Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)

Terjebak Cinta Dunia Mafia (Dalam Tahap Revisi Nama)
Episode 219


__ADS_3

Lian yin segera membawa Yiwen masuk dalam mobilnya.


“Min, kamu sama Mei bawa mobil Yiwen, aku sama Yiwen. Aku menuju ke rumah sakit


terdekat.” Ucap Lian yin.


“Baik!!” jawab Changmin, ia segera masuk ke dalam mobil.


Dengan langkah terburu-buru. Mereka terlihat panik, melihat Yiwen masih tak


sadarkan diri. Ia bingung dengan apa yang harus mereka perbuat sekarang, gimana


bisa semuanya tidak tahu jika tadi ada orang yang ingin memukul Yiwen. Dan Mei


juga terus bersalah, ia juga tak luput menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa


tidak sadar juga, karena terlalu fokus dengan yang lainya.


Lian yin, terus mendekapnya sangat erat, ia mengusap rambut


Yiwen berkali-kali. Bahkan ia terus memohon agar Yiwen baik-baik saja.


“Yiwen, bangunlah!!” ucap Lian yin, duduk memeluk sebagian


tubh Yiwen yang sudah tidak berdaya. Ia menenggelamkan wajah Yiwen dalam dada


bidang miliknya.


“Yiwen, kamu harus kuat, jangan sampai kamu kanapa-napa. Aku


gak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Kalau kamu tidak cepat sadar” gumam


Lian Yin, yang mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah itu, mereka


segera pergi ke rumah sakit yang hanya berjarak sepuluh kilo meter dari


tempatnya.


Lian yin, mengemudi dengan kecepatan tinggi, melesat di


jalan raya yang terlihat sangat ramai lalu lintang mobil  yang lewat.


\~\~\~


Di mobil Yiwen, dua pasangan itu hanya diam. Suasana mobil


nampak hening. Tidak ada seuntai kata kalur dari mulut mereka.


Mei, menarik napasnya. Memberanikan diri untuk bertanya pada


Changmin. “Apa yang ingin kamu kerjakan sebenarnya dengan Lian yin?” tanya Mei


datar, mencoba menghilangkan rasa gugupnya..


“Bukan urusan kamu!! Dan ini gak ada sangkut pautnya dengan


kamu, jadi jangan ikut campur” jawab Changmin jutek tanpa menatap ke arah Mei


sama sekali.


Mei, mencoba menarik napasnya lagi, menahan amarah yang


menggumpal dalam hatinya.


“Kamu kenapa bawa Yiwen ke sini?” tanya Changmin.


“Aku gak bawa dia ke sini, aku hanya ikut Yiwen untuk


mencari Lian yin. Aku gak bisa biarkan Yiwen datang sedniri ke sini” Jawab Mei.


“Gimana kamu bisa tahu jika aku dan Lian yin di rumah itu?” tanya


Changmin tanpa mentap ke arah Mei.


“Yiwen yang tahu, ia pernah datang ke sana dulu. Dia juga


pernah masuk sebagai mata-mata di dlam rumah itu, untuk mencuri informasi yang


ada di sana.”


“Tapi, jika kamu bohong. Aku gak akan segan-segan memaafkan


kamu.” Ancam Changmin.


Mei memegang lengan Yiwen yang masih fokus mengemudi


mobilnya.


Dia benar-benar ngeselin, gimana bisa ia cuek padaku,


padahal aku kekasihnya sendiri. Tapi dia gak menghargai aku sama sekali.


Pikirnya.


Mei menarik napasnya dalam-dalam, ia mencoba memberanikan


diri untuk bertanya pada Changmin.


“Kenapa kamu cuek padaku, apa kamu masih marah dengan


kejadian kemarin. Kalau kamu masih marah kenapa kamu menyuruh aku pulang


kembali, meski dengan nada marah” ucap Mei, mengungkapkan isi hatinya selama


ini.


