
Setelah kejadan penculikan Yiwen oleh yhing yin, Lian yin dan Chengyi berhasil
menyelamatkan Yiwen tanpa membuat semuanya terluka. Bagi Chengyi dan Lian yin,
mereka pantang untuk menyakiti wanita. Bagi mereka wanita itu patut di lindungi
bukan untuk di sakiti.
Lian yin membawanya kembali ke rumah Chengyi, dan dia langsung menuju ke kantornya lagi. Karena masih banyak hal yang harus ia kerjakan. Dan Lian yin sudah minta ijin untuk pulang lebih dulu. Dan gak bisa untuk membantunya di kantor. Yiwen juga terluka di bagian leher karena goresan senjata dari Yhing yin, namun ia hanya mengeluarkan darah segar sedikit, dan tidak terlalu parah. Sampai di rumah Lian yin memberinya alcohol dan obat merah agar lukannya cepat kering.
“Yiwen gimana luka mu?” tanya Lian yin yang duduk di samping Yiwen.
“Mendingan tapi hari ini benar-benar membuatku lelah, banyak hal yang terjadi.” gumam Yiwen, meraih majalah di meja depannya.
“Kalau kamu gak mau melanjutkan misi ini gak apa-apa, aku bisa melanjutkan sendiri. Kamu istirahat saja di rumahku. Sebenarnya aku gak mau melibatkan kamu dalam bahaya
seperti ini. Kalau bukan kamu ingin bertemu dngan ayah kamu, aku gak mungkin
untuk mengajak kamu menemaniku untuk bertemu Chengyi," Lian yin, merentangkan
tangan kirinya di atas sofa. Tepat di belakang punggung Yiwen.
“Ngomong-ngomong saol ayah kandungku, aku tidak melihatnya di sini. Di mana sebenarnya ayah aku? Apa memang sia tidak disini?” tanya Yiwen menatap ke arah Lian yin.
“Iya juga, kenapa aku gak menyadari dari awal, sekarang aku baru sadar di rumah ini Nampak sepi gak ada tamu lain yang tinggal di sini selain kita. Hanya beberapa pelayan
dan pengawalnya,” gumam Lian yin, yang sudah mulai menunjukan wajah seriusnya.
“Apa, kita Tanya saja pada Chengyi, atau kamu telefon dia sekarang saja, biar kita lebih
cepat tahu jawabannya. Aku ingin bertemu dengan dia, ayah aku. Banyak hal yang
ingin aku tanyakan padanya, termasuk tetang kehidupan aku sebelumnya. Agar aku
bisa mengingat sedikit demi sedikit ingatan masa lalu itu, pasti kenangan masa
kecilku sangat menyenangkan,Aku ingin mengingat semuanya.” Yiwen semakin
mendekatkan duduknya ke arah Lian yin di sampingnya, ia memandang Lian yin ingin
mendengarkan saran darinya tentang apa yang harus di lakukan selanjutnya.
“Kalau menurut aku, lebih baik kita tanya Chengyi saat dia pulang dari kantornya, kita
jangan ganggu dia lagi. Sudah dari tadi kita terus ganggu Chengyi, sampai dia
gak bisa focus dengan clientnya saat ini. Dan biarkan dia fokus dengan kerjaannya. Jangan ganggu dia lagi," kata Lian yin, mengusap rambut Yiwen dari belakang. Membuat Yiwen mengerutkan dahinya bingung.
Yiwen mengerutkan bibirnya kesal, padahal ia tidak bermaksud mengganggunya
“Baiklah, kita tunggu sampai dia pulang" ucap Yiwen pasrah. “Oya, kapan nih kita akan
siang, kenapa pelayan Chengyi tidak mengabari kita untuk makan. Apa karena tuannya gak ada di rumah dia gak mau masak buat kita," gerutu Yiwen yang merasa perutnya sudah mulai lapar, dan terus memberontak minta makan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Lian yin.
“Tunggu saja dulu, mungkin mereka lagi asak," ucap Lian yin.
“Baiklah, tapi perut aku lapar. Lagian buah-buahan dan snack di kamar sudah habis. Mereka juga tidak membawakan aku buah dan snack lagi”gumam Yiwen, ia tidak berhenti terus berdecak kesal, dengan pelayan para pelayan dengan tamu di rumah Chengyi.
__ADS_1
“Iya, sayang, sabar napa. Kamu yakinlah padaku dalam hitungan ke tiga, pelayan itu akan mengetuk pintu kamar kita," kata Lian yin, dia masih memainkan rambut panjang
Yiwen dengan jemarinya.
“Satu, dua,tiga..” ucap Lian yin dengan pandangan kompak menetap ke arah pintu. Dengan wajah bengong, saling menatap kesekian detik, lalu menatap ke arah pintu lagi.
“Mana?” tanya Yiwen menunggu.
“Bentar lagi!!” ucap Lian yin.
Tok.. tok..tok…
Suara pintu terketuk membaut mereka berdua kompak melompat senang, mereka saling menepuk tangan.
"Maaf tuan, saya mau mengantar buah dan beberapa makanan kecil untuk tuan dan nyonya”ucap.pelayan itu.
“Tu, kan apa yang aku bilang.” ucap Lian yin.
“Tak menjawab Yiwen bergegas beranjak dari sofa, ia segera membuka pintu kamarnya.
