
“Lian yin!! Aku mau kamu menyerah
sekarang dan serahkan apa yang kamu dapatkan selama ini?”
“Maksud kamu apa?” tanya Lian yin
bingung dengan apa yang di katakan laki-laki di depannya.
“Aku hanya mau kamu cari aman
saja. Sekarang serahakn yang kamu cari tad di rumah itu. Setelah itu aku akan
pergi dari sini, dan akan emmbiarkan kamu lolos dengan selamat dari kepungan
kita semua.”
“Apa yang kamu katakan, aku tidak
akan dengan mudah menyerahkan semuanya. Da ini bukan milik kmau, kenapa kamu
susah payah untuk mendapatkan semuanya?” tnay Lian yin, yang mulai paham dengan
apa yang di inginkan para kelompotan bersenjata itu.
Laki-laki misterius itu, berjalan
mendkeat dengan langkah ringan, mengulurkan tanganya ke depan. “Serahkan
sekarang, aku lagi berbaik hati dengan kamu skerarang,” ucapnya.
Negosiasi dari mereka hanya di
balas dengan senyum kecut dari Lian yin. “Kamu kira kita tidak bisa melawan
semua pengawal kamu ini?” tanya Yiwen, menarik bibirnya sinis.
“Oke, baiklah. Jika memang kalian
tidak mau. Gak masalah. Kalian bisa hadapi semuanya pengawal aku. Dan sebentar
lagi juga akan ada seseorang yang datang. Kamu pasti akan tahu siapa dia, dia
tuan kita. Yang akan menyambut kalian semuanya.” Ucap Ylaki-laki misterius di
depannya.
Semua sudah bersiap, dan mulai
melayangkan senjata mereka ke udara.
“Lian yin, awas!!” teriak Yiwen, meraih tangan Lin
yin dengan ke dua kaki sedikit melompat menghentakkan ke dua kakinya ke pohon
besar di sampingnya, dengan ke dua tangan mengulurkan senjata ke beberapa orang
di belakang Lian yin dengan sangat cepat. Melayangkan beberapa tembakan bertubi-tubi.
Dor... Dor... Dor...
Dor... Dorr..
Bukkk... Buukkkk...
Sebuah tendangan memutar tepat
jatuh di beberapa orang yang berjejeran di samping Lian yin tepat mengenai
wajah mereka semua bergantian.
Tappp.... Tap...
Buukkk..
Lian yin mengentakkan ke dua kakinya
ke pohon, dengan gerakan sangat cepat, membuat lawannya terkecoh olehnya. Ia
memutar tubuhnya ke belakang, melayangkan sebuah tendangan kaki kiri, tepat
mengenai orang di belakangnya yang hampir saja melayangkan sebuah tembakan ke
arahnya.
Lian yin terdiam sejanak menatap
Yiwen yang dari tadi menatapnya. Ke dua mata mereka saling tertuju, namun ke
dua telinga merkea sangat was-was dan jelia mnedengarkan gerak gerika musuh di
sekitarnya.
Dooorrrr...
Yiwen, melayangkan tembakan ke
atas, tepat di atas pohon bersembunyi satu orang yang akan melayangkan busur panahnya.
__ADS_1
“Kita akan jadi partner yang baik,”
ucap Lian yin, menarik tangan Yiwem bergantian tempat.
Dor.... Dor...
Dor.. Dor...
Lian yin da Yiwen bersamaan
melayangkan tembakan pada orang di depannya, dengan ke dua tangan masih
berpegangan erat.
“Kalian pikir akan begitu mudah
mengalahkan kita,” ucap Lian yin, dengan sunyum picik penuh percaya diri dari
raut wajahnya.
“Oke, kalian bisa mengalahkan semuanya.
Tapi apa kalian tahu, jika dua wanita di rumah kalian dalam bahaya” ucap
laki-laki di depannya.
Mendengar hal itu seketika Yiwen,
berlari cepat, dan lansgung mendorongkan senjata ke depannyanya. “Apa yang kamu
katakna, jangan berani-beraninya kalian emnyakiti merkea” ucap Yiwen, dengan
tatapan tajamnya. Dan hanya di balas
dengan senyum sisnis dari laki-laki di depannya.
“Aku tidaknberbuat macam-macam
dengan merkea, tapi Tuan kita yang melakukannya. Jadi semua ketentuan ada di
tangannya.”
Seketika tubuh Yiwen terasa sangat
lemas, mendengar hal itu. Ia yang semula tegap mendongakan senjata, tanganya
terasa lemas dan perlahan menurunkan senjatanya, dengan wajah sedikit menunduk.
“Bagaimana bisa mereka membuat kita terpancing,” gumam Yiwen lirih.
rumah aku, dan kenapa kalian begitu mudah membobol semua pengaman di sana?” tanya
Lian yin, melangkahkan kakinya memndekati Yiwen.