“gak usah bahas itu sekarang, aku masih fokus mengemudi. Dan


tolong jangan ganggu aku. Kamu lihat ke depan di mana Lian yin berbelok


nantinya” gumam Changmin yang masih jutek pada Mei.


Klinnggg..


Mei segera mengambil ponsel di dalam sakunya, ia melirik


layar ponselnya yang masih menyala. Sebuah pesan dari orang yang ia kenal. Ia


mulai membuka pesan itu, membacanya setiap detail isi pesan itu.


“Kamu cepat ke rumah, aku ingin bicara dengamu. Jika nanti


malam kamu tidak ke sini. Maka jangan salahkan aku jika aku akan ikut campur


dengan urusan kamu.”


Mei terdiam, menutup bibirnya rapat-rapat, gimana bisa ia ke


rumahnya di saat seperti ini. Dan di saat Yiwen masih belum sadar.


Apa yang sebenarnya yang di lakukan laki-laki ini, apa dia


gak bisa melihat aku bahagia sedikit. Pikir Lyli. Memutar matanya malas, ia


menghembuskan napas kesalnya.


“Ada apa?” tanya Changmin.


“Gak ada apa-apa. Oya, aku nanti boleh pulang kan? Soalnya


ada urusan di rumah, dan aku haris segera ke sana. Mungkin sekitar dua atau


tiga hari ke depan. Aklu akan kembali lagi ke rumah Yiwen” tanya Mei ragu.


“Pulang, emangnya rumah kamu di mana? Dan kenapa kamu baru

__ADS_1


cerita denganku jika kamu punya rumah,  kamu juga tidak pernah cerita keluarga kamu?”


tanya Changmin, detail Ia semakin curiga dengan pacarnya itu.


“Em... Aku punya rumah kok Tapi aku masih belum bisa beri


tahu pada kamu, aku hanya ingin, beri tahu pada laki-laki yang benar-benar


serius padaku. Jika tidak aku gak mau bawa laki-laki pasangan aku itu pulang ke


rumah” ucapMei


“Emangnya aku gak serius padamu?” tanya Changmin. “Aku ikut


dengan kamu ke rumah.”


Mendengar ucapan Changmin, Mei menelan ludahnya seketika.


Gimana bisa ia ikut denganku. Pikirnya.


“Enggak tahu, ya lihat saja. Gimana kamu serius padaku. Jika


memang serius harusnya kamu secepatnya nikahi aku” ucap Mei, membuat Changmin


seketika menelan ludahnya. Ia masih belum sanggup jika menikah dengan Mei,


masih banyak sifat Mei yang harus di rumah, karena ia juga tidak mau jika rumah


tangganya itu hancur jika sudah menikah.


“Kenapa kamu diam? Kamu gak mau ya, menikah denganku?” tanya


Mei.


“Kita lihat saja nanti” ucap Changmin, dengan wajah yang


masih sangat datar. Pandangna matany masih fokus dengan jalan di depannya.


“Boleh tanya gak!!” ucap Mei.


“Tanya apa?” Changmin masih terlihat sangat datar, membuat


Mei seakan ragu untuk bertanya padanya. Ia takut wajah menyeramkan Changmin


saat dia marah.Mei, mencengkram ujung bajunya, menahan rasa gugup yang semakin


menjalar, seakan mengunci rapat mulutnya, untuk tidak mengeluarkan suara


sedikitpun.


“Kenapa kamu diam?” tanya Changmin, melirik ke arah Mei.


Mei, menarik napasnya. Mencoba mengeluarkan secara perlahan.


Ia berusaha sebisa mungkin menghilangkan rasa gugupnya. “Eh.. Aku.. Itu.. Aku


boleh tanya tentang Grace” Ucap Mei terpatah-patah.


“Tanya apa lagi, aku sudah berkali-kali bilang padamu.


Jangan bahas yang membuat mood aku gak baik lagi. Jika kamu mau hubungan kita


bisa berlanjut. Jangan tanyakan hal yang gak mestinya kamu tidak boleh bertanya”


Mei menunduk, ia semakin mempererat cengkraman bajunya. Mei


menghela napasnya berkali-kali, mencoba untuk tetap sabar menghadapi sifat


Changmin yang tiba-tiba berubah. “Baiklah maaf!!” ucap Mei, yang masih


menundukkan kepalanya.


