
Lian yin yang semula berdiam diri di kamarnya. Ia merasa sangat bosan. Harus menunggu Yiwen masak di dapur. Dan entah dia bemar-benar bisa masak atau tidak. Selama dia menikah Yiwen hanya beberapa kali saja masak buat dia, itu juga masakan dasar yang memang sangat mudah resepnya.
Lian yin, melangkahkan kakinya berjalan menur8ni anak tangga, menuju ke dapur, yang lumayan jauh dari kamar Yiwen.
"Eh... Syang.. kenapa kamu turun?" tanya Yiwen, yang masih mencicipi masakannya.
"Bosan syang!! Aku nunggu kamu lama banget, lagian dari tadi kamu belum juga selesai masak," ucap Lian yin, berdiri di samoing Yiwen, dan langsung memeluknya dari samping.
"Kamu mau cicipi dulu gak syang?" tanya Yiwen, yang mulai mengambi sedikit soupnya. Lalu meniupnya.
"Boleh!! Sini aku coba," ucap Lian yin, yang langsung di suapi oleh Yiwen.
"Em. Gimana rasanya syang?" tanya Yiwen, degan mata seakan sudah tak sabar menunggu jawaban dari Lian yin. Saat dia mencoba tadi sih, menurutnya sudah pas, tapi gak tau selera suaminya gimana.
"Emm.. Gimana ya? Emm.. "
"Syang cepetan? Atau aku gelitikin kamu ya," ancam Yiwen.
"Jangan!! Iya, iya, aku katakan sekarang. Masakan kamu sudah pas syang. Tapi ada satu yang jurang?" ucap Lian yin.
"Apa? Kurang garam atau bumbu apa?" tanya Yiwen, penasaran.
"kurang bumbu-bumbu cinta darimu?" goda Lian yin, mencubit pipi Yiwen.
"Bukanya setiap hari, cintaku sudah aku bumbui dengan berbagai rasa syang." jawab Yiwen.
"Rasa apa?"
"Manis, pahit, sedih, romantis, canda, dan tawa"
Lian yin tersenyum tipis, "Kamu memang sudah memberikan semuanya syang, bagi aku kamu wanita yang sempurna, entah kenapa semenjak menikah denganmu. Aku sudah tidak lagi, pergi ke bar hanya untuk menatap para wanita bersama 3 laki-laki itu." Lian yin, semakin mendekap erat tubuh Yiwen, membuat Yiwen tak bisa bergerak leluasa.
"Syang lepaskan dulu pelukanmu. Aku mau siapkan makan buat kamu," ucap Yiwen, sembari mengaduk soup yang dia buat.
"Emm. Baimlah, cium dulu!" ucap Lian yin, mendekatkan bibirnya.
Yiwen tersenyum, dan langsung mengecup bibir Lian yin, beberapa detik. Ciuman yang bisa di bilang bukan ciuman mesra.
"Sudah, nanti saja syang oeluaknnya. Nanti gosong masakan aku," ucap Yiwen.
Lian yin segera melepaskan pelukan Yiwen, dan membantu Yiwen siapkan makanan. Lalu ia bawa ke lantai atas, sembari menunggu makanan Yiwen agak dingin, Lian yin beranjak mengambil laptopnya.
"Kamu mau ngapain syang?" tanya Yiwen, menatap Lian yin yang terlihat tergesa-gesa., mengambil laptop dan duduk kembali di di lantai, bawah Yiwen duduk.
"Syang kamu gak makan dulu?" tanya Yiwen, yang beranjak turun dari sofa, dan duduk di lantai tepat di sampingnya
"Bentar syang!! Aku mau lihat sesuatu dulu!" ucap Kian yin, ia teringat rentang chip yang di berikan pada Grace, dan sekarang di bawa olehnya.
"Makan dulu syang!!" ucap Manda Yiwen, menyandarkan kepalanya di bahu Lian yin.
"Iya bentar syang!! Oya kamu sudah bersiap belum syang?" tanya Lian yin.
"Sudah syang? Memangnya kita jadi pergi ke rumahku. Aku sudah sangat rindu dengan rumahku."
"Jadi, sekarang suapi aku?" pinta Lian yin.
"Baiklah, aku akan suapin kamu. Tapi kamu lanjutkan kerja saja kegiatanmu." ucap Yiwen
Lian yin, tersenyum, melirik ke arah Yiwen, yang masih meniup soup milik ya.
Kali ini Lian yin ingin tahu, apa sebenarnya yang di simpan ayah Grace dalam sebuah chip itu. Sembari di temani istrinya yang dari tadi terus menyuapinya.
"Gimana syang? Bisa gak?" tanya Yiwen; meletakkan mangkuk soup di meja.
"Belum, kenapa buka dokumen saja susah banget." desah Lian yin.
