
Reysa yang masih berdiri di belakang menatap punggung Brayen.
Aku harus pergi? Tapi gimana dengan Lian yin, kasihan dia. Aku ingin membantunya untuk membebaskan Yiwen, argghh.. Udahlah... Dari pada menyalahi aturan main Chan. Lebih baik aku mengikuti semuanya..
Reysa mengecak-acak rambutnya frustasi.
Ia menatap ke depan, melihat Brayen yang sudah tidak ada di depan pandangan matanya.
"Kemana dia?" gumam Reysa, beranjak pergi, mencari Breyen.
"Itu dia!!" Reysa menarik dua sudut bibirnya, mengukir sebuah senyuman tipis, ia berlari mengejar langkah Brayen yang duga semakin cepat melangkah jauh.
"Tunggu!!" teriak Reysa berlari mengejar Brayen yang sudah jauh di depannya.
Brayen menghentikan langkahnya, melirik ke brlakang tanpa membalikkan punggungnya.
"Ada apa?" tanya Brayen, menayap ke depan.
"Aku ikut drngan kamu!!"
"Yakin?" Brayen memasukan ke dua tanganya tepat di saku celana hitam yang membalut kakinya.
Resya menghela napasnya. "Iya, aku yakin!!" Jawab Reysa menunduk.
"Baiklah!!" Aku akan eprgi, kamu ikuti aku, pakai montor biar kita bisa ceoat sampai. Tapi kamu anik sendiri, bukanya aku gak mau berdua dengan kamu. Tapi aku tidak mau jika semua curiga dan mengira aku adalah pacat kamu!!"
Reysa mengepalkan tanganya, berdiri di samping Brayen, meninju kangan Brayen pelan.
"Tenang saja, hanya naik montor aku jagonya. Ingat jangan tunjukan jati diri kamu yang sebenarnya." ucap Reysa.
--------
Di balik mobil mewah milik Lay yang nampak sangat hening, tanpa sepatah kata terucap dari mulut mereka. "Changmin! Bukanya kamu bawa mobil?" tanya Lay, melirik sekilas ke arah Changmin, yang kini duduk diam, bersandar di jok mobil belakang, tepat bersebelahan dengan Tao yang semakin membuatnya geram.
"Aku sudah tau, an tadi aku kirim pesan ke pengawal di rumah untuk ambil mobilku."
__ADS_1
"Memangnya mereka atahu kunci setiep mobil kamu?"
"Tenang saja, kunci masih menencap di sana."
"Ya, sudah. Sekarang kita hampir sampai." sambung Lyli yang dari tadi juga ikut diam menunduk, tubuhnya masih terlihat sangat cemas, dan takut jika Lay akan marah dengannya atas apa yang di lakukan Tao tadi.
Tak butuh waktu lama saat Lyli selesai berbicara. Mobil Lay berhenti tepat di pohon tua, dengan batang pohon yang melingkar sangat besar.
"Kita sudah sampai cepat turun!!" ucap Lyli, melepaskan sabuk pengaman yang menempel.
Changmin bergegas turun lebih dulu, pandangan matanya tertuju pada seorang laki-laki paruh baya yang sangat familiar di matanya. "Paman Wo Jian?" kata Changmin lirih, menyipitkan matanya.
"Kalian tepat waktu sampai di sini. Sekarang kalian masuk ke dalam. Ada hal yang ingin aku bicarakan!!"
Mendengar perkataan itu, Tao yang baru saja keluar dari mobil. Seketika ia menyipitkan matanya. Menatap pohon di depannya dari atas sampai ke bawah. Ia merasa aneh dengan perkataan ayah dari mantan pacarnya itu.
Wo Jian tetsenyum tipis, melirik ke arah Tao sejrnak, lalu kembali menatap ke arah pohon. "Kamu baru pertama kali. Pasti kamu bingung gimana cara kita bisa masuk. Tenang saja. Kamu tinggal diam, ku yang akan mengatur semuanya." ucap Wo jian tanpa melirik ke arah Tao. Dan Tao yang merasa dia berbicara padanya, hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Seperti biasa, dia selalu bisa baca pikiranku." gumam Tao dalam hatinya.
