
Lian yin segera membawa Yiwen masuk dalam mobilnya.
“Min, kamu sama Mei bawa mobil Yiwen, aku sama Yiwen. Aku menuju ke rumah sakit
terdekat.” Ucap Lian yin.
“Baik!!” jawab Changmin, ia segera masuk ke dalam mobil.
Dengan langkah terburu-buru. Mereka terlihat panik, melihat Yiwen masih tak
sadarkan diri. Ia bingung dengan apa yang harus mereka perbuat sekarang, gimana
bisa semuanya tidak tahu jika tadi ada orang yang ingin memukul Yiwen. Dan Mei
juga terus bersalah, ia juga tak luput menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa
tidak sadar juga, karena terlalu fokus dengan yang lainya.
Lian yin, terus mendekapnya sangat erat, ia mengusap rambut
Yiwen berkali-kali. Bahkan ia terus memohon agar Yiwen baik-baik saja.
“Yiwen, bangunlah!!” ucap Lian yin, duduk memeluk sebagian
tubh Yiwen yang sudah tidak berdaya. Ia menenggelamkan wajah Yiwen dalam dada
bidang miliknya.
“Yiwen, kamu harus kuat, jangan sampai kamu kanapa-napa. Aku
gak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Kalau kamu tidak cepat sadar” gumam
Lian Yin, yang mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah itu, mereka
segera pergi ke rumah sakit yang hanya berjarak sepuluh kilo meter dari
tempatnya.
Lian yin, mengemudi dengan kecepatan tinggi, melesat di
jalan raya yang terlihat sangat ramai lalu lintang mobil yang lewat.
\~\~\~
Di mobil Yiwen, dua pasangan itu hanya diam. Suasana mobil
nampak hening. Tidak ada seuntai kata kalur dari mulut mereka.
Mei, menarik napasnya. Memberanikan diri untuk bertanya pada
Changmin. “Apa yang ingin kamu kerjakan sebenarnya dengan Lian yin?” tanya Mei
datar, mencoba menghilangkan rasa gugupnya..
“Bukan urusan kamu!! Dan ini gak ada sangkut pautnya dengan
kamu, jadi jangan ikut campur” jawab Changmin jutek tanpa menatap ke arah Mei
sama sekali.
Mei, mencoba menarik napasnya lagi, menahan amarah yang
menggumpal dalam hatinya.
“Kamu kenapa bawa Yiwen ke sini?” tanya Changmin.
“Aku gak bawa dia ke sini, aku hanya ikut Yiwen untuk
mencari Lian yin. Aku gak bisa biarkan Yiwen datang sedniri ke sini” Jawab Mei.
“Gimana kamu bisa tahu jika aku dan Lian yin di rumah itu?” tanya
Changmin tanpa mentap ke arah Mei.
“Yiwen yang tahu, ia pernah datang ke sana dulu. Dia juga
pernah masuk sebagai mata-mata di dlam rumah itu, untuk mencuri informasi yang
ada di sana.”
“Tapi, jika kamu bohong. Aku gak akan segan-segan memaafkan
kamu.” Ancam Changmin.
Mei memegang lengan Yiwen yang masih fokus mengemudi
mobilnya.
Dia benar-benar ngeselin, gimana bisa ia cuek padaku,
padahal aku kekasihnya sendiri. Tapi dia gak menghargai aku sama sekali.
Pikirnya.
Mei menarik napasnya dalam-dalam, ia mencoba memberanikan
diri untuk bertanya pada Changmin.
“Kenapa kamu cuek padaku, apa kamu masih marah dengan
kejadian kemarin. Kalau kamu masih marah kenapa kamu menyuruh aku pulang
kembali, meski dengan nada marah” ucap Mei, mengungkapkan isi hatinya selama
ini.
“gak usah bahas itu sekarang, aku masih fokus mengemudi. Dan
tolong jangan ganggu aku. Kamu lihat ke depan di mana Lian yin berbelok
nantinya” gumam Changmin yang masih jutek pada Mei.