__ADS_1
"Apa perlu minta tolong Grace?" tanya Yiwen, sedikit menunduk, menatap wajah Lian yin yang terlihat sudah mulai serius, dengan ke dua tangan memegang kepalanya.
"Gak usah, lebih baik kita selesaikan sendiri, Grace masih banyak yang perlu di kerjakan. Lebih baik kita diam saja." ucap Lian yin.
"Tapi.."
"Udah, gak apa-apa, kita bisa kerjakan semuanya sendiri. Kamu bantu aku!!"
"Bantu apa?" tanya Yiwen.
"Bantu menenangkan hatiku," goda Lian yin, membuat gadis itu seketika menguntupkan bibirnya kesal.
"Lian yin!!" umpat kesal Yiwen.
"Kenapa, syang? Apa kamu beneran mau menemani aku?" tanya Lian yin, semakin membuat Yiwen bingung.
"Temani apa lagi?" tanya Yiwen bingung, menatap wajah Kian yin.
Lian yin memegang ke dua bahu Yiwen, "Temani hari tuaku syang!!" ucap Lian yin, sembari tersenyum tipis.
"Kalau soal itu, aku pasti akan menemani kamu syang, sampai hari tua kita. Sampai kakek nene, bahkan sampai aku tidak bernapas," ucap Yiwen, menegang ke dua pipi Lian yin, lalu mengecup lembut bibir Lian yin, beberapa detik.
"Sekarang kamu lanjutkan syang. Aku akan membantu kamu, tapi dengan doa." gumam Yiwen, beranjak berdiri.
"Kamu mau kemana, syang?" Lian yin menarik tangan Yiwen, duduk di pangkuannya.
"Lian yin, apa yang kamu lajukan. Aku mau ke kamar mandi," gumam Yiwen.
"Ngapain, di sini dulu syang. Temani aku ya," ucap Lian yin, dengan tangan yang mulai fokus dengan laptopnya lagi.
"Jangan bergerak!!" lanjutnya.
"Aku mau pergi dulu ayang," ucap Yiwen, mencoba berdiri, dengan segera Lian yin menarik tangan Yiwen, untuk duduk kembali.
"Aku mau akari kamu sekalian, jadi kamu tetap diam, lihat aku." ucap Lian yin, dan. Cup!
"Aku gak.mau tahu urusan kamu. Gimana kalau aku seperti ini saja," ucap Yiwen, tersenyum tipis.
"Kalau seperti ini, lebih baik sekalian ganti baju seksi sekalian syang. biar aku semakin tertarik." goda Lian yin, sembari melirik sekilas ke arah Yiwen, dan kembali fokus lagi dengan kegiatan yang ia lakukan.
"Kalau itu nanti malam saja syang, aku mau memberikan suatu yang spesial lagi untuk kamu. Karena besok aku akan bertugas sebagai mata-mata, maka aku akan puaskan kamu syang, selama 2 hari ke depan." ucap Yiwen, menggerakkan kepalanya, dengan senyum manja, menghalangi pandangan Lian yin menatap laptopnya.
"Aku tagih nanti malam," ucap Lian yin, yang kini terlihat mulai tersenyum, ia berhasik membuka salah satu dokumen.
"Yeaaww... akhirnya berhasil juga syang!!" ucap Lian yin, meletakkan telapak tangannya di telinga Yiwen, menariknya mendekat, mengecup lembut bibir Yiwen, hanya beberapa detik.
Yiwen, yang masih duduk di pangkuan Lian yin, membalikkan badannya, menatap ke laptop, Lian yin.
"Wahh.. Iya syang, lebih baik kamu buka sekarang, apa sebenarnya isi di dalam. " ucap Yiwen penuh semangat.
Lian yin hanya tersenyum, menganggukkan kepalanya. Seketika, ia mengernyitkan matanya saat melihat apa isi di dalam dokumen itu. Hanya beberapa rekaman suara, dan banyak berkas.
"Ini rekaman suara apa?" tanya Yiwen.
"Lebih baik kita dengarkan satu per-satu," ucap Lian yin.
"Kita buka dari bawah saja syang!!" ucap Yiwen.
Lian yin hanya diam, dan mulai membuja isi rekaman suara itu.
Percakapan suara.
"Tuan, rencana pertama kita gagal, mungkin kita akan tertangkap jika seperti ini."
"Aku gak mau tahu, kamu harus tanggap dan buang dia."
__ADS_1
"Tapj tuan,"
"Lakukan tugas kamu dengan baik."
#Percakapan 2 :
"Tuan, anaknya Lian yin, tidak di temukan. Saya hanya menemukan jasad dari Bertrand dan Moly."
"Apa kamu berhasil membunuh kakeknya juga,"
"Sudah tuan, semua barang bukti sudah aku hancurkan. Pasti tidak akan bisa menemukan siapa yang membunuh mereka,"
"Bagus, kamu harus cuci tubuhnya. Jangan sampai sidik jari kamu menempel di tubuhnya."
