yang semual berwajah datar tak ekspresi, kini berubah menjadi sebuah senyuman tipis, saat melihat wajah menggemaskan Yiwen.

__ADS_1


Lian yin mencubit ke dua pipi menggemaskan istrinya itu. “Istriku ini, sedang apa di teras malam-malam begini?”


__ADS_2