"Kita mau kemana?" tanya Tao pada Lyli yang berjalan di depannya.
"Sudah diamlah!! Lebih baik kamu ikuti kemana dia berjalan. Jangan banyak tanya!!" ucap tegas Lyli membungkam mulut Tao agar tidak banyak tanya lagi.
"Gimana kalau kita berdua pergi saja!!"
Lyli melirik tajam, ke dua alisnya menyatu seketika.
"Apa maksud kamu?" tanya Lyli.
"Kita pergi, biarkan saja mereka berdua. Lagian kita tidak tahu apa yang mereka akan bicarakan," bisik Tao lirih. Pendengaran Lay yang tajam seketika menoleh, melirik tajam lalu meraih tangan Lyly agar jalan di depannya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Lay berdengus kesal melihat Tao yang semakin dekat dengan Lyli. Meski bukan maksud laki-laki itu untuk mendekati pacarnya. Ia hanya ingin ajak bicara berdua, menghilangkan rasa penat dan khawatir dirinya pada Yiwen yang sekarang entah kemana. Dia memang ingin ajak Lyli keluar karena hanya dia yang bisa di ajak bicara, agar bisa membantunya cari Yiwen.
Puk! Puk! Puk!
__ADS_1
"Jangan suka dekati wanita yang akan jadi milik orang lain" ucap Changmin, sembari menepuk-nepuk pundak Tao yang hanya diam membisu.
"Shiitt!!" desah Tao, menepis tangan Changmin.
"Lebih baik kamu jalan di depan. Jangan sentuh aku,"
Changmin menatap tajam ke arah Tao, mengangkat ke dua tangannya sebahu, sembari menarik bibirnya sini. Ia mendorong tubuh Tao ke belakang.
"Eh.. Kamu kenapa, jangan emosi, lagian kalau kamu suka dengan Lyli itu dalah. Dia milik teman aku. dan kamu hanya orang baru, ingat itu," ancam Changmin.
"Jangan berisik!!" ucap Wo Jian, yang mulai geram akibat ulah mereka.
Changmin menunduk seketika, ia menutup mulutnya rapat, an berbalut menatap ke drpan, berjalan mengikuti kemana Wo Jian pergi.
"Ingat! Aku akan memberi kamu pelajaran nanti!!" umpat Changmin lirih, melirik tajam ke arah Tao, an hanya di balas dengan senyum sinis.
Mereka terus berjalan menampakkan kaki di tangga, yang hanya bisa di lewati satu orang, melewati lorong yang sangat gelap tanpa penerangan sama sekali, dan Lyli yang berjalan di depan Lay, ia memegang tangan Lay erat.
Krikk.. Krikk..
"Ahh... Apa itu!!" Lyli seketika memuluk tubuh Lay.
"Itu jangkrik, syang!! Jangan takut!" ucap Lay, memeluk tubuh Lyli, dengan telapak tangan di atas pipi kiri Lyli.
"Sudah tetap jalan. Kita gak punya banyak waktu lagi. Ada hal yang akan kalian lakukan dengan segera!!" ucap Wo Jian tanpa menoleh sedikitpun menatap ke belakang.
"Baik!!" jawab mereka kompak.
Sampai di sebuah ruangan yang hampir masih sama, ruangan rahasia yang hanya kakek Yiwen dan Wo jian yang tahu. Dan sekarang entah di mana kakeknya. Tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di rumah itu.
"Kalian sudah datang, ku sudah menunggu lama. Sekarang cepat duduk, kita harus bahas secepatnya. Kita dalam keadaan darurat!!" ucap kakek Yiwen yang terlihat sangat oanik, wajahnya mulai pucat bingung dengan keadaan kota yang semakin kacau.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Tao, mengernyitkan keningnya, melihat kakek Yiwen yang ternyata masih hidup? "Dan ternyata kakek masih hidup, gimana bisa kalian tinggal di tempat seperti ini?" tanya Tao heran.
"Sudah duduklah dulu, aku akan ceritakan nanti, Tao. Sekarang kamu gabunglah dnegan yang lain. Dan Changmin setelah ini kamu ikut denganku!!" sambung Wo Jian.
__ADS_1
Changmin menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang di katakan Wo Jian.