Klinnggg..
Mei segera mengambil ponsel di dalam sakunya, ia melirik
layar ponselnya yang masih menyala. Sebuah pesan dari orang yang ia kenal. Ia
mulai membuka pesan itu, membacanya setiap detail isi pesan itu.
“Kamu cepat ke rumah, aku ingin bicara dengamu. Jika nanti
malam kamu tidak ke sini. Maka jangan salahkan aku jika aku akan ikut campur
dengan urusan kamu.”
Mei terdiam, menutup bibirnya rapat-rapat, gimana bisa ia ke
rumahnya di saat seperti ini. Dan di saat Yiwen masih belum sadar.
Apa yang sebenarnya yang di lakukan laki-laki ini, apa dia
gak bisa melihat aku bahagia sedikit. Pikir Lyli. Memutar matanya malas, ia
menghembuskan napas kesalnya.
“Ada apa?” tanya Changmin.
“Gak ada apa-apa. Oya, aku nanti boleh pulang kan? Soalnya
ada urusan di rumah, dan aku haris segera ke sana. Mungkin sekitar dua atau
tiga hari ke depan. Aklu akan kembali lagi ke rumah Yiwen” tanya Mei ragu.
“Pulang, emangnya rumah kamu di mana? Dan kenapa kamu baru
__ADS_1
cerita denganku jika kamu punya rumah, kamu juga tidak pernah cerita keluarga kamu?”
tanya Changmin, detail Ia semakin curiga dengan pacarnya itu.
“Em... Aku punya rumah kok Tapi aku masih belum bisa beri
tahu pada kamu, aku hanya ingin, beri tahu pada laki-laki yang benar-benar
serius padaku. Jika tidak aku gak mau bawa laki-laki pasangan aku itu pulang ke
rumah” ucapMei
“Emangnya aku gak serius padamu?” tanya Changmin. “Aku ikut
dengan kamu ke rumah.”
Mendengar ucapan Changmin, Mei menelan ludahnya seketika.
Gimana bisa ia ikut denganku. Pikirnya.
“Enggak tahu, ya lihat saja. Gimana kamu serius padaku. Jika
memang serius harusnya kamu secepatnya nikahi aku” ucap Mei, membuat Changmin
seketika menelan ludahnya. Ia masih belum sanggup jika menikah dengan Mei,
masih banyak sifat Mei yang harus di rumah, karena ia juga tidak mau jika rumah
tangganya itu hancur jika sudah menikah.
“Kenapa kamu diam? Kamu gak mau ya, menikah denganku?” tanya
Mei.
“Kita lihat saja nanti” ucap Changmin, dengan wajah yang
masih sangat datar. Pandangna matany masih fokus dengan jalan di depannya.
“Boleh tanya gak!!” ucap Mei.
“Tanya apa?” Changmin masih terlihat sangat datar, membuat
Mei seakan ragu untuk bertanya padanya. Ia takut wajah menyeramkan Changmin
saat dia marah.Mei, mencengkram ujung bajunya, menahan rasa gugup yang semakin
menjalar, seakan mengunci rapat mulutnya, untuk tidak mengeluarkan suara
sedikitpun.
“Kenapa kamu diam?” tanya Changmin, melirik ke arah Mei.
Mei, menarik napasnya. Mencoba mengeluarkan secara perlahan.
Ia berusaha sebisa mungkin menghilangkan rasa gugupnya. “Eh.. Aku.. Itu.. Aku
boleh tanya tentang Grace” Ucap Mei terpatah-patah.
“Tanya apa lagi, aku sudah berkali-kali bilang padamu.
Jangan bahas yang membuat mood aku gak baik lagi. Jika kamu mau hubungan kita
bisa berlanjut. Jangan tanyakan hal yang gak mestinya kamu tidak boleh bertanya”
Mei menunduk, ia semakin mempererat cengkraman bajunya. Mei
menghela napasnya berkali-kali, mencoba untuk tetap sabar menghadapi sifat
Changmin yang tiba-tiba berubah. “Baiklah maaf!!” ucap Mei, yang masih
menundukkan kepalanya.
