
Di sisi lain Yiwen segera masuk dalam ruang teleportasi milik ayahnya. Di sebuah ruangan kecil, seperti lemari, bahkan sangat kecil dan sesak. Ia ingin mencoba pada dirinya apa alat itu bisa ia gunakan, atau hanya ayahnya yang bisa menggunakan. Dengan kaki yang seakan di tarik dengan ribuan tangan, sangat berat untuk melangkah, Yiwen mulai masuk dan ia muncul tepat di depan ruang kerja ayahnya. Tanpa ia duga, alat itu sangat berguna juga untuknya. Ia masih tdak percaya, menatap ke dua tangannya. Menggerakan perlahan, apa ini mimpi atau nyata. Seakan itu dalam pikirannya saat ini.
"Ternyata berguna juga untukku, tapi gimana aku bisa melakukan itu. Apa ayah sudah memodifikasinya lagi. Ternyata ayah sudah menyiapkan jauh-jauh hari untukku. Tapi..
Entahlah, aku juga tidak tahu. Lebih baik sekarang aku harus hubungi Mei dan tanya apa yang terjadi dengannya. Nanti aku bisa tanyakan lagi pada ayah soal teleportasi miliknya. Sekarang ayah lagi gak ada. Sekalian mau coba dengan Lian yin apa bisa keluar juga dengannya" gerutu Yiwen yang masih berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya.
Ia segera berlari menuju kamar. Dan mengambil ponsel di saku celananya, dan dengan segera ia menghubungi Mei, ia ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Mei, dengan Vidio call dia. Namun ia lakukan tanpa sepengetahuan Lian yin.
"Hallo Mei" ucap Yiwen, melambaikan tangan ke arah Mei.
"Eh Yiwen kebetulan kamu hubungi aku, padahal aku baru saja mau menghubungimu tadi. Ada banyak hal, yang ingin aku bicarakan juga pada kamun, ini sangat penting. Banyak masalah baru yang tetjadi dan ingin aku ceritakan semuanya padamu" Ucap Mei panjang lebar, dengan nada pelan dan terburu-buru, sengaja ia memelankan suaranya agar tidak terdengar yang lainnya. Yang masih menjaga Grace, san kebetulan kamarnya bersebalahan dengan kamar Mei. Ia juga menjauh dari Changmin, dan memilih untuk langsung masuk ke kamarnya, menutup rapat kamarnya.
"Emangnya kamu mau bicara apa?" Tanya Yiwen.
"Kamu duluan atau aku dulu yang bicara?" Tanya balik Mei.
"Kamu duluan saja, setelah itu nanti aku yang akan bicara padamu tentang unek-unek hati aku" ucap Yiwen.
"Kamu duluan saja deh?" Ucap Mei yang merasa lebih baik Yiwen yang berbicara lebih dulu.
"Okk. Baiklah. Aku sebanarnya mau tanya apa yang kamu lakukan tadi dengan Changmin, apa benar kamu melukainya dan bertemu denga lelaki lain. Tapi yang aku maksud bukan itu sekarang. Sebenarnya siapa laki-laki itu. Entah kenapa aku jadi sangat penasaran dengannya." ucap Yiwen, yang mulai duduk di ranjangnya. Memasang wajah seriusnya ke arah Mei.
"Aku tadi juga mau bicara hal itu denganmu. Sebenarnya laki-laki itu adalah Jeff, apa kamu kenal dengannya. Dia itu adalah mantan anggota yang sama dengan kita, dia juga yang hampir membunuhku tadi, dengan melayangkan tembakan jarak jauh ke arahku, tapi untung saja Changmin segera memberi tahuku dan menyuruhku untuk bersembunyi. Tapi aku gak bilang pada Changmin. Kalau dia tahu itu lekaki yang akan membunuhku tadi dari kejauhan. Kalau aku bialng padanya, aku yakin dia pasti akan marah dengan Jeff. Karena aku juga gak mau melihat Jeff terluka, dia itu teman aku, teman kecilku yang selalu ada denganku. Gara-gara aku keluar dari agen intelijen san memilih untuk bersama dengan Changmin, dia marah dan memutuskan untuk membenciku. Besok kalau aku bertemu dengan kamu. Aku ingin cerita semuanya padamu kalau bicara lewat VC gini aku jadi gak bisa lega," ucap Mei. "Aku juga ingin menunjukan sesuatu pada kamu" lanjutnya.
"Baiklah, kapan kita bertemu?" Tanya Yiwen.
__ADS_1
"Gimana kalau besok, kita bertemu di luar. Jangan ada Changmin, tapi kalau kamu dengan Lian yin gak apa-apa. Dia juga perlu tahu semuanya" ucap Mei.
"Baiklah, aku akan bilang padanya nanti, lagian aku menghubungi kamu juga diam-diam." Ucap Yiwen.
