
Terus berdecak kesal, Yiwen merasa sangat lelah kali ini. Bahkan dia selalu ngomel gak jelas pada semua orang. Padahal kan yang salah bukan orang di sekitarnya. Gara-gara hal daleman saja semua pada repot, a
Dan bikin heboh seisi rumah.
Yiwen duduk di sofa, menyandarkan punggungnya sejenak. Ia capek dari tadi bolak-balik lantai satu dan dua mencari pakaiannya.
Tap..tap.. tap..
Hentakan kaki ringan berjalan di belakang Yiwen. Namun sepertinya Yiwen terlihat memejamkan matanya lagi, menyandarkan kepalanya ke sofa. "Hari yang melelahkan" gumamnya. Dengan memgehmbuskan napas leganya, bisa merengganggkan otot punggungnya sejenak.
Lian yin mengecup bibir Yiwen yang terlihat tepat di bawahnya. Yiwen membuka matanya seketika. Menatap lian yin berada di depan pandangannya.
Lian yin berjalan memutar.
"Sepertinya kamu lelah" Lian yin beranjak duduk di samping Yiwen. Membuat wanita itu terjingkat dari duduknya.
"Kenapa kamu lama? Tau gak aku sudah menunggumu dari tadi. Dan mana sekarang" Yiwen membuka telapak tangannya dengan tangan kiri di pinggang.
"Apaan?" Lian yin bingung dengan apa yang di maksud Yiwen.
Tak begitu menggubris Yiwen, ia bersandar santai di sofa, "Emangnya tadi belum ketemu,kah" ucap Lian yin dengan ke dua tangan terlentang diatasnya.
"Belum lah, kalau sudah kenapa aku minta kamu kembalikan sekarang" gumam Yiwen.
Ia bahkan terus ngomel gak jelas pada Lian yin di belakangnya.
"Kenapa kamu hanya diam saja?" ucap Yiwen menarik dasi Lian yin.
Lelaki itu tersenyum tipis, ia merengkuh pinggang yiwen dalam dekapannya. Hingga tak ada celah lagi untuk Yiwen bergerak. "Bilang saja kalau kamu ingin menggodaku" bisik Lian yin.
Yiwen mencoba meronta melepaskan diri dari balutan kaki panjang Lian yin, yang mengunci tubuhnya hingga tak bisa berkutik sama sekali. Bahkan berdiri pun ia tak bisa. Terpaksa Yiwen hanya diam duduk di pangkuan Lian yin kali ini "Apa kita akan bermain di sini" lanjut Lian yin.
Yiwen merasa malu pada para pelayan yang lewat melihat hubungan mereka seperti itu.
"Apaan sih, lepaskan aku Yin, aku malu di sini" ucap Yiwen. Dengan sigap Lian yin beranjak berdiri. Ia mengangkat tubuh Yiwen yang kali ini terasa sangat ringan itu. Ia beranjak menaiki anak tangga yang menjulang tinggi ke atas, menuju ke kamarnya.
Ya, seolah ia tahubapa yang di maksud Yiwen, ia tidak mau bermain di luar. Jadi dengan segera membawanya masuk ke dalam kamar.
"Lian yin! Turunkan aku" Yiwen memukul dada bidang lian yin.
"Bukannya kamu tadi yang menggodaku, Bisakah diam sejenak, ku ingin bersenang-senang syang" bisik Lian yin, ia membuka kamarnya dengan kakinya. Pintu itu terbuka perlahan, lalu menutupnya kembali dengan kakinya, tetapi tak tetutup rapat, masih terlihat celah sedikit pintu kamarnya.
__ADS_1
Lian yin membaringkan tubuh Yiwen di ranjang putih, yang sangat luas itu.
Baru akan memulai aksinya. Ada yang menganggunya.
Drtt..drt...
Ponsel Lian Yin berbunyi. Ia segera mengambil ponselnya di dalam kantong jas. Ia melihat sekilas ada panggilan Vidio call masuk dari Lie Wei. Lian yin mengerutkan keningnya, kini tanpa pikir panjang ia segera mengangkat telponnya.
"Ada apa? Tumben sekali kamu vidio call" tanya Lian yin, Ia curiga biasanya Lie Wei selalu Telfon kalau gak ya cuma kirim pesan, tapi kali ini dia malah Vidio call.
Sialan, pasti ini anak sengaja menganggu aku permainanku, gumamnya dalam hati.
Lie Wei tertawa kecil melihat mereka berdua di ranjang.
"Sepertinya, kamu di ranjang ya" ia menutup mulutnya seketika, melihat Lian yin menatapnya tajam. "Takut..takut.." ucap Lie Wei menyembunyikan wajahnya.
"Gimana Yhing yhi, kita bebaskan atau tetap kita kurung di dalam ruang bawah tanah, sampai dia mengaku" lanjutnya.
Lian yin yang semula pasang wajah bercanda, kini ia terlihat nampam sangat serius.
"Aku mau dia membuka mulutnya siapa dalangnya" Lie Wei memperlihatkan tubuh Yhing yhi di balik penjara bawah tanah yang sudah nampak sangat lemas.
Yiwen melebarkan matanya seketika,
"Kembalikan! Ponselku, Yiwen!!" Lian yin mencoba meraih ponselnya, namun Yiwen menepis tangannya berkali-kali.
"Apaan sih bentar" ucap Yiwen, dengan nada kesalnya.