Mobil Changmin sudah sampai di parkiran rumah sakit, ia
segera mematikan mesin mobilnya. Dengan badan menoleh ke arah Mei yang masih
“Kenapa kamu menunduk?” tanya Changmin, memegang dagu Mei, mendongakkan
ke atas. membuat wanita itu memejamkan
matanya rapat-rapat. Ia tidak mau jika melihat mata tajam Changmin saat marah.
Changmin mengusap kepala Mei lembut. “Udah ayo turun, kita
sudah sampai. Dan Yiwen sudah di bawa Lian yin masuk ke dalam rumah sakit.” Ucap
Changmin, bergegas turun.
------
Lay yang sudah bosan di rterbaring di ranjangnya, ia segera
bangkitb dari rnajangnya. Mencoba untuk berdiri. Matanya berkeliling, melihat
sekeliling kamarnya, tidak ada Lyli di sana. “Di mana Lyli? Tumben banget dia
gak ada di sisiku” ucap Lay, bergegas berdiri melangkahkan kakinya, berjalan
keluar dari kamanrnya. Keadaannya sudah semakin membaik, hanya rasa nyeri di
punggungnya, membuat ia tidak bisa bergerak leluasa.
“Lyli, kamu di mana?” panggil Lay berjalan menelusuri setiap
ruangan di rumah besar milik Lian yin.
“Lay!! Kenapa kamu keluar?” tanya Lyli berjalan menghampiri
Lay yang sudah duduk bersandar di sofa.
“Aku bosan di kamar, sambil cari kamu aku keluar tadi. Kamu
memangnya dari mana?” tanya Lay.
“Aku dari kamar Grace, lagian Grcae kan sendiri, jika tidak
aku yang bantu dia siapa lagi” ucap Lyli.
“Aku salut padamu, kamu baik banget. Tapi apa kamu sudah
baikan dengan Grace?” tanya Lay, yang bingung akhir-akhir ini Lyli baik dengan
Grace, ia tahu dari dulu jika mereka musuhan. Dan tidak tegur, sapa sudah lama.
“Ya, sudah sekarang aku basuh tubuh kamu pakai air hangat ya”
ucap Lyli.
“Emm... Boleh!!” Lay bangkit dari duduknya. Perhatian Lyli
tak bisa ia tolak begitu saja, lagian itu juga kesempatan untuknya. Agar
semakin dekat denganya, dan bisa dengan mudah mendapatkan cintanya.
Lay berjalan beriringan dengan Lyli, dengan mata tak
berhenti memandang wajah Lyli di sampingnya.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Lyli, mengerutkan
keningnya.
“kamu cantik!” goda Lay, membuat Lyli tersipu malu di
depannya.
__ADS_1
“Gak usah gombal sekarang, kamu ke kamar lebih dulu, aku mau
ke dapur. Mau buat juise apukat, lagi pengen banget juice dan sekalian buatkan
kamu minuman hangat” ucap Lyli.
“Terus kamu gak jadi basuh tubuhku?” tanya Lay.
“jadi, tapi bentar aku siapkan baskomnya dulu. Udah deh gak
usah khawatir, setiap hari juga aku selalu manjain kamu. Tapi setidaknya ini
untuk balas budi aku ke kamu. Dan kamu suidah korbankan nyawa kamu buat aku”
Lay seketika menelan ludahnya, jadi selama beberapa hari ini
dia merawat aku hanya untuk balas budi. Aku kira dia akan mencintai aku,
ternyata aku harus bekerja lebih keras lagi sekarang, untuk mendapatkan
cintanya yang utuh.” ucap Lay.
“Kenapa kamu diam?” tanya Lyli.
“Apa kamu tidak ada rasa sama sekali?” tanya Lay.