"Oya ada hal lagi yang ingin aku bicarakan, ada seorang wanita bernama Grace di sini." Gumam Mei.
"Apa katamu? Grace di rumah? Gimana cara dia sampai di rumah Lian yin? Bukannya dia ke rumah sakit?" Ucap Yiwen yang masih terkejut dan tidak menyangka gimana bisa Grace bisa ada di utara, dengan keadaan yang baru saja selesai operasi beberapa hari lalu.
"Aku juga masih belum tahu, bentar ya sepertinya dokter yang mau periksa Grace sudah datang. Aku mau pergi dulu" ucap Mei yang langsung mematikan ponselnya.
Kebiasaan deh, selalu di matikan ponselnya saat aku lagi banyak pertanyaan di otakku. Tapi bentar gimana ya Grace bisa pergi dari Timur. Dia lagi sakit, dan sekarang dia di rawat di rumah Lian yin. Aku harus cepat beri tahu Lian yin sekarang. Aku takutnya ada hal penting yang akan di sampaikan Grace pada Lian yin, batin Yiwen.
Ia langsung mengambil beberapa pakaiannya dan pakaian Lian yin, ia segera masukan ke dalam tas. Kemudian ia bergegas pergi menuju ke ruang kerja ayahnya lagi, untuk kembali ke rumah kecil.
~
"Apa gak perlu dia di rawat di rumah sakit?" Tanya dokter itu pada Lay dan yang lainnya.
"Gak usah dok, bisa gak dia di rawat di rumah saja. Karena dia dalam bahaya jadi aku gak mau dia di rawat di rumah sakit. Akan bahaya bagi nyawanya nanti." Ucap Lay.
"Baiklah, suster akan menyiapkan semuanya" ucap Dokter itu.
"Iya, emangnya gimana kondisi dia sekarang dok?" Tanya Lay, yang masih menunjukan wajah datarnya.
"Sepertinya kondisinya belum sepenuhnya stabil, keadaannya masih lemah. Dia harus di rawat denfan penangannan yang baik, dan suster sudah mulai memasangkan infus untuknya. Luka operasi di perutnya belum pulih dengan sempurna. Jangan banyak bergerak, kamu harus tetap istirahat selama satu bulan penuh. Karena luka itu sangat dalam, dan bekasnya juga belum kering. Dan jangan pergi kemana-mana selama proses kesembuhan. Dan kalian temannya harus mengingatkan dia" ucap Dokter itu.
__ADS_1
"Baik dok" ucap Grace.
Dan kalian harus jaga teman kalian baik-baik. Minum obat teratur. Dan suster ini akan membantu kalian rawat Grace."
"Baik dok" ucap Changmin. "Aku antarkan dokter ke depan" lanjutnya yang langsung menuntun dokter itu menuju ke depan rumahnya.
~
Sedangkan Lay hanya diam menatap Grace yang masih berbaring, di bantu dengan suster yang merawatnya. Membantunya menarik selimut, dan memberikan obat padanya.
"Menurut kamu apa kira perlu suster di sini?" Tanya Lay pada Mei yang masih berdiri di sampingnya.
"Gak perlu, karena kita juga masih dalam situasi sulit. Aku gak mau suster itu nanti di manfaatkan oleh oknum tertentu untuk mata-matai kita" jawab Mei.
"Pinter banget kamu. Tapi kamu yang gantikan suster itu merawat dia" ucap Lay dengan wajah dinginnya dan beranjak pergi.
Mei mengerutkan keningnya, menatap ke arah Lay, dengan wajah kesalnya. Ia segera mengejar Lay yang sudah pergi meninggalkan kamar Grace.
"Eh.. bentar apa yang kamu bilang. Kenapa harus aku yang merawatnya" ucap Mei. "Kenapa tidak kamu saja" lanjutnya kesal.
Langkah Lay terhenti saat melihat Changmin berdiri di depannya, menatap ke arahnya dan Mei. "Kamu jelaskan padanya, kenapa harus dia yang merawat Grace bukan suster itu" ucap Lay, menepuk pundak Changmin, seketika lelaki itu menatap ke arah Mei. "Sekalian antar suster itu pulang, aku gak buruh dia di sini" lanjutnya dan melangkahkan kakinya pergi.
"Baiklah" ucap Changmin. Lay beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
"Syang jangan aku ya yang merawat Grace. Kenapa gak Lay saja, bukannya dia yang membawanya ke sini. Jadi dia juga harus tanggung jawab untuk merawatnya sampai dia sembuh. Semuanya bukannya salah dia. Jadi kenapa harus di bebankan tugas merawatnya padaku" ucap Mei, memegang tangan Changmin dan menggoyang-goyangkan pelan. Dengan wajah memohon pada Changmin. Ya, tapi gimana lagi, Changmin juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga harus mengikuti apa kata Lay yang menurutnya juga benar.
__ADS_1