Lian yin tersenyum tipis, "Baiklah!!" Gumamnya, ia segera melepaskan semua jas dan kemejanya. Masuk ke dalam selimut tebal. Lian yin menutupi sekujur tubuh Yiwen dan bermain dalam balutan selimut. Hingga hampir 5 Menit.
Vidio Call dari Lie Wei belum di matikan. Ponselnya tergeletak di ranjang. Ia hanya bisa melihat selimut bergoyang-goyang. Bahkan seperti rumput terkena angin kencang di sana. Entah di mana Lian yin dan Yiwen. Ia tak melihatnya lagi diranjang itu.
"Kamu kebiasaan sih, kalau ajak selalu mendadak. Gimana kalau Lie Wei melihatnya"ucap Yiwen segera mengenakan bajunya lagi.
Sebuah kecupan di bibirnya, membuat Yiwen berhenti berbicara kali ini. Dengan tetesan keringat Yiwen terjatuh di pipi Lian yin.
"Makasih, besok setelah kita pergi keluar negeri. Kita akan menikah di sana" bisik Lian yin.
Yiwen tak menggubris ucapan lian yin, ia segera meraih ponsel Lian yin tadi. Semoga Lie Wei belum mematikannya, gumam yiwen.
Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Yhing yhi di balik ponsel tadi. Sebelumnya Lian yin tak pernah cerita apapun tentang Yhing yhi. Dan kenapa dia di kurung di penjara bawah tanah, ia selalu berpikir sendiri tanpa tanya dengan Lian yin. Ya, kecuali kalau Lian yin mau cerita sendiri.
__ADS_1
Yiwen berharap ada hubungan saling terbuka tanpa ada hal yang di rahasiakan lagi. Karena jika saling merahasiakan takutnya nanti salah paham. Dan ujung-ujungnya bertengkar gak jelas.
"Hai, Min!" sapa Yiwen yang sudah tebalut bajunya lagi.
"Tadi ada suara apa di kamar kamu" tanya Lie Wei nampak kikuk.
"Suara apa?" Yiwen bingung, tetapi ia berpikir pasti Lie Wei tahu apa yang di perbuwat lian yin padanya.
"Suara gludak..gludak.. srek..srek.. erangan kucing liar" ucapnya menirukan suara yang memang dari tadi ribut sendiri.
Lian yin tertawa terbahak-bahak di belakang Yiwen, bahkan ia bersandar di ranjangnya hanya mengenakan celana pendeknya, di balut selimut tebal. Dasar kalau masalah dewasa, ia sangat bodoh, perlu pengalaman yang luas, gumam Lian yin lirih di belakang Yiwen.
"Oh.. suara itu, mungkin Lian yin tadi yang usir kecoa kali di kamarnya" Yiwen merasa bingung mau jawab gimana. Ia jawabnya dengan penuh ragu-ragu. Membuat Lie Wei mengernyitkan dahinya curiga.
"Tetapi kenapa suaranya sangat aneh ya?"
Lie Wei terdiam sejenak, lalu mulai tersenyum seolah ia baru tahu apa yang mereka lakukan. Dengan segera Lian yin meraih ponselnya dan berbicara dengan Lie Wei.
"Apa kamu tidak mengingkan seperti itu" gumam Lian yin dengan nada penuh candaan.
"Apa kamu perbolehkan aku dengan Yiwen?" ucapan spontan Lie Wei membuat Lian yin melotot tajam seketika. Seolah akan menerkam ponselnya.
"Bercanda, lagian aku sudah punya Mei, bagiku tak ada yang penting lagi selain dirinya" ucap Lie Wei dengan penuh percaya diri. Ia merengkuh pundak Mei yang memang dari tadi di sampingnya. Sedang mengintrogasi lagi Yhing yhi.
"Awas saja kamu berani mengganggu Yiwen ku, ku tidak akan segan-segan memakanmu" gumam Lian yin.
"Kenapa kamu yang ngobrol terus dengannya, ku mau berbicara dengan Mei dulu" saut Yiwen, meraih kembali ponsel Lian yin di tangannya.
Lian yin berdengus kesal, tapi ia tak bisa berbuwat apa-apa. Jika marah, malah Yiwen semakin marah padanya. Lagian hari ini dia sudah benar-benar membuatnya senang. Sangat senang dengan pelayanannya yang memuaskan.
"Lie Wei mana Mei, aku ingin berbicara padanya. Tolong berikan ponselmu pada mei" ucap Yiwen.
"Hai Yiwen!" Sapa Mei membawa ponsel Lie Wei. Yiwen beranjak berdirindan menjauh dari Lian yin menuju kamar mandi. Karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan, tanpa sepengetahuan Lian yin. Karena hanya rahasia di antara dirinya dan Mei.
"Bentar!" ucap Yiwen menoleh ke balakang menatap Lian yin.
"Aku bawa ponselmu sebentar ya" ucap Yiwen, ia segera memutar gangang pintu kamar Mandi itu, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Ada apa?. Kenapa kamu sembunyi dari Lian yin" ucap Mei.
"Sstttt..pelan-pelan, kamu juga menjauh dari Lie Wei" Ucap Yiwen sangat pelan.
__ADS_1
"Kenapa?" Mei nampak bingung.
"Udah cepetan!!" Yiwen menyuruhnya segera pergi sebentar dari samping Lie Wei dan Yhing yhi.