Mobil Changmin sudah sampai di parkiran rumah sakit, ia


segera mematikan mesin mobilnya. Dengan badan menoleh ke arah Mei yang masih


“Kenapa kamu menunduk?” tanya Changmin, memegang dagu Mei, mendongakkan


ke atas. membuat  wanita itu memejamkan


matanya rapat-rapat. Ia tidak mau jika melihat mata tajam Changmin saat marah.


Changmin mengusap kepala Mei lembut. “Udah ayo turun, kita


sudah sampai. Dan Yiwen sudah di bawa Lian yin masuk ke dalam rumah sakit.” Ucap


Changmin, bergegas turun.


------


Lay yang sudah bosan di rterbaring di ranjangnya, ia segera


bangkitb dari rnajangnya. Mencoba untuk berdiri. Matanya berkeliling, melihat


sekeliling kamarnya, tidak ada Lyli di sana. “Di mana Lyli? Tumben banget dia


gak ada di sisiku” ucap Lay, bergegas berdiri melangkahkan kakinya, berjalan


keluar dari kamanrnya. Keadaannya sudah semakin membaik, hanya rasa nyeri di


punggungnya, membuat ia tidak bisa bergerak leluasa.


“Lyli, kamu di mana?” panggil Lay berjalan menelusuri setiap


ruangan di rumah besar milik Lian yin.


“Lay!! Kenapa kamu keluar?” tanya Lyli berjalan menghampiri


Lay yang sudah duduk bersandar di sofa.


“Aku bosan di kamar, sambil cari kamu aku keluar tadi. Kamu


memangnya dari mana?” tanya Lay.


“Aku dari kamar Grace, lagian Grcae kan sendiri, jika tidak


aku yang bantu dia siapa lagi” ucap Lyli.


“Aku salut padamu, kamu baik banget. Tapi apa kamu sudah


baikan dengan Grace?” tanya Lay, yang bingung akhir-akhir ini Lyli baik dengan


Grace, ia tahu dari dulu jika mereka musuhan. Dan tidak tegur, sapa sudah lama.


“Ya, sudah sekarang aku basuh tubuh kamu pakai air hangat ya”


ucap Lyli.


“Emm... Boleh!!” Lay bangkit dari duduknya. Perhatian Lyli


tak bisa ia tolak begitu saja, lagian itu juga kesempatan untuknya. Agar


semakin dekat denganya, dan bisa dengan mudah mendapatkan cintanya.


Lay berjalan beriringan dengan Lyli, dengan mata tak


berhenti memandang wajah Lyli di sampingnya.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Lyli, mengerutkan


keningnya.


“kamu cantik!” goda Lay, membuat Lyli tersipu malu di


depannya.

__ADS_1


“Gak usah gombal sekarang, kamu ke kamar lebih dulu, aku mau


ke dapur. Mau buat juise apukat, lagi pengen banget juice dan sekalian buatkan


kamu minuman hangat” ucap Lyli.


“Terus kamu gak jadi basuh tubuhku?” tanya Lay.


“jadi, tapi bentar aku siapkan baskomnya dulu. Udah deh gak


usah khawatir, setiap hari juga aku selalu manjain kamu. Tapi setidaknya ini


untuk balas budi aku ke kamu. Dan kamu suidah korbankan nyawa kamu buat aku”


Lay seketika menelan ludahnya, jadi selama beberapa hari ini


dia merawat aku hanya untuk balas budi. Aku kira dia akan mencintai aku,


ternyata aku harus bekerja lebih keras lagi sekarang, untuk mendapatkan


cintanya yang utuh.” ucap Lay.


“Kenapa kamu diam?” tanya Lyli.


“Apa kamu tidak ada rasa sama sekali?” tanya Lay.