“Iya bi mana?”ucap Yiwen.
“Oya non sekalian makan siang, semua makanan sudah di siapkan di meja makan”ucap pelayan itu, menundukkan kepalanya.
“Baik bi, bentar lagi kita turun” jawab Yiwen, yang langsung beranjak masuk ke dalam
kamarnya lagi, tersenyum senang pada Lian yin, lalu meletakkan snack dan buah di atas meja. “Kenapa kamu bisa nebak
kalau pelayan bentar lagi akan datang, seperti peramal saja?" tanya Yiwen.
“Lagian dari kejauhan, aku sudah mendengar hentakan kaki menaiki tangga, dan bukannya
wajahnya ke arah Yiwen yang duduk kembali di sampingnya.
“he..he mungkin aku terlalu lapar, jadi tidak terlalu konsen dan jeli dari pada
kamu”ucap Yiwen.
“Kamu bisa saja, udah sekarang ayo kita makan.” ucap Lian yin mengusap ubun kepala Yiwen dan mengacak-acak rambut Yiwen hingga berantakkan, lalu beranjak berdiri
meninggalkan Yiwen yang masih duduk di sofa.
“Yin, awas ya, kamu” teriak Yiwen kesal, beranjak berdiri, berlari mengikuti Lian yin yang sudah berjalan jauh dari pandangan matanya.
“Kejar saja aku kalau bisa”ucap Lian yin lirih, ia berjaan dengan langkah semakin cepat
menuju meja makan, dan tiba-tiba berhenti mendadak di tengah jalan, membuat
yiwen yang berlari kencang menabrak punggung lian yin. “Yin, kamu selalu bikin
aku kesal”ucap Yiwen memegang keningnya yang terasa sakit.
“Lagian salah sendiri kamu lari gak lihat depan kamu, ada orang apa enggak” ucap Lian yin menoleh ke belakang, tersenyum tipis menatap Yiwen yang meringis kesakitan.
“Sakit tau..” gumam Yiwen semakin kesal, ia mengerutkan bibirnya menatap kesal kea rah Lian yin.
“Mana yang sakit syang," ucap lembut Lian yin lembut, menyentuh kening Yiwen. “Apa ini yang sakit” lanjutnya mengusap lembut kening istrinya. Kemudian, Lian yin mengecup kening Yiwen yang terasa sakit itu. Yiwen
__ADS_1
hanya terdiam menatap mata Lian yin tepat di depannya, hebusan napas berat
mereka saling berpacu satu sama lain.
“Udah yin kenapa amu menatapku seperti itu, malu di lihatin para pembantu Chengyi." ucap
Yiwen.
“iya, udah ayo makan dulu," gumam Lian yin.
Dengan segera Lian yin menyiapkan makanan untuk Yiwen, ia mengambikan lauk dan sedikit nasi untuk Yiwen.
“Kenapa kamu perhatian dengaku sampai segitunya," ucap Yiwen, melirik sekilas ke arah Lian yin.
“Emang gak boleh aku perhatian dikit dengan istriku ini”ucap Lian yin, yang mula menyantap makanan yang ada.
“Boleh, sih. Lagian siapa juga yang larang kamu.” gumam Yiwen.
“Oya besok kita pulang ya?” tanya Lian yin.
“Pulang?” tanya Yiwen menghentikan makannya.
“Kenapa kamu gak mau kita pulang?”ucap Lian yin.
“Kita bahkan belum bertemu dengan ayah aku, kenapa kamu membawaku pulang. Dan Feng yin, juga belum balik ke ini” ucap Yiwen kesal.
“Udah selesaikan dulu makan kamu, baru kamu marah-marah lagi.” sambung Lian yin, yang sudah selesai makan dan beranjak berdiri. “Kita lanjut berbicara di kamar, ada
yang mau aku ingin bicarakan denganmu," lanjut Lian yin. Ia mulai melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar.
Yiwen hanya diam, melanjutkan makannya lagi, lagian juga perutnya juga belum merasa
kenyang. “Kenapa dia jadi gitu, apa yang ingin ia bicarakan padaku, apa ada hal
penting yang akan dia ucapkan, soal Chengyi atau Yhing yin. Sepertinya aku harus
cepat masuk ke kamar menemuinya.” Gumam Yiwen.
Yiwen beranjak berdiri, “Bi, aku ada urusan. Jadi sisa makanan kalian makan semua aja, ya.” teriak Yiwen.
“Baik, non.”j awab salah satu pelayan.
“Apa yang akan di bicarakan, aku semakin penasaran sekarang”Yiwen berjalan ringan menuju ke kamarnya.
Yiwen memutar gagang pintu, membukanya perlahan. “Yin kamu di dalam?" tanya Yiwen.
Berjalan masuk ke dalam, memutar mata menatap seluruh ruangan kamarnya, tidak
ada Lian yin di dalam.
“Kemana dia?”gumam Yiwen yang tak melihat ada Lian yin di
dalam kamarnya.
“Kamu mencariku?”ucap Lian yin yang berdiri di balkon kamarnya, memandang ke halaman
luas di rumah Chengyi.
__ADS_1
“Kamu tadi ingin bicara apa? Jangan bikin aku penasaran. Cepat katakan.”Ucap Yiwen
berjalan menuju ke balkon, berdiri di samping Lian yin.