"Baik tuan, semua sudah aku atur dengan sempurna."
"Sekarang aku serahkan tiga anak itu, kamu harus pergi, dan cari dia. Buhuh juga dia,"
"Baik tuan!!"
-------o4
Brakkkkk..
Mendengar percakapan itu seketika mata Lian yin mengobarkan api kemarahan. Ia mengepalkan tangannya sangat erat, dengan hembusan napas beratnya, seakan amarahnya mau meluap-luap.
"Yin, apa ada masalah dengan rekaman itu. Siapa yang mereka bunuh?" tanya Yiwen gugup, ia takut melihat Lian yin, yang tidak seperti biasanya ia marah. Kini dia semakin terlihat, menakutkan!
"Mereka keluargaku,' ucap Lian yin, semakin mengepalkan tangannya, dan beranjak berdiri. Dengan amarah yang sudah mengobar.
"Kian yin! Jangan pergi, kita selesaikan ini dengan pikiran tenang, jangan gegabah pergi ke sana sendiri.
"Aku gak bisa tinggal diam, aku akan balas dendam atas kematian orang yang aku syangi." ucap Lian yin, menepis tangan Yiwne dan melangkahkan kakinya pergi.
Yiwen bangkit dari duduknya, berlari nemeluk Lian yin dari belakang sangat erat.
"Jangan pergi sendiri, aku gak mau kamu kenapa-napa?" ucap Yiwen, semakin mempererat pelukannya.
"Yiwen, lepaskan tangan kamu. Aku mau pergi."
"Enggak!!"
"Yiwen!! lepaskan!!"
"Enggak Yin. Aku mohon jangan pergi. Kita akan bekerja sama menangkap mereka nanti.Tolong jangan seperti ini. Kamu akan terluka jika pergi sendiri ke sana. Kita bisa melakukannya secara diam-diam. Ingat jika kamu dalam bahaya, siapa yang akan membalas dengan orang tua kamu nantinya." Yiwen mencoba memenangkan hati Lian yin, masih teyap saja Lian yin, menarik tangannya? dan beranjak pergi.
Yiwen, dengan sipag meriah tanga Lian yin, menarik tangan Lian yin, masuk ke dalam kamarnya lagi, menutup rapar kunci kamarnya. Dan beranjak menuju ke balkon, melemparkan kunci itu ke halaman rumahnya.
"Yiwen, apa yang kamu lakukan,"
"Aku gak mau kamu pergi dari sini," ucap Yiwrn, melangkahkan kakinya ringan, kendekati Lian yin, lalu mengecupnya bibirnya. Ia ******* bibir Kian yon, meski tanpa balasan daei dia.
Yiwen mengusap dada Lian yin, sambil terua menciumanya.
Lian yin hanya diam, seakan ia masih berpkir sejenak. Apa yang di lakukan gadisnya itu. Lian yin perlahan luluh, dengan kecupan mesra Yiwen yang terasa hangat menjalas, ke tubuhnya. Merasa tertarik, Ia membalas kecupan Yiwen penuh gairah, engan ke dua tangan labgsung menelusuri tubub Yiwen.
Yiwen melepaskan ke
cupannya sebentar, "jangan pergi lagi. Aku akan memuaskanmu sekarang. Yang penting kamu jangan pergi dariku. Soal balas dendam kita pikirkan caranya bersama-sama." ucap Yowen, Lian yin hanya diam, menarik tubuh Yiwen ke dalam dekaoannya, dan langsung ******* bibirnya, laku turun ke lehernya, dan dadan miliknya.
Lian yin, menjatuhkan tubuh Yiwen di sofa yang dekat dengannya, ia membuka semua helaian kain yang menutupi mereka, di sambut dengan jemari tangan Lian yin yang memainkan darha private Yiwen. Membuat desahan demi desahan keluar dari mulut Yiwen. Lian yin menciumi semakin menurun hingga daerah privat istrinya, dengan sedikit membuka ke dua kakinya. Memainkanya dengan lidah miliknya, membuat Yiwen semakin bergairah,
"Syang!!" sapa Yiwen, Tubuhnya seakan terangkat ke atas, merasakan dorongan hebat dari lidah Lian yin. Jemari tangan lian yin. memegang dada Yiwen.
"Jangan bergerak lama syang, diamlah." ucap Lian yin, beranjak duduk di atas tubuh Ywien, mengecup bibirnya, ia sudah siap memasukan adik kecilnya ke dalam lubang miliknya.
__ADS_1
Yiwen berteriak keras, saat masuk ke dalam dengan ke dua tangan memegang kepala Yiwen, hentakan demi hentakan keras, ie terima. Dengan irama yang senada, Yiwen menikmati permainan Lian yin. Meski sudah sering melakukannya dengan suaminya, ia seakan tidak pernah bosan melakukannya setiap hari.