“Semua karena Mei, dia yang
membocorkan semuanya. Dialah yang mata-mata sebenarnya. Pantas saja mereka bisa
dengan mudah masuk ke rumah kamu” ucap Yiwen Yang masih menundukkan kepalanya.
“Jadi apa yang kamu katakan itu
benar?” tanya Lian yin.
“Iya, memang benar apa yang di
katakan wanita kamu. Calon istri tuan kami memang yang membocorkan semuanya.”
Lian yin memegang pundak Yiwen, “Kamu
jangan khawatir dengan Grace dan Lyli. Aku tahu Grace wanita seperti apa, dia
sangat buas dalam hal membunuh para musuh. Dan tidak kenal ampun pada orang
yang berani menyakiti seorang yang dekat dengannya.” Ucap Lain yin, mencoba
menenangkan hati Yiwen.
Yiwen menoleh ke arah Lian yin, “Apa
aku bisa tenang, jiak kondisi Grace saat ini masih belum pulih. Apa dia bisa
melwan para musuhnya dengan mudah. Dan apa dia bisa membunuh semuanya seperti
apaa yang kamu bilang,” ucap Yiwen dengan wajah kesalnya.
“Percayalah padaku, aku tahu doa
sejak lama. Aku tahu sifat baik buruknya dia. Jadi kamu gak perlu khawatir
dengan dia. Aku nanti aka segera memberi tahu dokter agar ia bisa merawatnya
dengan sangat baik.
“Tapi..”
“percayalah padaku,” ucap Liaqn
__ADS_1
yin, memegang ke dua bahu Yiwen. Membuat wanita di depannya itu yang semula
gundah dan khawatir dengan keadaan teman barunya yang masih berada di rumah
Lian yin. Ia mulai berubah, perlahan percaya dengan apa yang di katakan Lian
yin.
“Kamu harus merawatnya dengan
baik, jangan sampai dia kenapa-napa. Dia sangat baik, dan banyak membantu kita.
Bahkan rela mengorbankan dirinya sendiir untuk kita,” uvap Yiwen, menatap wajah
Lian yin.
“Sudah kalian bicaranya, kalau mau
bermesraan jangan di sini,” ucap laki-laki misterius di depannya, yang dari
tadi mendengarkan apa yang di katakna Yiwen dan Lian yin.
-----
Lian yin yang masih berbincang dengan para musuh, mencoba
meredakan situasi.Sedangkan Changmin, menuntun Lay menuju tempat yang aman
untuknya.
“Kenapa kamu membawaku pergi?” tanya Lay, yang memang tidak
suka jadi beban ke dua temannya.
“Aku gak mau jika kamu terluka, dan gak hanya aku. Semua
juga khawatir dengan keadaan kamu. Jadi menurutlah dengan apa yang aku katakan.
Jangan banyak bicara lagi” ucap changmin.
“Aku masih bisa hanya melawan mereka semua, dan kamu gak perlu
khawatir dengan aku. Aku gak mau jadi beban kalian terus menerus”
Situasi masih belum kondusif. Changmin segera membawa Lay
pergi ke halicopter yang terparkir di pinggir pantai.
“Kalian mau kemana?” tanya seseorang pengawal yang berlari
mengejarnya. Dengan membawa beberapa gerombolan.
Changmin menoleh ke belakang, dengan senyum piciknya
terpancar di raut wajahnya.
“Kalian gak akan bisa melawanku,”
“Jangan banyak bicara kamu,”
“Siapa yang banyak bicara, bagaimana kalau kita buktikan.
Kalian boleh melawanku, tapi hanya menggunakan tanga kosong. Dan buang semua
senjata kalian. Bagaimana?” ucap Changmin, mencoba bernegosiasi dengan lawan di
depannya. “kalian bisa melawan aku langung semua orang maju ke depan.” Lanjutnya.
Mereka terdiam, mencoba menimang-nimang apa yang di katakan
Changmin itu. Dengan bertanya pada penagal satu ke yang lainya dengan bersisik
meminta pendapat.
“Bagaimana, jangan lama-lama berpikir. Aku gak punya bnayak
waktu lagi. Kalau kalian bisa mengalahkanku. Aku akna memberikan apa yang kamu
kasih,” ucap Changmin dengan sangat santainya, menarik ke dua alisya ke atas.
“Baiklah, tapi jika aku menang maka kamu harus menyerahan
semuanya,” ucap musuhnya.
“Todak masalah bagiku,” ucap Changmin penuh percaya diri. “Dan
sekarang kalian semua buiang senjata kalain, jangan ada yang membawa senjata
sama sekali,” lanjut Changmin.
“Baik,” ucap seorang laki-laki di depannya yang mulai
membuang senjata ditangannya ke samping. “ Dan kalian semua, buang senjata
kalian.” Ucap orang di depanya pada semua pengawal yang berada di
belakangkanynya.
__ADS_1