“Rasa apa? Jeruk, apel atau anggur” goda Lyli membuat Lay


menarik napasnya kesal harus menghadapi wanita yang membuat ia tidak bisa marah


dengannya.


“Udahlah, lupain saja. Aku tunggu kamu di kamarku” ucap Lay,


beranjak pergi menuju ke ranjangnya.


Bibir Lyli manyun beberapa


senti, menarik bobirnya ke kanan dan kiri bergantian, “Dasar aneh!!” umpat


kesal Lyli.


Di balik rumah sakit, suasana


nampak sangat tegang, Yiwen masih terbaring di ranjang pasient tak sadarkan


diri. Dan Lian yin, berdiri dengan wajah yang mulai cemas, ia mondar mandiri di


depan pintu, dengan tangan kanan melipat ke dadanya dan tangan kiri mengusap


dagunya.


“Yiwen!! Cepatlah sadar, aku gak


akan memaafkan diri aku sendiri jika kamu sampai kenapa-napa.” Ucap Lian yin.


Mei juga terlihat tidak tenang,


ia duduk dengan ke dua kaki menghentak-hentakkan ke lantai. Oia sudah tidak


sabar mendengar kata baik dari dokter.


Changmin, berjalan menekati Lian


yin, menepuk pundaknya. “Yin, kamu tenang ya” ucap Changmin, ia mencoba


menenangkan hati Lian yin.


Lian yin mengehla napas


beratnya, ia belum bisa tenang jika belum melihat Yiwen tersenyum di depannya.


Terlihat mata kecoklatan milik Lian yin yang mulai berkaca-kaca.


“Yakinlah, jika Yiwen akan


segera sadar” uap Changmin, yang masih mengusap pundaknya.


“Kamu tahu Min, dia wanita yang


paling aku syang. Tidak ada wanita lain selain dirinya, meski beribu wanita


cantik di depanku. Aku hanyatetap setiap apdanya, jika dia kenapa-napa aku gak


tahu lagi. Apa aku bisa bertahan hidup jika tanpa dia” ucap Lian yin, dan.


Tes...


Tetesan air mata tiba-tiba


keluar dari mata Lian yin. Air mata pertama yang jatuh hanya untuk wanita yang


baru saja menemani hidupnya.


Beberapa menit kemudian, dokter


keluar dari ruang pasien, menunjukan wajahnya dengan raut wajah menampakkan


kesedihan.


“Dok, gimana. Yiwen gak apa-apa kan


dok?” tanya Lian yin.


“Iya dok, dia baik-baik saja


kan?” sambung Mei, yang sudah tidak bisa diam lagi, wajahnya terlihat pucat


pasi, jika Yiwen kenapa-napa ia takut jika Chanmin dan LIan yin yang akan marah


padanya.


Dokter itu menarik napas


panjangnya, “Yiwen, sudah tidak bernapas lagi. Dia sudah tidak bisa tertolong.


Maafkan saya pak,syang gak bisa menyelamatkan istri bapak” ucap Dokter itu,


menepuk pundak Lian yin, lalu melangkahkan kakinya pergi.


Seketika tubuh Lian yin dan Mei


lemas, Ia berlari mencoba melihat Yiwen. Tangisan Mei seketika pecah mendengar


hal itu.  Lian yin sudah tidak sanggup


lagi mengucapkan kata apa-apa hanya tangisan yang semakin menggema seisi


ruangan tersebut.


“Yiwen, sadarlah.. Ini aku Lian


yin... maafkan aku, aku salah, aku pergi tanpa kabari kamu.. Tolong bangunlah.


Sekarang cepatlah bangun” ucap Lian yin, air matanya tak terbendung lagi. Ia


terus memeluk tubuh Yiwen.


“Yiwen, maafkan aku juga.


Sekarang cepat bangulah” Sambung Mei, yang kin berdiri di samping Changmin.


Lian yin memeluk tubuh Yiwen,


higga wajahnya tergelam dalam dada bidangnya. Tangisan Lian yin semkain pecah,

__ADS_1


saat Yiwen belum juga sadar.


__ADS_2