“Rasa apa? Jeruk, apel atau anggur” goda Lyli membuat Lay
menarik napasnya kesal harus menghadapi wanita yang membuat ia tidak bisa marah
dengannya.
“Udahlah, lupain saja. Aku tunggu kamu di kamarku” ucap Lay,
beranjak pergi menuju ke ranjangnya.
Bibir Lyli manyun beberapa
senti, menarik bobirnya ke kanan dan kiri bergantian, “Dasar aneh!!” umpat
kesal Lyli.
Di balik rumah sakit, suasana
nampak sangat tegang, Yiwen masih terbaring di ranjang pasient tak sadarkan
diri. Dan Lian yin, berdiri dengan wajah yang mulai cemas, ia mondar mandiri di
depan pintu, dengan tangan kanan melipat ke dadanya dan tangan kiri mengusap
dagunya.
“Yiwen!! Cepatlah sadar, aku gak
akan memaafkan diri aku sendiri jika kamu sampai kenapa-napa.” Ucap Lian yin.
Mei juga terlihat tidak tenang,
ia duduk dengan ke dua kaki menghentak-hentakkan ke lantai. Oia sudah tidak
sabar mendengar kata baik dari dokter.
Changmin, berjalan menekati Lian
yin, menepuk pundaknya. “Yin, kamu tenang ya” ucap Changmin, ia mencoba
menenangkan hati Lian yin.
Lian yin mengehla napas
beratnya, ia belum bisa tenang jika belum melihat Yiwen tersenyum di depannya.
Terlihat mata kecoklatan milik Lian yin yang mulai berkaca-kaca.
“Yakinlah, jika Yiwen akan
segera sadar” uap Changmin, yang masih mengusap pundaknya.
“Kamu tahu Min, dia wanita yang
paling aku syang. Tidak ada wanita lain selain dirinya, meski beribu wanita
cantik di depanku. Aku hanyatetap setiap apdanya, jika dia kenapa-napa aku gak
tahu lagi. Apa aku bisa bertahan hidup jika tanpa dia” ucap Lian yin, dan.
Tes...
Tetesan air mata tiba-tiba
keluar dari mata Lian yin. Air mata pertama yang jatuh hanya untuk wanita yang
baru saja menemani hidupnya.
Beberapa menit kemudian, dokter
keluar dari ruang pasien, menunjukan wajahnya dengan raut wajah menampakkan
kesedihan.
“Dok, gimana. Yiwen gak apa-apa kan
dok?” tanya Lian yin.
“Iya dok, dia baik-baik saja
kan?” sambung Mei, yang sudah tidak bisa diam lagi, wajahnya terlihat pucat
pasi, jika Yiwen kenapa-napa ia takut jika Chanmin dan LIan yin yang akan marah
padanya.
Dokter itu menarik napas
panjangnya, “Yiwen, sudah tidak bernapas lagi. Dia sudah tidak bisa tertolong.
Maafkan saya pak,syang gak bisa menyelamatkan istri bapak” ucap Dokter itu,
menepuk pundak Lian yin, lalu melangkahkan kakinya pergi.
Seketika tubuh Lian yin dan Mei
lemas, Ia berlari mencoba melihat Yiwen. Tangisan Mei seketika pecah mendengar
hal itu. Lian yin sudah tidak sanggup
lagi mengucapkan kata apa-apa hanya tangisan yang semakin menggema seisi
ruangan tersebut.
“Yiwen, sadarlah.. Ini aku Lian
yin... maafkan aku, aku salah, aku pergi tanpa kabari kamu.. Tolong bangunlah.
Sekarang cepatlah bangun” ucap Lian yin, air matanya tak terbendung lagi. Ia
terus memeluk tubuh Yiwen.
“Yiwen, maafkan aku juga.
Sekarang cepat bangulah” Sambung Mei, yang kin berdiri di samping Changmin.
Lian yin memeluk tubuh Yiwen,
higga wajahnya tergelam dalam dada bidangnya. Tangisan Lian yin semkain pecah,
__ADS_1
saat Yiwen belum juga sadar.